
*Dikantin
"Buk nasi goreng sama jus jeruknya satu ya." Pesan Namira sambil duduk.
"Dua, Bu," sambung Shinta.
"Siap boss…" jawab ibu kantin sambil memuatkan pesanan Mereka.
Tak lama pesananpun tiba...
"Thankss, Ibuuu," ucap Namira menerima pesanan.
"Sama-sama cantikk," jawab Ibu kantin.
Karena tak ada lagi yang memesan Ibu kantinpun duduk didekat mereka.
"Masih jam segini kok udah keluar neng?" tanya ibu kantin.
"Kami boloss, Bu. hihi," kata Namira sambil mengunyah nasi.
"Loh kenapa boloss? Tumben bangett..." tanya ibu kantin lagi. Ibu kantin memang sudah dekat dengan mereka berdua.
"Itu karena-" ucap Namira terpotong
"Karena malas lihat dosennya, Bu... Pasti nanti nagih tugasss lagi. Kami belum selesain tu tugas," sahut Shinta bohong.
Shintapun menatap Namira dan memberi kode dengan mengedipkan matanya.
"Haa... Iya.. Hahaha," kata Namira dengan tertawa canggung.
"Loh.. Loh.. Tumbenan banget Biasanya juga paling rajin buat tugas," ucap ibu kantin.
"Bu... Pesan nasi lemak nya dong tigaa," pesan mahasiswa lain. Ibu kantin pun berdiri dan mendekati suara yang memesan.
"Okehh, Neng.... Mau minum apa?" jawab ibu kantin sambil menanyakan yang lain.
"Ibu, tinggal dulu," pamit Ibu kantin dan langsung menyiapkan pesanan.
"Udah hampir jam makan siang nih. Udah pada keluar belum yaa." Tutur Namira. Tak lama ia mengucapkan hal itu.
"WOIII.... Mantap kalian ya nggak masuk hari ini. Mamposs tu dosen killer nanya-nanyain kalian," ucap Komting dan langsung duduk didekat mereka.
"Kami telat 30 menit. Daripada mendengarkan ocehan tu Dosen dan ujung-ujungnya disuruh keluar juga mending Kami nggak masuuk betul," jawab Shinta memberikan jawaban bohong.
"Nanti malam kita ada praktek sama tu dosen. Jangan sampe nggak masuk lagi kalian, aishhh pasti begadang tu nanti malam dibuat sama tu dosen bikin kesall aja," Kata Komting.
"Hahaha.... Sellow mamennn. Nggak usah ngegas ke Kami juga dunggsss…" jawab Namira.
"ya salah sendiri.. Siapa suruh didekat ku!" ucap Komting ngasal.
"Eelleh... Bukannya Kau ya yang didekat kami gublukk," balas Namira sedikit kesal.
"Ehh iya juga ya hahaha... Sudahlah aku pergi dulu. Jangan lupa siang ini masih ada jadwal," kata Komting sambil berlalu.
"Malam ini? Baguss... Biar bisa sekalian ngintai tu security yang nggak sadar diri." Batin Shinta.
"Malam ini Kita punya kesempatan buat mantau tu security," kata Shinta berbisik.
__ADS_1
"Iya juga ya... Keberuntungan berpihak kepada Kita hari ini," ucap Namira tersenyum sambil mengangkat tangannya untuk mengajak Shinta toss.
"Eh udah mau masuk nih. Ayok kita ke kelas sebelum tu dosen datang." Ajak Shinta sambil berdiri menuju ke ibu kantin.
"Ni bu duitnya," kata Shinta sambil memberikan duit kepada ibu kantin.
"Makasih ya Neng," kata Ibu kantin ramah. Merekapun langsung pergi kelas.
***Malam harinya**
"Aooooowwwhhh.... Mager beut dah sumpahhh. Mana ngantuk lagi," Kata Namira sambil menguap.
" Apa Kau lupa rencana Kita malam ini... Keburu tu Security membawa pergi barang bukti kebejatan dia." Jawab Shinta.
" Ohh iya... Aishhh ayo lah Kita berangkat lagi." Jawab Namira sambil berdiri untuk pergi.
"Dasar ****** mana buku Mu.. Kau mau nilaimu jelek sama tu Dosen," kata Shinta.
"Ahh iya hahaha hampir lupa." Jawab Namira.
Merekapun pergi lebih awal sebelum jadwal matkul. Setibanya mereka dikampus, kampus benar-benar sepi tak ada satupun Mahasiswa disana dan Mereka hanya menjumpai Mang ujang.
"Malam non Tumben banget nih malam-malam kesini." Sapa Mang Ujang.
"Iya pak malam ini Kami ada praktek Pak," kawab Namira sopan.
"Ha praktek? Aishh gagal lah rencanaku malam ini." Batin Mang Ujang.
"Oo kalau gitu Saya duluan ya non," kata Mang Ujang kemudian meninggalkan mereka.
Shinta yang memperhatikan Mang Ujang yang berjalan sambil menelvon seseorang merasa sedikit curiga.
"Siapa yang ditelvonnya itu? Jangan-jangan orang kemarin, pasti dia memberikan info kalau malam ini ada yang ngampus. Bagus, jangan sampai mereka memindahkan tu barang-barang bukti sebelum aku melaporkan Mereka." Batin Shinta.
"Ayok Shin kita kelab," ajak Namira.
Belum sempat Mereka melangkahkan kaki hujan tiba-tiba turun begitu deras.
"Aishhh Mana hujan lagi." Keluh kesal Namira.
"WOIII KALIANNN... CEPATAN MASUKKK!!" teriak Komting dari jauh. Mau tidak mau Merekapun menerobos hujan, meskipun dekat karena hujan begitu deras mereka pun basahh..
"Shinta, Namira.. Saya ingin mendengar penjelasan dari kalian. Kenapa tadi pagi kalian tidak masuk?" tanya Dosen.
Degggg... Mereka kagettt.
"Aishhh dasar tu dosen masih ingat aja." Batin Namira.
"Ahhh.. I-i-tu karena kami sudah terlambat lebih 30 menit pak," alasan Shinta.
"Ahh.. I-iya pakk." Sambung Namira.
"Okehh... Kali ini alasan kalian saya terima. Dan silahkan kalian maju untuk langsung praktek." Suruh Dosen.
"Ahhh kamprett.. Yang benar aja napa baru juga masuk udah langsung aja disuruh praktek." Keluh batin Namira.
"Apa Kalian tidak mendengar apa yang saya katakan?" ucap Dosen. Merekapun berdiri dan mulai praktek.
__ADS_1
"Saya ingin kalian praktek pembedahan tulang rawan mayat ini... Silahkan," kata Dosen.
"Shin.. Aku pada Mu." Bisik Namira.
"Buapakk Mu itu padaku padaku.. Kau kira aku mengerti ha. Kan tadi pagi kita tidak masuk," kata Shinta berbisik.
"Kenapa Kalian belum memulai?" tanya Dosen. Dengan sangat berhati-hati merekapun memulai praktek.
Setelah mereka selesai praktek.
"Pak.. Izin ketoilet." Izin Shinta.
"Ya.. Silahkan," jawab dosen.
Shinta pun keluar dari ruangan dan menuju ke toilet. ketika ia hendak masuk kedalam toliet, Ia melihat lelaki itu lagi yang sedang berbincang-bincang dengan Mang Ujang.
"Pasti mereka membuat rencana lagi nih," fikir Shinta. Ia pun mengendap-endap dan bersembunyi di balik tembok untuk menguping pembicaraan mereka.
"Bagaimana ini pak? Jika kita semakin membiarkan mayat-mayat itu disana yang ada nanti bau nya akan kemana-mana," kata mang Ujang.
"Pura-puralah tidak mengetahui apa-apa dan pastikan disaat kau membuangnya tidak ada yang mengetahuinya.. Terutama anak-anak sialan itu," ucap lelaki itu.
"Sialan... " batin Shinta kesal.
Tak ingin berlama-lama lagi, Ia pun mencoba untuk meninggalkan tempat itu. Lagi-lagi Ia tak mengetahui bahwa ada botol berada di bawah kakinya dan.…
"Krekkkk…" suara botol terinjak.
"Aishhh.... Dasar bodoh kau Shinta... Lagi-lagi kau menginjak botol sialan ini... Aishhh," batin Shinta.
"Siapa disana?" kata mang Ujang sambil berjalan mendekat.
"B**agaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Aahhh toilet... Iya.. Toilet." Batin Shinta sambil berlari secepat mungkin kedalam toilet.
Tak lama ia masuk ke toilet ada kucing yang kebetulan lewat dan menginjak botol tersebut.
"Ais... Hanya kucing," kata Mang Ujang kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
"Huuffttt.... Hampir saja.... Eitss, aku harus buru-buru ni keburu tu dosen marah-marah nggak jelas lagi," Kata Shinta sambil keluar toilet dan berlari ke lab.
Setiba di depan pintu lab.
"Huftt huftt hufftt...." suara nafas Shinta yang ngos-ngossan karena berlari, Ia pun masuk dan duduk.
"Kenapa Kau begitu?" tanya Namira.
"Tadi aku menguping lagi obrolan Mang Ujang sama tu orang," jawab Shinta.
"Siapa sih dia itu Jadi penasaran aku.. Trus truss apa yang kau dengar?" tanya Namira lagi.
"Mereka tak jadi membuang mayat-mayat itu. Yang pasti mereka akan membuangnya, Kita harus mengikuti orang itu Aku yakin jikapun mereka berhasil membuang mayat-mayat itu pasti didekat mereka membuang mayatnya Maria," jawab Shinta.
"Kita harus fokus ke mereka dulu... Untuk mencari kebenaran dari kematian Maria," lanjutnya. Namira tak menjawab apapun dan hanya memberi anggukan.
Setelah 3 jam lama nya mereka praktek.
"Baik... Saya fikir pertemuan kali ini cukup sampai disini saja. Kalian boleh pulang," kata dosen sambil beranjak untuk keluar kemudian para Mahasiswa pun mengikuti langkah sang dosen untuk meninggalkan lab.
__ADS_1