Momy? I'Am (Season 2)

Momy? I'Am (Season 2)
Chapter 15 (Season 2)


__ADS_3

.


.


.


.


Bella masih merasa gemetar. Setelah beberapa menit yang lalu menerima sebuah paket teror. Fotonya penuh dengan darah. Dan ancaman. Membuat satu rumah mewah itu geger. Lucas mendesah kasar, lalu mengusap punggung belakang Bella dengan gerakan pelan.


"Apa ada yang mencurigakan?" tanya Lucas pada kepala keamanan.


"Tidak Tuan Lucas. Paket itu di antar oleh seorang anak kecil. Yang mengatakan untuk gurunya. Hanya saja tidak ada yang ingat bagaimana wajahnya," sesal kepala Keamanan itu dengan wajah takut.


Lucas mendesah kasar. Ia dalam suasana hati tak enak saat ini. Setelah makan malam yang berantakan. Sampai di rumah ia mendapat berita yang tak menyenangkan. Mendengar jika Bella mendapatkan teror.


"Kembali ke pos mu," ujar Lucas pada akhirnya.


"Baik Tuan." Jawabnya lalu membungkuk dan berlalu.


"Kak Lucas!" ujar Bella dengan nada bergetar. Mata nya terlihat bengkak.


Lucas mendesah lagi. Ia memeluk Bella dengan pelan. Meski raganya berada di rumah. Namun sayangnya pikiran nya mengawang-awang jauh entah kemana. Tubuh yang ia peluk tak terasa nyata. Karena pikiran yang tengah kusut.


***


Rerumputan hijau memanjakan mata yang melihat. Sungai yang terbentang di depan mata. Suasana begitu ramai di akhir pekan. Dea menyusun beberapa kota yang ia bawa. Di bantu oleh Chandra. Meski mereka agak Canggung. Namun tak terlihat jelas oleh ke dua anak beda usia itu.


"Aku senang bisa piknik seperti ini," ujar Jun menyuarakan betapa bahagianya anak lelaki itu.


"Aku juga," jawab Bintang tersenyum di balik maskernya.


Ia tidak ingin kebahagiaan nya terganggu. Hanya karena beberapa penggemar akan meminta foto dan tanda tangan. Itu akan sangat menggangu Minggu tenangnya.


"Kalau begitu lain kali kita piknik bersama lagi," usul Chandra dengan ceria.


"Bagus juga. Tapi apakah Paman ada waktu untuk Piknik bersama kami lagi. Karena Paman akan memulai kembali membangun perusahan yang baru di dini?" tanya Bintang membuat Chandra terdiam.


Benar sekali. Lelaki Winata itu pasti nya akan sibuk karena melakukan pembaruan. Dan banyak hal yang harus ia kerjakan. Sedangkan Dea, wanita itu berhenti dari Perusahaan lamanya. Fokus untuk mengurus anak-anak nya. Apa lagi si bungsu yang masih belum aman. Bisa saja anak itu Kristus sewaktu-waktu.


"Sesibuk apa pun Paman. Paman akan memprioritaskan kalian," jawab Chandra tanpa berpikir lama.


Bintang dan Jun tersenyum bahagia. Dea diam, ia tak tau bagaimana harus bereaksi. Karena seluruh apa yang ia dapatkan karena kebaikan hati Chandra. Jika saja lelaki itu tidak di sisinya. Apakah ia akan tetap bisa bertahan? Apakah ia bisa melakukan banyak hal. Tentu saja tidak.


"Hallo! Paman Chandra! Bibi Dea dan Jun!" seruan lain membuat ke empat nya menengadah.


Chandra melemparkan senyum menggoda ke arah Bintang. Melihat ada rona merah di pipi yang terlihat sedikit di balik masker. Lelaki tampan itu mengulurkan satu buket bunga Lily ke arah Dea. Dan satu kotak kue basah yang ia bawa.


Bintang menerima bunga lainnya dari sang kekasih. Vian duduk di samping Bintang membuat Jun mendesah kecewa. Anak lelaki itu pikir Kakak perempuan nya akan menghabiskan hari bersamanya dan Ibu mereka. Tapi ternyata kekasih kakaknya ikut bergabung. Jika sudah begini, sudah pasti Bintang akan teralihkan.


"Apa kabar Vian?" tanya Dea dengan lembut.


"Baik Bibi, bagaimana dengan Bibi. Aku dengar perkembangan Jino sudah sangat baik," jawab Vian dengan lembut.

__ADS_1


Dea mengangguk. Mengiyakan perkataan Vian. Putranya sudah cukup membaik karena bantuan Vian. Lelaki berdarah campuran itu menghubungi Pamannya di Jerman. Hanya untuk penanganan Jino Sandoro. Adik dari Bintang Sandoro dan Jun Sandro. Ia bersyukur. Sangat bersyukur karena kekuasaan keluarga Dermawan.


Pemilik Rumah Spakit ternama di Indonesia. Yang seluruh keturunan nya adalah Dokter. Hanya lelaki bermata coklat bening itu saja yang berbeda. Ia akan menjadi ketua Rumah Sakit besar itu. Bukan menjadi Dokter.


"Semuanya berkat bantuan mu juga," ujar Dea.


Vian terlihat malu-malu. Chandra hanya menatap interaksi Dea dan calon menantu nya kelak.


Jun memilih berdiri dari duduknya. Mengapit bola yang ia bawa lalu melangkah tanpa menghiraukan Chandra, Dea, Bintang dan Vian berbincang-bincang. Sambil menyantap makan yang di bawa.


Niat awalnya ingin bermain bola sendiri terlihat terhenti. Kala melihat seorang anak seusianya. Bermain bersama Ayahnya. Ah! Dulu juga Jun seperti itu. Tertawa bebas dengan Lucas menjadi kiper.


Flashback on!


"Lebih kencang lagi larinya!" teriak Lucas memberikan semangat.


Jun terlihat penuh semangat dan tertawa. Lalu menendang bola, ia tau jika Ayahnya sengaja membiarkan bolanya menggelinding dan gol. Ia tertawa nyaring dengan meloncat-loncat. Lucas terlihat kecewa karena kalah. Meski Lucas berakting begitu, Jun tetap senang. Di tikar kakaknya dan Sang Ibu memanggil.


"Jun ! Kak Lucas! Ayo kesini ! Kita habiskan es cream yang baru saja Sasa bawa!" teriak Dea tak jauh dari mereka.


Lucas dan Jun langsung berlari. Menuju di mana mereka berada. Terlihat Sasa baru saja datang dengan senyum lembut nya.


"Wah! Aku ingin yang coklat sayang," ujar Lucas.


"Aku yang strawberry!" ujar Jun dengan semangat.


Kelima nya duduk dengan menyantap es. Lucas mengusap bibir sang putra yang terkena lelehhan es. Begitu juga dengan bibir Bintang.


"Enak Bibi!" jawab Jun.


Telapak tangan Lucas mengusap puncak kepala Jun dengan pelan. Putra yang begitu ia sayangi dan ia bangga kan. Jun menyipitkan matanya kala mendapatkan usapan penuh sayang.


"Papa! Aku juga mau di usap!" ujar Bintang dengan raut wajah cemberut.


"Sini. Tidur di sini. Jun juga agar Papa bisa mengusap kepala tuan Putri dan Pangeran." Titah Lucas menepuk ke dua sisi pahanya.


Tanpa membuang waktu. Anak-anak itu meletakkan kepalanya di atas paha Lucas. Lelaki imut itu mengunakan ke dua sisi tangannya untuk mengusap kepala buah hatinya.


"Wah! Mama kalian terlihat cemburu," tutur Sasa membuat seluruh mata tertuju pada wajah Dea yang cemberut.


"Sayangku juga ingin di usap?" goda Lucas.


Dea mendengus kesal. Ia membuang muka, Lucas tersenyum lebar."Dikamar saja. Saat ini giliran anak-anak kita," goda Lucas.


Dea berdecak dengan wajah bersemu. Sedangkan Sasa menutup ke dua daun telinga nya.


"Bagaimana bisa berkata seperti itu pada anak yang masih kecil dan gadis polos seperti ku," kesal Sasa.


Lucas terkekeh. Jun yang masih kecil menatap heran. Sedang kan Byul merasa ingin muntah saja. Mendengar perkataan sang Ayah.


Flashback off


Jun menunduk. Anak berusia sepuluh tahun itu menangis dalam diam. Jun merindu sang Ayah. Kasih sayang Lucas. Kehangatan dari Lucas. Dimana dulu, Lucas akan selalu mengecup dahinya saat ia tertidur. Di mana Lucas akan mengusap puncak kepalanya kala ia akan berangkat kerja.

__ADS_1


Lucas akan memujinya saat Jun melakukan hal baik. Dan mendapatkan nilai bagus. Kini tak ada lagi suara berat sang Ayah yang memanggil namanya penuh kasih sayang. Tidak ada Ayah yang menanyakan apakah PR yang ia kerja kan begitu susah. Atau apakah dirinya ingin makan es cream saat sedang kesal.


Jun berjongkok. Membiarkan bola itu menggelinding di atas rerumputan. Tubuhnya bergetar, sejahat apa pun Ayah nya. Kasih sayang yang pernah di curahkan adalah tulus. Dan seburuk apa pun seorang Ayah. Dia tetaplah seorang Ayah.


Empat langkah di belakang tubuh Jun. Anak gadis remaja itu berdiri mematung. Ia tak tau harus maju atau tetap di tepat. Ia tau Jun tak akan suka ketahuan jika ia menangis. Adiknya itu ingin terlihat kuat di mata Dea dan dirinya.


Bintang menatap sendu punggung Jun. Yang kini terdengar samar-samar jika Jun memanggil Ayah mereka dengan suara parau. Adiknya merindukan Ayah mereka. Meski terlihat tak suka dengan Lucas pada saat makan malam yang mereka lakukan malam kemarin. Diam-diam Jun merindukan Ayah mereka.


TIK !


TIK !


TIK !


Tanpa sadar Bintang juga menangis. Sakit sekali melihat adiknya menangis. Ia juga merindukan Lucas. Namun perlakuan Lucas pada Ibu mereka tak dapat di tolerir. Ada benci yang tak dapat menampik rindu. Darah Lucas yang mengalir. Bagaimana bisa di pisahkan dari jantung anak-anak malang itu.


Ke dua tangan Dea mengepal. Dari jarak yang tak jauh ia dapat melihat punggung ke dua buah hatinya. Awalnya ia ingin menyusul Bintang yang ia rasa begitu lama. Hanya untuk memanggil Jun untuk makan bersama. Pemandangan yang ia dapatkan tak lah menyenangkan. Hati Ibu mana yang tenang dan tak sakit saat melihat anak-anak nya menangis dalam diam.


Bibir merah merekah itu di gigit pelan. Jantungnya terasa begitu sakit. Di remas dari dalam, bunga terasa begitu perih.


"Jun! Bintang! Maafkan Mama," ujar Dea dengan nada lirih.


Air mata bergulir mengikuti rasa yang mengalir. Meski matahari bertahta angkuh di atas sana. Dengan terik yang menyengat. Namun hati ketiga nya di selimuti awan mendung.


"Pa——pa!" panggilan itu bergetar di atas bibir mungil anak lelaki itu.


Terlihat ia menenggelamkan wajahnya di ke dua lulutnya. Ia masih dapat mendegar anak seusianya tertawa bersama Ayah anak itu. Kenapa ia tak bisa seperti teman sebaya nya itu. Tertawa bersama Ayahnya dan Ibunya. Kenapa harus ada perpisahan. Harus ada rasa benci dan sakit di hatinya. Rindu ikut mengrogotinya.


Di lain tempat, Lucas mengusap kasar wajahnya. Melihat foto-foto yang di kirimkan oleh orang suruhannya. Melihat bagaimana interaksi anak-anak nya dan Chandra. Baru saja ia dapatkan.


"Sakit sekali," ujarnya dengan lirih.


Air mata mengalir begitu deras. Lucas meremas dada kirinya. Ia merasa begitu kesakitan saya ini. Dengan tangan gemetar, Lucas membuka laci meja kerjanya. Meraih botol obat. Menegak beberapa butir. Sebelum meraih air mineral agar lalunya obat di tenggorokan tak tersendat.


Hembusan napas teratur terdengar. Matanya basah menatap bungkai foto yang masih sama. Foto empat orang yang bahagia. Kebahagiaan yang entah sudah di mana.


Lucas rindu suara anak-anak nya. Suara Dea membangun kan saat pagi. Suara kesal Jun kala ia tak bisa menemani nya mengerjakan PR. Suara merdunya Bintang kala melakukan karaoke bersama. Kehangatan yang terenggut. Kebahagiaan yang hilang. Tangis yang datang dan luka yang bersembahyang.


***


Bella terlihat memerah. Dadanya bergemuruh menemukan bekas lipstik di kemeja kerja kantor Lucas. Wanita tua yang berdiri di belakang tubuh Bella tersenyum diam-diam. Gadis itu mencium aroma dari kemeja putih itu dengan erangan marah. Ada bau parfum lain di sana.


"Ini baru pertama kalinya atau ke dua kalinya?" tanya Bella dengan wajah yang terlihat menahan amarah.


"Ke tiga kalinya Nyonya," jawab Wanita tua itu pura-pura ragu.


"Wah! Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku?" Ujar Bella sambil meremas baju kemeja tak bersalah itu hingga mengerut.


"Apa mungkin tuan ada wanita lain?" tanya Siti dengan pura-pura terkejut.


Mendidih. Puncak kepala Bella berasap. Dengan amarah yang memuncak ia melempar kan asal kemeja Lucas. Lalu melangkah lebar meninggalkan ruangan cuci. Mbok Siti tersenyum lebar menatap punggung gadis berbadan dua itu.


"Meledaklah! Hingga bayimu akan keluar dengan sendirinya," serunya penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2