
"Derick kau sudah bertemu dengannya?" tanya Albert , sekretaris andalannya itu masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa data baru yang akan di serahkan kepada Albert.
Derick mendongak sedikit, menata wajah Albert yang memandangnya dengan tatapan menanti. "Maksud Anda Tuan Word?" Derick menatap Albert yang mengangguk singkat. "Ya, saya sudah memastikan seperti permintaan Anda. Nyonya Sia memang pergi ke toko Tuan Word untuk membeli beberapa barang. Tapi lebih mengarah ke barang keamanan seperti pistol dan pisau. Tidak ada yang perlu dicurigai, Tuan. Nyonya tidak berbuat aneh-aneh di toko itu," jelasnya.
Tapi sepertinya jawaban Derick tidak membuat hati Albert menjadi lega. Albert malah mengurutkan alisnya lebih dalam dari pada sebelumnya.
"Kau yakin?!" tanya Albert, menatap wajah Derick yang tidak terlihat sedang berbohong.
Derick hanya mengangguk singkat dan memberikan dokumen-dokumen yang dari tadi dia genggam di kedua tangan yang kepada Albert.
"Dari pada memikirkan hal yang negatif, lebih baik Anda mengerjakan pekerjaan ini. Saya sudah memilihnya dan merapikannya sedikit, Anda tinggal membacanya kembali dan membubuhkan tanda tangan." Derick tersenyum saat melihat wajah masam Albert terlihat, ketika kedua matanya menatap setinggi apa tumpukan dokumen itu.
"Aku harus menyelesaikannya hari ini??"
Derick menganggukkan kepalanya mantap, membuat sang Tuan menghela napas lelah.
"Baiklah. Sekarang kamu boleh keluar. Terima kasih karena sudah menambah banyak pekerjaan untuk!" ucap Albert, di sertai senyuman palsu.
Derick hanya mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu, meninggalkan Albert yang mulai di sibukkan dengan pekerjaan barunya.
"Cander!" panggil Derick, membuat lelaki bertubuh bongsor itu mendekatinya dengan tatapan bertanya-tanya.
"Apa yang Anda perlukan?" tanya Cander, memandang Derick yang mengeluarkan aura membunuh.
"Panggil teman kamu dan selidiki Nyonya. Aku tidak tahu pasti, tapi sepertinya dia menyelidiki kita." Derick memandang Cander dengan mata elangnya. "Aku tidak ingin Tuan Albert tahu sebelum kita bisa memastikan secara jelas! Aku tak mau dia kecewa karena orang yang dia cintai, menyimpan pisau di balik senyumannya."
Cander mengangguk singkat dan menatap Derick dengan tatapan tak kalah serius. "Baiklah, Tuan Derick. Saya akan menyelidiki beliau."
__ADS_1
Sementara di balik pintu keuangan Albert, si pemilik ruangan sudah berdiri di sana sambil mendengarkan kedua orang ajudannya berbicara.
"Begitu, ternyata memang terjadi sesuatu kepada Sia. Apa aku harus berpura-pura tidak tahu dan melihat pergerakannya?" gumam Albert, dalam hati.
Tapi tak lama setelah itu, ponsel obat berdering dan menunjukkan nama Sia di layar ponselnya.
"Umur panjang. Baru dibicarakan, sudah muncul saja!" Albert segera mengangkat telepon tersebut dan mendengarkan perkataan sang istri seakan dia tidak mengetahui apa pun, seperti biasanya. Albert tetap memperlakukan Sia dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Hahh ... bisakah kamu menjemputku? Sepertinya ban mobilku bocor di tengah jalan. Aku sudah menghubungi montir. Tapi di sini tidak ada taksi. Bisa kamu menjemputku? Aku sedang ada di jalan XX sekarang,."
Ucap lawan bicaranya, dari seberang sana dengan nada yang terlihat khawatir dan masam.
Albert tidak langsung menjawab. Dia masih diam dan mendengarkan keluh kesah Sia yang terlihat kesal karena mobilnya mogok di tengah jalan dan dia tidak kunjung mendapatkan taksi di hari yang panas ini.
"Maafkan aku, Sia. Aku tidak bisa menjemputmu karena sebentar lagi ada rapat. Maafkan aku, tidak bisakah kamu menghubungi temanmu? Atau sahabatmu? Kamu bisa meminta tolong pada mereka, kan? Kenapa harus menghubungiku? Kamu juga tahu kalau aku sedang bekerja. Jadi aku pasti sedang sibuk, kan?!"
Setelah mengatakan hal itu Albert diam, tidak mendengarkan suara Sia dari seberang sana dan hanya mendengar suara lalu-lalang kendaraan yang cukup berisik.
BRAK!
Tut ... tut ... tut ....
Albert terdiam, suara yang baru saja terdengar beberapa detik sebelum sambungan telepon mereka terputuskan, bahkan sebelum Sia menyelesaikan kalimatnya, membuat kening Albert mengurut sempurna.
"Sia?"
Berita eksklusif hari ini, sebuah kendaraan melaju cepat dan menabrak narasumber pendidikan hukum yang sedang terkenal akhir-akhir ini.
__ADS_1
Suara pembawa acara yang terdengar dari televisi yang menyala, membuat pandangan Albert tertuju kepadanya.
Seorang wanita masih terlentang di tengah jalan dengan posisi terlentang seperti bintang, kepalanya berdarah dan membuat bercak merah itu membasahi sebagian jalan yang ada di sekitar tubuhnya.
Pakaian dan postur tubuh yang sama, Albert yang melihat itu langsung terdiam dengan kaku.
Beberapa saat yang lalu dia masih mendengar suara Sia dari sambungan teleponnya. Tapi dalam beberapa menit, sekarang dia melihat tubuh wanita itu tergeletak di tengah jalan dengan keadaan yang naas.
"Tuan! Nyonya-" perkataan Derick terhenti di depan pintu, dia menatap Albert yang sibuk memfokuskan diri menatap layar televisi di depannya dengan tatapan bengong.
Wajah terkejut dan tidak percaya yang ditunjukkan lelaki itu, benar-benar terlihat nyata.
Entah kenapa, tapi telepon yang masih berada di dekat telinganya, membuat Derick sedikit curiga. Tentang Albert yang baru melakukan panggilan telepon dengan istrinya sebelum kecelakaan berlangsung.
"Kenapa tiba-tiba saja itu masuk berita? Padahal belum sampai satu menit aku mendengarnya tertabrak mobil dari seberang sana. Apa kecepatan wartawan untuk mengambil berita memang sangat gila seperti itu?!" Albert menoleh ke arah Derick yang berdiri di abang pintu tempat di belakangnya.
Derick menawan ludahnya susah. Ternyata anggapannya memang benar. Albert baru menghubungi Sia sebelum kecelakaan itu terjadi dan membuatnya sangat syok dan tidak bisa berkutik.
"Kebetulan orang wartawan lewat di jalan itu dan melihat sebuah mobil dengan kecepatan gila, menerjang ke arah Nyonya Sia. Karena dia tahu apa yang akan terjadi pada wanita itu, jadi dia dan rekan kerjanya langsung menyalakan kamera dan bisa meliput berita eksklusif itu di tempat!"
Selesai sudah, Albert yang mendengar berita itu langsung terdiam dengan terduduk lemas di atas lantai.
Wajahnya yang kalut tidak bisa lagi dia sembunyikan. Dia benar-benar merasa bersalah karena menolak permintaan terakhir istrinya.
"Hahh ... seharusnya aku senang karena orang yang berusaha memasukkanku ke dalam penjara telah tiada. Tapi kenapa perasaanku campur-aduk seperti ini, Derick? Apa aku benar-benar mencintai wanita itu?" Albert menentukan kepalanya dalam, menyadari sebuah perasaan yang sudah terlanjur jatuh dan tidak bisa lagi dia selamatkan.
Mungkin tindakan bodoh yang selama ini di anggap sebagai salah satu upaya rencananya untuk mencari tahu niat Sia mau menikah dengannya, adalah karena dia sudah jatuh hati pada wanita itu dan tidak dia sadari sedikit pun.
__ADS_1
Albert memang orang yang kaku. Tapi dia tidak menyangka kalau dirinya juga bodoh karena tidak menyadari keinginan hatinya.
"Hahaha ... istriku telah tiada, kan? Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan, Derick? Semua kejadian ini terlalu cepat!" keluh Albert, terlihat sangat kalut.