Milik Tuan CEO

Milik Tuan CEO
31. Penyesalan


__ADS_3

GREB!


Gav mencengkeram kedua kerah baju Albert yang berdiri di sebelah ranjang Sia yang tengah tertidur pulas dalam keadaan yang naas.


"Sudah berapa kali kau mencoba membunuh adikku?! Kau sudah gila, HAH!!" Gav berteriak lantang. Padahal dia tahu kalau posisi mereka sedang ada di kamar pasien.


Tapi amarah yang ada di dalam diri Gav seakan sulit untuk ditahan. Terlebih lagi, saat kedua matanya menatap sosok Albert yang hanya bisa bersedih tanpa bisa melakukan apa pun di samping ranjang Sia.


"Kemarin kamu telah memberinya obat sampai hampir overdosis! Sekarang kamu mencoba membunuhnya lagi? Apa, mencekik?! Kau mau aku cekik HAH!!"


Tak ada seorang pun yang bisa membela Albert. Termasuk Thomas, Derick dan Cander yang ada di dalam ruangan tersebut, bersama kedua lelaki yang sedang bertengkar itu.


Mungkin ketiga ajudan Albert, merasa kalau tindakan Albert memang salah dan membiarkan Gav, selaku kakak lelaki dari Sia, marah padanya.


"Gav, hentikan pertengkaran itu! Kau ingin membuatnya bangun?!" sergah Alex, menarik tubuh Gav agar menjauh dari Albert.


Gav menatap ke arah Alex yang tampak kacau tapi memilih diam karena Gav sudah mewakilkan marahnya. Jadi dia tidak perlu memperkeruh situasi.


Gav menghapus tantangan Alex, menatapnya dengan tajam dan menusuk. "Kau juga tahu apa yang di lakukan lelaki ini pada Sia, kan? Lalu kamu minta ke untuk diam?! Padahal kau sudah tahu kalau aku menganggap Sia sebagai adikku sendiri?!!"


Alex ikut mendapatkan amarah dari Gav. Dan membuatnya terdiam tanpa bisa mengkritik amarah lelaki itu.

__ADS_1


"Aku tahu, Gav. Tapi tindakanmu yang membuat keributan di sini juga salah. Bagaimana kalau ada sopan masuk ke sini dan menyeret kamu keluar dari ruangan? Kamu ingin melakukannya?!" tanya Alex, tak kalah kesannya dengan Gav.


Gav membuang muka ke samping, dan menatap seorang dokter yang masuk ke dalam ruangan tersebut dengan membawa sebuah kertas hasil lab Sia.


"Ada dua berita di sini. Satu berita baik dan satu kita buruk. Kalian ingin mendengar yang mana terlebih dahulu?" tanya dokter tersebut, menatap satu persatu orang yang ada di dalam ruangan itu dengan tatapan ragu.


"Tolong berita baiknya dulu, Dok!" ucap Albert, mengambil alih keputusan tersebut.


Dokter mengangguk mengerti, menatapnya dengan tatapan lekat dan memberikan kertas yang dia bawa kepada Albert.


"Keadaan Nyonya Sia baik-baik saja. Walaupun dia terlibat kecelakaan yang parah, tapi tidak ada tulangnya yang patah. Lalu berita buruknya, Nyonya Sia mengalami keguguran. Mungkin karena benturan yang keras di bagian perut, jadi janin yang tidak bisa di selamatkan. Dan kalau tadi anda membawa Nyonya Sia lebih lambat lagi, mungkin saya juga tidak bisa menyelamatkan beliau. Mohon maafkan ketidakmampuan saya." Dokter membungkuk kan badannya, meminta maaf dengan cara yang sopan dan tulus yang membuat suasana di dalam ruangan itu bertambah runyam.


"Maafkan saya, Tuan. Tapi sepertinya, sang ibu bayi juga tidak menyadari kehamilannya. Karena itu janinnya semakin rentan dan lemah," jelas sang dokter, benar-benar membuat kelima orang lelaki yang ada di dalam ruangan itu syok bukan main.


"Jadi darah yang bercucuran dari kaki beliau tadi di sebabkan karena beliau keguguran? Maaf kalau saya lancang. Tapi bisakah kamu tahu, berapa usia janinnya?" tanya Thomas, maju selangkah dari posisinya dan mendekatkan diri pada sang dokter.


"Sekitar 5 minggu. Seharusnya Nyonya Sia curiga karena dia tidak mengalami menstruasi selama itu. Saya tidak tahu kalau beliau memang sengaja tidak menjaga janinnya karena tidak menginginkannya," jelas dokter itu, membuat Albert yang statusnya sebagai suami Sia, benar-benar tidak bisa berkutik mendengar semua kebenaran tersebut.


"Hahaha ... jadi selama ini di hamil? Dan aku masih terus membiarkannya makan terlambat, begadang di saat malam dan melakukan hal itu?!" gumam Albert, tak bisa membendung tangis yang di dasari dengan rasa frustrasi dan bersalah.


Sementara Sia yang juga mendengar semua hal itu keluar dari mulut setiap orang yang ada di dalam ruangannya, hanya bisa diam dengan kedua mata yang masih terpejam, berpura-pura tidur dan menahan sesak yang seakan menekan paru-parunya.

__ADS_1


"Hahh ... sepertinya aku memang tidak bisa menjadi orang tua yang baik, selayaknya kedua orang tuaku memperlakukan diriku," batin Albert, sangat amat menyesal dan sedih.


***


"Tunggu dulu! Kalian baru saja bilang apa? Sia keguguran? Dan sekarang ada di rumah sakit dengan keadaan koma??" celetuk Honey, menatap wajah Gav dan Alex yang terlihat sangat frustrasi dan hanya bisa diam setelah mengatakan semua kebenaran yang mereka tahu selama di rumah sakit.


Honey menyugar rambutnya kasar dan menatap kedua teman lelakinya, yang tengah duduk dengan posisi bersila dan kepala yang menunduk dalam, hanya bisa memandangnya dengan tatapan tidak percaya.


"Hei, kamu kira mereka berdua yang menunjukkan ekspresi wajah seperti itu terlihat bercanda? Kalau kamu tidak percaya, coba jenguklah sahabat itu dan pastikan keadaannya sendiri. Karena besok aku dan Xandra akan menjenguknya. Kamu mau ikut atau tidak? Karena besok jadwal kamu bertemu dengan editor, jadi maaf kalau rencana kami bertentangan dengan jadwal pribadimu!" celetuk Sandy, membuat Honey mendengus kasar.


"Aku harus ikut. Aku ingin memastikannya sendiri! Aku tidak akan bisa percaya dengan omongan mereka berdua, walaupun mereka tidak terlihat berbohong!" putus Honey, tegas. "Hem, lalu bagaimana dengan Albert? Bagaimana dengan dia? Dia syok atau malah meninggalkan Sia di rumah sakit sendirian?!"


Gav yang mendengar nama "Albert" disebut, langsung bangkit dari tempatnya dan meninggalkan posisinya. Meninggalkan Alex yang terlihat pasrah melihat sikap Gav yang seperti itu.


"Hahhh ... astaga. Haruskah kamu menyebut nama lelaki itu di depan Gav?! Dia benar-benar marah karena Albert juga tidak mengetahui kalau Sia sedang mengandung. Hahhh ... tidak ingin salahku. Seharusnya tadi aku memperingatkanmu terlebih dahulu sebelum mengajak kamu membahas pembicaraan ini!" Alex terlihat frustrasi. Dia terus mengacak-acak rambutnya kasar dan membuatnya benar-benar berantakan.


Honey yang tidak tahu, hanya diam dan memperhatikan kamar Gav. Tempat terakhir kali dia melihat sosok lelaki itu masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Aku tahu bagaimana perasaannya. Aku pasti juga akan merasa kesal kalau ada di sana dan mengetahui kalau Albert bersikap seperti itu pada Sia. Bagaimanapun juga, aku dan Gav adalah orang yang paling lama mengenal Sia. Aku tidak akan marah padanya karena bersikap seperti ini. Karena aku bisa memahaminya dengan baik!" ucap Honey, juga mulai merasa tertekan dan sedih karena mendengar kabar ini dari teman-temannya.


"Semoga saja saat aku menjenguk Sia di rumah sakit, aku tidak berpapasan dengan Albert! Karena jika kami bertemu, mungkin aku akan sama seperti Gav. Ingin sekali menghajarnya!" pekik Honey, tidak main-main.

__ADS_1


__ADS_2