
Brak ....
Sia turun dari dalam mobil dengan membawa sebuah buket bunga besar, dan meninggalkan Albert di dalam mobil tersebut.
Melipat kedua tangannya di depan dada, Albert memperhatikan ke mana langkah Sia menuju.
Tidak jauh dari tempat mereka memarkirkan mobil, Sia berhenti di depan sebuah makam yang terlihat masih lusuh dan basah.
"Siapa yang dia kunjungi?" Batin Albert, bertanya-tanya di dalam hati.
Kedua matanya terus memandang ke arah Sia, ekspresi wajah yang ditunjukkan wanita itu, membuat hati Albert terasa sedikit tidak nyaman.
Sia tidak menangis, tapi raut wajahnya yang sedih, terpampang dengan nyata.
"Nona Sia, lagi-lagi pergi ke tempat itu ternyata," gumam sopir taksi mereka, membuat Albert menoleh ke arahnya dengan cepat.
"Anda mengenal istri saya?" tanya Albert, dengan kening yang sudah berkerut dalam.
Sopir taksi itu menoleh, menatap Albert yang mengaku sebagai suami Sia dengan tatapan meyakinkan.
"Anda suami Nona Sia?" tanya sopir taksi itu, tampak ragu walaupun Albert sudah memasang ekspresi serius.
"Ya, saya suaminya. Anda tidak tahu kalau Sia menikah dengan saya? Padahal nama saya cukup terkenal, saya rasa Anda pasti tahu!" ucap Albert, memiliki kepercayaan diri yang lebih tentang ketenaran dirinya.
"Ahh ... jadi Anda orang terkenal? Maaf kalau saya tidak tahu. Saya tidak mempunyai televisi di rumah. Saya hanya mendengar siaran radio lewat mobil, jadi maaf kalau saya tidak mengenali Anda. Hem ... tapi kalau di dengar lebih lama, sepertinya saya ingat dengan suara Anda," ucap sopir taksi tersebut, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sudahlah, Pak. Tolong katakan kepada saya, siapa yang Sia kunjungi di sana?" tanya Albert, memandang wajah supir taksi itu dengan tatapan, menggebu-gebu.
Sopir taksi itu menatap keluar, memandang Sia yang ada di kejauhan sana dengan tatapan lekat.
"Orang yang di kunjungi nona Sia adalah suaminya. Tapi mereka tidak memiliki kenangan pernikahan sama sekali. Anda tidak perlu terusik, karena tiga hari setelah mereka menikah, suami nona Sia telah tiada karena kasus narkoba!" Ucap sang super taxi, sambil menghela napas lelah di akhir kalimatnya.
__ADS_1
"Kasus narkoba? Maksudnya?"
Sopir taksi itu menoleh ke arah belakang, memperhatikan raut wajah Albert yang terlihat tidak bersahabat.
Wajahnya tampak marah, tapi sopir taksi itu tahu kalau Albert lebih penasaran dengan alasan yang membuat mantan suami Sia meninggal, dari pada mengetahui jika istrinya memiliki mantan suami.
"Saya juga kurang tahu. Hanya saja, berita yang saya dengar. Suami beliau meninggal karena kebanyakan memakai narkoba. Padahal beliau bukan tipe orang yang memakai obat-obatan seperti itu. Tapi entah kenapa, hari itu dia meninggal dengan sampel narkoba yang ditemukan di darahnya!
Albert diam, menatap ke arah luar jendela dan memperhatikan Sia yang berjalan kembali ke mobilnya dengan kedua mata yang tampak sembab.
"Anda tidak boleh mengatakan ini kepada Sia. Pura-pura saja kita tidak membahas apa pun. Aku juga tidak ingin mengetahui masa lalu kelam tentang istriku, dari mulut orang lain! Aku ingin mendengar hal ini langsung dari mulutnya, nanti! Jadi jaga mulutmu!"
"Saya mengerti, Tuan. Anda tidak perlu khawatir akan itu!"
Klek ....
"Kamu sudah kembali? Kenapa menangis? Siapa yang kamu temui?" tanya Albert, menatap wajah sang istri yang tampak lebih diam dan tenang setelah dia kembali dari kuburan mantan suaminya.
Sia menggelengkan kepalanya, meminta taksi itu untuk mengantarnya kembali ke rumah sakit.
Albert yang mendengar hal itu, hanya mengangguk sambil memeluknya. "Baiklah, aku akan menuruti permintaanmu!"
***
Berjalan masuk langsung ke kamarnya, Sia menemui tas kerja Albert yang lagi-lagi tidak dia bawa ke kantor.
"Apa aku salah strategi?" Batin Sia, menatap tas yang ada di atas sofa, di dalam kamar mereka, dengan mendenguskan napas kasar.
"Kenapa tidak langsung istirahat? Kamu lihat apa??" tanya Albert, begitu dia masuk kamar dan melihat Sia yang berdiri di dekat sofa sambil melihat ke arah tasnya.
Sia masih diam, berpura-pura seakan dia sedang melamun. Puk!
__ADS_1
Albert menggenggam bahu Sia, membuat wanita itu setengah terkejut dan langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Ya? Kamu mengatakan sesuatu??" tanya Sia, menatap Albert dengan tatapan lugu yang terkesan polos.
Albert menghela napas panjang, dia salah paham dengan Sia yang ternyata sedang melamun bukan melihat ke arah tasnya.
"Kenapa kamu melamun? Masih ada yang sakit? Perlu kita kembali ke rumah sakit untuk memeriksanya??"
Sia menggelengkan kepalanya pelan, dan pergi ke arah ranjang untuk merebahkan dirinya di sana.
"Bagaimana caranya aku memasang alat penyadap di ponsel Albert? Apa aku harus mengunjungi secara langsung?? Memangnya dia kan setuju? Ponsel kan privasi," batin Sia, melirik ke arah Albert yang tengah membersihkan meja rias yang biasanya digunakan Sia untuk berdandan.
"Apa?" tanya Albert, menoleh pada Sia yang memandangnya dengan tatapan lurus.
"Boleh aku pinjam ponselmu? Nanti malam saja. Sekarang aku ingin tidur. Kalau nanti malam tidak kamu gunakan, kan?" tanya Sia, menunjukkan ekspresi setengah takut.
Albert menatapnya beberapa saat, ingin bertanya untuk apa Sia menggunakan ponselnya, kalau dia juga memiliki ponsel sendiri.
"Baiklah. Pakai saja, lagi pula tidak ada apa-apa di sana."
"Sungguh? Aku boleh meminjamnya? Oh syukurlah, kemarin ponsel aku tidak sengaja masuk ke WC. Aku belum sempat membetulkannya. Tapi nanti malam aku harus mencari beberapa materi penting! Komputer saja tidak cukup untukku, kalau kamu mengizinkannya. Boleh aku pakai laptopmu juga?? Akar cepat selesai dan aku tidak begadang semalaman untuk mengerjakannya," ucap Sia, memberikan alibi yang meyakinkan.
"Laptop? Memangnya kamu tidak punya laptop? Beberapa hari yang lalu aku melihatmu menggunakan laptop di ruang kerja. Itu bukan milikmu?"
Sia menggelengkan kepalanya. "Hahaha ... aku mana punya benda seperti itu. Karena dulu, jika di rumah lama! Otakmu ingin memakai laptop, aku tinggal meminjamnya pada Honey, sekarang dia tidak di sini. Jadi aku agak keteteran saat mendapat tugas dari atasan," celetuknya, menjelaskan.
Lagi-lagi Albert salah paham dengan wanita itu. Dan kini dia sudah merasa benar-benar malu dan bersalah, karena terus salah paham dengan Sia.
"Maafkan aku. Pokoknya maafkan aku saja! Jangan bertanya alasannya. Kalau kamu ingin menggunakan milikku, pergi saja ke ruang kerja aku. Kamu bisa memakai komputer, laptop ataupun ponselku! Selama aku tidak menggunakannya saja," celetuk Albert, dengan menutup wajahnya yang tampak memerah karena malu.
Sia menganggukkan kepalanya antusias, dan beranjak tidur, Karena saat ini dia benar-benar mengantuk.
__ADS_1
Baiklah, aku akan memakainya saat malam. Sekarang aku mau tidur! Selamat istirahat," ucap Sia, tidak di jawab oleh Albert tapi terus kita tak boleh lelaki itu sampai dia benar-benar tertidur lelap.
"Hahh ... ternyata punya istri itu cukup merepotkan, ya?!" pekik Albert, dengan suara yang lirih,