
"Astaga, seharusnya ini menjadi hari paling tenangku! Tapi bisa-bisanya pengacau satu ini malah dibiarkan masuk?! Apakah tugas keamanan tidak bisa bekerja?!" desis Albert, masih terlihat marah besar.
Sia yang melihat hal itu, hanya menghela napas panjang dan menempuh kening Albert dengan cukup kuat sampai lelaki itu tersentak mundur satu langkah.
Albert memelototkan matanya, menatap Sia dengan tatapan tajam nan menusuk. Tapi tampaknya, lawan bicaranya terlihat sangat santai dan tidak mengindahkan emosinya.
"Bawa saja wanita itu pergi dari hadapanku. Aku sudah lelah melihatnya! Kamu sudah melukaiku, kamu bilang kamu kesal padaku karena menikah dengan mantan kekasihmu, kan? Kamu sudah melukaiku sekali. Dan aku belum membalasnya! Jadi kalau kamu melakukan sesuatu yang buruk padaku sekali lagi, aku akan membalas semua dua kali! Kamu paham?!" ucap Sia, sebelum mengibaskan tangannya untuk meminta kedua satpam itu membawa wanita bernama Vera itu pergi dari hadapannya.
Albert dan Derick menatap Sia yang tampak tak ketakutan ataupun kesakitan sama sekali. Padahal luka gores yang dia dapatkan dari serangan Vera cukup dalam, tapi dia malah bersikap tenang dan mengurus masalahnya dengan baik.
"Kau baik-baik saja, Rick? Maaf karena aku kamu jadi terluka. Bagaimana kalau aku membawamu ke rumah sakit? Atau mengobatimu, kalau itu saja sudah cukup??" tanya Sia, benar-benar melupakan jika tangannya juga terluka dan darahnya masih berjatuhan di tanah.
Albert bahkan sampai geleng-geleng kepala, alhasil dia meminta para pelayan untuk membawakan kotak P3K untuk kedua orang itu.
Dan sebelum para pelayan datang, Albert sudah mengeluarkan satu tangannya untuk mengikat pergelangan tangan Sia yang berdarah.
"Ceroboh!" celetuk Albert, mengumpat kesal pada Sia sambil membelai tangan istrinya yang terluka.
Sia hanya diam dan memperhatikan ekspresi wajah Albert yang tampak cemas. Dia hanya diam dan mendengarkan perkataan Albert dengan cermat, sampai-sampai Albert mengangkat kepalanya dan melihat apa yang dilakukan Sia sampai dia diam saja
"Kamu tidak membantah perkataanku? Sepertinya kamu memang sadar diri kalau sudah salah, ya?!" celetuk Albert, entah kenapa seperti sengaja memancing emosi Sia.
Tapi wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dan membuat Albert kembali memandangnya dengan tatapan serius.
"Lukanya tidak sakit? Dan kenapa kamu juga diam saja kalau di nasihati? Aneh sekali, tidak cocok dengan dirimu yang pernah memberontak karena aku ajak menikah!" celetuknya, mengundang kontroversi.
__ADS_1
Sia memutar bola matanya malas dan melepaskan tangan Albert dari pergelangan tangannya yang terluka.
"Jangan mengajakku bertengkar. Sekarang yang terluka bukan hanya aku, sekretarismu juga terluka. Bisakah kamu lebih memperhatikan dia? Tuan Derick terluka di bagian kepalanya. Itu bagian penting, tidak bisakah kamu menawarkannya pergi ke rumah sakit? Jangan hanya memperhatikanku!" sindir Sia, secara halus.
Mendengar perkataan Sia, Albert pun menatap sekretaris pribadinya yang terus mengeluhkan sakit tapi berusaha memelankan suaranya, agar tidak mengganggu pembicaraan dua orang di depannya ini.
"Kau butuh di bawah ke rumah sakit, Rick? Biarkan Cander yang mengantarmu ke sana. Setelah pulang dari sana, langsung pulanglah ke rumah dan istirahatlah. Jangan bekerja sampai kamu baikkan. Kamu mengerti?" ucap Albert, menatap orangnya sudah seperti tangan kanannya itu, sambil menghela napas panjang dan lelah.
Derick hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan pergi bersama Cander, meninggalkan mereka berdua di halaman tersebut, dengan situasi yang masih setengah kacau.
Baru saja datang, Lard sudah mendapati kakak iparnya yang terluka cukup parah di bagian pergelangan tangan kirinya.
Dia langsung panik dan meminta kedua orang tua menghandle acara, menggantikan posisi Albert dan kakak iparnya.
"Astaga yang benar saja. Di hari pernikahan kamu juga masih bisa terluka?!" celetuk Lard, melihat pergelangan tangan Sia yang sudah di bungkus oleh satu tangan Albert dan tetap meninggalkan bercak merah di sana.
Albert yang mendengar hal itu hanya mendengus, tidak ingin mendengarkan perkataannya, tapi ekspresi wajah Sia saat dia hendak menantang perintahnya, terlihat sangat mengerikan sampai Albert tidak berani untuk menolak.
"Baiklah, aku akan tinggal di sini. Tapi setelah mengantarkan kamu ke kamar dan memastikan kamu diobati dengan baik!" ucap Albert, tidak menerima bantahan cari siapa pun.
Mau tidak mau, Sia mengiyakan permintaan tersebut dan membiarkan Albert mengantarnya sampai ke kamar tamu, yang akan mereka tempati malam ini.
Klek ....
Albert membukakan pintu untuk Sia. Dan mereka berdua berdiri di depan pintu sambil menatap satu sama lain, setelah melihat keadaan kamar pengantin mereka..
__ADS_1
"Kau tidak meminta mereka untuk memisahkan panjang kita?" tanya Sia, terlihat sama tertekannya dengan Albert.
Albert menggelengkan kepalanya pelan, membuat Sia menempuh keningnya ampun.
Mereka berdua memang pernah sekamar, tapi tidak lagi dengan seranjang! Walaupun berada dalam satu ruangan, tapi mereka tidur masing-masing di ranjang mereka.
Dan kali ini, saat keduanya melihat ranjang berukuran queen size, kedua mata mereka tak berhenti menatap sekitar dengan tatapan canggung.
"Maaf, Tuan. Ini kotak obatnya," ucap seorang pelayan lelaki, membuat kedua pengantin yang sedang berdiri di ambang pintu, sambil membelakanginya, terkejut sampai hampir melompat dan berteriak kaget.
Albert segera menoleh ke arahnya, mengambil kotak obat tersebut dan berterima kasih pada sang pelayan.
Setelah itu, pelayan tersebut pergi meninggalkan mereka. Dan Albert membawa Sia masuk ke dalam kamar mereka dan menutup pintu rapat-rapat. Agar tidak ada orang yang tahu, jika kedua pengantin pesta megah di bawah itu sedang canggung karena melihat ranjang besar di kamar mereka yang dihiasi dengan lilin dan kelompok bunga mawar.
Albert memijat pelipisnya yang kembali berdenyut sakit. Dia merasa pusing karena masalah tempat tidur mereka.
"Apa yang akan kita lakukan? Di bawah ada kedua orang tuamu. Mereka bisa curiga kalau kita memesan kamar yang lain untuk bermalam. Bagaimana pun juga, kita tetaplah pasangan suami-istri yang sah di depan orang-orang. Akan terlihat sangat aneh kalau kita memesan satu kamar lagi!" celetuk Sia, mendapatkan anggukkan kepala dari Albert.
"Aku juga tahu hal itu. Mangkanya, apa solusi dari masalah ini?" tanya Albert, sambil mengobati tangan Sia yang terluka dengan menggunakan perban dan obat merah.
Keduanya diam beberapa saat, saling memikirkan solusi yang tepat untuk situasi mereka.
Sampai akhirnya mata Sia menatap sebuah sofa panjang yang cukup nyaman untuk digunakan tidur, salah satu di antara mereka.
"Aku akan tidur di sana!" celetuk Sia, menunjuk sofa panjang yang ada di tengah-tengah ruangan, tempat berada di bawah jendela besar itu.
__ADS_1
Albert menoleh ke arah yang di tunjuk Sia, dan kembali menatap wanita itu dengan tatapan ragu.
"Kamu yakin akan tidur di sana??" tanya Albert, tidak yakin dengan keputusannya.