
Sia menegak sekelas alkohol yang disuguhkan oleh pelayan, yang dia perkerjakan untuk acara weddingnya.
Ya, hari inilah hari pernikahan Sia dan Albert berlangsung. Tapi kelihatannya, yang sangat sibuk adalah mempelai lelakinya. Karena sedari tadi dia tidak berhenti menyapa para tamu undangan dengan senyuman, yang hampir melekat di wajahnya dan tidak bisa dia singkirkan.
Sementara mempelai perempuannya, malah bersantai di tepi pesta sambil menikmati anggur dan beberapa makanan ringan.
Tidak ada satu pun tamu undangan yang menyapanya. Mungkin karena itu semua adalah tamu undangan Albert, dan mereka tidak suka bergaul dengan orang sekelas dirinya.
Karena Sia adalah orang yang sadar diri, dia pun tidak mengganggu mereka dan memilih untuk menepi dari pesta. Menikmati pesta pernikahannya dengan caranya sendiri, tanpa membawa hati.
Sia menatap wajah Albert yang tampak kelelahan di tengah-tengah kerumunan orang-orang di dalam sana.
Albert memandang sekeliling, mencari istrinya yang tidak terlihat di tempat. Maupun di atas pelaminan atau di sekitar dirinya.
Sampai akhirnya, kedua manik mata Albert menatap lurus pada seorang wanita yang terus memandangnya dari kejauhan, sambil menikmati segelas alkohol.
Wanita itu tersenyum sambil menggoyangkan jelas anggurnya, seakan tengah mengecek Albert yang sedang bekerja keras untuk menjaga image sementara dirinya bersantai di sana dengan makanan-makanan enak.
Albert tidak kesal ataupun marah. Dia malah terlihat lelah dan bersyukur melihat Sia baik-baik saja, walaupun dia tidak ingin membantu Albert keluar dari situasi itu.
"Derick," panggil Albert, membuat sekretaris pribadinya, yang dari tadi berada di sekitarnya itu, berjalan mendekat ke arahnya.
"Ya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Derick, mendekatkan dirinya pada Albert yang terus menatap ke arah Sia.
"Coba kamu pastikan wanitaku di sana, apa dia sudah makan atau belum? Dari tadi dia terus mengawasiku dari jauh tanpa ingin berbaur. Sangat konyol, padahal para wanita yang aku temui di dalam pesta pernikahanku sendiri terlihat sangat ganas. Tapi lihatlah istriku, yang bahkan tidak berkutik ataupun merasa terbakar melihat sikap mereka yang kelewat batas!" celetuk Albert, menyunggingkan senyuman sinis.
Derick mengangguk mengerti, dan segera mendekat ke arah Sia yang menyambutnya dengan senyuman manis.
__ADS_1
"Ada apa? Albert meminta sesuatu dariku? Apa dia membutuhkan bantuanku?" tanya Sia, dengan Anda setengah mengejek.
Derick menggeleng kepalanya pelan, dan menatap sekeliling Sia yang benar-benar sepi tanpa ada satu pun pengunjung yang mendekati dirinya.
Padahal wanita itu masih menggunakan pakaian mempelai wanita, tapi kenapa tidak ada satu pun kenalan Albert yang mendekatinya? Apa karena Sia terus memasang tampang menakutkan? Sampai-sampai mereka tidak berani mendekat padanya??
Masih menjadi misteri, tapi satu hal yang bisa diakui oleh Derick sejak pertama kali dia melihat Sia.
Wajah wanita itu memang cantik, tapi tatapan matanya yang terlihat dengan dan tajam, bisa membunuh seseorang yang menjadi lawan bicaranya.
Mungkin jika orang tersebut tidak pandai berbicara, dia kan mudah di singkirkan oleh Sia. Bagaimana pun juga, Sia sangat pandai dan fasih saat berkomunikasi.
"Anda sudah makan malam? Tuan Albert ingin saya menanyakan hal itu kepada Anda. Jika belum, sebaiknya Anda-"
Perkataan Derick harus terhenti saat tangan Sia menunjuk ke arah tumpukan piring yang ada di meja, tempat tangannya bertumbuh untuk menyanggah dagu.
"Aku ingin menjawab mau dengan cara jaim, tapi kamu juga tahu sendiri. Aku tidak bisa menyingkirkan perang buktinya!" celetuk Sia, membuat mereka berdua tertawa bersama-sama.
Haha hahaha ....
Tawa kedua orang itu sedikit menggema, sampai-sampai membuat ketenangan orang-orang di sekitarnya teralihkan pada mereka.
Albert dan Cander yang berada di dalam satu perahu, maksudnya ada di dalam pesta sambil menyambut beberapa tamu kenalan mereka, bahkan sampai menoleh ke arah keduanya dengan kening yang sedikit berkerut.
"Anda ingin saya menegur mereka?" tanya Cander, setelah berhasil berdiri di samping Albert.
Albert menggelengkan kepalanya, dan berkata, "Biarkan saja. Aku sudah tahu dari awal jika mereka berdua selalu menyambung saat berbicara. Biarkan saja, dari tadi aku melihat Sia hanya diam. Sekarang karena Derick menemaninya, aku lihat dia sudah tidak bosan lagi! Lagi pula, aku merasa cukup risik karena dari tadi Sia terus melihatku."
__ADS_1
Cander menganggukkan kepalanya mengerti dan kembali ke tempatnya, kembali berbincang kepada beberapa orang yang sempat dia ajak bicara tadi.
Beberapa saat terasa nyaman untuk semua hadirin yang ada di pesta tersebut. Sampai akhirnya suara teriakan Sia memecahkan keributan itu, dan membuat semuanya menutup mulut sambil menatapnya dengan tatapan terkejut,
Tangan Sia sudah berdarah, dengan seorang wanita berdiri di depannya dengan membawa botol anggur yang telah pecah.
Kondisi Sia memang memprihatinkan, tapi keadaan Derick yang terus melindungi Sia dari tadi, lebih parah berkali-kali lipat.
Pelipis Derick berdarah sampai membasahi setengah bagian pipinya, membuat beberapa orang yang pertama kali melihat hal tersebut berteriak terkejut dan memicu perhatian yang lain.
Cander langsung berlari menghampiri mereka berdua, tidak menolong kedua temannya. Tapi mengamankan wanita yang sudah menyerang kedua temannya dengan menggunakan botol anggur tersebut. Yang lebih mengejutkannya, Cander dan orang-orang yang ada di sana, mengenal dengan baik siapa wanita itu.
"Berani-beraninya kau merebut kekasihku! Dasar tukang tikung! Pelacur! Aku yakin Albert membawamu dari rumah hiburan malam! Dasar wanita rendahan. Mati saja kau!!" teriak wanita itu, dengan menggunakan botol kaca yang bergerigi tajam itu, ke arah keduanya.
Albert baru bisa datang dengan seorang pelayan dan dua orang satpam yang dia minta untuk segera mengusir wanita tersebut.
Wajah Albert yang melihat luka di tangan Sia, tiba-tiba menjadi kaku dan menunjukkan ekspresi marah yang sangat menakutkan.
Albert menatap wanita itu dengan horor. Wanita yang berani melukai istrinya di pesta pernikahan mereka.
"Vera! Aku bahkan tidak mengundangmu. Tapi bisa-bisanya kamu masuk dan membuat keributan di pesta pernikahanku?! Punya hak apa kamu sampai marah seperti itu pada istriku, Ha?!!" teriak Albert sangat lantang, sampai-sampai membuat semua orang di sekitarnya memandangnya dengan takut.
Tidak ada seorang pun yang berani memandang wajah Albert yang tengah marah saat ini. Mereka semua memalingkan wajahnya, dan berusaha menghindari tatapan tajam itu.
Sementara Sia berusaha untuk menenangkan suaminya, dengan berkata, "Sudahlah, jangan di perpanjang. Aku baik-baik saja, Albert! Kamu tidak perlu marah kepada orang mabuk sampai seperti itu. Percuma saja, dia tidak akan mengerti apa yang kamu katakan!" jelasnya, dengan suara lembut sambil menepuk punggung Albert beberapa kali.
Albert memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit sambil menggenggam tangan Sia yang mengeluarkan banyak darah.
__ADS_1
"Astaga, seharusnya ini menjadi hari paling tenangku! Tapi bisa-bisanya pengacau satu ini malah dibiarkan masuk?! Apakah tugas keamanan tidak bisa bekerja?!" desis Albert, masih terlihat marah besar.