Milik Tuan CEO

Milik Tuan CEO
22. Niat Baik


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri saya dokter? Apa dia baik-baik saja?!" tanya Albert, terlihat cukup resah.


Dokter menghela napas, menatap wajah Sia yang jauh lebih pucat dari saat dia datang.


"Kita masih belum bisa bernapas lega, keadaan Nyonya Sia sangat buruk. Dia demam, dan karena Anda memaksanya melakukan hal itu, sampai membuatnya minum pil. Sepertinya kondisinya bisa lebih buruk dari sekarang," jelas sang dokter, membuat Albert dan Cander saling menoleh dan bertatapan.


"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Cander, memarkirkan pertanyaan sang tuan.


"Mari kita tunggu sampai beliau sadar. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi setelah. Kondisinya memang lemah, tapi Nyonya Sia bukan orang yang memiliki tubuh lemah. Mungkin dia akan bangun saat malam nanti," jelas dokter itu, sebelum pergi meninggalkan ruangan.


Albert mengusap rambutnya kasar, membuat sebagian dari penampilannya yang rapi tiba-tiba menjadi sedikit berantakan.


"Apa yang membuat Anda banyak pikiran, tuan?" tanya Cander, menatap wajah Albert yang terlihat kusut dengan tatapan bingung.


Albert menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, kamu kembalilah ke rumah untuk mengambil barang-barang Nyonya. Aku akan menunggunya di sini. Sekalian bawakan pekerjaanku di atas meja kerja," ucapnya, berpesan.


Cander hanya mengangguk singkat dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Albert melihat Sia yang tampak pucat, sedang tidur di atas ranjang, dengan infus yang menancap di pergelangan tangan kirinya.


Tak lama setelah Cander pergi, tiga orang lelaki sedang seorang perempuan datang. Mereka mengenakan pakaian bebas, tapi ekspresi wajahnya tidak se-bebas pakaian mereka.


Raut wajah mereka yang panik, membuat beberapa orang yang ada di depan ruangan Sia, memperhatikan ketiga orang tersebut memasuki ruangan itu dengan kening berkerut dalam.


"Astaga, mereka tidak tahu kalau ini rumah sakit? Berisik sekali," ucapkan berapa orang pasien, yang tampak terganggu dengan kegaduhan tersebut.


Lain halnya dengan Sia yang malah bangun dari tidurnya, saat mendengar suara teman-temannya, yang ribut di sekitar tempat tidurnya.


"Kau bangun?! Anak gila. Kamu habis melakukan apa?!" celetuk Farel, tampak panik saat mendengar kabar Sia dibawa ke rumah sakit karena overdosis obat.

__ADS_1


Padahal sebenarnya tidak, dia hanya mencoba menghilangkan kesadarannya, agar tidak melakukan hal "itu" dengan Albert.


Sia menatap tiga orang lelaki yang ada di hadapannya dengan nafas yang tidak beraturan, wajahnya yang sedikit memerah membuat ketika lelaki itu memandang ke arah Albert, suami Sia yang hanya diam menatap istrinya yang tampak kesakitan.


"Hei, Tuan Albert. Bolehkah saya bertanya? Apa yang Anda berikan kepada teman kami?" tanya Alex, menatap Albert dengan tatapan tajam.


Ya, dari dulu Albert memang tidak pernah cocok dengan Alex. Mereka berdua saling bersinggungan.


Alex bahkan tidak datang ke pernikahan mereka. Dan Sia, nyatanya dapat mengerti alasan lelaki itu tidak menerima keberadaan Albert sebagai suaminya.


"Hanya sedikit obat perangsang!" celetuk Albert, membuat ke kedua mata dari keempat orang yang ada di sana, membulat dengan sempurna.


Farel langsung mendekat ke arah Albert, hendak melayangkan tinjunya pada lelaki itu. Tapi dengan sigap, Alex dan Lana menghentikannya.


"Tenangkan diri Anda, Pak! Jangan terlalu marah. Saya tahu kalau Anda kesal, tapi ini rumah sakit. Tolong jangan membuat keributan!" seru Lana, sudah membuat keributan dengan meninggikan intonasi suaranya.


"Bawa Pak Farel keluar ruangan! Jika dia dibiarkan di sini, dia hanya akan mencoba memukul Albert!" ucap Lana, meminta pada Aric dan Juro segera membawa lelaki itu pergi.


"Kau gila? Bukannya Sia sedang sakit? Kenapa kamu malah memberinya obat seperti itu?! Yang benar saja. Kau benar-benar lelaki yang tidak baik!" marah Alex, memandang Albert tajam.


Albert hanya diam, mungkin dia merasa sedikit sadar diri. Tapi nasi sudah menjadi bubur, tak ada yang bisa dia lakukan.


Kini Sia sudah bangun, syukurlah. Tapi tampaknya Sia takut kepadanya, terlihat dari gelagat matanya yang terus menghindari Albert.


Albert menghela napas panjang, memilih berjalan ke luar dari sana dan membiarkan Sia bersama dengan teman-temannya.


"Kau mau pergi? Bahkan istrimu masih belum bisa duduk, woi!!" teriak Alex, benar-benar kesal.


Tapi Lana selalu mendinginkan dirinya, berusaha menenangkan Alex yang benar-benar tak bisa mengendalikan perasaan marahnya.

__ADS_1


Tapi setelah beberapa saat, Sia bangkit dari tempatnya dengan wajah yang tampak dingin.


"Sudah, jangan marah terus. Aku baik-baik saja. Perlakuan seperti itu tak pernah mempengaruhi diriku."


Sia bangkit dari posisinya, beranjak turun dari ranjang dan berjalan mendekati nakas di samping tempat tidurnya, menuang segelas air dan menegaknya hingga tandas.


"Hahh ... tenggorokanku kering dan sakit," gumam Sia, mendongakkan kepalanya dengan mata terpejam, beberapa saat.


Tangannya merapa lehernya yang terluka. "Untung aku tidak mati karena nekat melakukan hal gila!" ucapnya, mendengus kasar.


Lana dan Alex menatap Sia dengan tatapan heran. Padahal mereka sangat panik saat mendengar wanita itu di bawa ke rumah sakit, tapi melihat kondisi Sia, sekarang, sepertinya semua itu hanya akting belakang untuk mengelabui Albert.


Agar lelaki itu memiliki rasa bersalah dan dia bisa meraih sesuatu setelah adanya rasa simpatik itu.


"Sia, aku tahu kamu tidak mencintai suamimu. Tapi kamu tahu kan, dia mencintai kamu lebih tulus dan lebih dalam, dari perkiraanmu."


Sia menoleh pada Lana yang baru saja berucap, mendekati wanita itu dan memberikan sebuah benda kecil yang baru dia ambil dari dalam tas.


"Jangan ikut campur tentang itu, Lana. Aku bisa membereskan permasalahan hati dengannya nanti. Sekarang fokus saja dengan pekerjaanmu!" seru Sia, beranjak kembali ke atas ranjang dan tidur di sana.


Lana menerima sebuah alat perekam. "Apa ini?"


"Aku memasang penyadap suara di tas kerja Albert. Kau yang akan mengawasinya." Sia menatap Lana, lurus. "Aku akan memegang yang bagian ponselnya. Aku akan menyetir hasilnya saat terjadi sesuatu, langsung ke Pak Farel."


Alex dan Lana kembali diam, memandang Sia dengan tatapan masam dan menyimpan benda pemberiannya dengan baik.


"Kau gigih sekali, Sia. Apa kau sudah curiga dengan Albert? Sepertinya dia bukan orang yang seperti itu." Alex menatap ke luar pintu, menatap Albert yang tak terlihat di sana. "Walaupun aku sedikit benci padanya, tapi aku mulai ragu jika dia bandarnya."


"Hem, aku tahu. Mangkanya, berhati-hatilah dalam bertindak. Dia terlihat seperti orang yang di jebak, bukan terjebak! Mangkanya aku harus lebih teliti mencari tahu apa yang terjadi padanya. Hah ... malangnya, nama suamiku itu sampai masuk ke dalam daftar hitam kantor kita!" celetuk Sia, menatap ke arah langit-langit kamarnya dengan mengembuskan napas lelah.

__ADS_1


"Bagaimana pun juga, aku tetap harus melindungi orang yang tidak bersalah walaupun aku sudah terjebak dengannya!" celetuk Sia, tulus.


__ADS_2