Misteri Kampus Muara

Misteri Kampus Muara
eps 32


__ADS_3

*Malamnya…


Ketika melihat timeming yang pas Merekapun langsung melancarkan rencana yang telah mereka buat tadi sore.


"Disaat Mereka tiba, Kami akan bersembunyi disana dan setelah Kau sudah di bawa oleh Mereka, Kami akan langsung menjalankan rencana tadi," jelas Shinta sambil menunjuk arah jalan.


"Apa Kau bisa mengendarain motor Marina?" tanya Shinta.


"Bisa… " jawab Marina.


"Okeh, Motor Ku ada dua Kita akan mengendarain motor sendiri-sendiri. Ketika Mereka sudah membawa Namira kita berpencar okeh," kata Shinta lagi, kemudian di angguki oleh Namira dan Marina.


"Dan ini… Pakailah agar Kita sama-sama bisa mengawasi dari kejauhan. " Ucap Marina sambil memberikan benda kecil yang dipakai untuk ditelinga.


Dengan langkah yang cepat Shinta dan Marina keluar rumah dan bersembunyi di salah satu gang. Sedangkan Namira dengan santai duduk manis di ruang tv dengan alasan agar disaat suruhan Dekan datang mereka tidak mengetahui rencana yang mereka buat.


Tak lama Shinta dan Marina meninggalkan rumah, benar saja… Mereka datang menggunakan mobil van hitam yang diisi delapan orang laki-laki yang berbadan kekar.


"TOK TOK TOK… " ketuk Seseorang dari Mereka.


"Itu pasti Mereka." Yakin Namira.


Karena tak ada yang membuka pintu, salah satu dari Mereka menendang pintu rumah sehingga merusakkan pintu tersebut. Dengan langkah yang kasar merekapun masuk ke dalam rumah.


"DIMANA KALIANN… KELUAR LAHH!!" teriak salah seorang dari mereka.


"Okeh Namira kau pasti bisa… Berpura-pura paniklah." Batin Namira. Ia langsung menuju ke arah suara dengan ekspresi pura-pura ketakutan.


"Si-siapa kalian?" tanya dengan ekpresi pura-pura ketakutan.


"JANGAN BANYAK TANYAA… IKAT DIAA!!" Perintah salah seorang dari mereka. Dua orang dari merekapun langsung berjalan ke arah Namira.


"Eh eh eh eh… Mau apa Kalian?" tanyanya sambil menghindar.


Disaat mereka hendak menangkap tangan Namira, dengan sigap Namira berlari menghindari mereka berdua.


"Ahh.… Jangan lari kau!!" teriak salah satu dari Mereka.

__ADS_1


Dengan cepat Namira berlari ke ruangan atas. Ketika ia hendak naik ke atas.


"Kesempatan nih. Pura-pura jatuh aja dah daripada diikatkan." Batinnya. Dengan cepat ia memplesetkan kakinya dan terjatuh lalu ia pura-pura pingsan.


"Dia pingsan," kata salah satu dari mereka.


"Bagus itu kita bisa langsung angkat dia. Ayo cepat!!" jawab Lelaki satunya sambil mengangkat tubuh Namira.


Mereka pun keluar dan membawa Namira dengan keadaan pingsan. Disaat mereka sudah meninggalkan halaman rumah. Shinta memberi isyarat anggukan ke pada Marina, Marina yang paham apa maksud dari anggukan itu langsung melajukan motornya ke kantor polisi. Sedangkan Shinta langsung mengikuti mobil yang membawa Namira dari jauh.


Setibanya mereka di kampus ternyata sudah ada Dekan dan Mang Ujang yang menanti kedatangan mereka.


"MANA DUA LAGII… KENAPA HANYA DIA SENDIRI YANG KALIAN BAWA?" kecewa dekan karena yang tertangkap hanya Namira.


"Dasar ******!! Kau kira akan dengan semudah itu menangkap Kami ha!!" batin Namira yang mendengar ucapan Dekan.


"Ma-maaf pak… Hanya ada Dia dirumah itu saat Kami datang," Kata salah Seorang dari mereka.


"IKAT DIA DI KURSI ITU!!" perintah Dekan. Mereka pun langsung mengikat tubuh Namira.


"Kalian boleh pergi. Ini gaji kaliannn. " kata Dekan sambil memberi sebuah amplop yang berisi duit.


"Apa Kau sudah mati?" ucap Dekan sambil mencekram wajah Namira yang pura-pura pingsan, Kemudian Ia melepaskannya dengan sangat kasar.


"Ahhh sialan… Awas aja sampe encok leherku." Batin Namira.


"Apa Aku bangun aja kali ya." Batinnya.


Setelah merasa sudah cukup lama Ia pura-pura pingsan. Dengan penuh drama Namira pun membuka matanya.


"Aduhhh kepala ku… Dimana aku?" ningung Namira.


"Wahhh… Aku kira Kau sudah mati gara-gara Mereka tadi." Kaget dekan yang sedang berdiri tepat didepan pintu.


"Auuu kepala Ku… Loh kok diikat..…LEPASS KAN AKUU… SIAPA KAU?" Kata Namira pura-pura tidak melihat Dekan.


"Loh… Baru saja tadi sore kita berjumpa, Kau sudah lupa padaku," kata Dekan sambil berjalan mendekati Namira.

__ADS_1


"Ka-kau… " jawab Namira sambil memblalakkan matanya.


"Hahahaha jangan kagett,"kata Dekan sambil duduk tepat di depan Namira.


"Apa yang akan Kau lakukan padaku??" tanyanya.


"Mmmmm… Aku juga bingung. Mau kasih saran?"tanya dekan.


"Aahhh… Lepasskannnn akuuu!!" teriak Namira.


"Ohh tak semudahh itu… KATAKAN DIMANA DUA TEMANMU LARIII?" tanya Dekan sambil mencekik leher Namira.


"Akhh HAHA ahkkk… JIKA AKU TAK MAU MENGATAKAN, MAU APA KAU akkhh," Ucap Namira sambil menahan rasa sakit.


"AKU LEBIH BAIK MATI… DARIPADA HARUS MENGATAKAN KEPADA MANUSIA SEPERTI MU AKHHHHH," ucapnya lagi.


Mendengar ucapan Namira, Dekan semakin mengeratkan cengkramannya.. Tak lama kemudian Ia melepaskan cengramannya dari leher Namira.


"Ahh ahh… Kenapa kau lepaskan? dasar pengecut!!" lawan Namira.


"HAHAHA… TENANGLAH, AKU TAKKAN MEMBUNUHMU SEBELUM TEMANMU DATANG. AKU YAKINN MEREKA PASTI AKAN DATANG MENYELAMATKANMU," Kata Dekan.


Kemudian, Ia berdiri dan berjalan keluar.


"Duduk manislah disini terlebih dahulu," Kata Dekan sambil menutup pintu.


"Namira… Namira… Apa Kau mendengarku?" teriak Shinta dari benda yang ada di telinga Namira.


"Haah… " jawabnya.


"Apa kau baik-baik saja? Besabarlah sebentar lagi aku akan sampai di kantor polisi," Kata Marina.


"Cepatlah kalian tiba, Gila.. Aku ditinggal dengan ni mayatt, Iihhh," Ucap Namira sedikit ketakutan melihat mayat yang ada di depan matanya.


"Aku sudah sampai di depan kampus," kata Shinta. " Aku tinggal dulu… Bye." Ucapnya lagi.


"Mmm… " jawab Namira dan Marina dengan serempak.

__ADS_1


Tak lama Mereka berbicara lewat benda yang ada ditelinga masing-masing…


Tiba-tiba…


__ADS_2