Misteri Kampus Muara

Misteri Kampus Muara
eps 23


__ADS_3

"Hossshh hosshh… Hampir saja ketahuan Dasar goblokk kau." Jengkel Namira sambil menata nafasnya.


"Akupun tak tau ada botol sialan itu di bawah kaki ku," jawab Shinta.


"Trus Kita harus apa sekarang? Pulang?" tanya Namira.


"Iya… Kita balik aja kalau kita lanjutkan malam ini yang ada kita bakalan ketahuan sama mereka," jawab Shinta.


Namirapun melajukan mobil ke rumahnya. Setibanya dirumah Namira…Mereka sangat merasakan kelelahan karena habis berlari tadi.


"Ahhh… Lelahnya…" keluh Namira sambil berbaring di atas kasur. Tak lama ia berbaring matanya sudah terpejam saja. Sedangkan Shinta, yang sejak sampai rumah langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan langsung terbaring lemah di atas kasur juga.


*Paginya di kampus.


"Kita harus berhenti mencari tahu dulu, dan kita harus memantau gerak-gerik tu security. Aku merasakan hal aneh sama tu security, kita harus cari tahu siapa dia sebenarnya apa kau paham?" jelas Shinta di kantin. Namira yang sedang makan gorengan hanya menjawab dengan anggukan.


Tak lama kemudian, Ibu kantin pun datang membawakan minuman untuk mereka dan Ibu kantinpun ikut duduk didekat mereka. Karena ada kesempatan yang bagus Shinta pun mencoba untuk mencari tahu dari Ibu kantin saja, karena Ibu kantin tau tentang kampus ini karena Ibu kantin sudah ada disana sejak kampus ini pertama kali dibuka.


"Bu… Shinta mau nanya dong. Bapak security tu udah berapa lama kerja disini bu?" ucap shinta mulai bertanya. Ibu kantin pun menoleh dan melihat security yang di tunjuk shinta.


"Ooo… Mang Ujang…" jawab ibu kantin memberitahu nama security itu.


"Ooo… Jadi namanya Ujang." Jawab Namira sambil ngangguk-ngangguk.


"Bisa dibilang Mang Ujang kerja disini sejak 3 bulan setelah kampus ini berdiiri," jelas Ibu kantin.


"So… Kemungkinan Ia juga tahu tentang kematian Maria." Fikir Namira.


"Mang Ujang tau nggak Bu tentang yang di lantai itu?" tanya Namira penasaran.


"Mmm… Mungkin tau. Tapi Ibu perhatiiin Mang Ujang malah biasa-biasa aja kalau naik ke lantai itu, Ibu pernah lihat mang ujang keatas sana malam-malam… Mungkin lagi berjaga," jelas ibu kantin.


"Treenggg." Suara pesan grub dari hp.


Sontak Namira dan Shinta yang tengah serius bercerita dengan Ibu kantin langsung membuka pesan tersebut.


*Isi pesan


"Dosennya sudah masuk," pesan dari Komting.


"Eh udah masuk… Ayo buruan sebelum kita terlambat lebih lama lagi," ajak Shinta sambil berdiri.


"Ini Bu duitnya." Bayar Namira sambil mengejar Shinta yang sudah mendahuluinya.


Ketika mereka akan menaiki tangga. Ternyata mang Ujang juga akan menaiki tangga.

__ADS_1


"Pagi Pak…" sapa Namira ramah.


"Pagi Neng…" jawab mang Ujang kemudian terburu-buru untuk naik ke atas. Shinta yang melihat gelagat aneh mang ujang, Iapun menghentikan langkahnya dan menarik tangan Namira, sontak Namira berhenti tepat di sampingnya.


"Apaan…" bingung Namira.


"Ayo Kita bolos hari ini…" ajak Shinta.


" Ha ha kenapa pulak?" tanya Namira kebingungan.


"Aku merasakan ada yang aneh dari glagatnya Mang Ujang Ayo kita ikuti!!Kemana dia pergi," ajak Shinta mempercepat langkahnya mengikuti mang ujang.


"Eh… Ngapain dia ke lantai itu?" bingung Namira sambil menunjuk Mang Ujang.


"Hhustttt jangan kencang-kencang kalau ngomong tu… Nanti kedengaran," kata shinta sambil berjalan mengendap-endap. Mereka terus mengikuti Mang Ujang yang sudah berada di lantai 4.


Tak lama kemudian, Mang Ujang tiba-tiba berhenti dan mencoba untuk menoleh kebelakang, Namira yang menyadari akan hal itu langsung menarik tangan Shinta untuk bersembunyi di balik tembok dekat tangga.


Karena tak melihat siapapun Mang uUang pun melanjutkan jalannya dan sampailah Ia berada di ruangan 9 yang selama ini selalu di anggap mistis oleh orang-orang. Mereka yang melihat mang Ujang dengan santai membuka pintu itu dan masuk seperti tidak apa-apa. Mereka terkaget dan saling tatap menatap dengan mulut yang menganga.


"Apaan ini… Kenapa Mang Ujang bisa membuka pintu ruangan itu," kaget Shinta.


"Shin… Sembunyi!!" tarik Namira cepat. Tak lama mereka bersembunyi lewatlah Seseorang Pria yang memakai serba hitam ke arah ruangan yang di masukkin mang ujang tadi.


"Bukannya itu laki-laki yang kemarin ya," kata Namira sambil menerka-nerka.


Merekapun mengendap-endap keluar dan bersembunyi lagi di setiap ada ruangan kosong yang terbuka. Tak lama, kedua lelaki itu keluar dari ruangan itu dan berbincang-bincang tentang suatu hal.


" Apa Kau yakin tidak ada orang yang mengikuti mu kesini?" yanya Mang Ujang.


"Mmm. " Jawabnya sambil ngangguk.


"Apa dua gadis itu masih suka kesini?" tanya lelaki itu.


"Whatt? Jadi mereka tau kalau Kami sering kesini?" batin Shinta.


"Tidak ada lagi sepertinya Mereka tidak mengetahuinya pak," jawab Mang Ujang.


"Pak? Maksudnya Bapak gitu? Siapa sih orang itu." Fikir mereka berdua.


"Pantaulah Mereka selalu. Perhatikan gerak gerik mereka jangan sampai mereka mengetahui semua ini, kalau tidak Kita bisa mampus…" ucap Orang itu dengan ucapan penekanan.


"Jika Mereka mengetahui tentang semua ini. Pastikan kau akan membunuh mereka," katanya lagi.


" Ta-tapi pak… Sejujurnya saya masih takut atas kejadian wanita yang kita bunuh waktu itu," Kata mang Ujang tergagap-gagap.

__ADS_1


"Dapat kauu… Berarti mereka lah yang telah membunuh Maria." Terka Shinta.


"Alah… Orang yang sudah matipun kenapa Kau harus memikirkannya." Ucap lelaki itu dengan suara yang begitu kasar.


"Jangan sampai ada yang tau diamana jasad wanita ****** itu… APA KAU PAHAM?" katanya menegas…


"Pa-paham Pak. " Jawab Mang Ujang gagap.


"Ternyata feeling ku benar… Mayat yang ditemukan itu bukan mayatnya Maria…Tapi mayat siapa itu ??" fikir Shinta semakin penasaran.


"Jangan-jangan mayat Maria masih ada didalam situ?" tanya Namira berbisik.


"Husttt… Jangan bersuara!!" jawab Shinta.


"Apa Kau sudah melakukan apa yang Ku suruh selama ini?" tanya lelaki itu.


"Sudah pak, Saya pastikan tak ada satupun orang mengetahuinya." Jawab Mang Ujang.


"Baguss." Jawabnya.


"Tapi… Bagaimana dengan mayat-mayat ini pak?" tanya mang Ujang.


"Ha mayat? Apa jangan-jangan bau busuk selama ini berasal dari mayat yang ada di dalam situ… Siapa mereka?Gila… Mayat? OMG dasar bangsattt… " fikir mereka berdua kesal.


"Aromanya sudah mulai terbau dimana-mana pak," lanjut Mang Ujang sambil menutup hidungnya.


"Buang saja mayat-mayat itu. Pastikan disaat Kau membuangnya tak ada satupun orang yang tahu," kata lelaki itu dengan sangat santai.


"Baik pak, akan saya buang nanti malam." Jawab Mang Ujang.


" Okeh… Saya pergi dulu," kata lelaki itu sambil berjalan meninggalkan Mang Ujang, kemudian diikuti oleh Mang Ujang.


Setelah mereka benar-benar pergi menjauh, Shinta dan Namira pun keluar dari persembunyian mereka.


"Gila banget… Ternyata didalam itu ada mayat. Pantasan saja ada bau busuk," kesal Namira.


"Kita harus mengintai nanti malam, dan Kita harus memastikan kalau nanti malam itu Mang Ujang takkan membuang mayat-mayat itu. Untuk sebagai bukti," kata Shinta.


"Sebelum itu… Ayo Kita pergi saja dari sini…" ajak Shinta meninggalkan tempat itu. Merekapun keluar dan menuju kantin kampus.


Saat menuju kekantin mereka berjumpa lagi sama nang Ujang, tanpa ada rasa bersalah apapun wajah seram itu dengan manis menyapa mereka berdua.


"Neng… Udah kelar ya kuliahnya?" sapa mang Ujang.


"Udah Pak," jawab Namira.

__ADS_1


"Cih… Dasar munafik…" batin Shinta.


__ADS_2