
*Keesokan paginya
"Huaaaaaa… Malas banget rasanya mau bangun." Bangun Shinta mengeluh.
"Huaaaaa… Iya nih, Mana tadi malam tidur udah jam 3 lagi, hadehhhh mana harus jumpa Dosen tu lagi pagi ini," rengek Namira.
"Hari ni orang tua ku akan ke luar kota lagi Shin. Bisakah kau menginap disini lagi Pliss yaa pliss," kata Namira memohon.
"Eh elleh… Kau kenapa? Tumben-tumben benar?" tanya Shinta bingung.
"Aku takut, Gimana kalo tiba-tiba si Maria datang… Aku belum siap mati konyol." Jawab Namira.
"Eh btw… Hari ini orang tua ku juga bakalan ke luar kota ada urusan…Gimana kalau kita nginap di rumah Ku saja?" ajak Shinta.
"Okehh… Setuju…" jawab Namira sambil berdiri dari kasur untuk menuju ke kamar mandi untuk bersiap-siap.
Setibanya Mereka di kampus…
"Yahh… Kita kepagiannn," ucap Namira lesuh.
"Sudahlah ayo ke kantin Aku lapar nih," ajak Shinta. Merekapun menuju ke kantin.
"Bu… Lontong sayurnya satu sama susu hangat satu ya Bu." Pesan Shinta.
"Bu… Nasi goreng pedasnya satu sama teh hangatnya satu." Sambung Namira.
"Siap laksanakan," jawab Ibu kantin.
Selesai makan… Mereka berniat untuk langsung ke kelas saja, hanya saja ketika mereka udah hampir mendekati lantai 3, Mereka melihat mang Ujang yang sedang berjalan seperti mengendap-endap ke lantai 4.
"Pak ngapain ke atas?" tanya Shinta.
Mang Ujang yang terkejut mendengar suara, Ia pun menoleh dan memasang senyum palsu.
"Ahh… Saya mau periksa lantai atas Neng," jawab bohong Mang Ujang.
"Ooh begitu ya Pak… Kalau gitu kami duluan ya pak." Pamit Namira.
"Huftt… Hampir saja." Batin Mang Ujang sambil megelus dadanya. Ia pun melanjutkan jalannya. Disaat Ia sudah mulai menjauh dari tangga. Ternyata Shinta dan Namira tidak benar-benar pergi mereka hanya pura-pura menjauh, nyatanya mereka hanya bersembunyi di sebalik tembok.
"Ayoo Kita ikuti tu security." Ajak Shinta dan Namira mengangguk untuk mengikuti perintah Shinta.
"Lelaki itu lagi, Aku benar-benar penasaran siapa dia sebenarnya. Apa mungkin dia dalang dari semuanya termasuk atas kematian Maria." Ucap Shinta berbisik sambil memperhatikan Mang Ujang yang sedang berbincang-bincang dengan lelaki itu.
Tiba-tiba…
"Ahhkkk!!" teriak Namira pelan karena kaget melihat Maria yang tepat berdiri di sampingnya.
"S-S-Shintaa… " panggilnya gemeteran ketakutann.
"Apaannn?" jawabnya masih tetap memandangi Mang Ujang.
__ADS_1
"Ma-Maria di-di-disini," katanya terpatah-patah karena ketakutan. Shinta yang mendengar kata Maria Ia pun terkejut dan menoleh kebelakang.
"K-K-Kau," katanya gemeteran. Maria hanya berdiri menatap sendu ke arah mereka.
"Ka-ka-katakanlah apa mau Mu?" tanya Shinta gemeteran.
"Shin… Apakah Aku bisa makan odading Mang Oleh dulu sebelum mati konyolll," retjeh Namira sambil ketakutan.
"Buapakk Mu itu… Udah ketakutan masih juga sempat buat ngeretjeh," kata Shinta.
"Jangan takut… " Maria membuka pembicaraan, membuat Shinta dan Namira terkejut.
"Bisakah kalian membantu Ku hiksss hiksss," ucapnya lagi kemudian Ia menangis.
"Ka-ka-kami kesini memang mencoba untuk membantumu mencari kebenaran selama ini." Jawab Shinta.
"Apakah mereka berdua yang membunuh mu?" tanya Namira mulai memberanikan diri.
Maria hanya mengangguk.
"Tolong carikan jasad ku hikss hikss." Ucapnya lagi sambil menangis.
"Benar dugaan ku selama ini, mayat yang ditemukan itu bukan mayatnya Maria." Batin Shinta.
Tidak lama mereka berada disana, tiba-tiba Mang Ujang keluar dari ruangan.
"Hustt… Mereka keluar," kata Shinta sambil memberi isyarat untuk diam.
"Ayo Shin Kita pergi dari sini. Apa Kau tidak mendengar apa yang dikatakan Maria tadi." Ajak Namira.
"Tunggu dulu, Sepertinya mereka sedang mengobrolkan sesuatu yang sangat serius, ayo kita nguping sebentar." Ajak Shinta.
"Malam ini Kau harus membuang semuanya!!" perintah lelaki misterius.
"Baik pak." jawab Mang Ujang.
"Jangan sampai ada satupun jejak yang tertinggal disini. Takkan ku biarkan jika nama baikku tercoreng hanya gara-gara mayat ******-****** ini," ucapnya lagi. Mang Ujang yang mengerti hanya mengangguk saja.
"Aishhh… Aku lelah harus memakai masker sialan ini," ucapnya sambil membuka masker.
Shinta dan Namira yang sudah penasaran sejak dulu dengan wajah lelaki itu sangat terkejut dan sontak mereka mengeluarkan suara yang cukup nyaring.
"DEKANN!!." kaget Mereka.
Mang Ujang dan Dekan yang sontak kaget dengar teriakan, Merekapun mencoba berlari mencari sumber suara.
"Sialann… Ternyata ada yang menguping kita dari tadi. HEIII KALIANNN…KELUARLAHH, JIKA TIDAK KALIAN AKAN KU BUNUHH!!" ucap Dekan mengancam.
"Shin gimana dong ini… Aku belum siap mati konyol hiks hikss," bisik Namira sambil menangis.
"Husttt diam jika tidak Mereka mengetahui tempat persembunyian Kita," kata Shinta.
__ADS_1
Merekapun terus bersembunyi didalam lemari sebuah ruangan yang kosong.
Tiba-tiba…
"Krekkkkk…" suara pintu terbuka.
Mereka yang mendengarkan suara pintu itu mulai gemeteran dan ketakutan berharap mereka tidak ketahuan.
"Ya tuhann lindungilah Kamii." Doa Namira berharap.
"Sepertinya Mereka sudah lari pakkk…" ucap Mang Ujang sambil menutup pintu.
"Huftttt syukurlah," kata Namira sambil membuka pintu lemari.
Merekapun keluar mengendap-endap, disaat mereka tiba di depan pintu ruangan, ternyata dekan dan mang Ujang masih berdiri di luar ruangan itu.
"Cari mereka sampai jumpa Jangan sampai mereka membongkar rahasia ini. Sialannnn!!" ucap dekan kesal.
"Ahhh… Jika kau sudah menangkap Mereka, Letak lah Mereka di ruang biasa Aku ingin bermain sebentar setelah itu Kita bunuh mereka," katanya lagi sambil meninggalkan ruangan itu, kemudian di ikuti oleh Mang Ujang.
Disaat memastikan mereka benar-benar menjauh dari ruangan itu, Namira dan Shintapun keluar dari persembunyian. Tak lama, Maria hadir dengan raut yang tak bisa dijelaskan.
"Sudah Ku katakan… Pergilah jika tidak Kalian akan menjadi seperti Kuuu," Kata Maria sedikit membentak.
"Sepertinya? Apa maksudnya ini." Batin Shinta.
Tiba-tiba…
"Kringg…" pesan grup masuk. Merekapun sontak mengeluarkan hp nya dan mengecek pesan.
*isi pesan
"Dosen sudah masuk…" pesan komting.
"Aishh sampe lupa kalau hari ini ada kuliah sama Dosen killer itu. Ayo cepat kita lari keburu telat lagi, Aku nggak mau bodoh konyol di depan tu Dosen," Kata Namira sambil berlari secepat mungkin kemudian di ikuti oleh Shinta.
"Hoss hoss… Yes tepat waktuu," ucap Namira sambil berhenti tepat di ruangan kelas.
"Tok tok tok…" Namira mengetuk pintu sambil membuka pintu.
"Permisi buk…" ucapnya sambil berjalan masuk.
"Yaa… Silahkan." Jawab Dosen. Merekapun duduk di bangku masing-masing.
Namira yang sudah berkecimbung dengan penjelesan dosen, sedangkan Shinta yang masih memutar-mutar fikiriannya.
"Apa maksudnya tadi? Apa jangan-jangan Maria itu bukan hanya sebagai korban saja, Atau dia juga saksi dari setiap kebejatan yang dilakukan oleh tu sampah mahasiswa kali ya? ahh sudahlah.… Nanti malam akan Ku tanyakan saja pada Maria." Fikirnya.
3 jam berlalu.
"Baik Materi hari ini cukup segini. Dan Permisi," kata dosen sambil menginggalkan ruangan.
__ADS_1
Kemudian di ikuti oleh seluruh Mahasiswa yang ada diruangan itu.