
Lelaki tampan itu menatap sekeliling apartemen. Dea hanya mendesah letih. Kabar yang ia dapatkan membuat ia cukup syok. Hingga bergegas ke Bandara Soekarno-Hatta. Guna menjemput lelaki yang kini duduk di samping nya dengan wajah biasa saja.
"Kenapa tidak mengabari ku jika kau akan ke Indonesia Hiro?" tanya Dea dengan nada lembut.
Hiro hanya menampilkan senyum lembut nya. Manik coklat hangat itu menatap intens ke dua netra hitam bening itu. Ada banyak rahasia yang di sembunyikan oleh wanita di sebelah nya ini. Entah kenapa Hiro merasa di sudut hatinya tersimpan rasa takut. Ia takut jika wanita di samping nya masih menyimpan lelaki itu di hatinya.
"Dea!" seru Hiro dengan nada berat.
"Ada apa?" tanya Dea yang berpura-pura tidak tau apa yang ada di otak Hiro.
Lelaki tampan itu langsung membawa tubuh Dea masuk ke dalam pelukannya. Menyadarkan kepalanya di dada bidang lelaki tampan itu.
"Aku mencintaimu," seru Hiro dengan ketulusan dan kesungguhan.
Dea mengulum senyum. Ia dapat mendengarkan detak jantung Hiro yang bergemuruh. Sangat keras, sama seperti jantung nya."Aku juga mencintaimu," balas Dea setelah cukup lama diam.
Lengkung senyum Hiro terbit. Ia mengeratkan pelukannya. Ke dagangan nya ke Indonesia karena marah. Ia marah karena Dea tidak menceritakan tentang Lucas Sandoro. Tentang siapa itu Lucas Sandoro. Ia sudah memberikan Dea waktu yang lama untuk berpikir. Agar bisa jujur padanya tentang mantan suaminya. Tapi apa? Dea tidak pernah membuka mulutnya. Mengatakan tentang mantan suaminya itu. Wanita cantik bermata bulat itu bungkam. Mengubur kenangan dan nama lelaki lain.
Ia mendesak Leo dan Sera untuk memberikan nya informasi tentang siapa itu Lucas. Meski ke duanya membuka mulut. Hanya saja tidak sampai tuntas. Masih banyak hal yang di sembunyikan oleh ke duanya. Dengan beralasan jika Dea akan menceritakan keseluruhan tentang Lucas.
"Jangan pernah mengkhianati aku, Dea. Aku sangat mencintaimu, jika kau melakukan nya maka aku sudah pasti akan mati," tutur Hiro membuat Dea menengadah. Melihat bagaimana ekspresi seorang Hiro Yamato mengatakan perasaan nya.
"Tentu. Aku tidak pernah berkhianat Hiro," balas Dea.
"Aku percaya," ujar Hiro. Mungkin lebih tepatnya lelaki itu mencoba memberikan kepercayaan pada Dea
"Oh, ya. Kapan aku bisa bertemu dengan ke tiga anak-anak kita?" tanyanya dengan senyum lebar. Hatinya tak sabar bisa bertemu dengan putra dan putri Dea. Anak Dea adalah anaknya.
"Kau letih bukan? Kau istirahat lah terlebih dahulu. Aku akan menyiapkan keperluan mu," ilak Dea. Wanita cantik itu tidak ingin membawa Hiro bertemu dengan ke tiga buah hatinya. Masih banyak ke kekhawatiran yang di simpan oleh wanita cantik yang kini sudah berdiri dan masuk ke dalam kamar apartemen. Apartemen Leo dan Sera saat ke duanya di Indonesia
Hiro memandang punggung belakang Dea dengan ekspresi yang tidak bisa di baca. Lelaki itu tidak semudah itu menyerah. Ia akan melakukan rencana yang bagus untuk bisa bertemu dengan anak-anak Dea. Baik dengan izin Dea maupun tidak. Lelaki itu tidak akan menyerahkan.
"Maaf Dea. Aku akan menemui mereka secepatnya. Agar aku dan kau bisa secepatnya bersama. Hanya kau dan aku tanpa ada lelaki Sandoro itu," ujarnya dengan nada pelan.
***
Anak-anak berlari ke sana kemari di lapangan terbuka. Lelaki berumur sebelah tahun itu terlihat begitu terlatih mengoper bola kaki. Menghindari dan menendang. Meski wajahnya lebih cocok menjadi artis cilik muda Karana keimutan nya.
"Anak-anak terlihat ceria bukan tuan?" seru kepala Sekolah sekolah dasar Internasional School.
"Ya. Terlihat menyenangkan melihat mereka penuh semangat Pak!" Jawab Hiro dengan senyum lebar.
__ADS_1
"Semoga Anda bisa betah mengajar di sekolah ini tuan Yamato," ujar sang kepala sekolah dengan wajah berwibawa.
"Tentu Pak. Kalau begitu saya tinggal dulu. Anda bisa mengamati sekolah ini terlebih dahulu," ujarnya.
"Terimakasih Pak Kepala Sekolah!" Hiro tersenyum hangat Lelaki tua itu melangkah pergi meninggalkan Hiro menatap anak-anak yang asik bermain dengan wajah ceria.
"Dengan begini aku akan semakin dekat dengan anak-anak mu, Dea!" serunya dengan manik mata yang menatap fokus pada wajah Jun.
Ia tersenyum menatap senyum Jun. Seperti nya senyum Jun menular padanya. Namun entah kenapa ada rasa nyeri di hatinya. Melihat Jun, apakah karena wajah anak itu seperti wajah Lucas Sandoro. Wajah lelaki yang masih wanita itu cintai. Bagaimana perasaan Dea saat melihat wajah itu setiap hari. Bukankah itu akan terasa berat.
"Jun! Izinkan aku menggeser posisi Ayahmu. Dan mengantikan nya," ujarnya masih menatap fokus pada Jun.
Di lain tempat Dea Amelia Wijayanto terlihat begitu serius memeriksa berkas-berkas di atas meja. Ketukan tiga kali di luar pintu sebelah terbuka. Memperlihatkan dua orang yang sangat Dea kenal dan di gendongan wanita tua itu Jino terlihat berceloteh.
Dea langsung berdiri dari posisi duduknya. Ia melangkah mendekati ke dua mantan mertuanya. Santi dan Anto duduk di sofa.
"Mama dan Papa mau minum apa?" tanya Dea yang terlihat menghubungi sekretaris nya.
"Tidak usah. Papa dan Mama ke sini hanya ingin mengatakan tentang sesuatu," ujar mantan Ayah mertuanya.
Dahi Dea berlipat. Namun senyum nya tak luntur. Ia memilih duduk di depan keduanya. Jino terlihat menatapnya dengan penuh harap. Anak lelaki nya itu ingin di gendong olehnya. Dengan wajah memelas. Mampu membuat Dea terkekeh pelan.
"Bagaimana kabarmu, Dr?" tanya Santi dengan lembut.
Tuan besar Sandoro berdehem. Ia menatap manik mata sang mantan menantu dengan rasa yang tak dapat di utarakan."Begini, aku hanya takut aku syok. Ada berita yang membuat kami berdua merasa memiliki asa baru," ujar Tuan Sandoro. Dahi Dea berlipat masih menyimak.
"Papa harap kau tidak akan rasa syok dengan berita ini," ujar Tuan Sandoro lagi.
"Hem. Berita apa itu Pa?" tanya Dea dengan raut yang masih sama.
"Begini. Dua hari yang lalu Mama bermimpi bertemu dengan Lucas. Di mana Lucas meminta Mama membuka keramik abunya. Dan Mama melakukan nya. Namun saat di buka kotak abu itu kosong Dea. Dan saat itu Mama langsung terbangun. Mama mengatakan nya pada Papamu. Dan kami melakukan hal yang sama pada paginya. Membuka kotak keramik abu Lucas. Dan aku tau di sana tidak ada abu sedikit pun. Dan kami melakukan penyelidikan. Tidak ada tubuh yang di bakar pada hari itu ternyata. Besar kemungkinan kalau Lucas masih hidup," jelas sang Ibu mantan mertua nya dengan ceria. Sangat ceria, beda dengan Dea. Wajahnya langsung pucat.
"Ah? B--benarkah?" tanya Dea dengan tergagap.
"Ya sayang." Jawab Tuan Sandoro. Lelaki itu menyentuh tangan Dea dengan kuat."Jino bisa bertemu dengan Papanya. Papa akan mengerahkan seluruh kekuasaan Papa untuk menguak Maslaah Lucas. Dan membuat kita semua berkumpul kembali," ujarnya.
Dea tak menjawab. Wanita cantik itu linglung dan kehilangan kesadaran. Membuat ke duanya berteriak.
***
Flashback 1 tahun yang lalu
__ADS_1
*Mata bulat itu bengkak. Meski terlihat pucat dan lesu. Dea masih tetap beraktivitas seperti biasanya. Dua bulan sudah kepergian Lucas. Rasanya hampa sangat hampa. Aneh bukan? Ia benci lelaki itu. Namun kehampaan atas kehilangan Lucas.
Tangan Dea membuka pintu ruangan Lucas. Ruangan yang menjadi tempat ia bekerja satu bulan belakangan ini. Saat masuk ia menatap wajah gadis yang sangat ia kenal.
"Kau di sini Sera!" seru Dea semakin masuk ke dalam ruangan*.
*Sera hanya memberikan senyum. Ia menarik tangan Dea. Membawa wanita cantik pucat itu duduk di samping nya. "Ini! Minuman lah Coklat hangat. Akan mampu membuatmu merasa lebih baik." Ujar Sera memberikan gelas coklat hangat.
"Terimakasih Sera!" Seru Dea menerimanya dan menghembuskan perlahan permukaan coklat hangat. Dan meneguknya dengan perlahan.
"Apakah kau tidak membencinya?" tanya Sera lembut.
"Bagaimana bisa? Aku membencinya. Dia adalah lelaki pertama yang aku lamar dan aku cintai. Ayah dari anak-anak ku," balas Dea lirih.
Sera mendesah kasar. "Aku pikir kau akan bahagia dengan kepergian nya. Namun sepertinya aku salah. Kau sangat mencintai nya," ujar Sera.
Dea hanya memberikan senyuman yang di paksakan. Sera menatap raut Dea lama. Ada rasa iba di hati Sera.
"De! Kau mau ikut dengan ku dan Leo ke Jepang. Hanya seminggu agar kondisi mu membaik," ujar Sera.
Lama wanita cantik itu berpikir sebelum mengangguk. Sera dan Dea berangkat pada malam hari nya. Di mana Sera beralasan agar Dea bisa menemui dokter yang bagus di sana. Untuk bisa memberikan Dea. Motivasi, benar Dea di bawa ke Jepang. Kesebuah rumah sakit. Namun bukan untuk bertemu dengan Dokter yang gadis itu katakan. Namun masuk ke sebuah kamar.
"Dia?" tanya Dea dengan mata tak percaya.
"Maafkan aku, Dea! Aku yang melakukan semuanya. Menyuntik cairan penghentian detak jantung selama tiga puluh menit. Hingga jantung yang di pasang tak berdetak. Kami ingin Lucas mengakui kesalahannya. Dan menceritakan apa yang dia dan Bella rencana kan pada Sasa. Namun sayangnya, saat bangun karena syok, saat operasi. Ia melupakan ingatnya. Kami membawanya ke Jepang untuk pemulihan. Dan maaf atas apa yang kami lakukan," papar Leo.
Dea bungkam. Tidak ada yang tau apa yang ada di benak dan hati Dea."Dia tidak bisa ingat apapun?" tanya Dea dengan nada aneh.
"Ya." Jawab Sera dan Leo serentak.
Dea menoleh pada Leo ia melangkah mendekati Leo membuat lelaki itu was-was."Kakak!" panggil Dea dengan nada aneh.
"Ya. Maafkan aku, Dea! Kami akan memulangkan Lucas secepatnya. Dan meminta maaf pada ke dua orang tuanya," ujar Leo dengan wajah ketakutan. Sedangkan Sera menunduk dalam.
Dea menatap sepupunya dan Sera berganti-gantian. Cukup lama ia menatap ke duanya. Sebelum membalik kan tubuh menghadap Lucas. Kaki jenjang nya melangkah mendekati ranjang Lucas. Mengusap wajah yang masih pucat itu.
"Kalian mau menebus rasa bersalah atas tindakan ilegal kalian?" Tanya Dea masih membelai pipi dingin Lucas.
"Ya." Jawab ke duanya serentak.
"Kalau begitu--
__ADS_1
Tolong Operasi wajahnya! Rubah wajahnya menjadi wajah lain. Kau Dokter bedah kecantikan jadi kau pasti bisa," lanjut Dea membuat ke dua pasangan kekasih itu membuat kan ke dua matanya*.