
Benar saja. Setibanya mereka di rumah Shinta, hujan turun begitu deras hal hasil menyebabkan Namira harus menginap kembali di rumah Shinta dan kebetulan orang tua Namira sedang bepergian keluar kota.
" Shin, aku tau M itu maksudnya Maria.09 itu pasti ruangan itu. Sedangkan 90 itu pasti tahun," terka Namira.
"Ahhh iya, kalau gitu pasti itu maksudnya tahun kematian Maria dan dimana ia ditemukan!" terka Shinta mengikut.
"Aneh nggak sih, Kenapa hanya Kita saja yang diikuti sama Maria? Apa jangan-jangan ada maksud dari itu semua?" ucap Shinta sedikit bingung.
"Sepertinya kita harus cari tau deh petunjuk dari tulisan ini…" sambungnya.
"Cari tau kemana coba?" tanya heran Namira.
"Ya kita harus kembali ke kampus malam ini. Aku yakin di lembaran-lembaran kertas lain pasti ada juga kunci dari tulisan ini," jawab Shinta yakin.
"Ahhhhh cari mati kau ya, iss ogah suwer dah ogahhhhh nggak mau. Iya kali malam-malam kita kesana. Sedangkan siang aja berasa malam kalau ke lantai itu, Aku belum siap mati konyol!!" melas Namira.
"Jadi kau milih dihantui seumur hidupp gitu? aku sih ogah, Aku yakin kali pasti ada maksud dari semua ini. Iya aja dia cuma ngajak kita main secara cuma-cuma. Cihh… Anak SD aja kalau di ajak main kek gitu pasti nggak mau," kata Shinta sedikit ngelantur.
"Hahaha parah, Anak SD… Jahaha… " Namira tertawa.
"Seriusan… Ayo kita cari sambungan dari tulisan ini!!" ajak Shinta.
Karena sore hari hujan, Mereka terpaksa menunggu hujan reda. Hujan pun reda tepat pada pukul 8 malam. Sebelum berangkat mereka makan malam terlebih dahulu.
"Senter udah, tas kecil udah, pisau udah, jaket udah," kata Shinta.
"Lah buat apa pisau kau bawa-bawa?" Namira kebingungan.
"Buat jaga-jaga aja mana tau kan tu hantu takut sama benda tajam… Macem-macem tinggal pamerin aja ke dia… Hahaha," jawab Shinta. Setelah selesai mempersiapkan barang-barang, Mereka pun akhirnya pergi ke kampus.
Karena tadi habis hujan serta jalanan juga pasti licin, Merekapun menggunakan Mobil. Setibanya di kampus Shinta tidak memparkirkan mobilnya di perkarangan kampus karena jika ia melakukan itu mereka pasti akan di usir dan dilarang masuk oleh security kampus. Shinta pun memparkirkan motornya di samping kampus.
Mereka berjalan mengendap-endap, melihat situasi apakah aman atau tidak.
"Betah amat tu security disana nggak bosan apa," komentar Shinta.
"Husttt, nggak usah bicara nanti tu security tau kalau kita disini!" ucap Namira memperingati.
"Uppsss… Lupa," jawab Shinta sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
*15 menit kemudian
" Eh Eh, Shin, Security nya pergi, kesempatan nih buat kita masuk!" ajak Namira.
"Lihat gerbangnya juga sedang terbuka," sambungnya. Mereka pun mengambil kesempatan emas itu, Mereka berjalan sangat pelan sekali.
"Aishhh, kalau kita jalan begini terus pasti bakalan ketahuan goblok. Mumpung tu security lagi beli nasi goreng kan lumayan lama tu mending kita lari aja…" ajak Namira.
"Eh iya juga ya…" saut Shinta nyengir. Mereka pun berlari secepat mungkin dannn…
"Tappp…" Merekapun berhasil masuk kedalam kampus.
__ADS_1
" Yahhhhhh, percuma aja ada lampu ni kampus kalau nggak di hidupin," gumam Shinta sambil menghidupkan lampu.
Tiba-tiba…
"Krekkk krekkk kreekk…" suara pagar seperti terbuka lebar.
"Woii goblokk ngapa Kau hidupin tu lampu?" ucap Namira sambil tepuk jidat. Karena merasa seperti ada yang akan masuk Ia pun berlari ke lantai atas.
"Woii cepatan emang kau mau ketangkap sama security itu hah!!" panggil Namira dari lantai atas. Shinta pun berlari secepat mungkin tepat setelah security itu masuk ke dalam ruangan kampus.
"Loh perasaan tadi ni lampu mati deh…" ucap security sambil mematikan lampu. Security pun keluar dan mengunci pagar.
"Yahhh gimana dong kita terkunci," panik Namira.
"Udahhh santai aja, ayo naik!" jawab Shinta sambil berlalu ke lantai atas.
Setibanya mereka di lantai tiga dan akan hendak menuju ke lantai paling atas, Mereka terdiam sejenak sambil memandang ke atas…
"Deg deg…" suara detak jantung yang menggebu-gebu. Sejujurnya mereka sangat takut sekali, tetapi jika mereka tidak mencari tau akan kebenarannya mereka mungkin akan di hantui terus oleh arwah Maria.
" Are you ready?" tanya Shinta gregetan. Namira yang memandang ngeri lantai tersebut sambil menelan ludahnya.
"Hmmm… Yeahhh i am ready come on," jawabnya mulai berjalan. Mereka menaiki satu persatu anak tangga dengan detak jantung yang semakin menggebu-gebu.
"Sumpah kalau malam begini ni lorong-lorong beneran nggak nampak sama sekali, hawanya juga begitu dingin," ucap Namira merinding.
"Ayo cepatan hidupin senternya!" sambungnya sambil menyuruh Shinta untuk menyeter semua ruangan itu. Shinta pun mengeluarkan senternya dan menyenter sekeliling mereka dari depan belakang sampin kanan kiri.
"Itu dia serakan kertas-kertas tadi… " kata Shinta sambil menunjuk serakan kertas-kertas yang berserakan tepat ruangan 10.
"Husssttt, Kita jalannya pelan-pelan aja," jawab Shinta.
Tiba-tiba.…
"Brukkkk…" suara plafon jatuh.
"Aakkhh…" kaget mereka dalam hati. mendengar ada yang jatuh di belakang mereka, detak jantung mereka semakin tidak terkendali mereka begitu gregetan. Dengan yakin mereka menoleh kebelakang dannn.
"Huftttt…" lega mereka karena hanya plafon yang jatuh.
Setibanya mereka di depan ruangan 10, Shinta pun langsung mengorek-ngorek lembaran kertas-kertas dengan maksud untuk mencari petunjuk lain, sedangkan Namira bertugas untuk menyenter, tak sengaja ia menyenter pada ruangan 09 dan ia melihat ada seseorang yang sedang berjalan membelakangi Mereka ke arah ruangan itu.
" Shinnnn…" panggilnya gemetaran.
"Apaa?" jawab Shinta masih fokus dengan pencariannya.
" I-ituuuu…" tunjuknya gemetaran. Shinta pun menoleh ke arah yang di tunjuk dan ia pun sontakk merinding.
"Gi-gi-gimana ini, Shin?" tanya Namira yang semakin ketakutan.
"Hussttt jangan ngomong, jangan lakukan apapun…" katanya sambil mengode untuk diam. Namira yang sudah ketakuan setengah mati rasanya ingin ia berlari sekencang mungkin untuk meninggalkan ruangan itu, sayangnya tubuhnya tak mampu bergerak sama sekali, keringat dingin yang terus bercucuran.
__ADS_1
Ia mencoba untuk menyenter ke arah Shinta kembali. Tetapi…
"Loh Kemana dia? Shintaa, Shintaa,,, 0liss ini nggak lucuuu. Woii kuyang jangan gini dong hikss hikss," panggilnya sambil menangis…
"Jangan-jangan dia malah udah kabur duluan. Sialan awas saja kau, shin, Ku bunuh kau kalau beneran kau tinggalin aku!!" fikirnya.
Ia pun mencoba untuk menyenter disekitar…
" Ha, itu dia," katanya dalam hati. Ia melihat Shinta yang sedang berjalan ke arah ruangan 09.
"Shin, ngapain kau kesitu? Loh kemana hantu Maria tadi?" 0anggilnya sambil kebingungan karena yang ia lihat tadi tidak ada di tempatnya.
" Shinnnn…" panggilnya sedikit keras.
Shinta tak menghiraukan dan terus berjalan tanpa menoleh kebelakang. Karena tak ada jawaban dari Shinta, Ia pun mencoba untuk menyentuh pundak Shinta.
"Woiii…" panggilnya sambil memegang pundak Shinta.
Tiba-tiba…
"Tupp…" Shinta terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Ahhkk, Shinta, kenapa ni? Woii bangunn woii, sialan pake acara pingasan segala ni anak. Shinta… Pliss deh nggak lucu Shin… Hikss hikss, SHINTAAAAA…" Namira menggoyang-goyangkan tubuh Shinta sambil menangis.
"Aduhhh kepala ku sakitt…" Shinta terbangun sambil memegang kepalanya.
"Hiksss..… Gila Kau hampir aja aku mau mati konyol disini gegara kau!!" marah Namira sambil mengangis.
Shintapun berusaha berdiri tegak.
"Mir, ayo kita pergi dari ruangan ini sebelum terjadi hal-hal yang aneh lagi. Apa yang aku alami tadi jangan ditanya dulu nanti saja aku jelaskan," ajak Shinta untuk meninggalkan lantai itu.
" Tapi, lembaran kertasnya?" tanya Namira.
"Aku sudah menemukannya, Ayoo cepat!!" katanya sambil gemetaran. Merekapun berlari dan turun secepat mungkin.
"Pagarnya udah terkunci gimana dong?" tanya Namira gregetan.
"PAKKK TOLONGG BUKAIN PAGARNYA!!KAMI TERKUNCII!!" teriak Shinta memanggil security.
"Lah, si kuyang emang cari mati!!" kesal Namira.
"Nggak ada jalan lain kampret, udah diam aja kau!!" jawab Shinta
Security yang mendengar ada suara dari dalam kampus pun mencoba untuk mendekat.
"Loh, kenapa kalian bisa masuk kesini?" tanya security penasaran.
"Anu pak… Tadi pagarnya kebuka trus kami masuk karena ngambil buku ketinggalan soalnya besok pagi akan ada ujian pak," bohong Shinta.
"Ahh i… Iya pak," sambung Namira bohong. Security pun membukakan pagar.
__ADS_1
" Besok-besok pastikan dulu barang kalian sebelum meninggalkan kelas ya," kata security memperingati.
"Baik pak… Kalau gitu kami permisi dulu," pamit Mereka.