Misteri Kampus Muara

Misteri Kampus Muara
eps 21


__ADS_3

*Keesokan paginya


Semua mahasiswa semester satu berkumpul di lab untuk melaksanakan ujian prakter.


" Heii kalian Udah belajar belum?" tanya Meri.


"OHO.. Jelas dong udahhhh…" jawab Namira dan Shinta serempak. Tak lama kemudian dosen pun masuk ke lab.


"Selamat pagi semua… Maaf saya terlambat 15 menit. Kalau begitu langsung saja kita mulai praktet pembedahan jantung dari mayat ini," jelas dosen sambil berdiri di samping mayat yang sudah terletak tepat di depan sang dosen.


"Kali ini saya tidak akan memanggil sesuai absen… Baik, siapa duluan yang hendak mengajukan diri terlebih dahulu?" tanya dosen.


Tak ada satupun yang menunjuk diri, setelah 10 menit lama nya sang Dosen menunggu, sayangnya sampai saat itu tak ada juga satupun mahasiswa yang mengajukan diri.


"Yaudah… Jika tidak ada yang ingin mencoba saya akan memanggil nama kalian sesuai absen saja," ucap dosen sambil mengambil buku absen.


"Sa… Saya pak.…" tunjuk Namira sambil berdiri dan berjalan ke arah mayat yang akan di bedah. Namira pun mempraktekkan apa yang telah ia pelajari sesuai materi yang ia ketahui.


" Pertama, pastikan terlebih dahulu apakah obat bius benar-benar sudah bekerja atau belum," jelasnya memulai.


Semua yang ada di ruangan itu pun memberikan tanggapan dengan anggukan.


" Kedua, pastikan kalau saat membelah dadanya itu rata seperti ini," jelasnya sambil mempraktekkan membelah dada pada mayat.


" Ketiga, jika sudah terbelah ngangakan sedikit dengan tangan tapi jangan tangan kosong ya, tapi gunakan sarung tangan agar jantung tetap steril. Kemudian angkat jantung secara perlahan dan selesai…" jelasnya sambil meletakkan jantung mayat tersebut ke wadah yang masih bersih dan steril.


"Okeh, cukup bagus cara kamu menjelaskan dan cara mempraktekkannya. Sekarang saya ingin lihat cara kamu memasukkan jantungnya dan cara kamu menjahit bagian yang telah kamu belah tadi," ucap dosen sambil berdiri di samping Namira.


"Baik pak akan Saya coba," jawab Namira.


"Baik, saya tidak akan menjelaskan bagaimana cara memasukkannya, karena kalian semua bisa melihatnya seperti ini," katanya sambil memasukkan jantung mayat tersebut.


"Kemudian saya akan menjahitnya kembali. Cara menjahitnya jangan lurus karena akan menyebabkan kebocoran pada jantung, tetapi jahitlah sesuai potongan yang telah kita buat tadi… Seperti ini," jelasnya sambil menjahit.


Semua yang ada diruangan itu dengan sangat serius mendengarkan penjelasan yang telah di berikan oleh Namira, setelah selesai dengan prakteknya semua yang ada didalam memberi tepuk tangan karena ia memberi praktek yang bagus.

__ADS_1


"Cara kamu mempraktekkan ini sangat bagus. Dan saya akan pastikan kamu lulus pada ujian ini," kata dosen bangga. Namira yang mendengarkan bahwa ia lulus ujian sangat kegirangan.


"Terimakasih pak," ucapnya bahagia.


"Okeh Namira kamu silahkan duduk…" suruh Dosen. Namira pun kembali ke tempat duduknya.


"Baik, siapa lagi yang mau untuk mencoba?" tanya dosen lagi.


"Saya pak," tunjuk Shinta.


"Okeh Shinta silahkan!" suruh dosen. Shinta pun berjalan kedepan dan akan mencoba untuk memulai praktek.


Ketika ia hendak akan membelah tubuh mayat tersebut, Ia melihat sekilah wajah mayatnya ia sedikit kebingungan dengan wajah mayat tersebut.


"Seperti tidak asing dengan wajah mayat ini," fikirnya sambil melihat wajah mayat itu.


"Tapi dimana aku pernah melihatnya ya?" fikirnya lagi, lalu ia pun memulai memprateknya seperti yang sudah di praktekkin oleh Namira tadi.


"Okehh, nagus, silahkan duduk," ucap dosen mempersilahkan duduk. Sebenarnya Shinta masih penasaran dengan wajah mayat tadi, tapi ia juga bingung dimana ia melihatnya.


"Tapi, benar-benar mirip sama Maria!!" fikirnya semakin penasaran. Sejujurnya waktu malam itu, Ia sempat melihat wajah Maria.


*Dikantin


Ketika ujian praktek selesai, Merekapun langsung menuju kantin.


"Mir, Kau percaya nggak kalau mayatnya Maria itu udah ditemukan?" tanya Shinta.


"Ya yakin lah, Orang jelas-jelas kok udah di temukan waktu itu. Ya kan, Bu?" jawab Namira sambil menyenggol tubuh ibu kantin yang duduk disebelahnya.


"Ha… Iya." Kaget ibu kantin.


" Bu, gimana keadaan jasadnya Maria saat di temukan?" tanya Shinta semakin penasaran.


" Hmmmm… Tragis bangett kalau ibu nggak salah, wajahnya itu hancur bangettt sampe nggak kek wajah lagi ihh seram kali lah pokoknya," jelas ibu kantin sedikit gregetan.

__ADS_1


"Kalau wajahnya hancur, kemungkinan bisa jadi itu bukan mayatnya Maria. Tapi jika itu bukan mayatnya Maria, kira-kira dimana ya mayatnya disembunyiin… Haa jangan-jangan mayat tadi memang mayatnya Maria!!" batinnya sambil terdiam.


"Kenapa sih emangnya?" tanya Namira. Shinta terus terdiam sambil memikirkan tentang mayat tadi.


"WOIII… Malah bengong dang si ******* ni," ucap Namira.


"Ahhh… Nggak apa-apa… Nanya doang," jawab Shinta terkaget.


"Tapi ya, ada juga sih yang percaya kalau mayat yang ditemukan itu bukan mayatnya Maria," sambung Ibu kantin sambil sedikit berfikir.


" HAH… SERIUSAN BU?" tanya Namira.


"Kenapa mereka bisa berasumsi seperti itu bu?" ikut Shinta bertanya.


"Katanya sih orang yang pernah melihat wajahnya Maria itu, Mereka pernah melihat mayat yang mirip dengan Maria itu, kalau ibu sih nggak yakin ya, soalnya ibu juga lihat waktu proses pegangkatan mayat wanita malang itu," kelas ibu kantin.


"Tapi, kalaupun benar, Isss seram banget pastii lantai paling atas tu semakin bergentayangan arwahnya…" kata ibu kantin sambil bergedik ngeri.


" Nanti dia bilang gini mana mayat kuuu mana mayattt ku sambil berjalan hahahahah," canda ibu kantin.


" Truss trusss dia bilang lagi lohh kok bau banget sih jasad ku hahahahaha," ikut Namira bercanda.


" Hahahahaha.…" tertawa mereka.


"Fix… Berarti mayat yang ditemukan itu bukan mayat Maria. Pasti ada sesuatu dibalik ini semua tapi apaaa? Ohh iya kertas semalam!! dimana yaa aku letak kemarin?" fikirnya sambil mengorek-ngorek isi tasnya.


"Kau kenapa sih, Shin? Sibuk kali nampaknya?" tanya Namira kebingungan dengan tingkah Shinta.


"Ahh… Ahh ahh," jawab Shinta bingung mau jawab apa.


" Ahh ahh ahh… Apaan goblokk? Ngomong tu yang benar!!" jawab Namira menirukan Shinta ngomong.


"Ahh bukan apa-apa… Udah siap makan kan? Yaudah ayok lah kita pulang lagi. Lagian ntar siang nggak ada jadwal kuliahkan ngapain lama-lama disini," katanya sambil berdiri untuk meninggalkan kantin, kemudian di ikuti oleh Namira.


"Nih buk duitnya, makasih ya bu makanannya enakkk. Kapan-kapan kasih yang gratisan ya bu okeh hahaha," kata Namira sambil bercanda

__ADS_1


Merekapun menuju ke parkiran mobil dan kali ini yang menyetir adalah Namira, karena Shinta merasa sedikit pusing sehingga ia menyuruh Namira untuk mengemudi. Kali ini mereka akan pulang ke rumah Namira, karena malam ini orang tua Namira akan pulang dari luar kota.


__ADS_2