
Keesokan paginya. Namira telah bersiap-siap untuk berangkat kekampus sedangkan Shinta karena habis mengalami hal yang tidak mengenakkan tadi malam membuatnya tidur sangat lelap hingga lupa bahwa hari ini ada jadwal kuliah pagi.
Namira yang melihat Shinta masih tertidur mencoba untuk membangunkannya.
"Shin, bangun udah hampir jam setengah delapan loh ini, apa Kau lupa pagi ini Kita bakalan ada praktek?" kata Namira.
"Hmmmmmm… 5 menit lagii yaa masih ngantuk banget nih Aku," jawabnya mengerang.
"Okehh tidur aja sekalian nggak usah bangun-bangun ku tinggal kau biar telat!!" gertak Namira.
"Ehhh… Iya iya ni udah bangun," kata Shinta sambil bangkit dari kasurnya.
Setelah selesai bersiap-siap merekapun langsung menuju kampus tanpa sarapan karena sudah terlambat.
Setibanya dikampus, karena sudah terlambat merekapun berlari-lari tanpa melihat kiri kanan. Saat sampai di depan pintu kelas mereka mengetuk pintu dan membuka pintu kelas, sayangnya tak ada satupun orang didalam ruangan tersebut.
"Loh kok nggak ada orang sih?" bingung Shinta.
"Iya nih… Udah capek-capek lari ehh taunya nggak ada siapa-siapa. Pada kemana sih apa mungkin nggak masuk ya hari ni Shin?" ucap Namira menerka-nerka.
Ketika tengah kebingungan, ada seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan itu untuk memberitahu bahwa kelas hari ini di gantikan di hari besok karena dosennya sedang mengalami kemalangan.
"Mmmmmm… Tau gini aku nggak usah bangunnnn pagi. Huaaaa," ucap Shinta seraya meninggalkan kelas. Karena melihat Shinta yang berjalan keluar Namirapun berlari kecil untuk mengejarnya.
"Bilang-bilang ngapa kalau mau pergi tu!!" katanya kesal. Tanpa melihat dan menjawab Shinta terus berjalan hingga tibalah mereka di tangga.
Ketika hendak turun… Tiba-tiba…
"Hiks hiks hiks…" suara tangisan. Karena mendengar suara merekapun sontak menghentikan langkahnya dan kaget dengan wajah yang penuh tanda tanya.
Tak lama kemudian…
"Hiks hiks hiks…" suara tangisan itu semakin keras. Merekapun masih di posisi yang sama, mencoba untuk mengabaikan tetapi Mereka juga penasaran suara tangisan darimana itu.
Semakin lama suara itu semakin nyata adanya bahkan kali ini suara itu seakan-akan sangat dekat dengan mereka.
Merekapun mencoba untuk memberanikan diri dan mencari sumber suara tersebut. Sayangnya saat Mereka melihat di sekitaran lorong lantai 3 tak ada satupun Orang disana karena hari inu semua kelas tak ada satupun yang di penuhi oleh Mahasiswa-Mahasiswi.
"Mir, Aku tau sumber suara itu darimana," kata Shinta sambil memandang lantai 4.
__ADS_1
"Tidak mungkin, Shin. Jangan ngada-ngada…" jawab Namira.
Karena semakin penasaran. Dengan keberaniannya Shinta berjalan menaiki tangga satu persatu dengan wajah yang begitu sangat meyakinkan.
"Ayo naik…" katanya kepada Namira. mendengar ajakan itu mau tidak mau Ia pun ikut menaiki tangga tersebut.
Setibanya di lantai itu, karena tak ada satupun lampu disana Shintapun mengeluarkan hp nya dan menyenterkan setiap jalan yang ada di lorong lantai tersebut. Hawa yang begitu dingin, angin yang begitu kencang yang tak tau darimana asalnya. Lantai yang dipenuhi dengan air yang tergenang Sehingga memberikan kesan yang begitu sangat seram sekali.
Mereka teruss berjalan melewati setiap lorong hingga tibalah Mereka disatu ruangan yang selalu banyak di omong-omongin masyarakat setempat yaitu ruangan 09. Setibanya mereka berhenti di depan ruangan itu.
Tiba-tiba…
"Hiks hiks hiks…" suara tangisan.
Tangisan itu berasal dari dalam ruangan tersebut, Namira yang ingin berteriak tiba-tiba Shinta mengisyaratkan padanya untuk tidak bersuara. Ia mencoba untuk mendekatkan telinganya ke pintu ruangan itu untuk mengayakinkan bahwa suara tangisan yang mereka dengar itu memang berasal dari ruangan tersebut.
Dan… " Hikss hiksss hikss…" suara tangisan itu terdengar sangat jelas. Dan benar saja suara itu memang berasal dari ruangan tersebut. Shinta yang semakin penasaran terhadap suara tersebut mencoba untuk membuka pintu ruangan itu, sayangnya pintu tersebut terkunci.
Sedangkan Namira yang sudah mati ketakutan mencoba untuk menghentikan langkah Shinta dengan menggelengkan kepalanya yang menandakan untuk tidak melakukannya. Tetapi Shinta mencoba untuk meyakinkannya dengan memberikan isyarat mengangguk yang menandakan bahwa untuk mempercayainya. Karena tak mampu berbuat apa-apa Shinta pun mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Siapa didalam?" katanya sedikit gemetar. Tak ada jawaban apapun dari ruangan tersebut dan lagi-lagi ruangan itu hanya mengeluarkan suara tangisan.
"Udahlah, Shin… Ayo Kita pergi saja…" lata Namira menarik tangan Shinta.
"Tunggu dulu…" jawabnya semakin mendekat ke pintu ruangan itu.
"HAHAHAHA…" suara ketawa dari dalam ruangan. Mendengar suara itu mereka kaget.
Tiba-tiba, tubuh mereka seakan-akan beku, Mereka tak bisa bergerak sama sekali Mereka hanya terdiam dan saling memandang satu sama lain.
Kemudian...…
"KALIANN YANG MEMULAINYAAA…AYOO KITA BERMAIN!!" ucap Seseorang dari dalam. Mendengar ucapan orang tersebut sontak membuat Shinta teringat tentang apa yang ia alami tadi malam.
"Wanita itu!!" katanya kaget. Namira yang tak tau apa-apapun kebingungan.
"Wanita? Siapa?" tanya nya keheranan.
"Wanita yang tadi malam aku ceritakan…" jawab Shinta.
__ADS_1
Kemudian…
"HAHAHAHA… KALIAN SUDAH MENGANGGU KU SEJAK AWAL KINI KALIAN HARUS BERMAIN DENGAN KU!!" ucapnya lagi.
"SIAPA KAU??" teriak Shinta. Sejujurnya ia begitu takut saat ini, hanya saja ia mencoba untuk memberanikan diri dan melawan suara misterius itu.
" KENAPA KAU MENCOBA UNTUK MENGGANGGU KAMI,, APA SALAH KAMI?" ucapnya lagi sambil berteriak-teriak. Namira yang begitu ketakuan sehingga membuatnya mengangis begitu kencang dan menutup telinganya rapat-rapat.
"KALIANN SUDAHHH MENGANGGU KUUU!!" jawab seseorang itu ntah darimana lagi suaranya.
APA YANG MEMBUAT MU TERGANGGU HAAAAAAA?" tanya Shinta marah.
" BUKU ITUUUUUUUU…" jawabnya.
"CIHHH… BUKU USANG JELEK ITU?HAHAHAHA KAU SUNGGUH LUCU, NAHHH AMBIL BUKU JELEK MU INI!!" tantang Shinta sambil melemparkan buku Muara 09 ke arah atas. Karna buku itu sudah sangat usang sehingga benyak lembaran-lembaran buku itu yang berserakan dilantai.
Tiba-tiba… Namira melihat salah satu lembaran buku itu ada tulisan yang sangat aneh dengan cepat ia mengambil lembaran buku itu dan memegangnya sangat erat. Shinta yang mencoba menantang orang tersebut tak menyadari apa yang ditemukan Namira.
"SIAPAAAAA KAU??" ucappp Shinta semakin memberanikan diri.
"HAHAHAHAHAHA…" Orang itu tertawa.
" KENAPA KAU TERTAWA? APA KAU BODOH?" ucap Shinta.
"DIAMMMM KAUUUU!!" jawab orang itu membentak.
"KENAPA HAAA? KENAPA KAU SURUH AKU DIAMMMMM? KU TANYA SEKALI LAGI… SIAPA KAUUUUU?" kata Shinta semakin menantang.
"AKUU MARIAAA!!" jawabnya.
Mendengar jawaban orang itu sontak membuat mereka terdiam dan tak mampu berkata-kata lagi. Shinta yang awalnya berdiri seketika terduduk lemas, sejujurnya ia begitu takut tetapi ia mencoba untuk memberanikan diri. Sedangkan Namira ia tak mampu melakukan apapun, wajahnya sangat pucat dan rasa-rasanya ia ingin pingsan saja.
Melihat Namira yang begitu ketakutan Shinta pun berdiri dari duduknya dan memegang tangan Namira. Ia mencoba untuk membawa Namira pergi dari lantai 4 tersebut.
"Aku hitung sampai 3, ketika aku sudah mengatakan 3, lari… Apa Kau mengerti?" bisiknya. Namira tak mampu mengeluarkan sepatah katapun dan ia hanya mengangguk untuk menandakan bahwa ia mengerti.
"1…… 2…… Ti…" belum sempat Shinta mengatakan tiga.
Tiba-tiba…
__ADS_1
"AHHHHKKKKKKKK…" teriak Namira.