Misteri Kampus Muara

Misteri Kampus Muara
eps 22


__ADS_3

Karena merasa sangat pusing sekali, Shinta pun memejamkan matanya dengan niat untuk tidur sejenak. Tetapi, tak lama Ia memejamkan matanya tiba-tiba Ia teringat akannya lembaran kertas yang ia jumpai semalam.


"Aishhh iya kertas itu ada dimeja belajarku… Aku harus mencari tau semua ini," batinnya sambil menutup matanya.


" Mir, Kita kerumah Aku dulu ya. Ada yang harus aku ambil, jangan tanya dulu nanti kau akan tau," kata Shinta mengajak. Namira yang awalnya sudah siap memberikan pertanyaan namun sudah ditepis duluan oleh Shinta terpaksa hanya mengangguk dan memutar balik arah.


"Sejak awal emang sudah aneh dengan kampus itu, Aku merasa Maria itu ingin mengungkapkan sesuatu. Tapi apa?Kenapa malam itu dia memaksaku untuk membuka ruangan itu. Apa aku harus memberitahu Namira ya? Ahh …Jangan dulu nanti saja setelah lembaran kertas itu udah ada." Batinnya lagi.


*Malam kejadian


Namira yang awalnya sedang menyenteri Ku yang sedang mencari-cari lembaran-lembaran kertas itu, tiba-tiba… Ia memanggilku dengan begitu gemetaran dan bicara terpatah-patah… Sejujurnya aku sedikit bingung dengan anak itu, tapi aku harus mencari kunci dari lembaran yang kemarin kami temukan.


Tak lama… Namira memanggil kembali, dan ia menunjuk ke sebuah ruangan, Aku pun mencoba untuk untuk melihat ke arah yang ia tunjuk.


"Deggggg…" jantung ku berdetak kencanng.Tanganku benar-benar gemeteran tak tau harus berbuat apa Aku sangat yakin kalau itu pasti Maria.


Disaat aku ingin berdiri. Tiba-tiba aku melihat secarik kertas yang dalamnya ada tulisan, dan aku yakin itu pasti salah satu kuncinya. Dengan sigap aku pun langsung megambil dengan kasar kertas itu, tanpa melihat apa isinya aku langsung memasukkannya ke dalam saku jaket ku. Namun…


Tiba-tiba Maria menarik tangan ku dan aku berusaha teriak. Sayangnya tak ada satupun yang mendengarkan…


"Ahhkkk… Namira, tolongg!!" teriakku. sayangnya Namira tak mendengarkanku.


Ia terus menarik tanganku. Dan aku seakan-akan terhipnotice dengan tarikkannya, Aku melihat begitu jelas wajah wanita malang itu. Wajahnya sangat senduu, Ia seperti menahan kesakitan, kesedihan, lalu dia membisikkan padaku.


" Bukalahh pintu ituuu!" katanya dengan wajah begitu senduuu.


"Shinnnn," Aku mendengar teriakkan Namira. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, ingin rasanya aku menoleh dan mengatakan padanya "Tolongg!!" tapi apalah daya.


Namun… Disaat Namira menyentuh pundakku. Seketika semuanya berubah dan kembali semula. Tubuh ku merasa begitu lemah dan rasanya tak sanggup untuk berdiri kembali, Aku pun terjatuh dan tak sadarkan diri.


Tidak lama kemudian… Aku mendengar sayup-sayup suara Namira yang memanggil-manggilku, Aku pun mencoba untuk membuka mataku disaat aku membuka mata, Aku melihat Maria lagi ia berdiri tepat di belakang Namira.


Kali ini ia memberikkan ekspresi marahh karena aku takut akan terjadi apa-apa. Aku memaksakan berdiri dan membawa Namira berlari menjauhinya sejauh mungkin. Tapi disaat aku menoleh kebelakang, Aku melihat, Ia tetap berdiri saja disana dan memandangi kami dengan wajah yang begitu sedih…


"Ada apa sebenarnya ini?" fikirku sambil berlari.


*Off


*Setibanya di rumah Shinta


"Woii… Udahh sampai cepatan turun…Aku nunggu dimobil aja," kata Namira sambil mematikan mesin mobil.


"Okeh…" jawab Shinta seraya keluar dari mobil dan masuk kerumah.


Tak lama kemudian, Shinta pun keluar dari dalam rumah dan berlari kecil untuk memasukki mobil.


" Ngambil apaan sih?" tanya Namira bingung.

__ADS_1


" Tadaaaaa!!" jawab Shinta sambil menunjukkan sebuah kertas.


"I-ini… Kau seriusan?" tanya Namira terheran-heran.


" Bagaimana bisa kau menemukannya?" tanyanya lagi. Shintapun akhirnya menjelaskan semua apa yang terjadi pada malam itu.


"Oohh… Pantasan kau tidak yakin bahwa mayat yang ditemukan itu mayatnya Maria ya," tebaknya.


"Haah… Dan ntah kenapa mayat tadi itu Aku melihat mirip dengan wajah wanita itu… Tapi aku tidak terlalu yakin sih," jawab Shinta sedikit berfikir-fikir.


"Ayo baca… Apa isinya kerta itu!!" suruh Namira penasaran.


"Iya… Tapi jalan dulu lah!" jawab Shinta. Namira pun melajukan mobil menuju ke rumah nya.


Saat di perjalanan, Shinta mencoba untuk membacanya dengan suara sedikit kerass.


*Isi tulisannya*


" Jembatan takkan selamanya kokoh, angin takkan selamanya berhembus. Bintang takkan selamanya bersinar…bahkan, ada masanya dimana air sungai akan menjadi keruh. Dan akan ada masanya dimana daun akan berhenti menemani batang yang sedang berdiri tegak..


Mungkin… Angin bisa berbohong, bintang bisa setia, rembulan bisa bertahan, serta jiwa yang tersakiti, yang terluka bisa tertutupi, tetapi jiwa yang telah pergi dari raga apakah Ia akan bisa kembali bersama lagi ? (M)."


"Apa maksudnya itu?" tanya Namira kebingungann.


"Ntahhlah, Aku juga tidak tau tapi sepertinya ini hasil tulisan dari Maria deh… Soalnya di ujung tulisannya ini ada huruf M gitu," jelas Shinta.


"Ada yang aneh deh," fikir Namira sambil menyetir.


Mereka pun tiba dirumah Namira, dan Mereka langsung membersihkan diri lalu melanjutkan kegiatan masing-masing yaitu memainkan hp. Tak berselang waktu lama mereka asik memainkan hp.


" Eh Shin… Kau masih ingat nggak sama orang yang pernah kita ikuti waktu itu?" tanya Namira membuka pembicaraan.


"Iya ingat… Kenapa emang?" tanya Shinta.


"Aisshhh… Aku sepertinya merasakan hal yang aneh deh sama dia. Apa jangan-jangan ada sangkut pautnya dengan orang itu nggak sih?" terka Namira.


"Iss kau ini… Jangan so'uzon sama orangg kenapa," jawab kesal Shinta.


"Nih ya… Coba kau fikir-fikir lagi deh. Sepertinya ruangan yang kemarin itu nggak semua orang yang tau dan juga Aku tak pernah melihat orang itu sebelumnya, berarti dia itu bukann mahasiswa di kampus itu deh," jawab Namira sambil berfikir.


"Aishhh… Kenapa semakin banyak aja sih keanehan-anehan ini. Gimana kalau malam ini kita kembali lagi ke kampus untuk memastikan!" ajak Shinta.


" Okeh.. Setujuu," jawab Namira yakin.


*Malam harinya.


Merekapun mencoba melancarkan aksinya lagi malam ini.

__ADS_1


"Dimana nih Kita parkirkan nih mobil?" tanya Namira kebingungan.


"Sudah Ku katakan mending Kita naik motor sajaaa," lanjutnya kesal.


" Dasar goblok… Jika Kita pake motor emang kw siap kalau tiba-tiba ada yang membegal kita ha. Bukannya kita berhasil memecahkan masalah ini malah kita jadi termasuk dalam spesies bangsa si maria," jawab Shinta.


" Eh iya juga ya," kata Namira sambil nyengir.


"Eh eh eh, Mir, lihatt!!" Kata Shinta sambil menunjuk ke arah kampus.


" Loh… Sepertinya aku pernah melihat orang itu, tapi… Dimana yaa?" fikir Namira menerka.


" Ayo coba kita lihatt mau kemana mereka," ajak Shinta.


"Tapi… Mobil ini mau di parkirkan dimana?" bingung Namira.


"Udah disini aja… Ayok cepat keburu mereka pergi!" kata Shinta sambil keluar dari mobil kemudian di ikuti oleh Namira.


Merekapun menghendap-endap dan mengintip orang yang ada di dalam perkarangan kampus.


"Ahhh aku baru ingatt… Lelaki itu kan yang kemarin kita ikutin. Aishh ternyata firasat ku benar. Ada yang nggak beres sama tu orang," bisik Namira.


"Loh… Dia bersama security!" jawab Shinta sedikit bingung.


"Ayo coba kita lebih dekat lagi biar bisa menguping pembicaraan mereka," ajak Shinta sambil berjalan mengendap-endap.


"Sepertinya Mereka sudah mulai merasakan adanya keanehan. Jika mereka sudah mengetahuinya mampuss kita," ucap security dengan seseorang.


"Mereka? Siapa yang dimaksudnya? Jangan-jangan, ada sangkut pautnya dengan Mariaa." Batin Shinta.


" Lalu Kita harus berbuat apa?" tanya security.


"Pantau saja Mereka dulu pastikan terlebih dahulu, jika memang Mereka sudah mengetahui segalanya. Kita bunuh saja mereka," jawab orang tu.


"Jangan lupa kita ajak bermain sebentar. Hahaha…" ucapnya lagi sambil tertawa jahat kemudian di ikuti dengan security.


"Dasar bejat… ********, aku yakin pasti mereka dalang dari kematian Maria…Atau jangan-jangan korban mereka bukan hanya maria saja…" batin kedua gadis ini.


"Ayo kita pergi saja dari sini. Mari kita cari jalan keluarnya besok saja dan Kita ungkap kebejatan Mereka itu." Bisik Namira. Merekapun berjalan kembali kemobil. Tiba-tiba…


"Crekkkkkk…" suara botol kepijak oleh Shinta.


"Aishhh… Sialan mamposs, Mereka pasti mendengarkannya. Bodoh kau shinta dasar bodoh!!" batin Shinta sambil memberikan ekpresi yang tak kalah kaget dari Namira.


" HEIII… SIAPA KALIAN?" teriak security.


"Ayo cepat lari sebelum mereka menangkap kita!!" kata Namira sambil berlari ke arah Mobil.

__ADS_1


__ADS_2