Milik Tuan CEO

Milik Tuan CEO
6. Orang Yang Sulit


__ADS_3

Hari yang buruk untuk Sia, hari ini dia sudah diharuskan masuk bekerja. Padahal dia belum mendapatkan moodnya kembali.


Hanya helaan napas lelah yang menyertai paginya. Bahkan Sia tidak berniat sarapan dengan yang lain dan langsung berangkat bekerja begitu saja.


Saat berada di lantai bawah dan melihat teman-temannya sedang sarapan bersama, di meja makan. Sia hanya melirik ke arah mereka dengan tatapan malas, dan berlalu begitu saja menuju ke arah pintu keluar. Tanpa menyapa, ataupun tanpa berpamitan.


Gav dan yang lain, yang sempat melihat bagaimana ekspresi wajah Sia pagi itu. Langsung melirik ke arah Honey, tersangka utama yang membuat mereka canggung dengan Sia saat ini.


"Honey, kamu masih belum berbaikan dengan Sia?" tanya Gav, sambil melahap makanannya.


Honey yang mendapatkan pertanyaan seperti itu, hanya diam dan menundukkan kepalanya dalam.


Dia terlihat tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Tapi ekspresi wajahnya yang sedih, menjawab semuanya.


Gav mengangguk pelan dan segera menyelesaikan sarapannya, sebelum dia pergi keluar rumah untuk mencari keberadaan Sia.


Gav bangkit dari tempat duduknya, mengambil jaket kulit yang dia sampirkan di kepala kursi, lalu berjalan pergi sambil berkata, "Aku berangkat sekarang. Sampai nanti."


Setelah itu, dia meninggalkan 4 orang temannya di dalam rumah dengan kondisi canggung dan suasana yang sesak.


Gav mendekati mobil pajero hitam yang diparkir rapi di depan rumah dengan luas halaman hampir setengah hektar itu, dengan langkah cepat.


Seperti biasa, Sia tidak pernah berangkat bekerja menggunakan transportasi pribadi. Bahkan mobilnya masih terparkir rapi di sebelah mobil Gav.


Entah kenapa, tapi wanita itu lebih suka naik angkutan umum, berbaur dengan masyarakat, sekalian melihat pemandangan sekitar yang terlihat lebih damai jika dia berada di tempat yang ramai.


Sia memang bukan tipikal orang yang suka menyendiri. Walaupun dia ingin sendiri, dia tetap akan pergi ke tempat ramai, yang masih di kunjungi banyak orang. Lalu dia akan duduk di satu tempat untuk melihat mereka berlalu-lalang di sekitarnya seperti orang bodoh.

__ADS_1


Tapi karena ini masih pagi, dan Sia harus berangkat bekerja. Tanpa di tanya pun Gav sudah tahu ke mana dia harus pergi untuk mencari wanita itu.


Baru saja ingin mengeluarkan mobilnya, tiba-tiba seseorang masuk dari pintu seberang dan duduk di sebelahnya.


Gav menatap kaget saat melihat Sia duduk di sebelahnya dengan tenang sambil memainkan ponsel. Bahkan Sia tidak mengucapkan satu patah kata pun, saat ingin menumpang mobil Gav untuk pergi bekerja.


"Aku kira kamu sudah sampai di halte bus. Mangkanya aku buru-buru menghabiskan sarapanku dan menyusul mau ke sana. Tapi kamu malah ada di sini, suasana hatimu sangat buruk?" Gav mulai menjalankan mobil, menjauhkan gadis itu dari tempat yang membuatnya merasa tidak nyaman.


"Hem."


Hanya erangan singkat itu yang menjadi jawaban dari pertanyaan panjang, yang di lontarkan oleh Gav pada Sia.


Gav tersenyum simpul, membuat perhatian Sia beralih kepadanya beberapa saat, sebelum dia kembali menatap pada layar ponselnya.


"Kenapa? Aku belum sarapan, aku tidak memiliki waktu untuk menjawab pertanyaanmu. Aku sangat lemah saat ini," celetuk Sia, menghela napas kasar beberapa kali.


Gav mengabulkan kepala yang mengerti dan menghentikan mobilnya di depan gedung kantor Sia.


Sia menoleh dan kepalanya pada sebuah palang yang ada di pinggir trotoar, melihat arah jalan yang dituju oleh Gav.


"Bandara? Dia mau pergi ke mana?" batin Sia, beberapa saat sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kantor.


"Ah, kau sudah datang, Sia!" ucap seorang lelaki dengan rambut cepak, berjalan ke arahnya di ikuti oleh beberapa orang yang belum pernah di lihat oleh Sia sebelumnya.


"Pagi, Ric. Siapa anak-anak itu? Anak-anak magang atau junior kita yang baru?" tanya Sia, melemparkan tatapan sinis pada empat orang anak yang ada di belakang punggung Aric.


"Mereka?" Aric menoleh ke belakang beberapa saat dan tersenyum pada Sia. "Dia junior kita yang baru. IP mereka sangat bagus. Lebih bagus dari anak-anak tahun kemaren. Kamu pasti akan menyukai mereka! Kamu kan suka orang-orang pintar!" celetuknya, mengikuti ke mana Sia pergi

__ADS_1


"Maaf saya terlambat," ucap seorang lelaki bertubuh tinggi, sekitar 190 cm, datang dengan langkah terburu-buru dan wajah yang sudah basah oleh keringat.


Aric dan 4 orang anak junior itu, menoleh ke arah lelaki tersebut dengan ekspresi wajah masam.


Sementara Sia sudah menatap dingin dengan tatapan menusuk, seakan menunjukkan kepada kesukaannya pada lelaki itu.


"Jam berapa sekarang?" tanya Sia, berjalan mendekat ke arahnya dengan ekspresi wajah dingin.


Lelaki bernama Zidan itu, tidak menunjukkan kepalanya. Melainkan menatap tempat pada kedua manik mata Sia yang tegas dan dingin.


"Siap, pukul 08.00, Senior Sia!" jawabnya, dengan nada lantang dan penuh semangat.


Sia yang melihat hal tersebut sempat terkejut, tapi kemudian dia tersenyum dan menepuk pundak Zidan beberapa kali, sambil berkata, "Jangan telat lagi! Kalau besok kamu masih terlambat, aku benar-benar akan menjatuhkan hukuman yang tepat!" tegasnya.


Zidan melipat ibu jarinya ke dalam dan menunjukkan sikap hormat layaknya seorang prajurit kepada Sia. "Siap, Senior!"


Sia mengangguk pelan dan berjalan pergi meninggalkan mereka. "Nanti kita bicara lagi, Aric. Sekarang aku harus menemui Pak Farel untuk mendiskusikan beberapa hal. Selamat bekerja!"


Sia berjalan pergi sambil melambaikan tangannya pada mereka, tidak lupa dengan senyuman ramah yang dia tampilkan pada anak-anak baru itu.


"Wah ... dia benar-benar seperti seorang model. Apa tahun ini juga Senior Sia yang akan menjadi wajah kantor kita? Aku masih belum pernah melihat orang sekeren dia setelah mengelilingi gedung ini, Pak." celetuk Riani, seakan benar-benar terpesona dengan kharisma Sia.


Ya, itu wajar saja. Karena Sia memang orang yang keren dan patut untuk di idolakan oleh orang-orang.


Terlepas dari sikapnya yang tegas dan sadis saat bekerja, Sia adalah orang yang ramah dan cukup nyaman untuk dijadikan teman minum di kelas stress dan tertekan.


"Ya, dia memang orang seperti itu. Tapi jangan berusaha sok akrab dengannya. Dia orang yang sangat profesional, dia selalu menjaga jarak dengan orang-orang di sekitarnya. Terlebih lagi orang-orang di kantor, dia orang yang cukup sulit di dekati!" seru Aric, memberi tahu hal terpenting terkait Sia.

__ADS_1


Kelima orang junior itu hanya mengangguk pelan dan menatap Aric yang terus memandang sendu pada punggung Sia yang pergi semakin jauh.


"Apa mereka pernah terlibat masa lalu yang rumit? Kenapa tatapannya seperti itu?" batin kelima orang junior tersebut, kompak.


__ADS_2