Milik Tuan CEO

Milik Tuan CEO
27. Pertimbangan


__ADS_3

Dor!!


Suara tembakan terdengar sangat nyaring, bahkan sampai memekakkan telinga kedua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


Dan membuat seorang lelaki yang hendak pergi dari rumah, terdiam di depan pintu mobilnya dengan tatapan tertegun.


"Suara apa itu?" batinnya, terkejut.


Albert tidak banyak bicara, dia segera bergegas masuk ke dalam rumah dan melihat ke ruang kerja.


Darah meluncur dengan bebas di pergelangan kiri tangan Thomas. Sementara di samping Thomas, ada Sia yang tampak terkejut dan berusaha menenangkan diri dirinya dan melakukan pertolongan pertama kepada Thomas.


Sia merobek sebagian gaun yang dia gunakan, dan menggunakan kain itu untuk mengikat bagian tangan Thomas yang terluka.


Kejadiannya sangat cepat, Sia tidak bisa menangkap lelaki yang hendak menyerangnya. Tapi sepertinya Sia tahu identitas lelaki itu, hanya karena dia melihat postur tubuh lawannya dalam waktu yang tak lebih dari 1 detik.


"Thomas kau baik-baik saja?" tanya Albert, segera menghampiri kedua orang yang ada di dalam ruang kerja itu, dengan ekspresi wajah yang tampak kacau.


"Sa-saya baik-baik saja, Tuan. Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya. Nyonya juga terluka saat mencoba menangkap lelaki itu." Perkataan Thomas, membuat perhatian Albert langsung beralih kepada Sia yang ternyata lagi-lagi mendapatkan luka karena kelalaiannya.


"Kamu baik-baik saja? Kenapa tidak bisa menjaga diri sama sekali?!" marah Albert, karena di dasari dengan rasa cemas dan perasaan sedih yang bercampur aduk.


"Perlu marah, Albert. Aku baik-baik saja! Sungguh. Tidak ada yang perlu kamu cuma sekali, kakiku hanya terkilir. Sekarang yang terpenting, bawalah Tuan Thomas pergi ke rumah sakit. Aku tidak mau tahu! Di harus mendapatkan operasi kecil untuk mengeluarkan peluru yang ada di tangannya," ucap Sia, dengan suara tegas dan seakan tidak menerima bantahan.

__ADS_1


"Saya baik-baik saja, Nyonya. Sungguh. Saya-"


"Diamlah, Thomas! Aku bekerja untuk masyarakat, pekerjaanku adalah memperhatikan masyarakat dan membantu mereka. Lantas, bagaimana aku bisa membiarkan kamu yang terluka, jelas-jelas di depan kedua mataku sendiri! Di saat kamu merupakan salah satu masyarakat yang aku maksud?! Jangan membantah. Aku tidak suka di bantah dalam situasi seperti ini." Marah Sia tampak menakutkan.


Thomas dan Albert yang melihat dan mendengar perkataan wanita itu, akhirnya tidak bisa berkutik dan hanya mampu menuruti perkataannya.


"Baiklah a begitu, aku akan bawa Thomas ke rumah sakit. Kamu ingin ikut atau di rumah saja??" tanya Albert, mulai membantu Thomas berdiri dari posisi bersimpuhnya.


Thomas dan Albert memperhatikan Sia yang terdiam sambil menatap keduanya dengan tatapan sungkan.


"Maafkan aku, pekerjaanku terlalu banyak. Untungnya tanganku tidak terluka. Jadi aku masih bisa melanjutkan pekerjaanku. Makan aku, Tuan Thomas. Saya tidak bisa menemani Anda pergi ke rumah sakit. Padahal anda terluka karena saya. Saya benar-benar minta maaf kepada anda." Sia menundukkan kepalanya dalam, menunjukkan sikap sopan saat dirinya meminta maaf kepada lelaki itu.


Thomas menggelengkan kepalanya pelan, dan tersenyum lembut kepada Sia. "Tidak perlu meminta maaf, Nyonya. Coba saja kalau tadi saya tidak memiliki prasangka buruk, mungkin saya tidak akan langsung naik dan mungkin saya akan lebih menyesal dari sekarang," ucap Thomas, tidak sengaja mengucapkan hal yang tidak seharusnya dia ucapkan.


Melihat wajah Albert yang masam, Thomas segera menyadari tindakannya dengan mata yang membulat dengan sempurna.


Tapi berbeda dengan Sia yang tampak tenang dan memperhatikan kedua lelaki itu dengan senyuman masam. Seakan sudah biasa di perlakukan seperti itu.


Ya, di salah pahami banyak orang memang sudah menjadi seperti makanannya setiap hari. Pekerjaannya memang begitu, kan? Walaupun sudah mengusahakan yang terbaik, tapi bagi beberapa orang, kerja kerasnya masih belum mencapai standar mereka.


Tapi tidak apa, Sia mengerti. Kita tidak harus hidup sesuai dengan standar orang lain. Tokoh utama dalam hidup kita adalah kita sendiri. Asal tidak mengganggu peran orang lain dalam hidup mereka, mungkin kita di izinkan untuk berlaku seenaknya. Berilaku seenaknya pada diri sendiri!


"Ma-maafkan saya Nyonya, saya tidak bermaksud untuk berprasangka buruk tentang Anda. Hanya saja siap orang pasti memiliki kecurigaannya masing-masing, kan? Walaupun tidak ingin, aku siapa yang tidak tahu kalau hati yang sudah berbicara, maka semua perasaan itu tidak akan bisa ditahan walaupun musuhnya berbicara dengan akal sehat!" ucap Thomas, benar-benar merasa bersalah dengan kejadian ini.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Tuan Thomas. Saya mengerti. Rasa curiga tidak bisa di jauhkan dari diri kita. Terutama untuk orang-orang yang selalu waspada dengan orang lain. Bukankah mereka wajib curiga pada orang lain? Karena yang melindungi diri kita adalah kita sendiri!"


Diam sudah, ucapkan Sia benar-benar membungkam kedua mulut lelaki yang ada di depannya.


Ya, siapa yang menyangka jika Sia mengetahui hal itu dengan benar? Tentang hidup mereka yang di bayang-bayangi sikap waspada. Karena terlalu takut di hancurkan, mereka jadi mewaspadai semua hal yang ada di sekitarnya. Dan itu sangat berlaku kepada orang baru seperti Sia.


"Sudah, jangan terlalu banyak bicara. Darah Anda sudah mengotori lantai! Jangan membuat para pelayan bangun pagi-pagi hanya untuk membereskan hal ini. Segera pergilah ke rumah sakit," ucap Sia, berjalan keluar dari kamar tersebut dan mengambil sebuah kain yang ada di kamar sebelah, kamar mandi umum yang memang dibangun tepat di sebelah ruang kerja Albert.


Albert dan Thomas yang mendengar perkataan tersebut, segera pamit dari rumah dan meninggalkan Sia seorang diri di rumah.


Tentu saja Albert meminta dua orang satpam yang menjaga rumahnya, untuk tetap waspada dan memastikan tidak ada orang lain masuk lagi.


Bahkan dia meminta Cander dan Derick untuk pergi ke rumahnya malam-malam begini. Mungkin Albert terlalu cemas untuk meninggalkan Sia di rumah. Terutama saat dia terluka.


Ya, kalau biasanya ada Lard dan sekretarisnya yang bisa menemani Sia saat Albert sedang pergi. Kini kedua lelaki itu sedang menjalankan dinas luar kota, jadi di rumah mereka benar-benar tidak ada orang kecuali Albert, Sia, Thomas dan beberapa orang pelayan yang tinggal di sana juga.


Sia menghela napasnya panjang, kesempatan emas datang setelah badai yang hampir merenggut nyawanya hadir.


"Bahkan sebelum aku ketahuan Albert, sepertinya kuburanku sudah disiapkan oleh orang lain. Apa aku harus meminta Pak Farel untuk menyiapkan bodyguard bayangan untukku?"


Sia mulai membongkar ponsel Albert dan memasukkan alat kecil yang tidak lebih kecil dari seujung kukunya.


"Hem, sepertinya aku memang harus meminta bodyguard bayangan dari kantor. Itu bukan pemborosan, kan? Karena yang menjalankan misi ini hanya aku seorang dan wanita itu, mungkin lebih aman jika aku menambah satu personil yang bisa kami andalkan!" gumam Sia, mengambil keputusan untuk itu.

__ADS_1


__ADS_2