Momy? I'Am (Season 2)

Momy? I'Am (Season 2)
Chapter 25 (Season 2)


__ADS_3

.


.


.


Kelopak mata bulat itu terbuka perlahan lalu tertutup lagi. Beberapa kali wanita cantik itu melakukan hal yang sama. Seruan di samping tubuhnya membuat ia menoleh. Di ruangan kamarnya anak-anak berserta keluarga Lucas juga di sana.


"Bagaimana dengan kondisimu sayang?" tanya Santi khawatir.


"Aku baik-baik saja Ma!" balas Dea dengan suara serak khas bangun tidur.


"Dokter mengatakan jika kau kelelahan dan juga terlalu banyak pikiran," seru Mutia yang menatap khawatir Dea.


Wanita bermata bening itu menampilkan senyum lemah. Bintang dan Jun terlihat begitu khawatir."Aku baik-baik saja Kak. Lagi pula mungkin karena telat makan," kilah Dea,"Bintang Kenapa di rumah? Bukan nya ada siaran langsung yang harus kau lakukan hari ini?" tanya Dea yang beralih pada wajah sang putri.


"Memang. Hanya saja saat aku mendapat kan kabar Mama pingsan. Bagaimana bisa aku melakukan siaran langsung? Meskipun aku di sana. Aku bisa mengacaukan nya Mama," jawab Bintang membuat Dea tersenyum tipis.


Ani sudah mendengar kan kabar yang cukup menggemparkan. Jadi ia maklum saja, kenapa Dea pingsan. Ia berpikir jika pasti nya keponakan suaminya itu syok dengan kenyataan yang dia terima. Tidak ada yang tau bagaimana gila nya Dea di belakang mereka semua.


Mata Dea beralih pada anak bungsunya. Jino terlihat terkikik saat di gelitik oleh tangan kecil. Anak perempuan berumur tiga tahun itu terlihat begitu gemas pada sang putra. Membuat Dea merasa bahagia. Hanya dengan mendengar tawa sang putra. Namun apakah yang harus ia lakukan ke depan nya?


***


Pintu apartemen terbuka perlahan. Wanita cantik itu masuk dengan menenteng beberapa kantong belanja. Ia membawa banyak bahan makanan untuk lelaki yang kini bertahan di Indonesia.


Saat masuk apartemen mewah milik Sera dan Leo terasa begitu sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Dea menata belanjaan yang di bawa ke dalam lemari pendingin. Sebelum melangkah menuju kamar tamu yang di tempati oleh lelaki tampan bermata coklat hangat itu.


Kret !!

__ADS_1


Pintu di buka perlahan. Dea masuk dengan langkah seringan kapas. Ia dapat melihat bagaimana kondisi lelaki yang begitu ia cintai itu. Langkah kaki lebarnya kini berhenti tempat di samping ranjang.


Dea duduk dengan hati-hati. Sangat hati-hati, ia tersenyum lebar. Jari jemari tangannya mengusap perlahan wajah tampan yang sangat asing. Namun debaran tak pernah terasa asing saat manik matanya menatap mata lelaki yang kini masih terlelap.


"Aku pikir semua nya akan baik-baik saja. Aku pikir aku bisa menyembunyikan semuanya. Tapi sayang, kenapa harus secepat ini mereka tau. Aku takut, jika semua nya terbongkar. Dan ini akan sangat rumit Kak!" utara Dea dengan nada yang sangat pelan. Nyaris seperti bisikan,"Aku tidak ingin kau di sini, aku terkadang berpikir apakah aku harus melepaskan semuanya. Lalu hidup hanya berdua dengan mu saja? Dan apakah jika wajah mu kembali seperti semula apakah aku sanggup menghadapi nya? Menatap wajah yang aku cintai, ku rindukan dan aku benci?" lanjut Dea lirih.


Dengan perlahan Dea merebahkan tubuhnya di samping tubuh Hiro. Lelaki yang tidak lagi memakai nama aslinya. Sejak wajahnya berubah, Dea sering kali mengatakan pada dirinya. Dengan berubah nya wajah Lucas. Maka ia merasa menemukan cinta baru dan kehidupan baru. Tanpa bayang-bayang penghianatan. Meskipun tidak bisa menampik fakta bahwa ia sangat mencintai Lucas Sandoro.


Dea menatap wajah Hiro cukup lama. Sebelum ia memutuskan untuk masuk ke dalam dada bidang lelaki tampan itu.


"Kakak! Aku begitu mencintaimu, Kak Lucas! Maafkan aku," ujarnya di sela dada bidang Hiro.


Lelaki tampan itu merasa terganggu. Hingga membawa kendaraan nya kembali. Ia terbangun dari tidurnya. Indra pendengaran nya samar-samar mendengar Dea memanggil nama itu lagi. Entah kenapa ia tidak merasa kesal. Dengan nama itu.


"Kakak Lucas!" seru Dea lagi dengan lirih sebelum ia membenamkan kesadarannya pada dunia mimpi. Cukup lama Hiro membiarkan Dea memasuki dunia mimpi. Setelah mendengar deru napas Dea yang teratur baru lah ia membuka ke dua matanya dengan sempurna. Ia menunduk mengecup dahi Dea dengan perlahan.


Ia tidak tau siapa itu Lucas. Hingga nyaris merasa gila. Ia akan melakukan apa pun agar bisa mendapatkan Dea. Wanita cantik yang kini tidur dalam pelukannya. Harus menjadi miliknya selama-lamanya. Tidak ada yang boleh merebut Dea darinya. Tidak ada!


"Andaikan aku yang bertemu lebih dulu dengan mu dan bukan dia. Mungkin kah kau akan mencintai aku seperti kau mencintai nya?" tanya entah pada siapa.


Karena wanita cantik itu terlelap sangat lelap. Tidak mendengar apa yang di katakan dan di tanya kan.


***


"Apa anda yakin akan melakukan nya?" tanya Dokter tampan itu menatap lekat wajah calon pasien nya.


Hiro menatap sang Dokter dengan dahi  berlipat."Apa salahnya melakukan operasi plastik? Semua orang melakukan nya," jawab Hiro acuh.


"Tapi wajah Anda sudah sangat tampan dan juga muda. Kenapa harus melakukan Operasi?" tanya Dokter itu dengan wajah tak mengerti.

__ADS_1


"Untuk mendapatkan seorang wanita yang aku cintai," jawab Hiro pada akhirnya.


"Apa dia menolak Anda?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Dia masih terjebak pada lelaki masa lalu nya. Jika dia tidak bisa kembali pada masa sekarang. Maka aku yang akan pergi ke masa lalu nya. Dengan cara menjadi lelaki itu," jelas Hiro.


Seketika Dokter itu merasa pening. Bagaimana bisa ia mendapat pasien yang kurang waras. Karena biasanya Pasien yang datang padanya adalah menyempurnakan wajah mereka. Menjadikan mereka lebih cantik dan tampan. Namun apa ini? Lelaki yang terlihat serius mengisi biodata dirinya itu malah mau merubah wajah tampan nya ke arah imut.


Ah! Apa dunia sudah akan mau kiamat? Itulah yang ada di otak sang Dokter. Di lain tempat wanita cantik terlihat metal lama wajah lelaki yang kini sedang duduk dengan senyum lebar di wajahnya.


Apa yang harus ia lakukan?  Haruskah dia mematahkan senyum lelaki yang begitu sangat baik padanya itu. Dea mempercepat langkahnya. Lalu menarik kursi kayu ke belakang. Ia duduk dengan senyum yang di tebar kala Chandra menatap nya.


"Bagaimana pekerjaan kantor apakah melelahkan?"


"Hem. Begitu lah Kak, tapi terasa menyenangkan karena orang-orang yang bekerja begitu tau bagaimana cara melepas stress."


"Ah! Begitu. Oh ya bagaimana dengan rencana kita jalan-jalan ke pulau Bali?"


"Itu sudah aku bicara kan dengan anak-anak. Mereka setuju, dan mungkin akan di ikuti juga oleh Kak Mutia dan juga Kak Jackson. Apakah Kakak tidak keberatan jika mereka juga ikut?" tanya Dea hati-hati.


"Tidak. Justru banyak yang ikut akan lebih menyenangkan," jawab Chandra bijak.


Dea kembali tersenyum. Tanpa ke duanya sadari beberapa kali seorang lelaki berpakaian serba hitam mengambil gambar ke duanya diam-diam. Dengan gerakan tangan yang cepat ia mengirimkan nya pada seseorang yang memang menugaskan nya untuk mengawasi wanita cantik itu.


Foto hasil yang ia dapatkan di kirim melalui surel. Lelaki itu kembali menatap dua orang yang tengah tertawa bersama.

__ADS_1


__ADS_2