Misteri Kampus Muara

Misteri Kampus Muara
eps 27


__ADS_3

Mereka terdiam sejenak karena mendengar adanya sebuah langkah kaki yang seperti mengarah ke kereka.


"Bagaimana ini?" tanya Namira cemas.


"Sepertinya Aku tau itu siapa…" ucap Shinta.


"Itu pasti mereka," lanjutnya.


"Mereka siapa?" tanya Namira keheranan.


"Ahh dasar ******. Coba Kau ingat-ingat lagi Siapa orang yang sering Kita intai disini…" jawab Shinta kesal.


Namira yang mencoba mengingat-ngingat.


"Ahhh… Hiyahiya Aku sudah ingat," katanya sambil mengangguk.


Semakin lama langkah itu semakin dekat dan Mereka semakin kebingungan mau lari kemana karena disana hanya memiliki satu lorong saja tak sama dengan lantai-lantai sebelumnya yang memiliki dua lorong.


"Aduhh gimana iniii… Mau laripun kita pasti bakalan ketahuan…" cemas Namira.


"Ohh no… Mereka semakin mendekat…Hikss hikss gimana dong? Aku belum siap mati konyoll… MAMIIIII HIKSS HIKSS." Rengek Namira.


"Kau bisa tengang nggak sih? Gimana kalau mereka mendengar suara mu!!" marah Shinta. Namirapun langsung menutup mulutnya dengan tangannya.


"Pergilah kesana… Disana Kalian akan aman," kata Maria sambil menunjuk ke sebuah ruang kecil yang tak jauh dari ruangan 9.


Merekapun berlari secepat mungkin dan langsung masuk kedalam ruangan ini.


"Tenanglah… Kau jangan sampe mengeluarkan suara apapun disini. Jika tidak malam ini kita bisa tamat," Kata Shinta berbisik. Lalu Namira hanya mengangguk karena tak sanggup berkata apa-apa.


Dan benar saja dugaan mereka, Dekan dan Mang Ujang lah yang disana, mereka memasukki ruangan 9.


"Apa yang mereka lakukan disana atau jangan-jangan mereka akan membuang mayat-mayat yang ada di dalam situ," ucap Namira berbisik.


"Husttt… Diam lah!!" perintah Shinta masih fokus ke arah ruangan itu.


Tak lama mang ujang keluar sendirian, sedangkan dekan masih berada di dalam.


"Sepertinya Mereka sedang melakukan rencana lain." Fikir Shinta.


Tak lama, dugaan Shinta benar Mang Ujang kembali dengan membawa seorang wanita yang ntah darimana datangnya. Ia teringat atas apa yang diceritakan oleh Maria tadi.


"Jangan-jangan wanita itu korban selanjutanya. Dasar sampah masyarakat seharusnya kau lebih baik mati saja!!" fikirnya kesal.


"Mir… Aku merasa sepertinya wanita itu akan menjadi korban yang sekian kalinya. Gimana kalau kita lihat kesana?" ucap Shinta sambil mengajak Namira.


"Yaudah ayuk, Aku juga merasakan hal yang sama. Gila emang tu binatang, bahkan gelar manusiapun ia tak pantas diberi." Jawab Namira sedikit memaki.

__ADS_1


Merekapun keluar dari ruangan kecil itu. Tak lama Maria menampakkan diri di hadapan Mereka, kali ini mereka berdua tidak kaget.


"Jangan kesana!!" larang Maria.


"Tapi wanita itu pasti akan menjadi korban si bejat itu. Itu tidak bisa dibiarkan, jika seperti ini terus pasti akan banyak lagi korban yang ia cari." Ucap Shinta kesal.


"Jika kalian kesana Korban selanjutnya pasti akan kalian," kata Maria memperingati.


"Percayalah… Kami takkan ketahuan," yakin Namira.


Merekapun mengendap-endap dan tibalah Mereka di dekat pintu ruangan itu. Yup… Ternyata pintu itu sejak dahulu tak pernah ditukar dan lobang yang sedikit besar di dekat pintu itu masih ada, dengan banyak kesempatan Merekapun mencoba untuk memantau dua manusia yang ada di dalam sana.


"PLAAKKKK… BUKKKK." Suara tamparan dan tendangan.


Mereka yang menyaksikan dengan mata telanjang begitu kaget, untung saja Mereka masih bisa mengontrol suara Mereka sehingga Mereka tak mengeluarkan suara apapun.


"APA KAU MENCOBA UNTUK BERMAIN DENGAN KU NONAA!!" ucap Dekan sambil mencengkram leher wanita itu dengan kuat.


"AKKHHH AKKH… CUIH… DASAR ******** KAU!! APAKAH KAU MANUSIA? AHHH… BAHKAN DIKATAKAN MANUSIA KAU SANGATLAH TIDAK PANTAS!!" tantang wanita itu dengan sangat berani.


"BERANINYA KAUUU!!" marah Dekan. Mang Ujang yang didalam hanya duduk dengan santai sambil memandangi perlakuan dekan kepada wanita itu.


"PLAKKKK…" Dekan menampar wanita itu.


"APA KAU MAU SEPERTI MEREKAA NONA?" ucapnya sambil menunjuk ke jasad-jasad yang sudah membusuk sambil memberikan senyum sinisnya.


"APA KAU TAU MEREKA KENAPA BISA BEGINI? HAHAHAA ITU KARENA MEREKA SEMUA INGIN MENGHANCURKANKU!!" ucap Dekan menjelaskan.


"KAU TENANG SAJA, SEBELUM KAU KU BUNUH MARI KITA BERMAIN SEJENAK. SEPERTINYA TUBUH MU ENAK JUGA," kata Dekan sambil menyentuh tubuh wanita itu.


Ia ingin melawan, tapi apalah daya tangannya terikat, kaki nya terikat, ia tak mampu melakukan apapun bahkan berteriakpun rasanya tidak berguna saja karena tak ada siapapun disana selain mereka.


Sedangkan di luar ruangan itu.


"Teriakklah… Jika kau teriak kami akan membantu mu." batin Namira sambil berharap.


"Ayoo..… Teriaklahh..…" ucap Shinta pelan berharap wanita itu berteriak meminta tolong. Tapi sayangnya harapan mereka itu tidak ada gunanya, Wanita itu hanya diam dan tak melakukan perlawanan apapun.


"JANGAN TAKUT KAMI HANYA BERDUA," kata Mang Ujang sambil mendekati Wanita itu.


Wanita itu mencoba untuk menjauh, tapi Mang Ujang dengan sigap langsung menarik kaki wanita itu dengan kasar.


"Kan sudah ku katakan sayangg jangan takut," ucapnya sambil menatap wanita itu dengan penuh napsu.


"Apa kau ingin bermain sekarang Pak?" tanya Mang Ujang sambil menyentuh tubuh wanita itu dari atas hingga bawah. Wanita itu semakin gemeteran, ia menangis karena ketakutan.


"A-A-APA YANG AKAN KALIAN LAKUKAN PADAKU?? HIKKSSS HIKSS." Katanya sambil menangis.

__ADS_1


"CUP CUP CUP… JANGAN NANGIS DONGG, KAN BELUM DI APA-APAIN," kata Dekan sambil duduk dan mengelap-ngelap pisau di tangannya.


"AKU MOHONNN... LEPAS KAN AKUUU HIKSS HIKSS." Wanita itu memohon. Sayangnya tak ada gunanya, Mereka tidak menghiraukan permohonan wanita itu.


Disaat mereka hendak melakukan perbuatan keji… Tiba-tibaa…


"YAKKKK… DASARR SAMPAHHHHHH…KELUAR KALIANN BAJINGANNNNN!!LEBIH BAIK KALIAN MATIIII SAJAA!!" teriak Namira karena sudah tak tahan lagi dengan perlakuan Mereka.


Merekapun tersentak dan tersadar bahwa ada orang diluar sana.


"TOLONGGG AKUUUUU!!" teriak Wanita itu meminta tolong.


"TETAPLAH DISANA.. DAN BERTAHANLAH KAMI AKAN MENOLONG MUUU, PASTIKANLAH KAU AKAN TETAP HIDUPPP… " ucap Shinta.


Wanita itu menangis legah dan mengangguk-ngangguk. Tak sadar Dekan yang memegang pisau buat hendak membunuhnya malah memotong tali yang ada di tangannya, dengan sigap Ia cepat-cepat membuka ikatan tali yang ada dikakinya.


"DASAR SIALANNN KEJAR MEREKA…PASTIKAN KAU MENANGKAP MEREKAAAA. AKAN KU BUNUH KALIANNN!!" ucap Dekan marah.


Mereka pun berdiri hendak mengejar Shinta dan Namira.


Merasa lengah… Wanita melihat ada kayu tepat di belakangnya, Ia pun mengambil kayu itu dan memukul kepala Dekan sehingga Dekan terjatuh.


"Pakk… Pakk.… Apa kau tidak apa-apa Pak?" panik Mang Ujang sambil mengangkat tubuh Dekan.


Dengan sigap wanita itu langsung berlari ke arah pintu, sayangnya pintu itu terkunci dan kuncinya berada di tangan Dekan.


"TOLONGG AKUU… PINTUNYA TERKUNCIII HIKSS HIKSS!!" teriaknya meminta tolong.


Namira yang mendengar teriakan wanita itu Ia langsung melihat kanan kiri berharap ada barang berat yang dapat mendobrak pintu itu.


"Aahhh pakai ini saja…" katanya sambil mengangka besi besar yang Ia temukan di bawah jendela.


"MINGGIRLAH DULU DARI PINTU ITU…AKU AKAN MEMBANTUMU." Perintah Namira lalu wanita itupun menggeserkan badannya.


"Brakkk… Brukkk… Brakkk… Bruk." Suara dorongan.


"Lebih kuatt mir," kata Shinta. Namira dengan mengerti Ia membuat hentakan yang lebih kuat ke pintu dan pintu itu langsung terbuka.


"AYO CEPAT LARIII!!" ajak Shinta sambil menarik tangan wanita itu.


"KEJAR MEREKA… AUHHH!!" perintah Dekan sambil berdiri dengan memegang kepala belakangnya.


Merekapun mengejar tiga gadis itu.


"AYOO CEPATANN KITA HARUS LARI DARI KAMPUS INI," kata Shinta sambil berlari secepat mungkin, kemudian di ikuti oleh Namira dan wanita itu.


"HEIII KALIAN JANGAN LARII!!" kata Mang Ujang sambil mengejar.

__ADS_1


Mereka terus berlari secepat mungkin agar tidak tertangkap oleh mang Ujang.


__ADS_2