
Sama halnya dengan Namira, Shinta pun memimpikan sesuatu yang berkaitan dengan sebuah ruangan yang ntah dimana keberadaan ruangan tersebut. Apa mungkin ruangan yang dimaksud adalah ruangan yang berada di lantai empat itu?
*World dream
Shinta berlari untuk menghindari sesuatu yang sedang mengejar-ngejarnya hingga ia berhenti di suatu ruangan karena ia merasa harus bersembunyi ia pun membuka pintu ruangan tersebut dan masuk untuk bersembunyi.
Disaat ia di dalam ruangan itu ia melihat seperti ada seseorang yang tengah tidur di lantai paling pojok ruangan itu ia pun mencoba untuk mendekati orang tersebut dengan penuh ketakukan.
"Permisi…" ucapnya sambil berjalan.
Sayangnya orang tersebut tak memberikan respon apapun.
"Apa jangan-jangan itu mayat?" fikir Shinta.
Disaat ia telah berada didekat orang tersebut ia mencoba untuk menyentuhnya dan membalikkan tubuh orang tersebut. Ia sangat terkejut ketika melihat wajah orang tersebut ternyata Namira yang tak sadarkan diri.
"AAHHKKK… Mir, Mir, kenapa ni? Bangun, Mir…" teriaknya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Namira.
Tiba-tiba…
"Brukkkkkk…" seseorang memukul kepala Shinta dari belakang.
__ADS_1
Sehingga menyebabkan kepala Shinta mengeluarkan darah yang begitu banyak. Tak dapat melakukan apapun ia terjatuh kelantai dan melihat samar-samar Namira yang mencoba bangun sambil memegang kepalanya, kemudian ia tak sadarkan diri.
Tak lama kemudian Shinta mulai sadar dan mendengar Namira memanggil-manggil namanya sambil mengangis, sayangnya ia tak bisa membuka matanya. Namira pun memeluk tubuhnya sambil berteriak-teriak seakan-akan ia marah kepada seseorang.
Tiba-tiba… Shinta merasa ada seseorang yang menarik tubuhnya begitu kasar.
"AHHHKKKK… SHINTAAAAAA!!" teriak Namira memanggil namanya. Karena mendengar suara Namira yang begitu keras Shinta pun mencoba dengan sekuat tenaganya untuk membuka mata.
Ia melihat ruangan itu begitu gelap ia tak dapat melihat keberadaan Namira dan tiba-tiba… Seseorang mencekik lehernya begitu keras sehingga membuatnya merasa sangat kesakitan ia mencoba untuk meminta tolong, sayangnya tak ada satupun orang yang mendengarkannya.
"To… To… Tolonggg…" ucap Shinta terpatah-patah.
"Takkan ada orang yang menolongmu!! HAHAHAHA…" Jawab seseorang yang mencekik Shinta sambil tertawa. Sayangnya Shinta tak dapat melihat wajah orang itu karena ruangan itu sangat gelap sekali.
"Sudah ku katakan… Jangan pernah keruangan ini lagi. Sebagai akibatnya, KAU HARUSSSS MATIIIII!!" teriak orang tu sambil mengencangkan cekramannya.
*Off
"AAAAHHHHKKKKK…" sentak Shinta terduduk.
" Huffttttt… Cuma mimpi ternyata," katanya sambil memegang lehernya.
__ADS_1
"Ruangan apa sih yang maksud?" fikirnya bingung.
Ia pun mencoba untuk mengambil hp nya dan ia melihat jam ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
"Ooohhhh nooo… Kenapa nggak ada yang bangunin Aku sih!! Aishhh…." ucapnya kesal karena telat untuk kekampus.
Ia pun bergegas membersihkan diri hingga ia pun melewatkan sarapan dan langsung pergi ke kampus dengan menggunakan motor, karena jika ia menggunakan mobil Shinta takut ia akan semakin terlambat tiba di kampus karena macet.
Setibanya di parkiran kampus Shinta melihat Namira yang juga baru tiba di kampus.
"Namira…" panggilnya. Karena merasa ada yang memanggil namanya Namirapun menoleh ke belakang dan ia melihat Shinta yang berlari kecil ke arahnya. Merekapun langsung menuju ke lantai tiga.
Disaat mereka berada di lantai tersebut. Kedua gadis ini melihat ada seseorang yang sedang berjalan ke arah lantai paling atas.
"Mir, lihat deh kenapa wanita itu ke atas?" tanya Shinta keheranan.
"Alah… Palingan itu wanita yang kemarin lagi latihan syuting paling dia…" jawab Namira.
"Tapi, kayaknya bukan deh, mir. " Sambung Shinta sambil melihat wanita tersebut.
Disaat ia melihat kebawah kaki wanita itu ternyata kakinya tak menginjak ke lantai shintapun kaget dengan raut wajah yang pucat tak mampu berkata-kata ia mencoba untuk menarik tangan Namira, sayangnya Namira telah berjalan lebih dulu darinya.
__ADS_1
Karena merasa ia berjalan sendiri Namira pun membalikkan tubuhnya dan ia melihat Shinta yang masih berdiri kaku di tangga ia pun kembali dan menarik tangan Shinta tanpa mengucapkan apapun.