Milik Tuan CEO

Milik Tuan CEO
30. Lakukan Saja


__ADS_3

Klekk ....


Seorang wanita masuk ke dalam rumah dengan pakaian yang bersimbah darah.


Bentuk pakaian yang sama dan wajah yang sama persis seperti foto seorang wanita yang di bingkai dengan cantik dengan bunga, yang di letakkan di atas peti mati dan di sandingkan dengan bunga lily putih di sepanjang permukaan peti tersebut.


Semua pelayan yang ada di rumah itu langsung memandang ke arahnya, menatap wanita itu dengan tatapan terkejut sampai tubuh mereka terasa kaku.


Lidah mereka terasa keluh, bahkan untuk terkejut mereka sampai tidak kuat untuk berteriak karena terlalu syok, melihat penampilan wanita yang seharusnya sudah mati malah berjalan masuk ke dalam rumah dengan tatapan.


Tidak ada seorang pun yang bisa berkutik saat melihat perawakan wanita itu, dia berjalan memasuki ruang tamu dan pergi ke lantai 2, lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu itu rapat-rapat dari orang luar.


Lantai tempatnya memijak meninggalkan noda merah yang berbentuk kaki. Reall, itu adalah darah yang terus mengucur dari tubuhnya sendiri.


Lukanya cukup parah, mungkin kalau dia orang biasa dia tidak akan bisa bertahan sampai seperti sekarang. Tapi apalah daya? Sia adalah orang yang terbiasa bertahan hidup di tengah-tengah kerasnya dunia.


Tubuhnya sudah terlatih lebih kuat dari pada tubuh orang biasa. Karena itu, walaupun dia terluka separah apa pun juga, dia tetap bisa bangkit dan mencari tempat yang aman untuk memilih.


"Albert, kenapa kamu memakai pakaian serba hitam? Kamu juga berharap aku mati seperti para pelayanmu di lantai bawah??"


Suara yang benar-benar di kenali, sosok yang benar-benar tidak asing dan tatapan mata yang akrab walau pun terlihat sangat dingin.


"Aku tidak tahu apa yang sedang ada di pikiranmu saat melihatku sekarang. Tapi bisakah kamu membawakan aku obat-obatan? Berjalan jauh selama 500 meter dari tempat itu ke tempat ini, sudah menguras banyak tenagaku! Belum lagi para musuh perusahaanmu yang berusaha mengait nyawaku dan di jebloskan ke neraka!" Sia mendesak kasar sambil berjalan ke arah kamar mandi. "Mereka tidak kenal lelah saat berlari untuk mengejar target mereka."


Klap ....


Pintu kamar mandi itu di tutup tanpa di kunci, membuat Albert yang tidak sempat terkejut dan hanya bisa diam di tempatnya dengan tatapan bengong, karena beberapa saat yang lalu dia melihat sosok Sia berdiri di depannya dan berkata dengan nada culas, hanya bisa menatap tidak percaya dengan hal yang baru dia lihat saat itu.

__ADS_1


Thomas langsung masuk ke dalam kamar tidur Albert tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Mungkin karena terlalu panik, Thomas jadi tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.


"Tu-tuan, Anda baik-baik saja? Tadi Nyonya-"


"Thomas, siapa yang mengizinkan kamu masuk ke dalam kamar tanpa mengetik pintu?!!" Albert berteriak sangat lantang sampai-sampai semua pelayan yang ada di lantai bawah, mendengar suaranya.


Thomas yang mendengar hal itu langsung terdiam dan menundukkan kepalanya dalam. "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud berilaku tidak sopan. Hanya-"


Thomas menghentikan perkataannya dan menatap wajah Albert yang tampak tidak bersahabat.


Tampaknya lelaki itu benar-benar marah karena Thomas masuk ke dalam kamarnya tanpa meminta izin.


Thomas menundukkan kepalanya dalam. "Maafkan saya, Tuan. Saya akan keluar," ucapnya dan berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut setelah kembali menutup pintu.


Setelah Thomas pergi dan hanya Albert dan Sia yang ada di dalam kamar tersebut, Albert segera mengetuk pintu kamar mandi dan membukanya tanpa izin terlebih dahulu kepada Sia.


Albert mengedarkan pandangannya, dan menemukan Sia yang ada di dalam bak mandi sambil bersandar di dinding.


Albert berjalan mendekat pada Sia, melihat apa yang tengah dilakukan seperti dalam bathup.


Kedua mata Albert terpaku saat melihat tubuh Sia yang telanjang bulat tanpa sehelai kain pun yang menutupinya.


"Kenapa? Kamu mau membuatku minum obat lagi agar kamu bisa menikmati tubuh ini?!" sindir Sia, tanpa membuka kedua matanya yang terpejam.


"Ya, inginku begitu. Lagi pula kamu adalah istriku. Tapi sekarang hasratku tidak bisa menang akal sehatku, yang mengharuskan membantumu membasuh luka!"


Sia hanya diam mendengar perkataan tersebut dan memilih tak menghiraukan perkataan Albert.

__ADS_1


Tapi saat itu juga, tubuh Sia di angkat keluar dari bak dan di bawa keluar dari kamar mandi.


Sia sama sekali tidak mengeluh sesaat Albert menggendongnya keluar dari dalam kamar mandi.


"Kamu tidak mengatakan apa pun? Tubuhmu sangat sakit, kan? Sampai kamu tidak bisa memprotes perbuatanku," ucap Albert, seakan tengah menyindir Sia.


Tapi wanita berusia 24 tahun itu hanya diam dan memejamkan matanya. Bahkan kepalanya sudah menyadar di bahu Albert, sampai kedua tangannya ikut memeluk leher lelaki itu.


Lantas dalam situasi tersebut, Albert tidak merasakan apa pun. Apakah ini efek dari perkataan Derick dan Cander yang mencurigai Sia adalah mata-mata dari pihak keamanan negara dan dia memiliki tujuan untuk menghancurkan usaha mereka untuk mencari uang tambahan?


"Aku boleh tanya sesuatu?" tanya Albert, membuat kepala Sia mengangguk singkat.


"Katakan apa yang ingin kamu katakan. Apa pun itu aku akan menjawabnya," jawab Sia, tanpa membuka matanya.


Albert meletakkan tubuh Sia di atas ranjang dan membiarkan wanita itu berbaring. Mengambilkan kotak obat dan mulai membersihkan luka Sia yang ternyata cukup dalam dan parah.


Albert mengambil ponselnya dan menghubungi dokter keluarga. Meminta dokter itu cepat datang ke rumah mereka untuk memeriksa keadaan Sia.


"Kamu ... memasang alat penyadap di ponselku? Sistemnya dapat dibaca oleh salah satu anggota IT di perusahaanku." Albert masih terlihat tenang. Tapi di dalamnya, dia sudah berdebar-debar takut saat menantikan jawaban Sia. "Kalau kamu mengatakan hal yang sejujurnya sekarang, mungkin aku tidak akan marah besar padamu nanti. Jadi katakan kalau itu salah!"


"Kamu sendiri yang memintaku berbohong untuk menjawabnya, kan?" Sia membuka mata dan menatap wajah Albert yang sudah mengurut dengan samar, sambil menatapnya. "Ya, aku bukan orang yang memasang alat penyadap itu di ponselmu. Kamu puas?!"


Albert mengerutkan keningnya dalam, tampak tidak senang mendengarnya jawaban itu. Dan saat itu juga, kedua tangan Albert mencengkeram leher Sia dan membuat wanita itu sulit bernapas.


Sia tidak menunjukkan kalau dia kesakitan. Dia malah tersenyum dan membiarkan Albert semakin mengeratkan cengkeraman tangannya di lehernya.


Albert menatap ekspresi wanita itu dengan tatapan benci. Walaupun Sia sedang tersenyum, tapi kedua matanya tidak berhenti mengeluarkan air mata. Dan itu cukup membuat Albert merasa tertekan.

__ADS_1


"Kau tidak menghentikanku?!" tanya Albert, dengan suara yang cukup lantang.


"Kalau begitu, kamu ingin aku hentikan?!" balas Sia, dengan suara gemetar tapi tidak membuat senyumannya turun dari bibirnya. "Lakukan saja kalau kamu menginginkannya! Aku tidak akan menyimpan dendam kepadamu, Albert"


__ADS_2