
"Maaf, aku hanya mencari uang!" ucap anak lelaki itu, dengan suara lirih tapi dapat di dengar orang-orang yang berada di dekatnya.
Derick menatap ekspresi wajah Sia yang terlihat tenang tanpa ada rasa kesal yang terlihat dari wajahnya. Padahal seharusnya, wanita itu kesel bukan? Dia baru saja hampir di fitnah oleh anak itu menjadi pelaku tabrakan mobil.
Tapi lihatlah ekspresi wajah Sia yang lebih terlihat lelah mendengar alasan anak lelaki itu, dari pada marah karena namanya hampir di rusak di depan publik.
"Bangunlah, lututmu pasti sakit. Lihat, itu berdarah!" celetuk Sia, mengulurkan tangannya pada bocah lelaki itu.
Anak lelaki itu meraih tangan Sia, dan bangkit dari posisinya dengan berdiri tidak seimbang karena lututnya benar-benar terluka, seperti apa kata Sia.
"Butuh rumah sakit?" tanya Sia, memandangnya dengan tatapan lekat.
Anak lelaki itu menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Sia. "Aku tidak apa-apa!"
Setelahnya anak lelaki tersebut, berjalan pergi meninggalkan mereka tanpa penjelasan dan tanpa meminta maaf.
Sia yang melihat itu hanya menggeleng pelan dan mengikutinya. "Biarkan aku membelikanmu obat merah. Setidaknya kamu jatuh karena mobilku, kan?!"
"Kalau begitu, lebih baik kamu pergi aku uang. Aku lebih membutuhkan uang daripada obat merah!" ucap anak lelaki itu, dengan ekspresi wajah tidak bersahabat.
"Nyonya, biar saya yang akan mengurusnya. Anda silakan kembali pulang, ini alamat rumah Tuan. Pulang dan beristirahatlah." Derick memberikannya sebuah kertas kecil yang berisikan alamat Albert.
Sia menerima kertas tersebut dan mengangguk, dia menatap bocah lelaki itu beberapa saat, sebelum akhirnya memutuskan pergi untuk pulang terlebih dahulu ke rumah Albert.
***
"Selamat datang, Nyonya. Nama saya Thomas, saya yang bertanggung jawab untuk mengurus rumah ini. Salam kenal," ucap lelaki bernama Thomas itu, sambil menundukkan kepalanya hormat.
Sia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Di saat seperti ini, dia tidak perlu memperkenalkan namanya, kan? Bagaimanapun juga Thomas pasti sudah mengenalnya.
"Di mana kamarku?" tanya Sia, sambil melihat sekeliling rumah tersebut dengan tatapan takjub.
Ya, siapa yang tidak akan takjub melihat betapa mekah dan mewahnya rumah seorang Albert. CEO Muda yang terkenal tampan dan sering muncul di TV sebagai model iklan ataupun motivator dari dunia bisnis.
__ADS_1
"Kamar Anda menjadi satu dengan kamar Tuan Albert, Nyonya. Tuan sendiri yang meminta hal itu," jelas Thomas, membuat Sia membulatkan matanya sempurna.
"Aku akan satu kamar dengan siapa? Albert? Lelaki itu yang memintanya sendiri?!" celetuk Sia, benar-benar tak percaya dengan perkataan itu.
Tapi ekspresi Thomas yang tidak bercanda, membuat wanita itu membungkam mulutnya dan menunjukkan ekspresi tertekan.
"Baiklah, tunjukkan di mana kamarnya. Aku ingin langsung istirahat saja!" ucap Sia, mendekati Thomas dengan berjalan loyo.
Thomas yang melihat bagaimana ekspresinya, hanya tersenyum masam dan mengatakan Sia ke kamar.
"Selamat beristirahat, Nyonya," ucap Thomas, sambil berjalan keluar dan menuntut pintu kamar itu dengan rapat.
Sia menatap sekelilingnya, melihat bagaimana interior kamar tersebut. Dan ternyata cukup rapi dan klasik. Di dalam kamarnya juga terdapat sebuah piano yang dipajang di tengah-tengah ruangannya. Padahal seharusnya, alat musik itu harus disimpan di tempat yang sedikit tertutup. Terlebih lagi yang sedikit terkena sinar matahari.
Sia berjalan mendekat ke arah piano tersebut, duduk di kursinya dan diam beberapa saat sambil memandang sekelilingnya untuk ke sekian kalinya.
Klek ....
Albert masuk ke dalam kamar dan bertukar pandang dengan Sia, yang tampak terkejut melihatnya masuk ke dalam kamar itu tanpa mengetuk pintu.
Albert mengetuk pintu tersebut dari luar, membuat Sia yang ada di dalam memandangnya dengan aneh.
"Boleh aku masuk sekarang?" tanya Albert, membuat suara tawa Sia sampai terdengar dari luar kamar.
Albert tersenyum, dia beranjak membuka pintu dan masuk ke dalam kamar tersebut, dengan senyuman lebar yang masih bertengger di wajah tampannya.
Sia banget dari tempat duduknya, berjalan mendekati kopernya membongkar barang-barang.
Sia menghentikan tawanya, membuka lemari tempat penyimpanan pakaian Albert dan tidak menemukan ruang sedikit pun di sana.
Albert yang melihat wajah bingung dari calon istrinya, langsung mendekat ke arahnya dan menatap Sia beberapa saat.
"Kamu bisa menggunakan ruangan itu untuk menyimpan pakaianmu. Aku sudah meminta Thomas untuk memberikan ruang, agar kamu bisa menyimpan pakaian di sana juga. Masuklah ke sana dan tata pakaianmu. Aku akan mandi sebentar lalu membantumu membereskan barang-barang," jelas Albert, menunjuk salah satu pintu dari dua pintu yang ada di kamar tersebut.
__ADS_1
Sia menganggukkan kepalanya mengerti dan berjalan ke ruangan itu. Meninggalkan Albert yang masuk setia berdiri di tempatnya, sambil menatap punggung Sia yang menjauh.
"Sia, mau makan malam denganmu?" tanya Albert, membuat Sia menoleh dan memandangnya beberapa saat.
Sia tidak langsung menjawabnya, melainkan tersenyum tipis terlebih dahulu sebelum mengangguk pelan.
"Aku harap itu hanya makan malam sederhana di rumah. Tidak apa, kan? Hari ini aku mulai bekerja kembali. Tolong pengertianmu," ucap Sia, masih di sertai dengan senyuman tipis.
Albert mengulas senyuman masam dan mengangguk lemah. Dia tidak terlihat bahagia karena Sia menolak ajakannya. Tapi Albert paling sadar dengan sikap sederhana Sia yang sudah diketahui sejak awal.
Dia bukan wanita yang gila dengan uang ataupun barang-barang mahal. Hal sederhana saja, sudah bisa membuatnya bahagia.
Mungkin karena itulah Albert sedikit tertarik untuk memperhatikan Sia. Memperhatikan setiap perkataan, perbuatan, dan keputusan yang dia ambil untuk hidupnya.
"Oh iya, mau aku yang masak?" tanya Sia, tiba-tiba memecahkan konsentrasi Albert yang sedang bergelut dengan pikirannya.
Albert diam, menatap wajah Sia dengan tatapan terkejut. "Kau sungguh akan memasak? Kenapa tidak minta para pelayan saja?"
Sia tersenyum, berharap jika Albert sedikit peka dengan apa yang dia minta dan ingin dia sampaikan, melalui ekspresi wajahnya itu.
Masih terdiam dengan tatapan bingung, tapi setelah tiga detik berlalu, Albert langsung menundukkan kepalanya dan menahan senyumnya mati-matian.
"Ah, apa karena kamu akan menjadi seorang istri? Jadi kamu ingin merasakan untuk suamimu??" tanya Albert, entah mengapa merasa seperti ada bunga yang bermekaran di perutnya.
Sedikit mual dan geli, tapi ada yang menggelitik di dalam hatinya. Mungkin karena niat baik yang tidak pernah dia dapatkan dari wanita mana pun, selama 10 kali berpacaran dengan para wanita cantik yang hanya gila dengan pesona dan uangnya saja.
Yah, Sia juga cantik sih. Tapi sifatnya jauh berbeda dengan wanita-wanita yang pernah Albert sukai.
"Apa ini yang namanya ketulusan?" tanya Albert, benar-benar frontal, sampai membuat Sia terkejut.
Sia yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum dan mengangguk lirih. Dia tidak mengatakan apa pun, tapi sikapnya sudah membuat Albert kembali senang untuk ke sekian kalinya.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan meminta para pelayan untuk memenuhi kulkasnya! Aku mandi nanti saja," seru Albert, dengan riang dan segera meninggalkan kamar tersebut.
__ADS_1
Senyuman cantik yang diperlihatkan oleh Sia tiba-tiba hilang dan digantikan oleh tatapan dingin dan ekspresi datar.
"Ketulusan dari mananya? Kau saja yang terlalu mengharapkan hal besar dariku, Albert! Jangan salahkan aku jika kau sakit hati suatu hari nanti," gumam Sia, terlihat sangat dingin.