
"Aku benar-benar mencintaimu. Tidak bisakah kamu tetap bersamaku, Sia?" tanya Albert, membuat Sia menoleh ke arahnya dengan tatapan benci.
Sia melepaskan tangan lelaki itu dari tangannya, menatap Albert dengan benar dan menyunggingkan senyuman penuh arti.
"Kalau aku bilang aku adalah orang yang membuat adikmu merasa kesusahan. Apakah kau masih mencintaiku?" tanya Sia, mengundang teka-teki di antara mereka.
Albert mengerutkan keningnya dalam, dan tiba-tiba ponselnya berdering. Menandakan seseorang tengah menghubungi.
Itu tidak lain dan tidak bukan adalah Rafael, sekretaris pribadi adiknya, Lard. Yang sampai sekarang belum pulang dari bisnis pribadi Lard di Hongkong sana.
Sia mengulas senyuman iblis, membuat Albert mengerutkan keningnya semakin dalam dan mendengar berita yang dikatakan oleh Rafael dengan tidak percaya.
"Jangan mengatakan omong kosong! Bagaimana dia bisa melakukan bisnis ilegal seperti itu?! Dan katamu dia sekarang sedang ditahan?!" marah Albert, tampak bersungguh-sungguh.
Sia yang berdiri di depannya, hanya terus mengulas senyum tanpa mengatakan apa pun. Tapi, itu malah membuat Albert paham kalau orang yang memasukkan Lard ke dalam penjara adalah wanita di hadapannya ini.
"Sudahlah, nanti aku akan kirimkan perwakilan hukum untuk kalian berdua. Sekarang tutup teleponnya dan jangan ganggu aku!" ucap Albert, penuh amarah.
Setelah panggilan telepon itu terputus, Albert kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku dan menatap wanita yang masih setia berdiri di depannya.
"Kamu orang yang menjebloskan Lard ke dalam penjara? Benar-benar kamu??" tanya Albert, seakan tidak percaya tapi bukan ke arah yang merujuk pada marah.
Lebih tepatnya, Albert tidak percaya kalau Sia bisa melakukan hal itu dengan usahanya sendiri. Padahal Albert tahu dengan benar, bagaimana telitinya Lard mengurus segala sesuatu. Jadi dia tidak mungkin meninggalkan bukti sedikit pun kalau melakukan apa pun. Terlebih lagi, jika urusannya bisa membuatnya menjadi kesusahan seperti hari ini.
"Terserah saja kalau kamu tidak ingin percaya. Aku juga tidak akan memaksamu untuk mengakui usahku itu. Toh, sekarang kamu pasti sudah membenciku, kan?!" celetuk Sia, dengan penuh percaya diri.
Tapi yang dilakukan Albert malah sebaliknya. Dia tersenyum dan memandang Sia dengan tatapan penuh kasih sayang. "Apa sekarang aku terlihat seperti membencimu?"
__ADS_1
Sia yang tadinya tersenyum, kini tiba-tiba terdiam dengan tatapan datar dan dingin ketika dia menyadari ekspresi hangat yang ditunjukkan oleh Albert kepadanya.
"Jangan membuatku merasa geli karena kamu bertindak seperti orang yang benar-benar mencintaiku. Selama ini kita tidak pernah memiliki kenangan apa pun. Jadi jangan berharap kalau aku akan tetap berada di sisinya!" jelas Sia, sebelum mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rumah Albert.
"Kau membenciku, iya kan?!" seru Albert, dengan suara yang sedikit lantang dan membuat Sia menoleh ke arahnya sekilas.
"Ya! Tentu saja aku sangat membencimu. Bukannya itu sudah jelas?!" sahut Sia, tampak tidak bersahabat. Bahkan dia terus berjalan pergi dan sibuk memasukkan barang-barang ke dalam mobil yang cukup dikenali oleh Albert.
Albert berjalan mendekati Sia. Berdiri di dekat mobil wanita itu, dan menatapnya dengan senyuman hangat, yang masih terpampang dengan jelas di wajah tampannya.
"Benarkah? Tapi kenapa kamu masih menggunakan cincin pernikahan kita?" Albert tersenyum saat kedua tatapan Sia langsung jatuh kejari manisnya, yang masih mengenakan cincin pernikahan mereka. "Padahal jika kamu benar-benar membenciku, seharusnya itu benda pertama yang harus kamu buang! Karena itu melambangkan janji suci kita," celetuknya, langsung membuat Sia menarik keluar cincin tersebut dari jarinya dan mengembalikan benda itu kepada Albert dengan kasar.
"Aku hanya lupa tidak melepasnya karena dia terlalu ringan." Sia mendengus kasar. "Sekarang aku sudah mengembalikannya padamu, kan?! Jadi kita tidak memiliki urusan lain. Jangan coba-coba datang ke kantor ataupun menemuiku. Aku tidak akan pernah mau bertemu denganmu lagi!"
Albert hanya tertawa dan membuat Sia mengerutkan keningnya dalam.
"Benarkah? Kamu tidak mau bertemu denganku? Lalu bagaimana dengan proses perceraian kita?" Albert mengulas senyuman smirk yang terlihat menakutkan. "Bukankah saat itu kita masih harus bertemu beberapa kali? Hahaha, maaf kalau aku membuatmu kecewa. Tapi kita harus bertemu untuk kelancaran proses perceraian kita, Sia! Jadi jangan mengatakan selamat tinggal dulu, pernah kita akan berjumpa lagi," ucap Albert, penuh percaya diri.
"Bodoh amat! Kau kira aku akan termakan tipu dayamu itu, cik ... dasar lelaki menyebalkan!" batin Sia, sambil membelah jalanan kota yang akan membawanya pergi ke tempat tinggalnya yang baru.
***
"Pak Farel, saya akan berangkat menggantikan Gav kali ini. Tolong izinkan saya pergi," ucap Sia, memandang wajah Farel yang tampak diam dengan raut wajah tak setuju, dengan tatapan tegas.
"Seharusnya kamu yang menjadi atasan, Sia. Wajahmu sangat menakutkan sekarang. Kamu datang tidak untuk meminta hal itu padaku, kan? Kamu ingin bernegosiasi untuk itu," celetuk Farel, menghela napas panjang nan kasar.
Sia membungkam mulutnya rapat, tatapan yang awal mulanya dingin nan penuh tuntunan, kini sudah melunak dan membuat lawan bicaranya tak lagi tegang.
__ADS_1
"Baiklah, aku tak tahu alasan spesifik kamu menginginkan pergi ke sana. Tapi menurutku alasannya hanya satu, kan? Semua itu karena Albert!" celetuk Farel, membuat Sia memalingkan wajahnya dan tak ingin memandang wajah atasannya itu.
"Terima kasih sudah mengizinkan saya pergi. Kalau begitu saya izin pamit untuk bersiap-siap, Pak!" Sia menundukkan kepalanya dalam dan berjalan pergi meninggalkan Farel di dalam ruangan itu.
Lana masuk, membawa dokumen yang di minta Farel tadi pagi.
"Anda menyetujui permintaan Sia pergi ke Amsterdam?" Lana memandang Farel dengan tatapan tak mengerti. Tapi bisa-bisanya lelaki itu mengirim detektif hebat, pergi dari kota mereka. "Anda merencanakan sesuatu, kan? Melihat hubungan Anda dan Tuan Albert yang cukup dekat, pasti Anda sudah merencanakan sesuatu untuk mereka, kan?!"
Farel menggidikkan bahunya samar. Tak menjawab pertanyaan itu dengan pasti, membuat Lana mengerutkan keningnya dalam.
"Tak perlu ikut campur lana. Biarkan mereka berkreasi dalam hubungan mereka sendiri," celetuk Farel, mengakhiri pembicaraan mereka.
Sementara Sia yang sudah tiba di bandara, menggantikan Gav pergi. Kini malah di hadapkan dengan sosok manusia yang paling tak ingin dia lihat. Lelaki yang masih sibuk mengejar cintanya padahal Sia sudah berusaha membuat jarak sejauh mungkin darinya.
"Jangan pergi, Sia. Aku bukan membutuhkan penggantimu. Aku hanya ingin kamu di sini."
Albert menatap Sia dengan tatapan tulus. Di tangannya juga sudah ada kotak cincin Sia dan satu buket mawar merah besar.
"Tidak bisakah kamu menetap? Walaupun pertemuan kita absurd, tapi aku selalu menyayangimu sejak kita bertemu dan melewati semuanya bersama."
Albert menghela napas panjang, menatap Sia dengan tatapan lekat. "Sia, tidak bisakah kita tetap bersama?"
Sia menggelengkan kepalanya tegas. "Aku tidak ingin bersama dengan seseorang yang bisa membuat luka di hatiku terbuka, Albert. Maaf kalau aku egois! Tapi inilah caraku bertahan. Aku harap kamu menghargainya. Karena lukaku tidak membutuhkan perban, tapi lebih membutuhkan waktu untuk mengering sebelum menghilang! Tolong lepaskan aku. Aku yang sekarang tak bisa menghargai apa adanya. Aku masih mencintainya."
Albert menunduk sedih. "Kalau begitu, biarkan aku menunggumu sampai pulih, Sia. Karena aku mencintaimu. Aku bisa menahan semuanya."
"Seperti orang bodoh?" celetuk Sia.
__ADS_1
Dan Albert mengangguk karenanya. "Ya, aku akan bertindak seperti orang bodoh."
TAMAT