
"Tolong paspor Anda, Pak."
Gav mencari paspornya di dalam tas dan ingin segera memberikan benda itu pada pegawai loket tiket pesawat tersebut.
Tapi saat Gav mengecek benda itu ada di dalam tas atau tidak, dia tidak berhasil menemukannya.
Gav menghela napas kasar dan menatap jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Maaf, Mbak. Sepertinya paspor saya tertinggal di kantor. Penerbangan saya masih satu jam lagi, saya akan segera kembali," ucap Gav, lalu pergi dari antrean tersebut.
Pegawai loket tiket itu hanya menggelengkan kepalanya pelan, dan meminta antrean selanjutnya untuk maju.
Gav segera pergi ke kantornya, ingin mengambil paspor yang tertinggal di mejanya.
Ya, benda itu tidak mungkin tertinggal di rumah. Karena dia selalu meletakkan benda tersebut di loker meja kerjanya, tidak pernah membawanya pulang.
Sebab saat dirinya hendak melakukan perjalanan jauh, dia wajib melapor ke kantor terlebih dahulu. Karena itulah dia meletakkan barang-barang penting seperti itu tetap di kantornya.
Begitu sampai di kantor, dan selepas dia memarkirkan mobilnya di parkiran dengan rapi, Gav bergegas masuk ke dalam gedung kantor institut keamanan kota yang letak bangunannya ada di tengah-tengah kota tersebut.
Tak bisa dia memasuki kantornya, banyak hal konyol yang dia dengar. Padahal ini perjalanan bisnis yang penting, tapi kenapa berita seperti itu malah menghambat perjalanannya?
Niatnya ingin mengambil paspor dan segera kembali ke bandara dengan cepat, kini malah Gav mendengarkan dan melihat ekspresi wajah para rekan kerjanya ya tampak tertekan setelah pemberitahuan dari Farel.
"Apa yang kau katakan? Apa yang akan di lakukan wanita bodoh itu?!" tanya Gav, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut atasannya itu.
Farel menoleh ke arah lelaki itu berada, memandangnya dengan tatapan masam dan seakan tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Maafkan aku, Gav. Aku sudah melarangnya, tapi setelah mendengar penjelasan dari Sia! Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sungguh maafkan aku," ucap Farel, menatap Gav dengan tatapan bersalah.
Gav hanya menatapnya kesal sebelum seri jalan pergi meninggalkan kantornya dengan terburu-buru. Persetan dengan urusan bisnisnya. Sekarang di harus menyelamatkan temannya agar tidak terjerumus ke dalam neraka yang bisa menyesatkan hati dan pikirannya.
Dia percaya kalau Sia adalah orang yang baik. Tapi tidak dengan urusan narkoba. Semua orang bisa terjerumus stasiun mereka memiliki tekad yang sangat kuat.
Sia hannyalah wanita biasa yang sedikit kuat dari pada wanita yang lainnya. Mentalnya sangat kuat, tapi bukan berarti cinta tidak dapat mempengaruhi dirinya dan tentang pengorbanan, bukan berarti Sia tidak akan melakukan perbuatan itu untuk orang yang sudah mengambil hatinya.
Gav semakin mempercepat laju larinya. Baru kali ini dia terlihat terburu-buru dan membuat beberapa rekan yang melihat sikapnya, menjadi ikut panik dan bingung sendiri.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa terburu-buru? Kamu mau pergi ke mana, Gav?!" seru Alex, saat bertemu lelaki itu di depan kantor mereka.
Gav tidak menjawab pertanyaan Alex, dia hanya langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kantor mereka.
Alex menatap bingung pada kepergian mobil Gav yang terlihat terburu-buru dan panik. Entah apa yang tengah terjadi padanya, tapi sepertinya itu bukan hal buruk. Karena tidak ada senyuman di wajahnya, dan semangat yang biasanya membara tentang "perkerjaan" kini itu semua sudah sirna dan menyusahkan kekhawatiran dan rasa gundah di hatinya.
Alex menatap sekeliling ruangan itu saya dia sampai di ambang pintu. Ruangan itu memang terlihat aneh, dengan suasana yang mendukung. Canggung, dingin, dan penuh kecemasan.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Alex, menatap orang-orang yang ada di dalam ruangan itu dengan kening setengah bertaut.
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaannya. Mereka hanya diam dan menatap Farel yang terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Alex mengerutkan keningnya semakin dalam, dia mengedarkan tatapan matanya dan berhenti pada sebuah papan putih yang cukup besar, yang ada di sisi kanan dinding ruangan Farel berada.
Dia melihat sebuah foto seorang lelaki yang cukup dia kenali. Dan itu adalah calon suami dari temannya, Sia.
Alex bergegas mendekati papan tersebut, melihat banyak tulisan dan banyaknya panah yang mengarah pada foto lelaki tersebut.
__ADS_1
"Kami belum merilisnya sebagai tugas resmi. Tapi dia adalah orang yang berbahaya, dan Sia sudah mengambil tugas itu tanpa sepengetahuan kami." Farel menundukkan kepalanya sedikit, menunjukkan ekspresi wajah bersalah pada Alex yang tampak terkejut dengan faktor tersebut.
Alex adalah seorang polisi yang memiliki daya ingat super. Dia bisa mengingat apa pun yang dia lihat untuk pertama kali dan terus mengingatnya dalam jangka waktu yang panjang.
Sama halnya dengan dirinya yang menatap foto Albert di sana. Walaupun dia hanya pernah bertemu dengan Albert sekali, tapi dia hafal dengan betul siapa dan di mana dia bertemu dengan lelaki itu.
"Jadi maksudmu, silakan menikahi lelaki ini untuk menjalankan tugasnya? Lalu ini apa? Narkoba?? Bahkan kami belum menyelesaikan pemberantasan di kota seberang, tapi kenapa teman perempuanku malah mengincar bandarnya?!"
Alex tampak geram dan marah. Bahkan kedua tangan lelaki itu sudah mencekam kerah baju Farel dengan sangat kuat, dan membuat beberapa orang detektif mendekat ke arahnya dan berusaha memisahkan mereka berdua.
"Tolong tenanglah, Pak Alex! Di sini adalah kantor bukan jalanan. Tolong lebih disiplin! Dan lagi, Pak Farel adalah atasan Anda. Tolong perlakukan dia dengan hormat," ucap Lana, berusaha melarikan kedua lelaki yang hampir bertengkar karena masalah Sia.
Alex dan Farel pun berpisah, Alex memutuskan untuk turun ke lantai 2, ke kantornya untuk menenangkan diri di sana.
Sementara Farel diminta untuk kembali ke ruangannya dan menenangkan diri juga. Sementara yang lain juga berusaha untuk menetralkan emosi yang sempat memuncak karena melihat Alex yang hampir menghajar atasan mereka.
"Tenangkan diri kalian masing-masing. Aku hanya bisa berharap kalau Sia tidak akan terjerumus dalam masalah yang keruh. Semoga saja," ucap Lana, berusaha untuk menenangkan para rekan kerjanya yang lain.
Juro yang melihat ekspresi makan teman-temannya, hanya bisa menghela napas panjang dan melihat para junior mereka yang tampak sedih mendengar berita tersebut.
Walaupun mereka anak-anak baru, tapi sepertinya mereka cukup pandai untuk melihat situasi.
"Hahhh ... padahal dia paling senang dengan waktu ada anggota baru yang bergabung di tim kita. Tapi dia malah sibuk mempersiapkan pernikahannya sekarang? Terlebih lagi dengan lagi brengsek itu?!" pekik Juro, terlihat tampak tenang pada wajahnya tapi mengandung racun mematikan pada kalimatnya.
Orang-orang yang mendengar hal itu, hanya terdiam karena mereka tahu jika Juro pasti sedang sangat marah saat ini.
"Ya, pasti dia marah. Bagaimanapun juga, Sia tetaplah mantan kekasih yang paling dia sukai," batin Nisa, sambil memutar bola matanya malas.
__ADS_1