Milik Tuan CEO

Milik Tuan CEO
20. Waspada


__ADS_3

Semua orang masih menunggu hasil pemeriksaan Nisa tentang identitas semua pelayannya ada di rumah Albert.


Dan benar apa yang di duga oleh Farel, ternyata semua pelayan yang di pekerjaan oleh Albert adalah orang-orang lulus dari sekolah atlet, dan tidak ada satu orang pun yang melewati peringkat 5 besar.


"Wah ... jika peringkatnya sampai setinggi ini, berarti si Albert memperkerjakan mereka dengan gaji yang sangat tinggi. Orang-orang seperti mereka tidak pernah mau di rekrut secara pribadi, mereka pasti akan lebih memilih menjadi anak perusahaan dari pada aset pribadi seseorang. Hem ... aku jadi penasaran berapa gaji mereka semua!" pekik Lana, mendapatkan anggukkan kepala dari Juro dan para junior mereka.


Sia hanya diam dan memperhatikan mereka dengan baik. Setiap ekspresi wajah mereka tampak unik, tapi yang lebih unik lagi adalah ekspresinya sendiri.


Karena Sia bahkan tidak menunjukkan emosi apa pun, seakan dia sudah mengetahui kebenaran hal itu dan membuat orang-orang di sekitarnya menjadi bingung.


Padahal Sia yang membuat Farel sampai meminta Nisa untuk mengajak identitas para pelayan di rumah itu. Tapi dia juga, yang malah menatap rekan kerjanya dengan tatapan aneh dan wajah yang seakan menyimpan banyak rahasia.


"Karena kalian sudah memastikannya secara langsung, aku hanya bisa berterima kasih. Terima kasih, sekarang aku akan pergi untuk mencari beberapa barang di toko! Masih ada beberapa barang yang aku perlukan," celetuk Sia, bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan kantornya.


Farel mengurutkan kening, menatap wajah Aric yang terus memperhatikan Sia sampai wanita itu benar-benar tidak terlihat oleh pandangannya.


"Kalau kamu ingin mengejarnya, aku akan memperbolehkan kamu erik! Toh, aku mulai sedikit curiga dengan pergerakan Sia. Entah kenapa, menurutku pergerakannya sudah abnormal! Jadi tolong temani dia dan jangan lupa laporkan padaku!" ucap Farel, memberikan perintah.


Aric langsung bangkit dari posisinya, menunjukkan sikap hormat selayaknya seorang prajurit kepada atasannya. "Baik, Pak!"


Aric membawa kunci mobil dan jaketnya lalu pergi meninggalkan kantor.


Dia berjalan cepat, berharap Sia tidak pergi terlalu jauh karena tadi dia sempat tertahan di depan lift! Lift di kantor mereka memang sering digunakan. Jadi dia harus antre dulu untuk menggunakan alat layanan perusahaan tersebut.


Dan benar saja, Aric masih bisa melihat Sia yang baru keluar dari perusahaan mereka.


"Hei ... hei! Tunggu aku! Biarkan aku ikut denganmu. Aku juga harus membeli beberapa barang di toko," ucap erik, berlari mengejar langkah Sia yang berhenti di ambang pintu, sambil menoleh padanya.

__ADS_1


Sesampainya erik di depannya, Sia hanya diam dan memandang temannya yang tampak kelelahan setelah berlari mengejarnya.


"Hah ... hah ... kenapa kamu berjalan sangat cepat? Memang kamu sedang buru-buru?!" celetuk Aric, berusaha mengendalikan napasnya.


Menggelengkan kepalanya, Sia kembali berjalan pergi meninggalkan perusahaan di ikuti langkah erik.


"Biarkan aku mengantar kamu. Naik mobil bus aja bagaimana?" tanya Aric, penunjuk arah tempat parkir.


Lagi-lagi Sia menggelengkan kepalanya, menolak permintaan lelaki itu dengan tegas.


Aric mengerutkan keningnya, merasa jauh dengan Sia karena wanita itu terus menjaga jarak darinya.


Aric berusaha memberanikan dirinya, menghentikan langkah Sia yang semakin menjauh darinya, dengan menggenggam salah satu tangan wanita itu.


Greb!


Sia yang mendengar kalimat itu langsung berhenti di tempatnya, menoleh ke arah erik yang tampak muram dengan tatapan lelah.


"Aku sama sekali tidak punya maksud untuk menghindari kamu, Rick! Hanya saja aku membawa kendaraan, jadi aku bisa pergi sendiri. Dan, aku sedikit tidak bersemangat hari ini. Jadi maaf kalau terkesan aku menghindari kamu. Tapi sungguh, aku benar-benar tidak bermaksud kok!" celetuk Sia, berusaha menjelaskan situasinya.


Mendengar hal itu, Aric menghela napasnya lega. Dan berjalan mendekati Sia dengan tatapan senang.


"Kalau begitu, biarkan aku naik motormu juga! Sudah lama aku tidak di bonceng olehmu. Bolehkan? Nanti saya pulang kamu tidak perlu mengantarku. Aku akan naik taksi dari toko," jelas erik, mendekati motor besar milik Sia yang entar parkir rapi di depan perusahaan mereka.


Sia menghela napas panjang dan mengangguk. Lalu dia mengeluarkan motornya dari arena parkiran, membiarkan erik naik ke boncengannya, dan kedua orang itu berkendara membelah jalanan untuk pergi ke toko item, tempat mereka biasanya membeli persediaan senjata.


***

__ADS_1


Sampai di sebuah bar yang letaknya ada di lantai 1, lebih tepatnya di lantai bawah tanah salah satu ruko yang berada di daerah pinggiran.


Sia masuk ke dalam tempat itu terlebih dahulu diikuti oleh erik. Seakan-akan mereka sudah terbiasa melewati para gangster yang menjaga tempat itu dan kadang bermain biliar di sana.


Tempat itu memang kotor dan kumuh. Tapi mereka sering pergi ke sana. Bahkan anggota polisi yang lain!


Bagi mereka, itu adalah tempat yang sangat berguna di saat perlengkapan di kantor tidak mendukung misi mereka.


"Hei, Word! Bagaimana kabarmu teman? Tidak ada masalah selama kami tidak berkunjung, kan?" tanya Sia, dengan menggunakan bahasa Spanyol agar tidak ada yang tahu artinya.


Karena terkadang, orang-orang yang suka bermain biliar dan menghabiskan waktunya di dalam bar tersebut, adalah orang-orang yang memiliki koneksi. Dan mereka sering dengan sengaja menguping pembicaraan mereka.


Lelaki bule dengan mata biru safir itu, menoleh pada Sia dan erik yang berdiri di balik meja pantry tempat dia meracik alkohol.


"Hei, Sia. Sudah lama aku tidak melihatmu. Aku mendengar kabar yang cukup mengejutkan. Kamu menikah dengan salah satu bandar narkoba, benar? Hebat sekali! Seorang detektif sepertimu, malah menikahi orang seperti itu. Sungguh menakutkan!" celetuk Word, setengah mengejek dan membuat erik ikut tertawa.


Sia memutar bola matanya malas dan menyodorkan sebuah kertas kecil kepada Word.


Aric sempat melirik daftar isi senjata apa yang dibutuhkan oleh Sia saat ini. Dan ternyata dia membutuhkan beberapa bom kecil, kamera pengintai, alat penyadap suara yang baru dengan versi mini, di tambah dengan pistol yang di lengkapi beragam suara.


"Dasar wanita gila! Untung saja aku menjadi rekannya, bukan suaminya seperti Albert. Coba saja aku menjadi seperti Albert! Aku pasti sudah patah hati duluan saat mendengar identitas Sia sebenarnya dan apa maksudnya menikah denganku," batin Aric, benar-benar tidak habis pikir dengan pikiran temannya ini.


Word menatap beberapa saat catatan kecil itu, tak lama kemudian dia mengangguk mengerti dan meminta Sia untuk mengikutinya ke area bawah.


"Masuklah, semuanya ada di bawah. Kamu bisa memilihnya secara langsung. Karena aku harus menjaga bar! Di bawah sana ada keponakanku, jadi berikan kertas ini padanya dan biarkan kamu dan dia yang memilihnya. Matanya cukup jeli untuk merekomendasikan senjata yang bagus untuk kamu. Aku jamin kamu tidak akan kecewa!" celetuk Word, membuat senyuman iblis Sia terpampang dengan jelas.


"Terima kasih, Word! Kamu memang teman yang terbaik," celetuk Sia, sebelum akhirnya pergi ke lantai bawah dengan erik.

__ADS_1


__ADS_2