
Sia bangun dari tidurnya dengan kedua mata yang langsung membulat dengan sempurna, saat melihat letak tangan dan kakinya yang bertumpu pada tubuh seorang lelaki yang tidur lurus di sisi bagiannya.
Pergerakan Sia langsung membuat lelaki itu mengerjapkan mata dan memandangnya dengan tatapan setengah sadar.
"Kamu sudah bangun? Bisa singkirkan tangan dan kakimu? Walaupun kamu ringan, tapi aku tidak nyaman!" ucap Albert, meminta Sia untuk menyingkirkan kedua bagian tubuh Sia yang ada di atas tubuhnya.
Sia yang mendengar hal itu langsung belanja turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
Melihat tingkahnya yang seperti itu, Albert hanya menghela napas lelah dan kembali tidur.
Jarang sekali ada hari santai seperti ini. Albert yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, jadi tidak ingin bangun dan ingin menikmati waktunya selama yang dia bisa.
Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Sia berjalan keluar kamar dan meninggalkan Albert yang masih tertidur di dalam sana.
Dia tidak ingin mengganggu suaminya yang masih ingin tidur. Ya, mungkin karena Sia tahu bagaimana sibuknya lelaki itu juga sudah bekerja, mangkanya dia tidak ingin membangunkannya, jika Albert memiliki waktu untuk beristirahat lebih lama dari biasanya.
Sia beli jalan turun ke arah lantai 1. Pergi ke arena restoran yang ada di bagian itu, dan memesan menu sarapan.
Karena Sia seorang diri, tidak jarang jika ada beberapa lelaki yang meliriknya. Terlebih lagi, saat Sia mengenakan pakaian cantik yang sangat cocok di padukan dengan rambut coklat bergelombangnya saat ini.
Tak lama setelah itu, menu sarapannya tiba. Dia makan dengan tenang, tapi tiba-tiba seorang lelaki yang tidak di kenal duduk di hadapannya dengan membawa piring dan peralatan makannya sendiri.
Sia mengerutkan keningnya, dan menatap siapa yang berani duduk di depannya tanpa permisi dan langsung bergabung saja.
Dan itu tidak lain dan tidak bukan adalah adik iparnya, Lard yang sedang bosan karena harus makan sarapan sendirian, sama seperti dirinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu duduk di sini, Lard? Masih banyak tempat duduk! Aku ingin sendirian tahu, menyingkirlah! Kamu menghalangi pemandangan indah di belakang sana!" pekik Sia, memprotes keberadaan lelaki itu.
Tapi lawan bicaranya tidak mendengar dan terus makan dengan tenang, seakan-akan di depannya tidak ada orang yang mengomel dan mengganggu ketenangan indra pendengarnya.
Sia menghela napas panjang, menatap ke arah sekelilingnya, mencari tempat duduk kosong agar bisa dia tempati.
"Aku akan pergi setelah sarapan, Kak. Jangan khawatir! Aku sudah harus kembali ke kantor sebentar lagi. Tunggulah sebentar, dan tetap makan di sini. Biar nanti aku yang pergi!" jelas Lard, membuat perhatian Sia kembali terfokus padanya.
"Kamu akan kembali ke kantor sekarang? Bukannya kamu juga mendapatkan jatah libur tiga hari? Memangnya tidak sayang kalau dilewatkan begitu saja? Kamu kan seperti kakakmu, jarang mendapatkan libur dari kantor!" papar Sia, panjang lebar.
Jika kalian tidak tahu, Lard kancil memiliki hubungan yang cukup baik. Walaupun terkadang mereka bertengkar karena berselisih pendapat, tapi mereka memiliki hubungan yang harmonis dan bisa diandalkan satu sama lain.
Walaupun mereka kenal dalam waktu singkat, tapi keduanya cukup menyambung dan cocok satu sama lain. Apalagi jika topik pembicaraan yang tidak pernah surut satu sama lainnya.
Mungkin kalau di minta memilih untuk calon suaminya, Sia akan lebih memilih Lard dari pada Albert.
"Lagi pula, tidak ada yang bisa aku lakukan di tempat ini. Bukannya lebih baik aku bekerja? Menghasilkan uang lalu menghabiskannya saat malam?! Itu lebih seru dari pada terus melihat orang-orang berjalan di seperti orang bodoh!" celetuk Lard, sambil terus berusaha menghabiskan sarapan yang ternyata tidak sesuai dengan selera makannya.
"Tidak melakukan apa-apa? Lalu bagaimana dengan kedua orang tua kalian? Bukannya mereka juga di sini?" Sia menatap ekspresi wajah Lard yang tiba-tiba berubah menjadi dingin.
"Ah, mereka bukan kedua orang tua kami. Kami hanya menyewa ya untuk sekedar formalitas aja! Lagi pula, kami juga sama seperti kamu. Yatim piatu! Dan perusahaan yang sedang kami jaga adalah perusahaan kedua orang tua kami. Tapi sebagian besar sahamnya sudah di kuasai oleh keluarga yang lain. Albert berencana untuk merebutnya, tapi itu bukan perkara yang mudah!" celetuk Lard, entah kenapa tiba-tiba menjelaskan semua situasi mereka kepada Sia.
Sia hanya diam, mencerna semua apa yang di katakan adik iparnya dengan baik-baik.
"Jadi itu alasannya aku tidak pernah dikenalkan ke orang tua mereka berdua? Ternyata mereka yatim piatu!" batin Sia, terus menatap Lard yang masih makan dengan tenang.
__ADS_1
"Aku sudah selesai yang sarapan. Sampai jumpa, Kak. Tolong perhatikan sarapan Albert! Dia tidak bisa makan kacang dan makanan pedas. Tapi dia suka makan makanan itu. Tolong cegah dia untuk memakannya. Bagaimana pun juga, makanan di tempat ini dominan pedas, jadi kakak harus berhati-hati untuknya!"
Setelah mengatakan hal itu, Lard bangkit dari tempatnya dan berjalan pergi meninggalkan Sia yang masih menyantap sarapannya yang tinggal separuh itu.
"Kau mau ke mana, Lard? Sudah mau pulang saja? Tidak mau di sini dulu bersama kami? Kamu bisa liburan, kan?! Nanti setelah kembali ke kota, kamu tidak akan bisa cuti lagi!" celetuk Albert, saat bersisipan jalan dengan adiknya.
"Aku baik-baik saja. Urus aja urusanmu sendiri. Sampai jumpa di rumah!" jawab Lard, melambaikan tangan dan benar-benar pergi meninggalkan mereka.
Albert duduk di depan Sia yang tengah menatap dirinya, sejak dia bertemu dengan Lard di pintu masuk restoran tersebut.
"Kamu sudah bangun? Bagaimana dengan tidurnya? Nyaman??" tanya Sia, sekedar basa-basi.
Albert hanya mengangguk dan menatap Sia yang tampak tenang, padahal pagi harinya terlihat cukup kacau dengan kejadian mereka tadi.
"Hem? Kamu tidak menjawabku? Kenapa? Kamu marah? Memang aku salah apa??" tanya Sia, untuk ke sekian kalinya.
Albert menggeleng dan memanggil pelayan, memesan menu sarapannya dan kembali menatap Sia yang terlihat santai makan di hadapannya.
Lagi-lagi mereka tidak canggung, padahal banyak kejadian yang bisa membuat mereka canggung.
"Kamu tidak punya masalah?" tanya Albert, tiba-tiba.
Sia memandangnya, memberikan sedikit kepalanya dan membuat kedua alisnya melengkung.
"Masalah apa? Memangnya apa yang harus aku permasalahkan?!" tanya Sia, kembali menundukkan kepalanya dan memainkan ponselnya dengan tenang, sambil menyantap sisa sarapannya.
__ADS_1
"Hem ... bagaimana dengan pekerjaanmu? Mereka tidak masalah membiarkan kamu cuti selama satu minggu? Aku belum mendengarnya, kalau kamu boleh mengambil libur sepanjang itu! Jadi aku bertanya, bukan karena maksud buruk ya?!" celetuk Albert, terlihat lebih perhatian setelah mereka menikah.
Sia diam, menatap lelaki itu dengan lurus dan tersenyum miring. "Kamu khawatir padaku? Bukannya kamu menikah denganku karena ingin menghindari skandal di internet? Haha, jika seperti itu kebenarannya. Kamu tidak perlu menjaga hubungan baik denganku, kan?" cetusnya, tiba-tiba menjadi sensitif.