
"Kamu yakin akan tidur di sana??" tanya Albert menunjuk ke arah sofa yang tadi dimaksud oleh Sia.
Wanita berusia 24 tahun itu, mengangguk pelan pada setuju. "Memang kenapa? Sofanya cukup tebal, memangnya kamu mau tidur di sana? Tidak, kan?!"
Albert diam beberapa saat sambil memandangi sofa yang ada di sana. Entah kenapa dia merasa tidak tega membiarkan Sia tidur di sana, walaupun dia juga tidak mau tidur di sana.
"Bagaimana kalau kita berbagi ranjang saja? Kita beri batas! Aku bisa meminta Lard untuk mengambil selimut dan kita akan buat gorden pembatas. Bagaimana? Kita akan tidur di sini selama satu minggu, Sia. Memangnya kamu yakin akan tidur di sana terus? Bisa-bisa punggung kamu sakit, dan orang-orang akan menuduhku melakukan hal yang tidak aku lakukan karena kamu!" celetuk Albert, benar-benar tidak ingin di salah pahami tentang hal sensitif itu.
"Baiklah, bukan masalah besar. Lagi pula aku terbiasa tidur dengan laki-laki di sebelahku. Bukan masalah berat untukku," celetuk Sia, membuat Albert terdiam dengan memandangnya dengan tatapan bingung.
"Tunggu dulu! Kamu baru bilang apa? Tidur dengan laki-laki? Kamu punya kekasih sebelum menikah denganku?? Sudah putus?!" tanya Albert, seakan terkejut.
Padahal Derick bilang kalau Sia tidak memiliki kekasih. Tapi wanita itu baru saja mengatakan, kalau dirinya tidur dengan laki-laki? Laki-laki yang mana maksudnya??
"Apa jangan-jangan Derick memberi aku informasi yang salah lagi??" batin Albert, mulai kesel.
Lain halnya dengan Sia yang tampak tenang sambil memperhatikan yang dengan tatapan masam.
"Ah, maafkan aku. Kamu tidak tahu pekerjaanku. Wajar kalau kamu tidak tahu apa yang aku maksud!" celetuk Sia, malah membuat salah paham.
"Bagaimana lagi itu maksudnya? Kamu punya laki-laki lain? Atau setiap malam kamu bergonta-ganti laki-laki? Kamu masih aman, kan Sia? Tak pernah terkena HIV, kan?!" celetuk Albert, sudah berpikir ke mana-mana.
Sia yang mendengar hal itu langsung mengerutkan keningnya dalam, menatap lawan bicaranya dengan tatapan aneh, dan membuat Albert malu sendiri.
"Berpikir sampai sejauh mana kamu?! Jangan mengatakan hal yang macam-macam! Aku bukan wanita penghibur. Hanya saja, terkadang aku tidur dengan laki-laki jika sedang kepepet."
Albert menempuh keningnya ampun, menatap Sia dengan pah papah lelah dan tidak lagi membahas hal yang membuatnya penasaran, tapi lebih ke hal yang negatif thinking.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah. Terserah aja, aku tidak ingin tahu apa pekerjaanmu! Lagi pula kamu juga tidak tahu apa pekerjaanku, kan? Kamu hanya tahu aku seorang CEO Muda dan aku hanya tahu kamu sebatas model iklan! Jadi aku tidak akan memperpanjang masalahmu yang tidur dengan laki-laki lain. Asal setelah menikah, kamu bisa menjaga sikapmu saja!" jelas Albert, sambil berjalan pergi meninggalkan Sia.
Tapi sebelum keluar dari kamar tersebut, Albert menoleh ke arahnya dan menatap Sia cukup lama.
"Ada apa?" tanya Sia, menatapnya dengan kening berkerut samar.
"Tidak, aku hanya ingin mengingatkan. Tidur saja di ranjang! Nanti aku yang akan mengurus gordennya. Jangan sampai masuk angin. Bersihkan dirimu dan ganti pakaianmu. Kamu terlihat tidak nyaman," ucap Albert, dan benar-benar pergi meninggalkannya setelah itu.
Klek ....
Seperti biasa, saat Albert sudah tidak ada di sisinya, ekspresi wajah Sia langsung berubah menjadi muram. Tampak dingin dan selalu menusuk ke arah mana dia memandang.
Sia menghela napas panjang, mengeluarkan ponsel dari saku gaunnya.
"Melelahkan juga harus berakting setiap hari di depan dia! Aku harap setelah ini dia kan mendapatkan banyak tugas luar kota, agar aku tidak susah-susah berakting untuk menipunya!" celetuk Sia, membanting dirinya ke atas ranjang dengan posisi telentang seperti bintang laut.
Sia mulai menghubungi seorang lelaki, ekspresi wajahnya yang sudah berubah menjadi muram, kini kembali tersenyum saat mendengar suara jalak itu.
Sia yang mendengar suaranya langsung tersenyum lebar dan bangkit dari posisinya. Duduk dengan posisi bersila, dengan menunjukkan ekspresi semangat.
"Kamu tidak ingat aku?!" tanya Sia, pada lelaki yang menerima teleponnya dari seberang sana.
"Ya?"
Sia memutar bola matanya malas dan mulai mendengar suara tawanya yang kecil. "Jangan suka bercanda denganku!"
"Hahaha, baiklah. Maafkan saya pelanggan VIP. Kami akan segera mengantar pesanan Anda ke alamat yang biasa."
__ADS_1
"Tidak! Tunggu, jangan antar ke rumah. Tolong catat alamat ini ... dan aku pesan double ayam dengan soda di tambah dengan kentang goreng rasa keju yang diberikan banyak origano di atasnya!"
"Pesanan Anda hari ini tampak berbeda. Sepertinya suasana hati Anda terlihat tidak baik. Sebagai pelanggan yang setia pada restoran kami, kami akan memberikan Anda satu menu pasta yang baru masuk ke dalam daftar menu 1 minggu yang lalu! Selamat mencoba, dan jangan lupa berikan kami kritik dan sarannya,"
Sia tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya antusias.
Seakan tahu apa yang tengah dilakukan oleh Sia, si penerima telepon langsung tersenyum dan menutup panggilannya dengan mengucapkan salam ramah.
"Baik, tunggu pesanan Anda di tempat. Selamat menikmati!" celetuknya, dan benar-benar menutup telepon mereka.
Sia segera merebahkan kembali badannya yang terdapat sakit dan pegal-pegal. Seperti kata Albert, sepertinya dia butuh mandi dan mengganti pakaian dengan yang lebih nyaman.
Lagi pula, di dalam lemari yang ada di ruangan itu, pakaian mereka berdua sudah di sediakan. Tapi disediakan oleh pihak hotel, bukan para pelayan rumah mereka.
Sia sudah menduga apa isinya. Pasti banyak pakai yang seksi yang disediakan untuknya, sementara kemeja putih untuk Albert.
Sia berjalan ke arah lemari yang ada di pojok ruangan, membuka kedua katupnya dan melihat isi lemari tersebut dengan senyuman miring.
"Sudah aku juga! Perbuatan mengenakan pakaian haram itu, lebih baik aku pinjam baju Albert saja. Toh, dia tidak mungkin marah karena aku memakai salah satu kemejanya!" celetuk Sia, mengambil salah satu kemeja Albert dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Pukul 11.00 malam, Albert baru kembali ke kamar. Dia mengira kalau Sia sudah tidur, tapi siapa sangka jika wanita itu masih terjaga di temani oleh beberapa kotak ayam goreng dan satu kotak pizza berukuran jumbo, serta tak lupa satu gelas soda besar yang sudah habis setengah gelasnya.
Sia menoleh ke arah pintu saat indra pendengarannya menangkap suara benda itu di dorong oleh seseorang dari luar.
Sia melihat wajah Albert yang tampak lelah, tapi masih mengulum senyuman manis saat kedua mata mereka bertatapan.
"Kamu terlihat lelah. Mau makan denganku?" tawar Sia, sambil menyunggingkan senyuman polos dan mengulurkan gelas sodanya pada Albert.
__ADS_1
Albert tersenyum simpul dan bergabung dengannya di atas ranjang, memakan makanan penuh kalori dan minyak itu sambil bercerita sepanjang malam.
Tidak ada malam panas di antara keduanya. Hanya obrolan manis dan pedas yang dicampur dengan berbagai macam gurauan yang membuat keduanya terlihat akrab.