Milik Tuan CEO

Milik Tuan CEO
13. Kelalaian


__ADS_3

Seperti perkataan Sia, wanita itu memasak kan makan malam Albert dan mengubah meja makan yang biasanya terlihat sepi dan hampa itu, di sulap menjadi sangat romantis untuk malam ini.


Sia membuat meja makan itu di terangi oleh cahaya lilin di beberapa bagian, lalu di tengahnya diletakkan vas bunga yang diisi dengan bunga mawar dan Lily putih.


Walaupun secara menatanya tidak seperti seorang profesional, tapi Albert terlihat sangat terkesan saat melihat meja itu sih iya sendiri oleh Sia.


Albert duduk di salah satu kursi yang ada di sana, dan melihat hidangan yang disiapkan oleh Sia dengan tatapan takjub.


"Jangan memikirkan penampilan fisiknya yang bagus. Aku tidak terlalu yakin dengan rasanya. Walaupun aku bisa memasak, tapi aku tidak pernah memasak menu seperti ini. Maafkan aku jika rasanya sedikit campur aduk," jelas Sia, saat melihat Albert mulai mengangkat kedua alat makannya.


Albert yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepalanya dan mulai makan perlahan-lahan.


Sia masih tidak bisa ikut bergabung dengannya, karena dia masih membereskan dapur yang seperti kapal pecah, karena dia membuat semuanya menjadi kacau.


Albert membulatkan matanya, menatap Sia yang memandangnya dengan masam.


"Kenapa? Kenapa? Rasanya tidak enak?" tanya Sia, bergegas mendekat ke arahnya dengan tatapan tidak enak hati.


Albert memotongkan satu bagian daging selalu menyuapi Sia saat gadis itu membuka mulutnya, ke arah Albert.


"Bukan tidak enak. Aku hanya terkejut kamu membuat stik rasa rendang, hahaha ... sangat di luar ekspektasiku!" tawa Albert terdengar sangat renyah.


Sia yang tengah mengunyah daging yang ada di dalam mulutnya, tiba-tiba merasa mual dan memutuskan pergi ke kamar mandi dengan segera.


Albert yang melihat pemandangan itu, langsung mendekati Sia dan melihat apa yang di lakukan dia di kamar mandi, yang ada di bagian dapur.


Pintunya tidak ditutup, jadi Albert bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana dengan jelas.


Sia terus memuntahkan semua isi perutnya sampai wajahnya benar-benar menjadi pucat.

__ADS_1


Albert yang melihat hal itu langsung melakukan panggilan pada dokter keluarga. Tapi saat dia sudah melakukan telepon, tiba-tiba Sia terjatuh ke samping dengan mata yang sudah terpejam rapat.


"Thomas!" teriak Albert, membuat semua pelayan rumah yang berjaga-jaga di dekat ruang makan, langsung berlari ke arahnya dan melihat kedua orang itu di dalam kamar mandi dengan posisi mengejutkan.


Astaga, ada apa dengan Nyonya? Apa yang terjadi padanya, Tuan?!" seru lelaki berusia 47 tahun itu, bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan membantu Albert untuk memindahkan Sia keluar kamar mandi.


Thomas menggendong Siaan meletakkannya di atas sofa, membiarkan wanita itu tertidur di sana dan menatap Albert yang tampak cemas.


"Apa yang terjadi padanya? Aku tidak tahu, dia tiba-tiba pingsan setelah muntah-muntah. Padahal dia hanya makan satu potong stek yang dia buat sendiri," jelas Albert, benar-benar tampak mengkhawatirkan Sia.


Thomas memeriksa keadaan Sia beberapa saat, dan mengulas senyuman masam setelah itu.


"Sepertinya, Nyonya alergi daging kambing. Dan stek yang di buatnya untuk Anda, terbuat dari daging kambing. Kami tidak pernah menyediakan daging di kulkas selain daging kambing! Karena Anda sangat menyukainya," jelas Thomas, langsung membuat Albert syok bukan main.


"Dari pada membiarkan Nyonya seperti ini. Sebaiknya Anda membawanya ke rumah sakit, Tuan!" ucap Thomas, memberinya saran.


Albert mengangguk dan langsung menggendong tubuh Sia, membawanya keluar rumah dan membuat Derick yang baru sampai dengan menggunakan motor Sia, terkejut melihat kedua Tuannya dalam keadaan seperti itu.


Derick membantu Albert untuk membuka pintu mobil, membiarkan kedua Tuannya masuk ke dalam sana dan dia pergi ke tempat pengemudi.


"Kita ke rumah sakit sekarang, Rick! Aku tidak tahu kalau Sia alergi daging kambing. Jadi aku menyuapinya dengan kambing. Dia membuatkan stek untukku, dan bahan dasarnya adalah daging kambing!" jelas Albert, menghela napas kasar beberapa kali dan terlihat sangat cemas.


"Maaf, Tuan. Seharusnya saya mengatakan hal itu terlebih dahulu kepada Anda. Maafkan kelalaian saya," ucap Derick, segera memacu laju mobilnya untuk pergi ke rumah sakit terdekat.


Di perjalanan, Sia terus mengeluhkan sakit di kepala dan perutnya. Itu membuat Albert merasa semakin bersalah dan Derick yang semakin tidak enak hati karenanya.


"Apa masih lama, Rick? Sepertinya dia benar-benar tidak kuat!" seru Albert, hampir seperti menyentak.


"Kita sampai! Kita sampai!" celetuk Derick, segera keluar dari dalam mobilnya dan memanggil beberapa orang suster untuk membantu mereka.

__ADS_1


Albert membawa Sia masuk ke dalam rumah sakit, menemui dokter dan mendapatkan penanganan yang tepat.


Sementara Derick pergi untuk memarkir mobilnya, baru dia menyusul Albert dan Sia di dalam rumah sakit.


Derick menghela napas lega saat melihat Albert keluar dari ruangan dokter dengan tatapan lelah, tapi tidak menunjukkan ekspresi khawatir yang berlebihan seperti tadi.


"Bagaimana keadaan, Nyonya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Derick, berlari ke arahnya dengan tatapan setengah cemas.


Albert menggelengkan kepalanya dan menepuk pundak Derick beberapa kali. Albert tahu jika Derick juga tak kalah cemasnya saat melihat Sia dalam keadaan seperti itu.


Tapi ini juga kesalahan Derick karena tidak mengatakan hal penting seperti ini kepadanya.


Albert menghela napas panjang, menatap tajam ke arah Derick yang seketika menundukkan kepalanya, takut dan lebih condong pada rasa bersalah karena tidak mengatakan informasi tentang Sia secara lengkap kepada Albert.


"Pergi dan bawakan aku semua data tentang Sia! Bagaimanapun juga aku harus menghafal semula list tentang kehidupan pribadi istriku. Aku tidak akan mengandalkanmu tentang ini lagi, Derick! Kamu membuatku kecewa," ucap Albert, membuat sekretaris pribadinya itu tidak bisa berkutik.


Derick mulai sadar dengan perubahan intonasi bicara Albert. Lelaki itu pasti marah, karena kini keadaannya sudah mulai stabil dan dia bisa menunjukkan emosinya yang terpendam dari tadi.


Dengan begitu Derick hanya bisa menentukan kepalanya dan mendengar semua perkataan Albert tanpa berani menjawab perkataannya.


"Tunggu apa lagi? Kenapa masih diam di sini?! Carikan aku semua informasi tentang Sia. Aku akan memberimu waktu 3 hari. Dan dalam kurun waktu itu kamu harus memberikan informasi yang kamu temukan setiap malam! Aku akan langsung membacanya, tidak perlu di rapikan dulu ataupun di print. Kirim saja lewat email!"


Setelah mengatakan itu, Albert pelajaran pergi meninggalkan Derick yang masih menundukkan kepalanya dalam-dalam, di tengah-tengah koridor rumah sakit.


Setelah Albert cukup jauh dari Derick, lelaki berusia 26 tahun itu, menghela napasnya lega dan menatap seorang lelaki yang berjalan mendekatinya.


Itu adalah Cander, bodyguard pribadi Albert yang satu minggu ini tidak bertemu dengannya, karena mendapatkan tugas penting dari Albert.


"Situasimu sangat buruk, Rick! Kau bertengkar lagi dengan Tuan Albert?!" tanya Cander, berjalan mendekati Derick. 

__ADS_1


"Seperti yang kau lihat!" jawab Derick, terlihat lebih jutek.


__ADS_2