
Klek ....
Sia keluar dari ruangan Farel dengan ekspresi wajah lelah. Dan saat dia keluar, dia malah disambut oleh rekan kerjanya yang lain, yang terlihat penasaran dengan berita pernikahannya.
"Sia kamu benar-benar akan menikah? Kapan kamu akan melakukannya? Kenapa tidak mengatakan hal itu kepada kami!" celetuk beberapa teman Sia, yang terlihat sangat antusias dengan pernikahan wanita itu.
Sia hanya diam dengan menggenggam erat foto seorang lelaki yang ada di tangannya. Ekspresi wajah yang tampak dingin dan kesel, membuat orang-orang yang sudah mengelilinginya, mundur beberapa langkah dan membiarkan Sia lewat.
Mendapatkan celah seperti itu, Sia segera melangkahkan kedua kakinya untuk pergi meninggalkan mereka.
Dengan wajah yang tampak geram, Sia berjalan keluar kantor dan menemui seorang lelaki yang sudah bilang akan menjemputnya untuk melakukan ini dan itu tentang persiapan pernikahan mereka.
"Kau sudah selesai?" tanya Albert, menatap wajah Sia yang tampak datar saat memandangnya.
Bahkan wanita itu menatap Albert cukup lama, sampai-sampai membuat Albert merasa ada sesuatu yang salah pada dirinya dan membuat dia mengoreksi diri beberapa saat.
Sia berjalan mendekat ke arah Albert. Sebelum itu, Sia membuang foto yang dia genggam terlebih dahulu, ke dalam tempat sampah yang ada di samping pilar besar di bagian depan gedung institut keamanan kota itu, lalu meneruskan langkahnya mendekati Albert.
Albert yang memandang pemandangan itu, hanya diam dan merasa penasaran dengan apa yang baru saja Sia buang.
Karena ekspresi wajah Sia saat membuangnya, benar-benar terlihat dingin dan seakan jijik jika kertas itu berada di dalam genggaman yang lebih lama lagi.
"Apa itu?" tanya Albert, saat Sia sudah ada di depannya.
Tapi wanita itu hanya diam dan masuk ke dalam mobil, membiarkan Albert di luar sendirian dengan tatapan bingung saat menatapnya.
"Kau tidak masuk? Kita tidak jadi pergi?" tanya Sia, dari dalam mobil.
Albert yang mendengar itu langsung bergegas masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilnya, keluar dari wilayah perkantoran Sia.
Sementara di dalam kantor ....
__ADS_1
Farel dibuat terdiam kaku sambil menatap ke arah depan dengan tatapan kosong. Apa yang dia dengar terakhir kali dari mulut Sia, benar-benar membuatnya tak habis pikir.
Kekhawatiran seakan menyertai setiap langkah wanita itu. Farel tak bisa menghentikannya, karena dia juga tahu Sia adalah orang yang keras kepala.
"Tapi bagaimana bisa dia melakukan hal keji ada dirinya sendiri? Walaupun dia sangat mencintai pekerjaannya, dan semua orang tahu hal itu. Tapi bukannya ini sudah berlebihan?" batin Farel, entah mengapa merasa gundah.
Padahal sebelumnya, dia adalah satu-satunya orang yang berusaha keras untuk menyerahkan kasus tersebut kepada Sia.
Tapi setelah mendengar keputusan Sia untuk mengambil kasus itu dengan caranya sendiri, tanpa bantuan rekan kerja ataupun bantuan dari Farel.
Farel menjadi semakin khawatir dan cemas. Bahkan dia sampai merasa tidak tenang saat bernapas.
Farel mengusap rambutnya kasar, membuat orang-orang yang ada di depan ruangan Farel, dan hendak bertanya tentang pernikahan Sia. Tiba-tiba menahan langkah mereka, dan tidak berani masuk ke dalam ruangan itu.
Jika di lihat dari suasananya, sepertinya terjadi sesuatu yang buruk terhadap Sia.
"Apa semuanya akan baik-baik saja kalau seperti ini?" tanya Aric, tiba-tiba muncul di balik kerumunan orang-orang itu.
Mereka memandang ke arah Aric, membuat lelaki itu berpikir dengan keras tentang apa yang terjadi di antara atasannya dan Sia.
Para pegawai kantor yang penasaran dengan hal itu, mulai berpikir dengan keras dan mulai mengutarakan berbagai macam pendapat mereka tentang kejadian yang menimpa Sia.
Setidaknya, mereka akan membuat alasan yang lebih masuk akal, agar mereka bisa mempercayai alibi tersebut dan tidak terlalu memikirkannya.
Klek ....
Saking sibuknya mereka berbincang satu sama lain, sampai tidak ada di antara mereka yang menyadari pergerakan Farel yang sudah berdiri di depan pintu dan menatap mereka dengan tatapan horor.
"Sepertinya aku memang harus memberikan kalian upah untuk malam ini!" celetuk Farel, membuat 10 orang yang ada di depan ruang kerjanya, menoleh ke arahnya dengan tatapan terkejut dan bubar dengan secepat kilat.
"Maafkan kami, Pak!!" seru mereka sambil berlari ke arah meja masing-masing dan duduk di sana lalu kembali bekerja dengan fokus.
__ADS_1
Setidaknya, berusaha untuk memfokuskan diri walaupun pikiran mereka masih melayang-layang tentang asumsi mengenai hal yang menimpa Sia.
"Aku akan mengatakan dua hal kepada kalian. Satu berita baik dan satu berita buruk. Kalian ingin mendengar yang mana dulu?" tanya Farel, menyita perhatian 15 orang tim institut keamanannya.
"Tolong beritahu berita buruk lebih dulu, Pak!" celetuk Juro, berbicara setelah mengangkat tangannya.
Farel menoleh ke arahnya dan tersenyum masam. Seakan menunjukkan jika dia benar-benar khawatir tentang mereka yang akan terkejut mendengarnya.
"Katakan yang baik dulu, Pak!" seru Nisa, membuat semua fokus orang yang ada di dalam kantor tersebut, jatuh padanya.
Wanita bersurai sebahu itu menatap serius ke arah Farel. Seakan-akan bersiap untuk menerima dua hal yang akan disampaikan atasannya.
"Baiklah, aku akan mengatakan hal yang baik dulu." Farel memberi jeda beberapa saat, membuat orang-orang semakin penasaran dengan apa yang akan dia katakan.
Apakah ini tentang pernikahan Sia? Jawabannya sudah pasti, iya, kan? Tidak ada berita bahagia yang lebih menggembirakan dari itu.
Akhirnya satu-satunya orang yang dikira tidak akan menikah oleh para rekan kerjanya, kini malah naik pelaminan lebih dulu dari para rekan kerjanya yang sudah memiliki kekasih. Jadi siapa yang tidak bahagia karenanya? Mungkin tidak ada.
"Sia akan menikah dengan seorang konglomerat generasi 3," ucap Farel, membuat teman-temannya bersorak bahagia untuk berita tersebut.
Tapi ekspresi wajah Farel yang tidak tampak bahagia, saat menyampaikan berita bahagia tersebut, membuat beberapa oknum pegawai mereka mulai curiga jika pernikahan Sia ada kaitannya dengan berita buruk yang akan Farel sampaikan kepada mereka.
"Lalu, apa berita buruknya?" tanya Nisa, entah mengapa menjadi berat hati untuk mendengar berita keduanya.
Farel menundukkan kepalanya, menghela napas dalam-dalam dan menatap mereka untuk ke sekian kalinya.
"Konglomerat generasi ketiga yang akan menikah dengan Sia adalah Albert Eintain Geofrey! Target utama kita tentang pemberantasan narkoba," cetusnya, membuat seluruh rekan kerja yang sempat bahagia karena mendengar berita tentang pernikahan Sia langsung terdiam dengan ekspresi wajah terkejut.
Bahkan lidah Juro, Nisa, dan Aric, langsung menjadi kelu saat berita tersebut terlontar keluar dari mulut atasannya.
Mereka benar-benar tidak terima. Tapi melihat ekspresi wajah Farel yang pasrah, sepertinya ini adalah keputusan Sia sendiri.
__ADS_1
Dan tidak ada di antara mereka, yang bisa mengendalikan hasrat menyelesaikan tugas dari gadis keras kepala tersebut.
"Apa yang kau katakan? Apa yang akan di lakukan wanita bodoh itu?!" tanya Gav, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut atasannya itu.