Momy? I'Am (Season 2)

Momy? I'Am (Season 2)
Chapter 10 (Season 2)


__ADS_3

.


.


.


Manik mata hitam legam terlihat begitu mempesona. Ia menengadah menatap rumah besar yang ia tinggali bertahun-tahun. Ia tersenyum sarkas, pada akhirnya ia juga mendapat hal yang sama. Kesalahan di maafkan, ia kembali di terjang pengkhianatan.


Dea Amelia Wijayanto, wanita bermata bulat bening itu membuka kaca mata hitamnya. Sudah saatnya ia kembali pada posisinya. Memberikan pelajaran pada dua pengkhianat dengan cara yang elegan.


Beberapa orang yang berlari mengelilingi kompleks perumahan mewah menatap Dea dengan pandangan kagum. Wanita Ibu dua anak itu masih begitu cantik mempesona. Pemuda yang berlari kecil berlari di tempat melihat punggung mulus yang terpampang nyata.


Dari sudut matanya Dea dapat melihat bagaimana tatapan liar dan lapar lelaki. Ia tersenyum sinis. Lelaki sama saja, tidak bisa melihat barang bagus. Akan langsung klepek-klepek tak jelas. Bahkan mereka tak tau ke dua bola matanya bisa saja keluar dari tempat nya.


Dea mendekati pintu besi. Menekan kata sandi, sebelum memutar engsel pintu. Membuka pintu dengan perlahan. Masuk ke dalam halaman depan rumah mewah.


"Nyonya Dea!"


Itu adalah seruan dari kepala pembantu setianya. Wanita tua itu membungkuk dengan raut wajah rindu bercampur sendu. Dea mengulas senyum lembut.


"Apa kabar Mbok Siti?" tanya Dea dengan nada pelan.


"Saya baik-baik saja Nyonya. Nyonya apa kabar? Bagaimana dengan ba—" wanita tua itu terhenti kala manik mata tuanya menatap perut yang sudah rata. Wanita tua itu membekap rapat mulutnya dengan pupil mata melebar sempurna.


"Aku baik-baik saja. Aku harus ke dalam dulu. Menyapa suamiku dan juga istri ke duanya," ujar Dea yang tau apa yang di rasakan wanita tua itu.


Wanita tua ini sudah sangat lama bersama nya. Wanita tua itu begitu menyayangi . Dan wanita itu tau akan hal itu. Langkah kaki jenjangnya makin pasti. Beberapa Maid berhenti dan membungkuk dengan wajah syok.


"Lama tak bertemu Kak Lucas! Bella! seru Dea kala sampai di ruangan meja makan.


Tangan yang sempat menyumpit makan terhenti. Lucas menoleh dengan manik mata melebar. Ia langsung berdiri dan berlari memeluk Dea. Wanita cantik itu tak mendorong atau pun membalas pelukan Lucas. Pelukan itu terasa sangat kuat bagi Dea. Bella berdiri dari duduknya. Ia menatap lambat Dea! Jika bisa Dea ingin mencabik wajahnya. Dan menarik seluruh rambut wanita yang kini terlihat kandungan nya sudah memasuki usia tujuh bulan. Yang harusnya kandungan Dea adalah enam bulan, di bulan ini. Karena ia dan Bella berbeda hanya satu bulan saja.


"Dimana saja kau selama ini sayang? Aku begitu merindukan mu? Aku tak bisa tenang saat kau di luar sana. Aku merasa—"


"Berhenti! Aku tak butuh banyak kata dari mu!" Ujar Dea dengan tangan mendorong dada bidang Lucas Hingga pelukan terpisah.


Dea membalikkan tubuhnya. Ia tak ingin melihat wajah keduanya cukup lama."Ikut aku ke kamar Jun! Kita harus berbicara empat mata." Titah Dea lalu langsung saja melangkah mendahului Lucas.


Bella melangkah mendekati Lucas. Meraih tangan Lucas dengan pandangan khawatir. Lucas menoleh ia tersenyum lebar. Ah! Lelaki itu sangat bahagia saat ini. Dea wanita itu akhirnya kembali padanya. Dan Bella dapat melihat kebahagiaan itu dengan sangat jelas. Cemburu? Sakit? Luka? Pasti.


Namun apa boleh buat. Disini dialah yang menjadi hama dalam hubungan rumah tangga harmonis itu. Ia terlalu mencintai Lucas. Rela menjadi yang ke berapa saja. Asalkan ia bisa bersama Lucas. Lelaki yang sangat ia cintai.


"Kak Lucas!" panggil Bellla lirih.


"Tenang saja. Aku akan berbicara dengan Dea. Ia pasti bisa menerima semua ini," ujar Lucas.


"Namun jika tidak bisa?"


"Maka aku akan mempertahankan dia mau pun kau. Apapun yang akan terjadi, aku tidak bisa kehilangan kau ataupun dia. Ingat! Kau mengatakan akan hidup rukun dengan Lucas. Membantu nya mengurus anak-anak. Saat dia dan aku bekerja," ujar Lucas menagih janji Bellla sebelum ia nikahi.

__ADS_1


Bella tersenyum. Ia mengangguk kuat. Ia akan menjadi istri yang hanya akan mengurus rumah tangga saja. Membantu Lucas dan Dea. Mengurus urusan rumah dan anak-anak. Mendukung apa pun yang di lakukan oleh Lucas. Dan membantu lelaki itu untuk melepas penat.


"Ya. Aku akan menepati janji!" ujar Bella dengan yakin.


Lucas tersenyum lalu menepuk pelan punggung tangan Bella. Ia mengusap pelan perut sang istri. Sebelum melepaskan rangkulan sang istri ke dua. Lucas melangkah meninggalkan meja makan. Mata rubah itu menatap punggung yang mulai menjauh.


"Jika dia meminta memilih antara aku dan dia. Maka aku tidak akan tinggal diam Kak Lucas! Aku bisa berbagi dengan nya. Namun tidak jika ia berusaha mendepak aku jauh dari kehidupan mu," ujarnya dengan mata yang masih menatap lekat sampai Lucas menghilangkan di balik dinding.


***


Beberapa menit di habiskan dalam diam. Dea duduk menyilang kakinya di atas paha. Menatap tajam Lucas Lelaki imut itu masih duduk di tempat tidur sang putra. Kamar Jun masih sama, tata letak perabotan tak berubah. Bahkan kamar ini masih rapi dan sama seperti beberapa bulan lalu.


"Dea Aku——"


"Aku tak butuh penjelasan mu. Dan aku kesini hanya ingin memberi mu beberapa peringatan!" potong Dea dengan nada tegas.


Lucas menggatub kembali mulut nya. Kala Dea memotong laju perkataannya. Wanita cantik itu melipat tangannya di depan dada. Lalu mengangkat angkuh dagunya.


"Aku kesini pertama, bukan meminta cerai," ujar Dea membuat hati Lucas melega dan tersenyum imut. Wah! Ingin sekali Dea merusak wajah sang suami. Ia sangat benci akan hal itu.


"Benarkah?" tanya Lucas tanpa sadar.


"Hem, ke dua aku kesini ingin mengatakan. Jika aku ingin dia pisah rumah dengan aku. Ah! Tidak. Aku ingin keluar dari rumah ini. Aku akan hidup di rumah lain yang aku belikan sendiri bersama anak-anak. Dan kau bisa ke apartemenku untuk berkunjung. Kau bisa hidup di sini bersama gadis rubah itu. Karena dia istri ke dua mu. Aku tidak akan mengatakan untuk kau milih dia atau aku. Karena itu terdengar menggelikan dan menjijikkan," papar Dea dengan nada santai.


Lucas membulatkan matanya. Bagaimana bisa Dea tidak tinggal dengan nya. Lucas berdiri dari duduknya melangkah mendekati tempat duduk Dea. Dimana wanita itu duduk di kursi belajar Jun.


Lucas memeluk lagi. Ia merasa sangat hampa. Dea nya tidak membalas pelukannya seperti dulu. Ia begitu dingin dan kurus. Namun Lucas tertegun. Tangannya turun dari posisi memeluk leher Dea kini berada di perut rata Dea.


"Aku mengugurkan nya. Karena aku merasa kehadiran nya akan menjadi penghambat karirku," ujar Dea tanpa hati.


Wajah Lucas memerah. Ia merasa jantungnya di remas kasar. Mendengar perkataan Dea. Ia menggeleng keras, Dea tidak mungkin melakukan hal seperti itu pada darah daging mereka.


"Lagi pula, kau juga punya anak lain Kak! Aku tak ingin ia bersaing kasih sayang dengan Ayah yang suka mendua. Aku tak ingin ia mendapat tamparan seperti Junku!" sindir Dea.


Air mata Lucas jatuh. Bagaimana bisa Dea melakukan hal itu. Ia bahkan terduduk di lantai mendengar perkataan Dea yang tanpa kasat mata menampar ia berkali-kali.


"Bagaimana bisa kau Setega itu?" tanya Lucas dengan nada bergetar.


Dea melempar kan senyum sarkas."Karena kau! Kau yang membunuhnya dengan tanganmu Kak! Kau membuat aku harus membunuh nya. Karena kau! Jadi jangan berlebihan. Anak itu tak kau ingin kan. Aku dengar gadis rubah itu hamil putramu. Bukankah itu pas. Putramu dan aku lenyap. Kau masih punya putra lain. Jangan berpura-pura kehilangan. Karena itu menjijikan. Aku! Memang tidak menceraikanmu. Karena aku tidak ingin Bintang mendapatkan getahnya. Dimana seluruh awak media membicarakan Bintangku. Bintang adalah seorang Idol. Satu kata yang salah bisa menghancurkan karirnya. Kau bisa menghancurkan rumah tangga kita. Tapi kau tidak boleh dan tak akan bisa menghancurkan putri ku! Dan untuk Jun. Dia tak akan pernah mau bertemu dengan mu meski kau akan sering datang ke apartemen ku," ucap Dea dengan santainya.


Ia tak peduli bagaimana perasaan Lucas. Karena perasaan Lucas adalah palsu menurutnya. Dea mendudukkan tubuhnya. Menyamakan tinggi wajahnya dan wajah Lucas. Ia mendekati dauh telinga Lucas. Dan mulai berbisik."Aku! Tidak lagi mencintaimu. Aku pikir meningalkan mu terlalu mudah Kak! Hanya akan membuat rubah betina itu merasa merdeka. Bagaimana jika aku menjadi parasit saja. Menyiksamu dari dalam, memberikan kesialan dalam hidup mu dan dia. Membuat ia sakit dan sakit. Hingga merasa kematian lebih baik. Bukankah aku begitu baik?" bisik Dea dengan pelan.


Lucas masih diam dan bungkam. Kehilangan membuat ia dungu. Dea menjauhkan wajahnya dari Lucas. Lalu berdiri melangkah keluar dari kamar. Ia menuruni anak tangga dengan perlahan.


Senyum penghinaan terpahat jelas. Ia mendekati Bella dengan sangat santai tanpa amarah. Bella beridiri dengan tatapan penuh awas.


"Kau! Bisa memiliki nya. Berbagi dengan ku. Tapi kau harus ingat satu hal nona! Kalau aku saja yang sempurna bisa ia selingkuhi. Bagaimana dengan mu nanti. Aku akan menjadi penonton yang baik," ujar Dea dengan senyum sarkas.


Bella mematung. Dea terkekeh lalu membalikkan tubuhnya pergi dari rumah mewah itu.

__ADS_1


***


Bintang dan Jun tersenyum lebar. Melihat hasil dari kerja keras mereka. Mendekorasi kamar dan ruangan tamu. Dengan perabot pilihan.


"Bagaimana?" tanya Jun lembut.


"Bagus, sekarang kita tinggal menghampiri Paman dan Mama." Ujar Bintang menarik tangan Jun menuju dapur.


Ke duanya mematung melihat apa yang terjadi. Jun mengangga melihat apa yang terjadi di dapur.


"Kau yang salah Kak!" teriak Dea tak terima.


"Hei! Kau yang salah!" balas Chandra Keukeh.


"Kau mencolek pipiku dengan tepung!" kesal Dea.


"Tapi kau malah memandikan aku dengan tepung!" bantah Chandra.


"Itu karena kau duluan. Dan kau yang salah titik!" teriak Dea.


Bintang dan Jun menggeleng serentak. Bagaimana bisa Ibunya dan Pamannya itu membuat dapur baru mereka seperti kapal pecah. Tepung berhamburan dan jangan lupa dengan tubuh ke duanya seperti adonan yang siap di goreng. Bukan udang yang mendapat lumuran tepung. Tapi ke duanya yang mendapat kan nya, dari kepala sampai seluruh nya.


"Kau yang salah!"


"Kau!"


"Kau!"


"Kau!"


"STOP!!!"


Teriakan Bintang dan Jun serentak membuat ke duanya terdiam. Lalu menatap ke arah di mana Bintang dan Jun berdiri.


"Aku kira akan makan udang tepung. Tapi kenapa harus melihat bukan udang tepung tapi manusia tepung?" kesal Jun.


"Kalian seperti anak-anak saja!" kini giliran Bintang mendakwa.


Chandra dan Dea menatap kedua. Dan langsung menatap satu sama lain. Ah! Benar saja. Mereka tidak sadar jika mereka lah yang menjadi manusia tepung. Lama menatap dalam diam.


Hahahahahahhahahahah!!!


Ke duanya tertawa lantang. Bahkan Chandra menepuk-nepuk pahanya karena tak tahan melihat dandanan Dea. Begitu juga dengan Dea. Jika di tanya dua anak berbeda usia itu menggeleng pelan. Dewasa tapi masih bersifat kekanak-kanankan.


Diam-diam hati Chandra merasa lega. Melihat tawa Dea pecah. Ia rela menjadi manusia tepung atau bahkan badut sekalian. Hanya untuk dapat melihat tawa ceria Dea. Seperti dulu, kala ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Dea. Kala gadis itu tertawa bersama Somi.


Bintang terlihat menarik Dea menuju kamar wanita itu meski Dea masih tertawa. Sedangkan Jun menghampiri nya dengan wajah heran."Paman mandi lah dulu ke apartemen mu. Kau terlihat mengerikan," kritik anak lelaki itu.


Chandra tersenyum lalu mengusap puncak kepala Jun yang mendapat tepisan dari Jun. Bagaimana bisa Chandra mengusap rambut nya sedang tangannya terkena tepung.

__ADS_1


"Kau ini pemarah sekali," goda Chandra mendapatkan degusan dari Jun.


Lelaki berlesung itu mengikuti perintah Jun. Membersihkan tubuhnya di apartemen yang terletak di depan depan apartemen Dea. Ah! Lelaki itu memulai peruntungan nya. Mendapatkan Cinta Dea. Bara Dirgantara mungkin bisa gagal. Tapi tidak dengan Chandra


__ADS_2