Milik Tuan CEO

Milik Tuan CEO
18. Rencana Awal


__ADS_3

"Hari ini aku akan pulang ke kota lebih dulu. Ada masalah yang terjadi di kantor. Kalau kamu masih ingin berlibur, kamu bisa memperpanjang liburanmu!" ucap Albert, menyampaikan hal itu kepada Sia yang masih sibuk dengan make up-nya.


Mendengar itu Sia langsung terdiam, memandang Albert dengan tatapan terkejut dan meletakkan tempat bedak yang sedang dia genggam.


Melihat pergerakan itu, Albert yang sibuk memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper, langsung berhenti dan memandang istrinya.


"Kenapa? Kamu ingin ikut aku pulang?"


Pertanyaan itu menjadi sebuah pertanda kalau, Albert juga memikirkan perasaan Sia yang akan dia tinggal secara tiba-tiba.


Tapi tampaknya, lawan bicaranya ya diam dan memandang ke arahnya dengan tatapan terkejut.


Respons itu tentu saja membuat Albert merasa tidak enak hati kepada Sia. Padahal dia sudah berjanji akan menemaninya selama satu minggu ke depan.


Mereka bahkan sudah menyusun banyak agenda yang akan dilakukan bersama-sama. Tapi bisa-bisanya Albert mengatakan hal seperti itu pada Sia di hari ketiga mereka.


"Maaf, kamu tidak suka dengan itu? Tapi aku benar-benar tidak bisa membatalkan jadwal rapatku dengan para pemegang saham. Sembuh maafkan aku Sia. Lain kali aku akan menebus kesalahanku. Aku berjanji!" ucap Albert, berjalan mendekati Sia dan menggenggam kedua tangan wanita itu seakan-akan mereka memiliki hubungan yang baik-baik saja.


Padahal baru kemarin, kedua orang itu tampak saling diam dan tidak bicara satu sama lain. Ya, alasannya karena perkataan Sia pada waktu mereka berdua sarapan bersama.


Kalimat menusuk itu, membuat Albert menjaga jarak darinya seharian. Walaupun mereka masih pergi ke sana kemari dan menghabiskan waktu jalan-jalan bersama, tapi keduanya tidak saling berbicara.


Dan pagi ini, tiba-tiba Albert mendapatkan berita gembira dari sekretaris adiknya, Rafael.


Katanya ada kekacauan di antara pemegang saham. Mungkin desas-desus tentang salah satu di antara mereka telah berkhianat, dan hendak menjual saham ke orang luar, menyebar di antara mereka dan membuat anggota Albert dan Lard sampai mendengarnya.


Tentu saja Albert harus segera kembali ke perusahaan dan memanfaatkan hal tersebut. Sebagai orang yang memperjuangkan perusahaan kedua orang tuanya, kembali ke tangan mereka! Tentu ini adalah kesempatan yang sangat bagus.


Sia menatap kedua tangan Albert yang menggenggam tangannya. Menatap kedua tangan besar yang singgah di atas kedua punggung tangannya dengan tatapan aneh.

__ADS_1


Padahal Sia hanya mati-matian menahan rasa mual melihat kontak fisik yang baru jadi karena Albert yang memulainya terlebih dahulu.


"Apa lelaki ini sudah mencintaiku?" batin Sia, melirik ke arah Albert yang benar-benar memandangnya dengan tatapan bersalah.


Melihat sorot mata sendu dari lelaki itu, Sia menjadi sedikit luluh dan mengulas senyuman manis kepada Albert yang berjongkok di depannya, seperti seorang ksatria.


"Tidak apa, Albert. Aku akan kembali bersamamu ke kota hari ini. Bagaimanapun juga, kamu adalah suamiku. Dan tugasku sebagai istri adalah mengikuti ke mana pun kamu pergi. Aku harap kamu tidak keberatan dengan itu," celetuk Sia, balik menggenggam tangan Albert dengan menunjukkan ekspresi wajah tulus.


Albert tersenyum dengan penuh kebahagiaan. Dia benar-benar bisa merasakan ketulusan di mata Sia. Padahal yang dilakukan lawan bicaranya, hannyalah akting yang profesional.


"Baiklah kalau kamu menginginkan hal itu. Aku tidak keberatan, tapi tetap! Aku akan menjanjikan liburan kepadamu. Setelah masalah ini selesai, aku akan mengajakmu kau pulau Jeju. Aku harap perusahaanmu bisa memberikan cuti di saat itu.


Sia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya antusias, seakan-akan dia sangat gembira dengan keputusan itu.


"Kalau begitu, aku juga akan membereskan barang-barangku!"


Pukul 01.00 malam, keduanya baru sampai di rumah. Dengan kondisi tubuh yang sangat lelah, Albert seakan tidak sadar dengan orang-orang di sekelilingnya.


Karena begitu dia sampai, dia langsung turun dari mobil dan meninggalkan Sia yang ada di dalam sana.


Lelaki itu segera pergi ke kamarnya, mengistirahatkan dirinya dan kamu tidak memedulikan apa yang di lakukan Sia saat ini.


Thomas yang melihat ekspresi wajah Sia, yang tampak lelah dan letih, tapi malah ditinggal suaminya sendirian saat memasuki rumah, langsung menjemputnya di depan pintu dengan senyuman masam.


"Maafkan kelakuan Tuan, Nyonya. Tuan Albert memang sering terlaku seperti itu juga dia sedang lelah. Biarkan kami yang membantu Anda membawa barang-barang masuk ke dalam kamar. Sekarang sebaiknya Anda juga istirahat," ucap Thomas, merasa tidak enak hati kepada Sia.


Tapi wanita itu hanya tersenyum manis dan mengangguk pelan, seraya dia berjalan menuju lantai 2. Pergi ke kamar suaminya dan ikut istirahat di dalam sana.


Saat menaiki tangga, dia melirik seorang perempuan yang terus mengawasinya dari balik pilar besar yang ada di dekat dapur.

__ADS_1


Ketika itu sia langsung tersadar dengan kesalahannya. Mungkin sikapnya yang terlalu santai, pembuat pelayan itu memberinya peringatan keras tentang misi mereka yang sempat tertunda cukup lama.


"Sia, sebenarnya apa saja yang kamu lakukan selama ini? Kamu belum melakukan pergerakan apa pun! Bahkan mata-mata yang aku letakkan di dalam rumah ini pun sampai kebingungan dengan pergerakanku!" batin Sia, mengutuk dirinya sendiri di dalam hati.


"Ah, Thomas! Bisakah aku membawa pelayan itu untuk membantuku berganti pakaian? Sepertinya aku tidak kuat untuk melakukan semuanya sendiri. Aku juga sama lelahnya seperti Albert!" ucap Sia.


Thomas menoleh ke arah pelayan wanita yang bersembunyi di balik pilar, menunjukkan ekspresi wajah takut dan polos di saat bersamaan.


Thomas kembali menoleh ke arah Sia yang tampak menunggu dengan tidak sabar. "Sepertinya dia akan membuat Anda marah! Dia masih pelayan baru, Nyonya. Biar saya panggilkan pelayan yang lebih berpengalaman untuk membantu Anda mempersiapkan diri."


Sia melambaikan tangannya acuh, kapan tidak memedulikan omelan Thomas.


"Karena dia masih pelayan baru! Bukannya pengalaman langsung akan lebih menguntungkan dia? Lagi pula, aku tidak akan memintanya melakukan hal besar. Hanya membantuku mengganti pakaian dan menyiapkan air mandi. Semua pelayan di kediaman ini pasti bisa melakukannya tanpa harus belajar dulu, kan? Itu kan pengetahuan untuk menjadi seorang pelayan?!" celetuk Sia, tampak ajudan tidak terlihat mencurigakan sama sekali.


Mau tak mau, akhirnya Thomas mengizinkannya dan meminta pelayan baru yang tampak pemalu itu mengikuti Sia ke atas kamarnya.


"Ah ... satu lagi, Thomas!"


Thomas yang hendak pergi untuk ke sekian kalinya, harus berhenti dan memandang ke arah lantai apa. Melihat Sia yang sudah berada di lantai dua, tapi memandangnya dari balik pagar balkon.


"Bisakah aku menggunakan kamar yang berbeda? Sepertinya tidur Albert akan memutar seperti jarum jam. Kemarin saja aku hampir kena tendang dan jatuh dari ranjang! Hahaha, itu sedikit menjadi pengalaman buruk untukku. Bolehkah aku menggunakan kamar yang di sebelahnya?" jelas Sia, tampak sungkan.


Tapi Thomas langsung menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan itu tanpa berpikir panjang.


"Baiklah, Anda boleh menggunakannya, Nyonya."


Sia hanya mengangguk pelan, menunjukkan gelagat biasa saja. Padahal di hatinya sudah sangat senang sampai jantungnya ikut berdebar-debar karena saking senangnya.


"Yes!! Kerja bagus, Sia! Kau memang detektif terhebat!" batinnya, bersorak dengan ria.

__ADS_1


__ADS_2