
Sia menatap keluar jendela, memandang beberapa orang yang sedang berlalu-lalang di sekitar tempat itu bedengan tatapan lelah.
"Kenapa kamu terlihat lemas?" tanya Albert, saat memasuki ruang rawat Sia.
Sia menoleh ke arahnya sejenak, dan kembali menatap ke luar jendela. "Tidak ada, memangnya kenapa? Aku hanya melihat-lihat," jawabnya, tidak bersemangat.
Albert memberikan sebuah pepper bag berisi beberapa buku novel, yang dia rasa cukup bagus untuk menemani waktu Sia.
Sia menata beberapa bingkisan yang lain, yang diletakkan di atas meja tanpa diberikan langsung kepadanya.
"Itu apa isinya?" tanya Sia, membuat Albert menoleh ke arah meja yang di tunjuknya.
"Pakaian! Kenapa? Kamu sudah inginkan di baju??" tanya Albert, mengambil satu pepper bag memberikannya lagi pada Sia.
Sia membuka isi tas tersebut, dan menghela napas lelah saat mengetahui isinya.
"Kenapa membawakanku baju tidur? Kamu tidak tahu kalau dokter bisa maksud kapan pun? Makan para perawat sudah keluar masuk dari ruangan ini sebanyak 10 kali dalam sehari. Kamu kira aku bisa mengenakan pakaian seperti ini?" Seru Sia, menatap jengah wajah Albert.
"Begitukah? Kalau begitu aku akan bermalam di sini. Aku yang akan membantumu mengganti infus dan pakaian. Kita sudah menikah, Sia! Aku harap kamu tidak masalah dengan itu," ucap Albert, terdengar konyol di telinga lawan bicaranya.
Memutar bola matanya malas, Sia beranjak turun dari ranjang dan pergi ke arah pintu.
"Kamu mau ke mana?" tanya Albert, berjalan mengikutinya seperti anak ayam.
Sia melirik lelaki itu dari ekor matanya. Tatapan yang cukup tajam, sampai membuat langkah Albert terhenti dalam jarak 3 langkah dari posisi Sia.
"Jangan terus mengikutiku. Aku sesak melihat orang-orang memperlakukanku seperti orang penyakitan yang mau mati! Padahal kata dokter aku sudah boleh pulang. Tapi kenapa kamu tetap menahan aku di sini?!" Seru Sia, tampak marah dan kesal.
Albert tidak bisa mengelak, yang dikatakan oleh wanita itu memang benar. Dokter sudah memperbolehkannya pulang. Tapi Albert tidak menginginkan Sia pulang dalam kondisi yang masih belum sembuh total.
__ADS_1
Tapi siapa yang akan menyangka, kalau keputusan Albert malah membuat hubungan mereka sedikit merenggang?
"Jadi maumu apa? Kamu ingin pulang sekarang?? Kalau iya, aku bisa memintanya pada dokter. Dan kita akan pulang sore ini. Kamu mau melakukannya?" tanya Albert, tidak memaksa.
Sia memutar bola matanya malas dan pergi meninggalkan Albert di dalam kamarnya.
Tapi baru saja membuka pintu, Cander, pengawal pribadi Albert, menghalangi jalannya dan membuat Sia memandangnya marah.
"Tidak bisakah kamu menyingkir?" Ucap Sia, dengan intonasi yang cukup ketus.
Cander, menoleh ke arah Albert. Menunggu persetujuan dari sang Tuan. Dan Albert mengangguk, dalam arti, dia memperbolehkan Sia pergi keluar dari kamarnya.
Cander pun minggir dari tempatnya, membiarkan Sia pergi meninggalkan ruangan itu, dan menyisakan kedua lelaki yang menatapnya pergi menjauh.
"Anda tidak ingin pergi bersama Nyonya? Sepertinya dia marah. Anda tidak membujuknya?" tanya Cander, menatap wajah Albert yang terlihat lelah.
Bahkan setelah Sia keluar dari kamarnya dengan wajah murung, Albert tidak mengejarnya dan malah duduk di tepi ranjang dengan menunjukkan ekspresi lelah.
Cander mengangguk kecil, sambil berkata, "Baik, Tuan."
Sementara itu Sia yang pergi karena merasa kesal, malah keluar dari bangunan rumah sakit dan meninggalkan tempat tersebut.
Padahal saat ini dia masih mengenakan pakaian pasien. Dan itu membuat orang-orang memandangnya dengan aneh, tentu ada beberapa orang yang menghampirinya dan menawarkan untuk mengantar Sia kembali ke rumah sakit.
Karena mereka kira Sia adalah orang gila, yang kabur dari rumah sakit. Mangkanya mereka melakukan hal itu.
Ada juga yang sampai mengeluarkan ponsel, dan menghubungi pihak rumah sakit untuk mengabarkan salah satu pasiennya keluar dari sana. Tapi untungnya Sia dapat menggagalkan semua itu dan pergi dengan aman meninggalkan bangunan putih dengan lima lantai yang di penuhi dengan bau obat dan orang tua.
"Kamu mau pergi sejauh mana Sia?!" tanya seorang lelaki, yang suaranya sangat di kenal di oleh Sia.
__ADS_1
Sia menoleh, menatap Albert yang sudah berjalan di belakangnya, entah sejak kapan.
"Astaga! Sejak kapan kamu di sana? Kenapa tidak berjalan bersamamu saja kalau memang ingin ikut keluar?!" Seru Sia, terlihat sedikit marah.
"Oh ... aku kira kamu marah, mangkanya sampai kabur dari rumah sakit. Mangkanya itu juga, aku tidak berjalan bersamamu! Pergilah ke mana pun yang kamu suka, aku hanya akan mengawasi dari jauh!" Ucap Albert, benar-benar membiarkan Sia pergi ke mana pun yang di rumah.
"Kalau aku naik taksi, kamu juga akan ikut naik?" Sia menoleh ke arah belakang, memandang lawan bicaranya yang berjalan santai dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celana.
"Memangnya kamu punya uang untuk membayar taksinya? Kalau aku tidak ikut naik, siapa yang akan membayarnya??" celetuk Albert, menyadarkan Sia jika dia tidak mau bawa apa pun kecuali dirinya, saat berusaha kabur dari rumah sakit.
Sia menepuk keningnya ampun. Dia meratapi kebodohannya dengan terus menentukannya beberapa kali.
"Jadi kamu mau naik taksi atau tidak??" tanya Albert, sudah menghentikan sebuah taksi yang sedang menunggu Sia masuk ke dalam sana.
Bahkan pintunya sudah di buka oleh Albert, agar Sia bisa langsung masuk dan mereka bisa segera pergi dari tempat tersebut.
"Kamu yakin akan ikut denganku? Mungkin kamu tidak akan suka, tapi kamu masih bersikeras??"
Albert menggidikkan bahunya samar. "Memangnya kenapa? Kamu mau pergi ke kantor atau ke kantor polisi?? Tetap saja, aku akan ikut walaupun kamu masuk ke neraka sekali pun!"
Sia diam beberapa saat, menatap wajah Albert yang tampak serius saat mengatakan jawaban tersebut.
Sia menghela naas lelah, masuk ke dalam taksi di ikuti dengan Albert yang duduk di sebelahnya. Lantas mereka pergi, ke tempat tujuan awal Sia pergi.
"Ke mana kita akan pergi? Setidaknya beritahu aku agar tidak terlalu terkejut!" Ucap Albert, menatap lawan bicaranya yang duduk dengan tenang di sampingnya.
"Pemakaman! Ada seseorang yang ingin aku temui di sana. Kamu tunggu saja di dalam mobil, aku tidak akan lama!" Ucap Sia, membuat kedua mata Albert tak berhenti memandangnya dengan lekat.
"Untuk apa kamu menemui seseorang di pemakaman? Siapa yang ingin kamu temui sampai harus pergi ke tempat itu?" Albert menghela napas jengah, mulai tak mengerti dengan pemikiran sang istri. "Padahal banyak Cafe dan tempat-tempat lain, yang lebih nyaman untuk dijadikan tempat pertemuan. Tapi kenapa malah pergi ke tempat suram seperti itu??"
__ADS_1
Sia mengulas senyuman masam. "Bukannya kamu sudah sadar, berarti seseorang yang aku temui di tempat itu bukanlah manusia, kan?!"