
.
.
.
.
.
Bunyi bel pintu membuat ke empat orang yang ada di meja makan saling tatap. Wanita cantik itu hanya bergindik bahunya acuh. Ia tak tau siapa yang bertamu pagi-pagi sekali. Padahal ini masih jam enam pagi tepat.
"Lanjut kan saja makannya. Aku akan membukakan pintu," ujar Dea dengan lembut.
Wanita cantik itu berdiri dari posisi duduknya. Lalu melangkah mendekati pintu. Kala pintu terbuka ia dapat melihat siapa tamu yang tadi di nilai tak sopan oleh hati kecilnya. Ia tersenyum kecut kala tau siapa yang bertamu di pagi buta.
"Ada apa?" tanya Dea dengan nada sewot.
Lucas melangkah mendekati sang istri. Mengikis jarak antara dia dan Dea."Aku ingin sarapan pagi dengan mu dan juga anak-anak," jawab lelaki itu tak tau malu.
Dea mendesah kasar. Ia tak mungkin memulai keributan di pagi hari. Sungguh akan merusak moodnya saja. Dea melangkah mendahului Lucas. Lelaki imut itu menutup pintu dengan perlahan lalu mengikuti Dea dari belakang.
Betapa terkejutnya ia saat menemui bukan hanya ada ke dua buah hatinya di sana. Namun ada juga sahabat karibnya. Chandra melempar tatapan tak suka. Bukan hanya lelaki berlesung dalam itu saja yang menatap Lucas tak suka. Ke dua buah hati nya juga sama. Bahkan Bintang menghempaskan sumpit yang ada di tangannya dengan kasar.
Seluruh mata menatap ke arah anak remaja yang begitu cantik itu. Dea tau bagaimana perasaan putra-putri nya. Namun mau bagaimana lagi. Semua ini ia lakukan untuk anak-anak nya. Dea bisa saja menggugat cerai Lucas. Namun, karir Bintang akan menjadi ancaman. Ia akan terus di sorot dan merasa risih.
Pemberitaan miring akan membuat Bintang mendapatkan komentar jahat. Sedangkan Jun. Anak itu akan terurus di buntuti oleh Paparazi. Hanya untuk mendapatkan beberapa berita. Selain itu ia akan sangat sulit melancarkan serangan halus pada Lucas maupun Bella.
"Aku kehilangan selera makan," seru Bintang dengan nada sarkas.
Jun juga meletakkan sumpit di tangannya. Melempar tatapan tak bersahabat pada Lucas. Dea menarik kursi lalu duduk dengan santai.
"Lanjutkan makannya. Hari ini kita butuh tenaga yang banyak. Bintang. Jun! Ayo lanjutkan makannya. Anggap saja tidak ada hama di sini," ujar Dea santai.
Lucas menyentuh ulu hati nya terasa sakit. Melihat bagaimana perlakuan ketiga orang yang ia cintai. Sungguh sangat melukainya. Chandra tak banyak kata. Ia melanjutkan acara makan yang sempat tertunda. Lucas menarik perlahan kursi kosong. Tidak ada mangkuk nasi di depan nya.
Baik Bintang mau pun Jun. Ke dua nya makan dengan gerakan cepat. Meneguk hingga tandas air mineral. Lalu berdiri dari duduknya. Mereka lebih memilih ke kamar dari pada harus satu meja dengan Lucas. Jika saja Dea tidak memerintahkan hal itu. Sudah pasti mereka sangat tidak mau menelan makan.
Dea meletakan beberapa lauk pauk di atas mangkuk Chandra. Mengundang senyuman dari lelaki bertelinga caplang itu. Lucas merasa panas. Ia berdiri dari duduknya. Membuat Dea dan Chandra menatap wajah kesal Lucas. Dea menipiskan bibir nya. Namun senyum yang ia ulas luntur kala Lucas yang ia pikir akan keluar.
Ternyata lelaki tak tau malu itu melangkah menuju tempat piring. Meraih mangkuk dan mengisi dengan nasi. Setelah itu ia kembali lagi ke meja makan. Duduk di samping Dea. Dimana kursi yang di tinggalkan oleh Bintang tadi.
__ADS_1
Chandra dan Dea tercenggo melihat bagaimana tebalnya muka Lucas. Lelaki imut itu bahkan dengan kurang ajarnya menyumpit lauk pauk yang ada di atas mangkuk Dea Ke atas mangkuknya.
Sungguh! Kemana urat malu lelaki Sandoro itu saat ini. Sudah jelas-jelas kedatangan nya tidak di sambut dengan baik. Ia malah bebal, makan dengan lahap. Dea mendesah kasar. Lalu melemparkan tatapan ke arah Chandra.
"Aku tiba-tiba merasa kenyang!" Ujar Dea lalu langsung berdiri dari posisi duduknya.
Chandra pun sama."Aku akan mempersiapkan keperluan anak-anak. Kau berkemasan lah. Kita harus cepat agar tak terlambat," balas Chandra.
Dea mengangguk. Ke dua nya langsung saja berlalu dari hadapan Lucas. Tangan yang tadi asik memasukkan makan di dalam mulut kini berhenti. Hatinya terasa di tampar berulang-ulang kali. Dea, wanita yang sangat ia cintai begitu mengacuhkannya. Sahabat nya sendiri bahkan tak mau menyapa nya.
Lelaki imut itu belum tau saja. Bagaimana lelaki Winata itu menahan agar tinju kerasnya tidak melayang. Merusak wajah tampan lelaki Sandoro itu. Air mata nya meleleh begitu saja.
***
Suasana begitu ramai. Kilatan kamera membidik wanita cantik yang masih terlihat seperti remaja pada umumnya. Bahkan ia dan Bintang sang putri terlihat seperti kakak dan adik. Bukan pasangan Ibu dan anak. Seluruh kamera telah siap. Menyoroti Ibu dan anak itu.
Hitungan mundur dengan kode tangan membuat MC Cantik itu mulai mendekati mikrofon ke depan bibirnya.
"Selamat pagi Permisa. Kali ini kita ke datangan tamu spesial. Nyonya Sandoro dan juga Bintang Sandoro. Idol cantik yang tengah menjadi buah perbincangan masyarakat," ujar sang MC dengan penuh semangat.
Kamera yang menyoroti wajah MC kini beralih pada wajah Dea dan Bintang.
"Selamat pagi Nyonya Sandoro dan Bintang," sapa MC wanita itu pada ke duanya.
"Saya dengar Nyonya Sandoro ingin menginformasi tentang rumor yang beredar belakangan ini tentang keluarga Nyonya," papar MC dengan senyum lembut.
"Ah! Ya. Saya merasa sangat tidak adil. Karena rumor tersebut, putri saya mendapat banyak komentar jahat," jelas Dea dengan wajah sedih.
Bintang mengusap punggung tangan Dea dengan pelan. Lalu menggenggam nya.
"Ya. Saya dengar komentar yang di tinggal kan sangat kejam. Karena itu kami ingin mendengar apa yang terjadi sesungguhnya."
Dea tersenyum lembut. Menatap kamera."Pertama saya ingin meminta maaf kepada Masyarakat yang merasa terganggu dengan gosip itu. Untuk berita pernikahan suami saya itu memang benar," papar Dea. Membuat seluruh awak media yang ada riuh. Bintang merasa tak nyaman kala kilatan kamera menyorot mereka. Dan bunyi mesin keyboard yang di ketik cepat sungguh menganggu.
"Jadi itu benar laku apakah Nyonya Sandoro tau akan hal itu atau bagaimana?" tanya MC dengan raut wajah penasaran.
Lagi dan lagi. Wanita cantik itu harus mengulas senyum palsu. Dengan raut wajah tenang tidak tampak ada kekecewaan dan kemarahan di sana. Wanita itu mengontrol semuanya. Agar tidak satu pun bisa membaca gerak tubuh mau pun ekspresi wajahnya.
"Saya tau," jawab Dea santai.
Gemuruh dengan bisikan lirih mulai memuncak. Bintang menatap wajah cantik sang Ibu dengan pandangan sendu.
__ADS_1
"Ah! Begitu," ucap sang MC agak tertegun,"Lalu apakah saat ini rumah tangga Nyonya dan Tuan mengalami guncangan yang dahsyat. Ah! Maksud saya adalah apakah saat ini Anda dalam tahap perceraian?" lanjut lagi.
Dea menggeleng pelan."Tidak. Aku tau dia menikah lagi, aku pun menyetujuinya akan hal itu. Tak ada salahnya berbagai bukan? Karena lebih baik berbagi dengan jelas dari pada adanya perselingkuhan. Anak-anak kamipun tau akan hal itu. Mereka tak keberatan," jelas Dea dengan di selingi senyum.
"Wah! Hebat sekali Anda Nyonya. Tak semua wanita bisa seperti Anda. Mau berbagi dengan wanita lain," ujar MC dengan wajah salut dan juga merasa kasihan. Namun raut kasihan dengan cepat di tepis. Karena ia tak boleh menuju kan ekspresi apa pun terhadap masalah yang orang lain.
"Begitulah. Saya harap penjelasan saya saat ini bisa memenuhi rasa ingin tahu dari masyarakat. Dan mohon atas dukungan nya untuk putri saya Bintang" ucap Dea dengan lembut.
Bintang ingin sekali menangis saat ini. Karena memikirkan ia dan Jun. Sang Ibu rela menahan rasa sakit. Bahkan mungkin cibiran dari orang lain. Yang mana ia menjadi wanita yang tak becus membahagiakan suami. Hingga suaminya menikah lagi.
***
"Kamu sudah yakin dengan keputusan mu ini, Dea?" tanya Chandra dengan nada cemas.
Dea menghembuskan napas kasar lewat mulut nya. Lalu menatap ke trotoar jalan. Chandra Winata fokus menyetir mobil. Ia menjemput Dea selesai acara. Sedangkan Bintang anak remaja itu kembali ke Asrama nya.
"Aku bisa melakukan apa pun untuk anak-anakku Kak! Impian Bintang adalah menjadi seorang artis. Aku tak ingin menghancurkan impian putriku," jawab Dea lembut.
"Meski membuat dirimu sakit bahkan mungkin di hujat?" tanya Chandra dengan nada tak suka.
"Ya. Aku tak masalah akan hal itu. Seorang Ibu bisa menjadi apa pun untuk anaknya. Tak peduli meski hujan pisau yang turun dari langit. Seorang Ibu akan rela menjadi tameng untuk anak-anak nya."
"Rasanya tanganku sangat gatal saat ini," ucap Chandra dengan geram.
Dea tersenyum. Ia menyentuh telapak tangan Chandra yang bebas. Lalu menggenggam nya erat. Chandra menoleh sesaat. Melihat wajah cantik Dea yang begitu mempesona.
"Terimakasih atas segalanya Kak!" seru Dea lirih.
Chandra tersenyum. Ia mengangguk pelan. Jika Dea mau melakukan apa pun untuk anak-anaknya. Maka Chandra siapa melakukan apapun untuk Dea. Untuk wanita yang ia cintai. Jika Dea melindungi anak-anak seperti itu. Maka Chandra akan melakukan hal yang sama.
"Aku akan selalu ada untuk mu, Dea. Apapun yang terjadi. Aku akan melindungi mu. Meski pun nyawaku adalah taruhan nya," ucap Chandra sungguh-sungguh.
Dea tersenyum. Wanita itu berpikir jika Chandra melakukan itu karena lelaki itu tak ingin Dea terluka seperti almarhum istri lelaki itu. Dea tidak tau perasaan apa yang di miliki oleh lelaki itu untuk nya. Perasaan lebih dari seorang Kakak lelaki yang menyayangi adiknya. Perasaan yang sejak dulu ia tutup-tutupi dari Dea. Chandra tak ingin Dea merasa tak nyaman karena perasaannya. Meski wanita itu salah paham akan rasanya. Chandra tidak peduli akan hal itu. Selama Dea selalu bersamanya dan di sisinya. Biarkan Dea menganggapnya menjadi apa pun.
"Aku merasa bahagia mendengar perkataan mu Kak!"
"Aku senang jika kau bahagia."
***
Susu hamil milik gadis cantik itu di tegak habis. Lalu gadis cantik itu menancap satu persatu buah apel yang sudah di kupas untuk di makan. Wanita tua itu membungkuk lalu melangkah pergi. Ketiga sudah sepuluh langkah, wanita tua itu berbalik. Menatap gadis yang menjadi istri ke dua majikan nya itu dengan pasangan aneh.
__ADS_1
"Nikmati apa yang bisa anda nikmati nyonya baru," ujar Mbok Siti sebelum melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Bella tertawa pelan melihat tayangan yang menayangkan kartun kesukaannya. Namun dahinya menyeringit kala ia merasa perutnya begitu sakit. Lalu hilang. Beberapa saat lagi ia merasakan hal yang sama lagi. Sebelum ia berteriak keras meremas perutnya dengan kasar. Darah segar merembes begitu saja di selangkanya. Gadis itu panik hingga beberapa Maid berdatangan.