Milik Tuan CEO

Milik Tuan CEO
19. Kecurigaan


__ADS_3

Blup ... blup ....


Sia merendam tubuhnya di dalam air panas yang berhasil disiapkan oleh Angel, seorang polisi junior yang baru masuk dan bertugas di kantornya selama satu bulan terakhir.


Begitu melihat sosok Angel, Sia langsung merekrut wanita itu untuk menjadi partnernya dalam menyelesaikan misi besar yang tengah dia jalankan sendiri tanpa bantuan siapa pun ini.


"Ahhh ... ini baru suhu yang pas. Lain kali kamu harus menyiapkannya dengan suhu seperti ini, Angel!" celetuk Sia, menatap tajam ke arah wanita yang masih berdiri di sisi kanan bak mandinya.


Angel yang mendengar hal itu hanya memutar bola matanya malas, dan memperhatikan ekspresi wajah Sia yang tampak serius sambil menikmati air panas yang merendam tubuhnya.


"Bagaimana dengan rencana Anda, senior? Ini sudah terlalu banyak memakan waktu! Paling minim, Anda sudah memasang alat penyadap suara dan kamera di kantor Albert! Kapan Anda akan melakukannya?" tanya Angel, tampak bersemangat.


Ya tentu saja dia bersemangat. Dia polisi yang baru menetas dari telur beberapa minggu yang lalu. Tentu saja semangatnya masih membara! Berbeda dengan Sia yang harus berhati-hati setiap dia melangkah, karena dalam isinya kali ini dia sudah membawa seseorang masuk.


Dengan begitu, Sia harus lebih berhati-hati dan menilai setiap keputusannya dengan baik. Dengan kata lain, Sia sama sekali tidak boleh terburu-buru dalam mengambil keputusan.


Mendengar pertanyaan Angel yang tampak terburu-buru, Sia menghela napas kasar beberapa kali dan memandang juniornya itu dengan tatapan tajam.


"Jangan membuatku terburu-buru dalam mengambil keputusan! Ingatlah, nyawamu juga di pertaruhkan di dalam tugas ini. Aku tidak boleh mengambil keputusan gegabah, terutama tentang timing! Aku benar-benar harus mencari timing yang tepat." Sia menatap ke arah Angel dengan tatapan tajam nan menusuk. "Jadi jangan berusaha untuk ikut campur ataupun bergerak sendiri! Kamu bisa mengacaukan segalanya. Kamu paham, Angel?!"


Angel yang melihat ekspresi wajah mengerikan dari Sia, hanya bisa menganggukkan kepalanya dan patuh kepada perintahnya.


Keesokan harinya ....


Sia berjalan turun dengan pakaian rapi, selayaknya dia saat ingin pergi bekerja.

__ADS_1


Sia, turun ke lantai satu dan pergi ke dapur, menyiapkan sarapan yang ternyata sudah di buat oleh Albert dan disediakan oleh Lard di meja makan.


Padahal ini masih pukul 04.00 pagi. Tapi kedua lelaki itu sudah sibuk menyiapkan sarapan di dapur, tanpa mengganggu waktu istirahat pelayan atau pun yang lainnya.


"Apa ini? Padahal ini masih terlalu pagi untuk kalian berdua bangun. Tapi kenapa sudah memasak? Kalian lapar? Kalau iya, seharusnya kalian bangunkan aku saja. Aku akan memasak untuk kalian," celetuk Sia, malah dipersilahkan duduk oleh Lard.


"Sudahlah, Kak. Tidak perlu sungkan. Kami berdua biasa menyiapkan sarapan sendiri. Karena sarapan kami cukup pagi, jadi kami tidak pernah membangunkan para pelayan untuk sekedar menyiapkan telur dan roti panggang!" celetuk Lard, sambil memberikan sepiring nasi goreng kepada Sia.


Tentu saja, kedua kening Sia mengurut dengan sempurna saat melihat menu sarapannya sangat berbeda dengan menu sarapan Albert dan Lard, yang hanya terdiri dari telur mata sapi dan dua roti panggang dengan selai bawang di atasnya.


"Apa lagi ini? Seharusnya kalian membuatkan sarapan yang sama seperti kalian saja. Tidak perlu repot-repot menggoreng nasi. Aku malah tidak pernah sarapan kalau di rumah. Sarapan pagi membuatku tidak konsentrasi! Bahkan kalau makan lebih dari 3 sendok, biasanya aku langsung mual!" celetuk Sia, sambil melihat satu gunung nasi goreng yang ada di atas piringnya.


Albert dan Lard yang mendengar hal itu tentu langsung terdiam. Padahal mereka berdua berusaha membuat citra baik di depan Sia. Mereka sudah bangun pagi-pagi dan memasak, tapi kalimat yang keluar dari mulut wanita itu langsung membuat tubuh mereka membeku dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di tahan.


"Jadi, kamu tidak akan memakan masakan kamu?? Kamu akan memakannya sedikit lalu meninggalkannya?? Kamu ingin kami membuat masakan kamu sendiri?!" seru Albert, seakan tidak terima dengan hal itu.


Sia membagi nasi gorengnya menjadi tiga bagian, dan memindahkannya ke piring Albert dan Lard.


"Walaupun ini masih terlalu banyak untukku, aku akan berusaha menghabiskannya." Sia tersenyum cantik pada kedua lelaki itu, dan berkata, "Selamat makan!"


***


Sia berjalan masuk ke dalam kantornya dengan ekspresi wajah datar. Dan pemandangan itu membuat orang-orang yang melihat dirinya, langsung berusaha menghindari kontak mata kapal segera pergi.


Sia langsung menuju ke lantai 3, pergi ke mejanya dan mengambil beberapa barang yang ada di dalam laci.

__ADS_1


Teman bangku yang ada di sebelahnya, Lana, melihat apa yang tengah di lakukan temannya itu dengan tatapan bingung.


"Kenapa kamu membawa senjatamu? Dan, kamera-kamera itu untuk apa? Kamu ingin merakitnya dan memasangnya di rumah itu? Rumah suamimu??" tanya Lana, tidak di gubris oleh Sia.


Karena Sia masih sibuk melihat ini-itu dan merapikan barang-barangnya kembali, setelah dia menemukan apa yang akan dia bawa ke rumah Albert.


Farel mendekat ke arah meja Sia, berdiri di depan mejanya dan memperhatikan apa yang telah di lakukan setelah satu ajudan kepercayaannya itu.


"Bagaimana kabarmu? Kamu datang ke kantor tapi langsung membuat orang-orang panik. Apa semuanya berjalan baik? Bagaimana dengan Angel? Dia tidak kenapa-napa, kan?!" tanya Farel, terlihat benar-benar mencemaskan keadaan kedua rekan kerjanya yang bekerja terlalu nekat.


Sia menoleh ke arah atasannya, mengapa Farel dengan tatapan tajam beberapa saat sebelum mengalihkan pandangannya pada pistol yang sedang dia isi dengan beberapa peluru.


"Ya, seperti yang kamu lihat! Aku tidak jauh berbeda dengan istri para bangsawan. Suamiku memperlakukanku dengan baik, dan sepertinya dia cukup menyukaiku. Hah, entah apa yang membuatnya begitu. Tapi dia tidak memperlihatkan tanda-tanda mencurigakan," celetuk Sia, seakan menyepelekan kelonggaran yang sengaja diberikan Albert kepadanya.


"Benarkah? Dari luar rumah itu seperti dijaga oleh banyak orang. Tapi kalau melihat caramu berbicara, sepertinya kamu tidak memiliki kesulitan selama hidup di sana."


Sia menganggukkan kepalanya dan tersenyum miring. "Ya, aku juga berpikiran seperti itu awalnya. Tapi saat masuk rumah, hanya ada beberapa orang pelayan, tanpa penjaga seperti bodyguard apa pun pengawal bayangan. Aku tidak menyangka, penjahat sepertinya malah membuat kelonggaran seperti itu pada dirinya sendiri. Apa dia tidak takut pada kematian?! Hidupnya sampai sekali," celetuk Sia, tidak henti-hentinya meremehkan Albert.


Para rekan kerja Sia dan juga Farel, hanya diam sambil memperhatikan wanita itu dengan tatapan curiga.


Farel menoleh ke arah Nisa. "Bisakah kamu mencari biodata semua pelayan yang ada di rumah itu?! Perasaanku tiba-tiba tidak enak saat Sia mengatakannya. Jika tidak ada bodyguard ataupun pengawal bayangan! Bagaimana kalau tiba-tiba semua pelayan di rumah itu adalah prajuritnya?"


Farel menatap Sia, yang memandangnya dengan tatapan bingung, dengan ekspresi dingin. "Kamu terlalu meremehkan musuhmu, Sia!"


Deg ....

__ADS_1


Mendengar perkataan itu, Sia langsung terdiam dan berpikir keras. "Apa benar para pelayan itu adalah bodyguardnya??" batinnya, mulai curiga.


__ADS_2