
"Sepertinya ada yang datang kemari." Kata Namira berbisik.
" Bersikap tenanglah, kalau begitu Aku fokus dengan jalanan dulu," pamit Marina.
"Mmm…" jawab Namira.
"Tuk tuk tuk." Suara langkah kaki yang semakin mendekati pada ruangan 9.
"Tenang jantungg. Tidak akan terjadi apa-apa, Mereka pasti akan datang tepat waktu." Batin Namira menyemangati dirinya.
Dan ternyata yang datang adalah Mang Ujang, Ia hanya berdiri didepan pintu. Tak lama, Namira yang berada didalam mendengar Mang Ujang mengobrol dengan Seseorang tak lain adalah Dekan.
"Apa rencana selanjutnya Pak?" tanya Mang Ujang.
"Mm… Biarkan saja dulu Dia didalam, Aku yakin dua temannya itu akan datang." Ucap Dekan.
"Apa anda tidak ingin bermain dengannya pak?" tanya Mang Ujang lagi.
"Bermain? Apa maksudnya?" feeling Namira yang mendengar percakapan mereka.
"Mmm… Bolehh jugaa. BUKA PINTUNYA!!" perintah Dekan.
"Pliss jangan masuk plissss." Mohon Namira dalam hati.
Mang Ujang pun membuka pintu ruangan itu, kemudian Dekan masuk dan diikuti Mang Ujang lalu Ia mengunci pintu ruangan itu. Melihat Mang Ujang yang langsung mengunci pintu ruangan itu sontak Ia kaget dan gemeteran.
"A-apa yang akan Kalian lakukan padaku?" tanya Namira grogi.
"Gimana kalau kita menunggu teman-temanmu sambil bermainnnn," ucap Dekan yang mulai mendekat ke Namira.
"JANGAN MACAM-MACAM KAU BAJINGANNNNN." Marah Namira.
"Hustt husttt hustttt… Jangan teriak-teriak. Takkan ada yang bisa menolongmu saat ini," Jawab Dekan sambil membelai wajah Namira.
"BEGINIKAH CARAMU MENGHARGAI SEORANG WANITA? CUIHH… DASAR SAMPAH. BAHKAN KAU LEBIH KOTOR DARI SAMPAHH!!" maki Namira.
"Plakkkk…" tamparan mendarat di pipinya.
"Beraninya Kau mengataiku…" murka Dekan lalu menampar Namira kembali.
"HAHAHA… KENAPA? APA UCAPAN KU BENAR? OHHH TENTU SAJA BENAR, APA KAU BENAR-BENAR PSYCHOPAT? HAHAHA… FEELING KU SIH TIDAK, KAU ITU BUKAN PSIKOPAT TAPI KAU ITU GILAAA!!" maki Namira semakin menjadi-jadi.
Mendengar makian dari Namira, Dekan begitu emosi dan tidak akan menahan emosinya lagi.
"BUKAAA BAJUNYAAA!!" perintah Dekan. Lalu dengan cepat Mang Ujang mendekat ke arah Namira.
"YAKKK SIALANN… MAU APA KAU?JANGAN COBA-COBA MENDEKATIKU!!" bentak Namira. Sayangnya, Mang Ujang tidak memperdulikannya dan terus berjalan ke arahnya.
Dekan yang marahnya sudah dipuncak, biasanya Ia akan melampiaskan kemarahannya dengan memuaskan dirinya, tanpa berfikir panjang Ia langsung melepas semua pakaian yang Ia kenakan dan berdiri tepat di depan mata Namira dengan keadaan bugil.
__ADS_1
Namira yang menyadari akan hal itu langsung memejamkan matanya, Ia berharap akan cepat mendapatkan bantuan sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadin
"Tuhann tolong akuu… Shinta… Marina…Kenapa kalian lama sekaliii…" batinnya.
Disaat Mang Ujang hendak melepaskan baju Namira.
Tiba-tiba… Maria datangg dihadapan Mereka
"HENTIKANNNNN… DASAR MANUSIA TIDAK TAU DIRIII. AKAN KU BUNUH KALIANNNN SEPERTI KALIAN MEMBUNUHKUU," kata Maria yang datang ntah darimana dengan wajah yang begitu seram.
"Ka-kau…" kaget Mereka berdua.
Namira yang mendengar sepeti ada suara, Iapun membuka mata dan Ia melihat Maria yang sedang berdiri tepat di depan mereka bertiga.
"Iya aku, Apa kalian masih ingattt?Hahaha. Kini saatnya kalian yang akan
aku bunuhhhh," Kata Maria sambil mendekati Mang Ujang dan Dekan.
"Kau haruss mati sepertiii Kuu!!" ucap Maria sambil berjalan ke arah mang Ujang.
"Ja-jangannn.……" mohon mang Ujang yang ketakutan.
Sedangkan Di Tempat lain…
Setibanya di kampus, Shinta langsung berlari ke arah ruangan bawah tanah yang pernah Ia masukki sebelumnya.
"Uuu gelapnya… Untung saja aku membawa senter," katanya sambil mengeluarkan senter yang ada di dalam tasnya.
"Aisshhh… Dimana Mereka menyembunyikan mayat-mayat itu." Ucapnya lesu.
Ia terus melihat kesana dan kemari, hingga matanya tertuju pada satu ruangan kecil yang ada di ujung lorong itu.
"Ruangan apa ini?" fikirnya sambil mendekat.
Dengan penuh rasa penasaran iapun membuka pintu tersebut, dan Ternyata ruangan kecil itu menyambungkan pada sebuah lorong yang lain.
"Wahhh… Pandainya Mereka memanfaatkan ruangan ini." Ucapnya sambil memasukki ruangan tersebut.
"Ahh… Aku harus cepattt…" ucapnya lagi.
Kemudian, Shinta berlari kembali dan mencoba untuk mencari di setiap ruangan. Ruangan demi ruangan Ia masukki tak ada satupun ruangan yang mencurigakan.
Hingga tibalah Ia pada ruangan terakhir, dengan sedikit cemas dan takut Ia membuka pintu ruangan itu. Ketika pintu itu mulai terbuka.
"AHHKKKKKKKKK… " teriaknya sampai Ia terjatuh dan terduduk dilantai.
Ternyata Mereka menyimpan mayat-mayat itu di ruangan tersebut. Dengan menahan rasa takut Shinta pun berdiri dan mencoba untuk masuk kedalam ruangan itu. Ia menemukan banyak jasad didalamnya bahkan ada yang sudah hanya tinggal tulang belulangnya saja.
"Auuuuu.. Baunya," katanya sambil menutup hidung.
__ADS_1
"Benar-benar psyco tu orang. OMG. Banyakkknya, Sejak kapan si sampah itu melakukan ini semua, anehnya tak ada satupun yang tau kebusukan yang ada di balik sok ramahnya itu. Tunggu saja sebentar lagi semua orang akan tau siapa Kau sebenarnya." Oceh Shinta sambil berjalan melewati mayat-mayat yang tergeletak begitu saja.
"Ahhh… Aku foto saja dan kirim ke Marina sebagai bukti juga," Katanya lagi sambil memfoto semua mayat yang ada.
"Tapi… Dimana Mereka menyembunyikan mayat Mariaaa." Fikirnya.
Saat Ia sedang memfoto-foto mayat yang tergeletak di lantai, Shinta melihat seperti ada ruangan yang berbentuk Laci besar. Dengan cepat Ia langsung menarik pintu ruangan itu. Dan ternyata…
"AKHHH… JA-JASAD MA-MARIAAA… " kagetnya. Ia menjumpai jasad Maria yang yang masih utuh dan sepertinya jasad itu sudah di awetkan sejak lama. Dengan cepat Ia langsung memfoto dan langsung mengirimkan ke Maria.
"Masih utuh… Bahkan tidak berbau…Pasti mereka sering memberinya pengawet. Tetapi, kenapa Mereka tidak memakaikan baju pada jasadnya Maria sedangkan yang lain pada mengenakan pakaian. " katanya bertanya-tanya.
* Pov Marina
Setibanya Ia di kantor polisi dengan langkah yang tergesa-gesa Ia memasukki kantor tersebut dan langsung melaporkan atas kejadian itu.
"Permisii pak… Saya ingin melaporkan atas kasus pembunuhan berantai dan pelecahan seksual Pak," lapornya
"Ha? Apa Anda serius?" tanya polisi kaget.
Maria mengangguk dan saat Ia ingin memberikan bukti-bukti yang ada… Tiba-tiba hp nya berbunyi ada pesan masuk.
Ia pun membuka pesan itu dan kaget setelah melihat isi pesan tersebut.
*isi pesan
"Aku menemukan mayat-mayatnya…Berikan juga foto ini sebagai bukti," isi pesan dari Shinta beserta fotonya.
Tak lama, masuk pesan satu lagi, Shinta mengirim foto jasad Maria.
*isi pesan
"Aku menemukan Kakakmu," beserta gambarnya.
Disaat Ia melihat foto kedua, air matanyapun terjatuh.
"Hikss… Hikss… Kakak. Bersabarlah Aku akan menjemputmu." Bantinnya sambil menitikkan air mata. Kemudian dengan cepat Ia menghapus air matanya dan memberikan semua bukti yang ada kepada polisi.
"Apa Anda tau dimana semua barang bukti ini berada?" tanya polisi.
"Saya tau pak… Dan sekarang teman saya dalam bahaya. Tolong selamatin teman saya Pak. Hikss hikss." Ucapnya sambil menangis.
"SEMUANYA… AYO KITA TANGGAP BURONAN INI!!" perintah polisi kepada anggotanya.
"Anda bisa ikut dengan kami jika Anda mau?" tawar polisi itu kepada Maria.
"Saya membawa motor pak. Saya akan mengikuti dari belakang saja," jawabnya.
Semua polisi yang ada disana langsung bergegas pergi dan diikuti Maria.
__ADS_1
"KITA BERHASILLL…" leganya dengan berteriakkk.
"Yeahhhh.… Aku legahhhh," jawab Shinta dari kejauhan.