
Berjalan keluar dari rumah sakit dengan membawa tas besar yang dia bawa secara mandiri, Sia memutuskan untuk pulang karena dia tidak ingin berlama-lama di rumah sakit.
Terlebih lagi karena Albert terus bersamanya dan membicarakan masalah yang tidak ingin dia dengar.
"Sia, kau mau pergi ke mana?! Aku belum selesai bicara. Jangan menghindari pembicaraan ini. Kamu juga tahu kalau kamu sudah hamil saat itu, kan? Karena itu kamu sering menonton bahaya dan tadi, kamu membiarkan aku mencoba membunuhmu!" seru Albert, tidak membuat langkah Sia terhenti karena semua omongannya.
Albert mulai kesel, dia berjalan menyusul Sia dan menggenggam tangan kiri wanita itu, berusaha menahan langkahnya tapi tampaknya Sia benar-benar tidak mau berbicara kepadanya.
Sia langsung menghempaskan tangan Albert dan kembali berjalan tadi menjauh darinya. Bahkan dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya.
Albert kembali mengikutinya, kini dia tidak menghentikan wanita itu melainkan berjalan di sampingnya sambil berbicara.
"Kenapa kamu menyembunyikan masalah ini dariku? Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sedang hamil?! Harusnya kamu mengatakan hal seperti itu kepada suamimu, kan?! Karena anak di dalam perutmu bukanlah anakmu sendiri. Dia juga anakku! Tapi kenapa kamu malah menyembunyikannya?!" marah Albert, seakan-akan tidak ingin mengalah kepada Sia yang sedang sakit.
Sia masih diam, tidak memperhatikan lelaki itu dan terus berjalan pergi meninggalkannya.
"Jangan menghindariku terus. Kalau kamu terus tak mengacuhkan aku, aku tidak akan meminta para pelayan untuk membukakan kamu pintu saat pulang! Mau tidur di mana kamu setelah itu, hah?!" marah Albert, menatapnya dengan tatapan kesal dan jengkel.
Sia menghentikan langkahnya, membuat Albert menatapnya dengan tatapan geram dan marah yang masih terlihat jelas di sorot matanya yang terlihat tajam menusuk.
"Kau- sebenarnya apa maumu? Bukankah kamu tidak mengharapkan kehadiran seorang anak di pernikahan ini?! Kita menikah hanya karena kamu memiliki skandal yang terlibat karena aku. Dan aku memiliki alasan pribadi untuk menerimanya! Bukankah lebih baik tidak ada anak di dalam pernikahan di seperti ini? Kalau semisal dia lahir, kamu pasti akan mengambilnya dan memisahkan aku darinya, kan?!"
Sia berteriak dengan cukup kuat, bahkan tepat di depan wajah Albert. "Kau tidak tahu betapa takutnya aku membayangkan hal seperti itu, kan?! Kau tidak pernah memikirkan aku juga, kan?! Karena itu aku tidak pernah membiarkan kamu mengetahui fakta ini. Karena aku ingin membesarkannya sendiri saat kita berdua sudah sepakat untuk bercerai. Tapi siapa yang menyangka akan ada kejadian seperti ini."
__ADS_1
Sia mulai menangis, memperlihatkan ekspresi wajahnya yang frustrasi dan terpuruk.
"Dia ada di dalam perutku! Dan aku kehilangannya. Yang tidak bisa menjaganya dengan baik adalah aku. Kamu tidak tahu betapa sakitnya aku saat mengetahui fakta ini, kan?! Yang sakit hati di sini bukan hanya kamu saja. Aku juga. Aku adalah ibunya!!" teriak Sia, tak bisa lagi membendung rasa sakit hati dan sedihnya.
Sia menangis dengan cara yang histeris, membuat beberapa orang yang hendak menjenguknya hari ini, menahan langkahnya dan menatap kedua pasangan suami istri itu dari kejauhan.
Albert ingin merengkuh tubuh Sia ke dalam pelukannya. Tapi saat tangan kanannya hampir meraih bahu wanita itu, Sia sudah berbalik dan pergi meninggalkannya.
Albert hanya diam di tempat, tidak menyusul langkah Sia yang tampaknya lebih membutuhkan waktu sendiri, dari pada orang yang bisa menenangkan hati.
Sia juga tidak melihat kehadiran teman-temannya. Padahal dia berjalan bersisipan jalan dengannya, tapi wanita itu langsung pergi begitu saja dan meninggalkan tempat itu dengan taxi.
Albert menghela naas panjang, menyugar rambutnya kasar dan menatap Derick dan Cander yang hanya berani memperhatikan dirinya dari jauh tanpa berniat untuk mendekat.
Selepas malam itu, kedua pasangan suami istri yang biasanya tidak pernah bertengkar dan selalu berada di rumah. Kini keduanya tidak terlihat oleh para pelayan yang tinggal di rumah Albert.
Dan tidak membuat para pelayan penasaran dengan hal itu. Karena akhir-akhir ini Albert cukup sensitif, dan membuat mereka paham kalau terjadi masalah di antara keduanya. Dan tidak seharusnya mereka ikut campur dalam masalah rumah tangga Tuan mereka.
Pukul 23.00 malam hari ....
Farel melihat sebuah meja di antara 8 meja yang ada di arena kantor miliknya, terlihat lampunya masih menyala.
Farel mendekati meja tersebut dan melihat seorang wanita tidur dengan posisi telungkup dengan komputer yang masih menyala.
__ADS_1
Sepertinya dia baru saja tidur beberapa saat yang lalu. Jadi Farel tidak berani membangunkannya tapi juga merasa kasihan kalau di tinggal di sini sendirian.
"Hei, Sia. Bangunlah dan pulang ke rumah suamimu. Kamu tidak mau pulang? Sampai kapan kamu harus menumpang di rumahku? Teman-temanmu saja panik. Mereka bingung dengan tempat tinggalmu yang tidak mereka tahu. Haruskah kita tinggal bersama dalam waktu yang lebih lama lagi??" tanya Farel, membuat Sia bangun dari tidurnya dan mendongak sedikit, menatap wajah Farel yang berdiri di depan mejanya dengan tatapan datar.
Sia menegakkan punggungnya, melakukan peregangan kecil untuk mengemaskan otot-ototnya dan segera membereskan barang-barangnya.
"Aku bukannya ingin selalu pulang terlambat. Tapi si pemilik rumah tak kunjung pulang. Jadi bagaimana aku bisa pergi ke sana sementara pemiliknya masih ada di kantor?!" celetuk Sia, dengan menatapnya acuh.
Farel yang mendengar perkataan itu, hanya tersenyum masam dan menunggu Sia sampai selesai membereskan barang-barangnya.
"Ayo, kita bisa mampir untuk membeli makan malam dulu, kan? Aku bosan makan mie instan terus setiap malam. Makanan tidak bergizi seperti itu akan membuat lemak aku yang hanya tersisa 2% ini, benar-benar di kuras habis!" pekik Sia, berjalan di samping Farel saat mereka berdua menuju ke lantai 1.
"Anda sering pulang bersama, ya?!" pekik Alex, membuat dua orang itu menoleh ke arahnya dengan tatapan masam.
"Kau juga melakukan hal yang sama, kan, Alex?! Selalu pulang terlambat hanya karena tidak berani pergi ke parkiran, gara-gara kemarin kamu melihat orang seperti guling berdiri di pojokkan, hahaha ... apa-apaan itu? Dasar polisi penakut!" celetuk Sia, mengejeknya.
Alex yang mendengar hal itu hanya memutar bola matanya malas dan melihat. Ke arah Farel dan Sia yang berjalan bersamaan dengan sikap yang lebih akrab dari pada sebelumnya.
"Boleh aku pergi bersama dengan kalian malam ini? Sepertinya kalian berdua sama dekat sampai-sampai banyak orang yang mengira kalau kalian berdua menjalin hubungan kekasih. Aku juga jadi merasa penasaran-"
"Hei, hentikan dugaan seperti itu, Alex. Aku dan Sia menjadi dekat karena kami hampir menangkap pelakunya. Misi kami lebih penting daripada apa pun, kan?" celetuk Farel, menegaskan tentang sesuatu yang hampir dilupakan oleh Alex.
Ya, Alex hampir lupa kalau keduanya adalah orang yang sama-sama gila dengan kerja!
__ADS_1
"Hahh ... seharusnya aku tidak berharap banyak pada kalian berdua. Cik," pekik Alex, mendengus kasar.