Milik Tuan CEO

Milik Tuan CEO
7. Tidak Di Undang


__ADS_3

Tok ... tok ....


Sia mengetuk pintu ruangan Farel, lelaki yang sudah menjabat sebagai atasannya selama 3 tahun terakhir.


"Masuk," seru seorang lelaki dari dalam ruangan, mempersilakan tamunya masuk.


Sia membuka pintu, mengintip ke dalam ruangan itu terlebih dahulu, sebelum mulai melangkah masuk dan mendekati atasannya.


"Kau sudah datang? Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?" tanya Farel, bangun dari kursi kebesarannya sambil mempersilahkan Sia duduk di sofa tamu yang ada di tengah-tengah ruangan tersebut.


"Permisi, Pak," ucap Sia, sebelum akhirnya duduk di temani Farel di sana. "Keadaan saya semakin membaik. Anda tidak perlu menjelaskan saya. Lalu, kenapa Anda membangun saya ke kantor? Jangan-jangan Anda mau memberikan pekerjaan baru lagi pada saya."


Farel menunjukkan gigi kelincinya, membuat wanita di hadapannya menepuk keningnya beberapa kali sambil mengumpat dalam hati.


"Yang benar saja, Pak! Pekerjaan saya yang kemarin saja belum selesai di selidiki. Sekarang Anda sudah memberikan saya tugas baru? Lalu bagaimana dengan tugas yang sebelumnya? Anda ingin menyerahkan tugas yang sudah separuh jalan itu, pada orang lain lagi seperti kemarin?!" pekik Sia, tidak habis pikir.


Farel hanya bisa membungkam mulutnya, karena semua tebakan Sia sudah tepat sasaran. Jadi dia tidak perlu mengatakannya lagi.


Sia yang melihat Farel diam, benar-benar merasa marah dan kesel. Tapi dia tidak bisa mengamuk di kantor ini, karena banyak junior yang akan melihatnya.


Ya, bagaimana pun juga sikap Sia memang agak kasar. Dari dulu dia memang seperti itu. Di depan banyak orang bersikap baik, tapi setelah berada di tempat tersendiri dengan pelaku, dia akan sangat marah dan tidak membiarkan pelaku yang menyakiti hatinya lepas begitu saja.


Tipe orang yang tidak senang diperlakukan seenaknya, walaupun dia adalah bawahan yang seharusnya menurut perintah dari atasannya.


"Dengarkan aku Sia-"


"Tidak ada yang perlu aku dengarkan, Pak. Kalau ada belum dengar, saya akan menikah minggu depan! Saya tidak akan bisa melakukan tugas yang Anda berikan. Apalagi kalau waktunya mepet. Saya akan menolaknya dengan tegas!" celetuk Sia, dengan nada kesal dan ekspresi wajah muak.

__ADS_1


Lain halnya dengan Farel yang tertegun saat mendengar berita pernikahan darinya. Bahkan mulut Farel tidak bisa tertutup dengan sempurna, karena saking kagetnya.


"Anda mendengar saya? Kenapa ekspresi Anda sangat terkejut? Memang saya mengatakan apa?!" tanya Sia, seakan tidak menyadari kesalahan fatal yang baru saja dia buat.


Farel mengerjapkan matanya beberapa kali, menunjukkan ekspresi bodoh sebelum akhirnya berusaha menenangkan diri dan berusaha menerima semua kenyataan ini.


"Kau baru berkata, kalau kamu akan menikah Sia. Kamu sungguh-sungguh? Kenapa tidak memberitahu kami terlebih dahulu? Nanti kamu kan harus datang ke pernikahan kamu. Bagaimana sih! Kenapa mendadak sekali memberi tahunnya," pekik Farel, berusaha untuk menjelaskan situasinya.


Sementara Sia yang baru mendengar perkataan itu, langsung terkejut bukan main.


Bukan kalimat itu yang hendak dia katakan pada Farel untuk menghalau tugas baru yang akan di bebankan padanya. Jadi Sia juga terkejut saat mendengar penjelasan Farel tersebut.


Melihat ekspresi wajah Sia, Farel menjadi sedikit curiga dengan wanita itu.


"Kamu berusaha mengelabuiku? Kamu baru saja berbohong tentang pernikahanmu?" tanya Farel, menatap Sia dengan tatapan tajam menusuk.


Sementara Sia masih sibuk mencerna semua perkataan Farel, dan tidak mendengar apa yang dikatakan atasannya


BRAK!


"Apa yang terjadi di sana?" tanya Juro, salah satu rekan Sia yang cukup kenal dekat dengan Farel dan Sia.


Kening Juro sudah mengerut dalam, membuat beberapa orang kantor yang ada di sekelilingnya, yang juga mendengar suara tersebut, langsung berspekulasi tentang berbagai macam hal.


"Entahlah, mungkin mereka sedang bertengkar. Tapi jarang sekali, kan? Mereka berdua cukup dekat sampai-sampai tidak pernah bertengkar. Tapi kenapa sampai terdengar bunyi seperti itu dari dalam sana?" tanya Lana, rekan seprofesi Juro.


"Entahlah, apa aku harus melihat ke dalam? Kok aku jadi parno sama mereka berdua? Jangan-jangan lagi adu jotos!" pekik Juro, malah membuat rekan kerjanya yang lain ikut khawatir dengan masalah itu.

__ADS_1


"KAU BENAT-BENAR AKAN MENIKAH? DENGAN SIAPA?!!" teriak Farel, terdengar sampai keluar kantor.


Sia yang mendengar dan melihat ekspresi wajah Farel, yang benar-benar terkejut mendengar berita pernikahannya, hanya bisa menumpuk kening ampun dan menoleh ke arah jendela yang tembus pada lorong kantor, dari ruangan itu.


Benar apa yang dia pikirkan, sudah banyak orang yang menempel di kaca jendela tersebut, dengan tatapan ganas akan informasi.


Sia menarik punggungnya ke belakang, menyadarkan dirinya pada kepala sofa dan memperlihatkan ekspresi lemas.


Farel yang menyadari sikap tersebut, langsung menoleh ke arah jendela dan memelototkan matanya, mengusir para pegawai yang mulai kepo dengan pembicaraan mereka.


"Pergi dari sana! Atau aku tambah pekerjaan kalian!" pekik Farel, membuat semua orang langsung bubar dan kembali ke mejanya masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan mereka.


Tidak lupa, Farel segera menutup gorden bambu berwarna putih agar menutupi jendela dan dia bisa melanjutkan pembicaraan serius bersama Sia dengan nyaman.


"Oke, sekarang mereka semua sudah pagi. Kamu bisa mengatakannya padaku. Siapa yang akan menikah denganmu? Kapan resepsi pernikahannya akan diadakan? Dan di mana kalian akan menikah?!" tanya Farel, dengan suara menuntut.


Sia menghela napas kasar dan memalingkan wajahnya, seakan menunjukkan sikap menolak topik pembicaraan ini.


Farel menghela napas kasar beberapa kali, menatap wajah Sia yang tampak enggan dengan topik pembicaraan mereka, dengan tatapan lelah.


"Tidak apa kalau kamu tidak ingin membicarakannya. Siapa yang tidak tahu kalau kamu orang yang sangat menjunjung tinggi privasimu di kantor?! Semua orang juga tahu kalau kamu orang yang tertutup. Yah, aku juga tidak akan mengatakannya pada siapa pun. Aku tinggal terima undangannya saja, kan?" tanya Farel, menggidikkan bahunya samar.


Sia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap lelaki itu dengan tatapan masam.


Farel menatapnya terkejut, tiba-tiba ekspresinya menjadi lemah dan membuat Sia merasa bersalah saat melihatnya.


"Yang benar saja. Kamu tidak akan mengundang kami? Bagaimana dengan teman-temanmu yang di rumah? Kamu akan mengundang mereka tapi tidak mengundangku atau teman kantormu yang lain??" pekik Farel, dengan suara yang sudah naik satu oktaf.

__ADS_1


Sia masih diam dan tidak menyahut perkataannya. Membuat Farel tampak frustrasi dengan hal itu.


Farel mengusap wajahnya kasar, dan berkata, "Masa aku yang sudah seperti Kakakmu ini tidak kamu undang? Yang benar saja, Sia!!" serunya, dengan wajah memelas yang bercampur frustrasi.


__ADS_2