
.
.
.
"Lakukan apa yang saya katakan!" kata-kata yang di keluarkan oleh wanita cantik itu mendapat anggukan dari lelaki berbaju serba putih polos itu.
Dua orang laki-laki itu pamit lalu melangkah pergi. Mutia Wijayanto tersenyum puas. Kala melihat mobil ambulance itu kini telah melaju meninggalkan halaman Rumah Sakit.
Jika Dea tidak bisa membereskan gadis itu. Maka Mutia akan membereskan nya dengan baik. Tanpa jejak, tidak ada yang boleh menganggu Dea Amelia Wijayanto dan Lucas Sandoro. Apa lagi sampai membuat ke dua keponakan nya menangis.
"Nyonya Mutia!" seruan di belakang tubuh membuat Mutia membalikkan tubuhnya ke arah wanita cantik berpakaian formal.
"Apa beres?" tanya Mutia.
"Ya. Semuanya beres Nyonya. Ini berkas perceraian Nyonya Chou dan Tuan Sandoro. Di sana tertera cap stempel jarinya." Ujar wanita cantik itu menyodorkan berkas yang sudah dia urus.
"Bagus. Aku akan segera mengirimkan uang ke rekening mu. Seperti yang sudah kita sepakati." Ujar Mutia menerima berkas dari orang suruhan nya.
"Saya pamit dahulu Nyonya!" Ujarnya lagi lalu pamit dan melangkah.
"Masalah pertama sudah terselesaikan. Sekarang keputusan terakhir ada pada mu Dea!" ucap Mutia bermonolog sendiri.
Di lain tempat, terlihat seorang anak lelaki dengan semangat nya menceraikan apa yang terjadi di sekolah nya. Pada lelaki yang bersandar di dasbor ranjang rumah sakit.
"Jadi Jun membantunya?" tanya Lucas dengan senyum bangga.
"Ya. Tentu saja Papa. Karena bagaimanapun dia tidak bersalah. Bukankah Papa dan Mama mengajar hal seperti itu padaku," ujar Jun di akhiri dengan senyum.
"Bagus! Itu baru namanya jagoan Papa!" Ucap Lucas mengusap puncak kepala Jun dengan lembut.
Bunyi derit pintu ruangan rawat di buka perlahan. Dokter paru baya itu datang dengan seorang suster di belakang nya. Ke duanya masuk dengan senyum lembut. Di balas oleh kedua Ayah dan anak itu sama.
"Wah! Ada Jun hari ini yang menjaga Papanya, ya!" seru Dokter Donni dengan nada ceria.
"Seperti tuan Muda Jun menceritakan kisah menarik lagi pada Papanya Dokter. Lihatlah, Tuan Lucas menjadi lebih sehat karena nya," ujar sang suster ikut menimpali.
Jun dan Lucas hanya melempar kan senyum. Sebagai jawaban jika apa yang di katakan oleh dua tenaga medis itu benar."Apa kabar Dokter Donni dan Suster?" tanya Jun.
__ADS_1
"Kami baik, boleh kah Jun keluar dulu bersama suster, karena Dokter harus memeriksa Papamu?" ujar Dokter yang mendapat kan anggukan dari Jun.
Yuna membawa Jun keluar dari kamar rawat VVIP itu. Donni menatap pintu yang di tutup perlahan. Lucas mendesah berat, sebenarnya dari tadi dia menahan rasa nyeri dan denyut di jantung nya. Dokter Donni menoleh ke arah Lucas. Dengan cekatan Doni menuturkan cairan bening di infus Lucas.
Perlahan lelaki itu mulai dapat bernapas dengan baik."Bagaimana dengan operasi nya Dok?" tanya Donni di sela napas yang masih susah.
"I—itu.."
"Katakan sejujurnya padaku. Aku merasa aneh. Apakah sebenarnya penyakit ku semakin parah bukan? Bahkan beberapa hari ini, setiap malam aku merasa kesakitan dan juga remasan di jantungku," potong Lucas saat tau Dokter itu pasti akan berbohong jika dia tak mengatakan keluhannya.
"Saya hanya akan mendiskusikan hal ini pada wali mu tuan Lucas. Bukan padamu, mengenai rasa sakit kami akan menanggani nya sebisa kami. Untuk semakin parah tidak nya, kami tidak bisa mengatakan apa-apa pada Anda. Karena Anda hanya perlu memikirkan kesehatan dan optimis anda akan sehat setelah Operasi yang akan di lakukan dua Minggu lagi," ujar Doni mendapatkan desahan kasar dari Lucas.
Lelaki imut dengan wajah sangat pucat di hiasi peluh yang membantu punggung belakang dan dahinya. Mengusap kasar peluh yang menetes melalui ke dua sisi keningnya."Baiklah," jawabnya pasrah.
"Jika rasa sakit teramat menyerang. Jangan diam saja, Tuan. Meski ada putramu, Anda tetap harus menekan tombol merah," nasehat Donni.
Lucas hanya tersenyum tipis. Dokter Donni menepuk bahu Lucas dengan membiasakan kata Semangat. Sayang sekali, Lucas hanya bisa membalas dengan senyum yang di paksa kan.
Dokter Donni melangkah keluar kamar Lucas."Kenapa tidak katakan saja. Jika Operasi itu beresiko Dokter? Jika aku bisa saja meregang nyawa di meja operasi. Karena bukan satu yang Anda temukan di sana?" protes hanya pada udara yang hampa.
Lucas Sandoro. Lelaki itu tak sengaja menguping pembicaraan Ibunya dan Dokter. Dokter tua itu berkata jika Operasi pengangkatan tumor yang ada akan membuat banyak resiko. Apa lagi ternyata di temukan sel baru yang menyebar menahan katup. Hingga darah yang di pompa oleh jantung tidak bisa jalan. Bahkan ada pembengkakan di sana. Bengkak yang membuat rasa nyeri menghantamnya beberapa hari terakhir.
"Aku tidak bisa mengubah waktu hanya di atas ranjang. Aku ingin untuk saat terakhir yang lebih bahagia lagi. Hanya dua Minggu paling lama bukan? Maka seminggu aku ingin bahagia," ujarnya dengan lirih.
***
Dea meletakan dua gelas minuman dingin di atas meja. Chandra menyesapnya dengan pelan. Di ikuti oleh Dea. Ke duanya bersantai di ruangan tamu apartemen Dea. Wanita cantik itu hanya diam begitu juga dengan Chandra.
"Bagaimana dengan keadaan Lucas?" tanya Chandra membuka pembicaraan.
Lucas meletakkan dengan pelan gelas yang ia pegang. Empat hari ini dia tidak ke rumah sakit. Membiarkan Jun yang bolak balik ke sana. Lucas, ia tak ingin luluh hanya karena ke adaan Lucas. Setidaknya itulah yang ada di otaknya.
"Entahlah. Aku belum menjenguknya lagi. Karena aku tidak ingin dia meminta yang tidak-tidak. Kau tau sendiri bukan Kak! Bagaimana manjanya Kak Lucas. Di pasti akan meminta ku kembali padanya. Hanya dengan memanfaatkan keadaan nya. Sama seperti dulu," ujar Dea dengan nada berat,"Aku mungkin, bisa mencoba memaafkannya. Namun untuk kembali tidak mungkin," lanjut Dea.
"Kau yakin dengan hal itu?" tanya Chandra pelan. Tak munafik ada rasa bahagia di hati Chandra. Karena wanita di depannya tak goyah meski Lucas sakit keras sekali pun. Namun di sisi lain ada rasa kasihan pada Lucas. Bagaimana pun, Lucas Sandoro adalah sahabat nya.
"Ya. Setidaknya aku mencoba menyakinkan diri ku untuk itu," jawab Dea.
"Lalu apa Bintang tau Papanya sakit?"
__ADS_1
"Tau. Hanya saja dia tak akan datang."
"Dia masih belum bisa memaafkan Lucas ternyata."
"Begitulah Kak. Beda dengan Jun, anak itu dengan sangat cepat dan mudah memaafkan Lucas. Mungkin karena dia dari kecil mendapatkan kasih sayang Lucas dengan penuh. Tidak dengan Bintang. Karena itu ke duanya berbeda dalam menanggapi berita sakit Lucas."
"Apa perlu aku menunjuk Bintang untuk menjenguk Lucas. Karena bagaimanapun, Lucas butuh dorongan dari Bintang juga."
"Silahkan saja Kak!"
"Lalu kapan kau akan kembali menjenguk Lucas?" tanya Chandra menyapa wajah Dea yang terlihat letih.
"Mungkin besok. Bersama Kak Mutia dan suaminya."
"Bolehkah aku ikut?" tanya Chandra dengan nada pelan.
"Ya. Kenapa tidak. Setidaknya Kak bisa ikut memberikan dia semangat," balas Dea dengan lembut.
***
"Appa kenapa kita ke sini? Bukankah Papa masih sakit?" tanya Jun melihat Lucas dan dirinya ada di sebuah studio foto.
"Apa ingin mengambil beberapa gambar dengan Jun. Teman Papa bilang mereka baru meresmikan photo studio. Dengan beberapa tema Jun. Lagi pula Papa membawa obat dan sudah minta Izin. Kata Dokter Donni, Papa boleh keluar hanya enam jam saja. Lalu kembali ke rumah sakit," bohong Lucas dengan wajah ceria.
Manik mata Jun menajam. Mencoba menelisik apakah sang ayah jujur atau berbohong. Bibirnya terbuka ingin bertanya tapi Lucas lebih dulu menarik tangan nya. Hingga mereka masuk ke dalam Gedung Studio Photo yang begitu besar.
Di lain tempat orang-orang kalang kabut mencari Lucas. Ruangan inap kosong dengan selang infus yang di cabut. Bahkan ponsel pintar lelaki itu di letakan di atas nakas bersamaan dompet berisi kartu kredit dan debit. Hanya uang tunai saja yang di bawa.
"Bagaimana kau menemukannya?" tanya Dokter pada keamanan Rumah Sakit.
"Tidak Dok!" jawab sang kepala keamanan.
"Bagaimana bisa kalian lalai!" teriak Santi dengan wajah panik.
Wanita tua itu terlihat kacau. Dea, Chandra, Mutia dan Jackson juga ikut mencari. Hingga hanya Dokter Donni dan Ibu Lucas yang ada di dalam kamar ruangan inap Lucas. Dan juga kepala keamanan yang baru saja datang melapor.
"Bagaimana jika putraku kenapa-napa di luar sana? Bagaimana jika dia bunuh diri karena tau penyakit nya akan merenggut nyawanya huh? Bagaimana?" teriak Santi dengan air mata berlinang.
Dokter Donni hanya menunduk dalam begitu juga dengan kepala keamanan rumah sakit itu. Gadis cantik itu mematung di ambang pintu. Ke dua Indra dengarnya mendengung. Bintang, anak gadis remaja itu harus berperang dengan batin nya. Hanya untuk memutuskan pergi atau tidak ke rumah sakit.
__ADS_1
Di sisi lain ia mencoba tak peduli. Tetapi sisi lain dalam dirinya meronta-ronta. Meminta agar Bintang memaafkan Lucas dan datang melihat sang Ayah. Bukan wajah Ayahnya yang dia lihat. Malah mendengar kan informasi yang menggerikan. Apakah buah karma memang seperti ini? Kenapa karma menyakiti Lucas. Tapi malah tetap mencubit hatinya? Kenapa karma juga mengenai dirinya? Padahal yang di sakiti adalah Lucas. Ayah yang telah berkhianat. Ayah yang dia benci. Tapi kenapa dia juga merasakan sakitnya? Kenapa?????????