
Pagi-pagi Sia sudah menyiapkan berbagai macam koper yang diisi dengan baju-baju dan sepatunya, serta seragam dinas dan seragam wajibnya.
Sia membawa semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya, membereskannya sampai rapi dan bersiap-siap untuk pindah dari rumah itu.
Pintu kamar Sia terbuka cukup lebar, membuat beberapa orang temannya berdiri di depan sana dengan ekspresi wajah sedih, saat mengetahui Sia akan keluar dari rumah mereka.
"Kau benar-benar akan menikah dengan lelaki itu?" tanya Sandy, mulai buka suara.
Sia mengulum senyum tipis dan mengangguk.
Empat orang teman Sia yang berdiri di ambang pintu kamarnya, sama-sama menghela napas lelah dan tidak bisa berbuat banyak.
Sesuai kata Gav, Sia sudah membulatkan tekad untuk menikah dengan lelaki itu. Walaupun tampan dan kaya raya, tapi saat mengetahui identitas Albert! Semua teman yang awalnya setuju, tiba-tiba menentang keputusan Sia.
Mereka semua prihatin dengan pilihan Sia yang seakan menghancurkan hidupnya. Tapi tetap, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Nasehat pun, pasti hanya akan didengar oleh Sia. Seakan lewat dari kuping kanannya dan keluar dari kuping kirinya.
Ting ... tong ....
Bel rumah mereka berbunyi, seorang lelaki berdiri di ambang pintu menunggu kedatangan calon Nyonya dari rumah Tuannya.
"Itu pasti Derick. Bisakah kalian membuka pintu dan memintanya untuk menunggu sebentar? Aku belum siap, tapi tidak akan memakan waktu lama," jelas Sia, membuat Alex meninggalkan tempatnya dan membuka pintu untuknya.
Klek ....
"Selamat siang, Tuan Alex. Apakah Nyonya Sia sudah selesai bersiap-siap?" tanya Derick, mengulas senyuman ramah.
Tapi lawan bicaranya, tampak enggan meladeninya dan berkata, "Masuklah, sebentar lagi dia akan siap. Tunggu saja di dalam."
Setelah mengatakan hal itu, Alex berjalan pergi meninggalkan pintu dan kembali ke atas. Tapi bukan kembali ke kamar Sia, melainkan masuk ke dalam kamarnya. Seakan benar-benar enggan untuk mengantarkan kepergian Sia.
__ADS_1
Ya, dia masih marah dengan keputusan tidak masuk akal itu. Sia memang sangat mencintai pekerjaannya. Tapi apa karena pekerjaan itu, dia harus mengorbankan hidupnya? Mentang-mentang Albert adalah orang yang sangat berbahaya dan tidak mungkin mereka dekati dengan identitas mereka.
Orang yang tidak takut dengan hukum seperti Albert, hanya bisa ditaklukkan dengan cinta. Karena itulah, Sia berniat menggoda lelaki itu sedari awal.
Termasuk tidur dengannya, itu semua adalah rencana dan bukan kesengajaan. Tidak ada hal seperti itu dari awal! Semuanya murni karena rencana yang di buat oleh Sia secara pribadi.
Derick menatap seorang wanita keluar dari sebuah kamar, dengan mengenakan gaun berwarna peach. Dia terlihat sangat anggun dan cantik, terlebih lagi dengan rambut panjang yang sedikit bergelombang itu.
"Hah ... Tuan Albert pasti akan senang melihat penampilan Nyonya Sia sekarang ini. Sayang sekali, dia sedang dinas luar kota!" batin Derick, segera mengambil langkah untuk mendekati Sia.
"Saya akan membantu Anda, Nyonya!" ucap Derick, berjalan menaiki tangga dan mengambil dua koper besar yang berusaha di bawah oleh Sia turun ke lantai 1.
Sia menyerahkan dua benda besar itu kepada Derick sambil berkata, "Terima kasih. Di mana Tuanmu? Dia tidak ikut kamu ke sini? Tumben sekali."
Derick yang mendengar itu hanya terkekeh geli sambil mengikuti langkah Sia yang berjalan menuruni tangga terlebih dahulu, dan pergi keluar rumah.
"Tuan sedang tidak ada di tempat, Nyonya. Beliau sedang dinas luar kota. Mungkin nanti malam baru pulang. Tapi beliau sudah berpesan pada saya, untuk menyiapkan semua keperluan Anda. Jadi Anda tidak perlu cemas, semuanya sudah disiapkan di rumah Tuan Albert. Anda hanya tinggal istirahat dan menata barang-barang Anda saja," jelas Derick, sambil memasukkan dua koper besar itu ke dalam bagasi mobilnya di temani Sia, yang berdiri tepat di sisi kanannya.
Sia masuk ke dalam ruangan itu dan mengeluarkan sebuah sepeda motor besar yang membuat kedua mata Derick membelalak kaget.
"A-anda ... itu milik Anda? Sungguh??" celetuk Derick, berjalan mendekati Sia dengan wajah semangat dan mengelilingi motor besar dari jenis "CMX 500 Rebel, milik Honda"
Walaupun bukan motor antik yang dimodifikasi, tapi motor itu sudah sangat keren untuk seorang wanita seperti Sia. Terlebih lagi, tubuh mungil Sia seakan tidak mungkin menaiki kendaraan seperti itu.
"Anda bisa menggunakan motor seperti ini?" tanya Derick, benar-benar tidak menyangka melihat Sia yang baru saja menuntun motor besar itu tanpa kesulitan, keluar dari bagasi.
Sia mengangguk dan tersenyum, seakan menertawakan wajah Derick yang terlihat kagum bercampur bingung dan senang.
"Anda mau mencobanya? Kalau Anda mau, Anda bisa menumpanginya sampai rumah." Sia menawarkan dengan maksud baik, tapi Derick seakan sungkan dan hampir menolaknya.
__ADS_1
"Anda tidak mau? Baiklah kalau begitu, biar aku yang menaikinya," celetuk Sia, naik ke atas sepeda motornya.
Baru beberapa saat sejak Sia menaiki kendaraan tersebut, tiba-tiba tangan Derick memegang setir motornya dengan wajah berharap.
Sia terkekeh geli dan kembali turun dari kendaraan tersebut. "Kenapa Anda bertindak seperti itu? Kan tadi saya sudah menawarkan, kalau ini naik, ya bilang saja. Tidak perlu malu-malu seperti itu," celetuk Sia, menurunkan standar motornya dan membuat Derick mengulas senyuman masam.
"Izin untuk menaikinya, ya Nyonya," ucap Derick, naik ke atas motor tersebut dan kembali mengulas senyuman lebar.
Sia sambil menggelengkan kepalanya ampun, dia berjalan masuk ke dalam mobil dan tak sengaja melihat beberapa orang temannya, berdiri di ambang pintu. Seakan memperhatikan dia dari tadi.
Sia tersenyum pada mereka, melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil Derick setelahnya.
"Sampai jumpa di kantor!" ucap Sia, mulai menjalankan mobilnya pergi meninggalkan pekarangan rumah.
Sia mengemudi dengan tenang, sambil memperhatikan Derick yang tampak senang mengendarai motornya.
Padahal itu motor dia beli dengan harga murah, tapi melihat Derick yang begitu senang saat mengendarainya, Sia pun tersenyum sambil memperhatikan sekelilingnya.
Setelah hampir sampai di rumah, tiba-tiba mobil Sia harus berhenti karena ada orang yang tiba-tiba menyeberang ke jalanan, dan membuatnya terkejut sampai melakukan rem mendadak.
"Akhh!" teriak beberapa orang, membuat Sia segera turun dari mobil dan melihat siapa yang ada di depanmu pinnya dengan posisi telentang.
Anak lelaki berusia 15 tahun itu, berpura-pura seperti korban kecelakaan, membuat beberapa orang melihat ke arah Sia dengan tatapan marah dan murka.
Derick pun sampai berhenti dan berjalan mendekat ke arahnya dengan tatapan panik.
"Anda baik-"
"Kau tidak bangun? Mobilku bahkan tidak menyentuh tubuhmu. Jaraknya punya juga masih 1 meter dari tempatmu jatuh! Mau sampai kapan kamu berakting?" celetuk Sia, membuat orang-orang di sekitarnya memandangnya dengan tatapan aneh.
__ADS_1
Tapi anak yang berpura-pura menjadi korban itu, langsung bangkit dari posisinya dan duduk sambil menatap Sia.
"Maaf, aku hanya mencari uang!"