
"Kamu mau pinjam ponselku lagi untuk malam ini? Bagaimana ponselmu? Belum dibenarkan??" Tanya Albert, menatap wajah Sia yang tampak acuh.
Sia mengangguk singkat, kedua matanya masih fokus menatap buku dan tidak melihat ekspresi wajah Albert yang terlihat tidak nyaman saat ini.
"Kenapa? Aku tidak boleh meminjamnya??" Sia mengangkat kepala, baru memperhatikan reaksi Albert yang terlihat tidak bersahabat. "Tidak apa kalau kamu tidak mengizinkannya. Aku bisa pergi ke rumah lama, atau pergi ke warnet dekat sini. Toh, masih banyak fasilitas yang bisa aku gunakan."
Albert terdiam, memikirkan tentang bagaimana seorang istri dari CEO Termuda dari perusahaan besar, marah tidak memiliki benda elektronik yang diperlukan dan malah pergi ke warnet untuk mengerjakan tugasnya.
"Tidak ... tidak, kamu bisa menggunakannya malam ini. Tapi aku juga akan berada di ruang kerja. Karena aku juga akan begadang."
Sia hanya mengangguk singkat, dan kembali menundukkan kepalanya untuk melanjutkan kegiatannya.
"Kalau dia juga ada di ruang kerja, berarti aku tidak bisa menjalankan rencana ini lagi. Hah, susah sekali!" celetuk Sia, dalam hati.
Pukul 13.00 malam ....
Sia masih cukup dengan berbagai macam pekerjaan kantornya yang menumpuk, karena akhir-akhir ini dia menolak pekerjaan di lapangan dan mengalihkan semua kegiatannya ke pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah. Dan itu adalah menyusun dokumen-dokumen dan mencari bukti-bukti setelah para teman-temannya mengumpulkan komponennya.
"Hahhh ... laporannya sudah selesai. Aku tinggal membuat proposal baru tentang ini!" celetuk Sia, dengan suara lirih dan jari yang tidak bisa berhenti mengetik.
Albert yang dari tadi tertidur, tiba-tiba terbangun dan melihat apa yang sedang di lakukan Sia di meja kerjanya. Dan ternyata wanita itu masih bekerja bahkan tidak mengenal waktu.
Albert kira, Sia bukan orang yang suka bekerja apalagi serius dalam melakukan pekerjaannya. Tapi siapa yang menyangka kalau Sia adalah tipe orang yang gila bekerja.
Albert bangkit dari sofa, tempat dia mengerjakan pekerjaan kantornya dari tadi. Dia mendekat ke arah Sia dan melihat ke arah layar komputer yang tengah digunakan oleh wanita itu.
"Pekerjaan kamu masih banyak? Tidak lapar??" tanya Albert, membuat Sia menoleh padanya tapi tidak membuat kedua jari lentik wanita itu berhenti mengetik di papan keyboard.
__ADS_1
"Ya? Apakah kamu lapar? Mau aku buatkan sesuatu??" tanya Sia, memperhatikan Albert yang tengah berdiri di samping kursinya.
"Tidak apa kalau pekerjaan kamu di tinggal? Nanti malah tidak selesai-selesai." Albert merasa tidak enak hati, karena dari kemarin dia tahu kalau Sia memang sibuk. Tapi dia tidak bisa meminjamkan semua barang elektronik yang dia gunakan kepada istrinya.
Bangkit dari tempat duduknya, Sia menyimpan semua data yang baru dia kerjakan terlebih dahulu sebelum berjalan keluar dari ruang kerja diikuti oleh Albert.
"Mau makan malam apa? Aku akan lihat bahan-bahan di dalam lemari pendingin dulu. Aku tidak yakin kalau bahan makanan masih tersisa banyak karena para pelayan sudah menggunakannya untuk membuat makan malam kita tadi," ucap Sia, saat mereka berdua sedang menuruni tangga.
"Kalau begitu aku akan membelinya di pasar. Katakan saja apa yang kamu perlukan," ucap Albert, membuat senyuman manis Sia hadir dengan cantik di wajahnya.
"Tuhan memang menyayangiku!" batin Sia, mengolah senyuman penuh kemenangan yang dia sembunyikan dibalik telapak tangannya.
Sia segera menoleh ke arah belakang, menatap Albert yang tengah memandangnya dengan tatapan memperhatikan, dengan tatapan bahagia.
"Sungguh? Memang malam-malam begini kamu mau beli di mana? Pasar? Bukannya itu jauh??" tanya Sia, pura-pura kasihan jika Albert harus pergi jauh-jauh ke sana.
Sia mengulas senyuman masam, dia melihat ke arah jarum jam dan memandang Albert dengan tatapan sungkan.
"Maafkan aku. Tapi ini bukan jadwalnya makan. Aku sedang menjaga berat badanku, karena akhir-akhir ini berat badanku sedikit naik!" jelas Sia, tanpa berani memandang wajah suaminya yang mungkin saja kesal karena dia tidak bisa menemaninya makan.
"Ohh ... ya, aku mengerti. Kalau begitu aku akan beli sendiri untuk diriku. Kamu jadi pinjam handphoneku? Aku akan meninggalkannya di rumah, toh belinya juga dekat. Aku akan segera kembali!" ucap Albert, mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memberikan benda tersebut kepada sang istri.
Sia menerima benda itu dengan senang hati. "Terima kasih. Jangan lama-lama dan pulanglah dengan selamat. Akan kembali ke ruang kerja, selamat makan!"
Setelah itu Albert melihat sang istri yang bergegas masuk ke dalam ruang kerja dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Albert menghela napas panjang, berjalan menuju ke lantai 1 dan bertemu dengan Thomas yang setia begadang untuk berjaga-jaga kalau kedua Tuannya membutuhkan sesuatu.
__ADS_1
"Thomas, bisakah aku minta tolong padamu?" tanya Albert, menghampiri Thomas yang duduk di sofa ruang tamu.
Thomas yang tengah membaca koran, mendengar teguran itu dari sang Tuan, langsung menutup korannya dan bangkit untuk menyambut kehadiran Albert.
"Ya, Tuan. Anda bisa mengatakan yang kepada saya. Apa yang Anda perlukan?" tanya Thomas, mendapatkan dirinya kepada Albert.
"Aku memberikan handphoneku pada Sia, tolong awasi dia dan laporkan setiap pergerakannya padaku. Hah ... walaupun aku tahu apa yang dia lakukan dengan ponselku, tapi firasatku selalu berkata kalau tindakan itu buruk. Kamu tahu kalau firasatku tidak pernah salah, kan?!"
Thomas hanya mengangguk, dan menatap Albert dengan tatapan serius. "Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Saya akan mengawasi Nyonya dengan baik. Tapi sekarang Anda ingin pergi ke mana??"
Thomas melihat penampilan Albert dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dia mengenakan pakaian kasual, tapi tampaknya dia tidak akan berada di rumah. Seperti orang yang akan keluar sebentar ke depan warung yang ada di ujung gang.
"Aku mau beli nasi goreng di depan. Hanya sebentar, aku tidak tega meminta Sia untuk masak makan malam jam segini. Jadi aku akan membeli sebentar di depan, awas dia untukku!" ucap Albert, sambil berjalan pergi meninggalkan Thomas.
Thomas menundukkan kepalanya hormat. Dan membiarkan lelaki itu keluar dari rumah dengan aman.
Thomas menatap ke arah lantai 2, tempat di mana ruang kerja yang pintunya tidak tertutup itu berada.
"Aku sudah yakin dengan itu. Tuan Albert tidak mungkin memberikan akses semudah itu tanpa curiga, walaupun itu adalah Nyonya. Tuan pasti tetap akan mencurigainya. Terlebih lagi, pekerjaan Nyonya adalah budak negara. Dia pasti memiliki taktik untuk melakukan sesuatu di keluarga ini! Dari awal Nyonya memang sudah mengincar keluarga ini," batin Thomas, mulai melangkahkan kakinya masuk ke arena tanggal dan naik ke lantai 2.
"Nyonya, Anda membutuhkan-"
Thomas terdiam, menatap seorang lelaki yang berdiri di ambang jendela dengan membidikkan moncong pistolnya pada bagian belakang kepala Sia yang tampaknya tidak mengetahui keberadaan lelaki tersebut.
"Nyonya, merunduk!!" teriak Thomas, langsung membuat Sia dengan spontan mengikuti instruksinya.
Dor!!
__ADS_1