Momy? I'Am (Season 2)

Momy? I'Am (Season 2)
Chapter 31 (Season 2)


__ADS_3

.


.


.


.


.


Jari jemari di ketuk di atas meja kayu. Dahi putih mulus itu berkerut, bibirnya di gigit perlahan. Helaan napas kasar di hembuskan. Satu bulan berlalu, membuat wanita cantik itu merasa kepalanya ingin pecah saja. Karena lelaki palsu itu. Belum lagi Lucas yang terlihat aneh belakangan ini.


TOK !


TOK !


TOK !


"Masuk!" seru Dea dengan suara keras.


Pintu kayu di buka perlahan. Sosok yang ia pikirkan sekarang ada di depannya. Dengan senyum menyeringai yang khas. Dea hanya dapat mengeram pelan. Sebelum berdiri dari kursi singa sananya. Ia melangkah mendekati lelaki yang menjadi Lucas nya.


"Kau terlihat semakin cantik Dea!" puji Billi dengan suara halusnya.


Wanita bermata coklat bening itu tersenyum setulus mungkin. Meski ia ingin mual mendengar perkataan Billi. Namun mau tak mau harus tetap mengembangkan senyum bukan?


"Kakak ingin meminum apa agar bisa di antar kan?" tanya Dea.


Billi memilih menyandarkan punggung belakang nya di sofa. Ia tersenyum misterius, membuat dahi halus itu kembali berkerut.


"Aku ingin mengajakmu hari ini keluar. Aku sudah meminta izin pada Papa. Jadi hari ini kita akan melakukan perjalanan keluar," tutur Billi lembut.


Dea mengigit bibirnya perlahan. Pertanda jika wanita cantik itu sedang berpikir. Billi memperhatikan raut wajah Dea. Ia tersenyum sinis, tau apa yang membuat wanita itu terlihat tidak mampu menjawab cepat permintaan nya. Hanya untuk keluar dari kantor.


"Aku memiliki beberapa pekerjaan yang sedikit menumpuk Kak. Bisakah jika besok saja?" tawar Dea memaksakan senyum memelas.


Billi terkekeh. Ia berdiri dari duduknya melangkah mendekati Dea yang duduk di depan nya. Manik mata bening hitam legam itu memperhatikan gerak-gerik Billi. Lelaki tampan itu menunduk dan mendekatkan bibirnya pada daun telinga sebelah kiri Dea.


"Apa sudah ada lelaki lain yang mengisi hatimu Dea?" bisik Billi pelan.


Billi menegakkan tubuhnya. Dea menengadah menatap wajah imut dengan bingkai mata tajam itu.


"Entahlah," jawab Dea dengan nada yang aneh.


Billi terlihat diam. Sebelum mengangguk kecil seakan paham. Dengan langkah lebar itu keluar dari ruangan kantor tanpa kata. Dea masih memperhatikan nya.


"Apa yang sebenarnya kau mau?" tanya pada pintu yang telah tertutup rapat.

__ADS_1


Sedangkan di belakang pintu lelaki Sandoro itu tersenyum sinis."Aku pikir bisa merebut mu darinya. Menjadi dia sebelum membuka indentitas asliku. Tapi sepertinya tidak bisa ya?" tutur Billi pelan,"Kalau begitu mari percepatan kehancuran nya. Agar kau dan dia tidak bisa bersama. Yang terpenting ke dua orang tua itu juga merasakan hancur nya," lanjut nya dengan senyum licik sebelum melangkah menuju lift.


***


Dea terlihat termenung. Dirinya merasa semakin pusing. Ia bahkan tidak langsung masuk ke kamar setelah sampai di apartemen bertingkat itu. Wanita cantik itu terasa semakin sakit kepala jika menggali siapa lelaki itu. Satu kesimpulan yang ia dapatkan adalah lelaki itu memiliki DNA yang sama dengan Lucas. Hanya sidik jari yang berbeda.


"Kenapa hanya berdiri di sini saja?" seruan lembut membuat Dea menegakkan kepalanya yang tertunduk.


DEG


DEG


DEG


Dea mengerjap beberapa kali. Bagaimana Lucas mampu membuat jantung nya berdebar keras. Bagaimana tidak? Lelaki imut itu sudah sampai di depannya. Tanpa ia sadari, bahkan jarak wajahnya dan Lucas hanya beberapa 5 cm saja. Hembusan napas mint itu mampu tercium. Bodoh! Wanita itu menahan napasnya saat ini.


Jari jemari Lucas menyingkirkan anak rambut Dea. Anak rambut yang nakal, menghalangi Lucas melihat betapa cantiknya wanita ini. Sangat cantik! Itulah yang Lucas rasakan. Ada dentuman yang lebih keras dari denting jam dinding. Kala dua debaran jantung menjadi satu. Bukan hanya Dea, lelaki Bintang itu juga sama. Lelaki itu berdebar sekeras debaran wanita di depan nya.


"Bernapaslah!" titah Lucas dengan senyum lembut.


Huh! Napas lega keluar begitu saja. Lucas terkekeh pelan. Belum sempat Dea menarik napas lagi. Lucas malah mendekatkan wajahnya. Kepalanya yang di terlenggkan. Wanita bermata bulat itu kembali menahan napas.


"Harusnya kau bernapas sebelum aku membuatmu berhenti bernapas," ucap Lucas dengan seringai nakal.


Bibir Dea terbuka. Ingin bertanya sebelum itu terjadi Baekhyun lebih dulu menyesapnya. Membuat Dea membeku dengan letusan kembang api di dalam dada. Kupu-kupu terasa berterbangan di dalam perutnya. Ia bahkan merasa ratusan arus listrik menyengat kala tangan Lucas menahan tengkuknya. Bergerak pelan menyesap dengan penuh khidmat. Bola mata hitam bening itu tersembunyi di balik kelopak indahnya. Lucas melakukan hal yang sama. Memilih memejamkan ke dua matanya. Menikmati ciuman mereka.


Tangan yang lepas kini memeluk tubuh kokoh keras itu. Di sela ciuman mereka. Ke duanya sama-sama tersenyum lembut. Di iringi decakan.


***


"Karena dia seperti nya juga bergerak."


"Apakah rencana ingin merebut hatinya tidak jadi?"


"Bagaimana bisa, di saat kita sama-sama tau kalau kita tak sama. Dia tau aku bukan Lucas. Dan aku tau jika dia menyembunyikan Lucas. Lalu akankah berhasil? Jawaban sudah jelas. Aku tidak suka membuang waktu percuma," tutur Billi dengan pelan.


Rio mengangguk mengerti. Satu bulan ia menyelidiki kematian Lucas. Hingga membuahkan hasil. Dan yang membuat ia terkejut adalah fakta jika wanita itu terlibat dalam menyembunyikan Lucas. Hanya saja yang menjadi tanda tanya bagi mereka berdua adalah, kenapa Lucas tidak kembali ke keluarga Sandoro. Tidak kembali memimpin perusahaan Sandoro?


Teka-teki itulah yang belum terpecahkan oleh mereka berdua.


"Bukankah ini menarik Rio?" tanya Billi dengan senyum menyerigai.


"Ya. Tentu saja. Saat kita membuka satu pintu maka pintu lain juga akan ikut terbuka bukan?"


"Ya. Dan menarik lagi adalah saudaraku itu. Aku akan membuat dia kehilangan seluruh hartanya. Bahkan akan membuat wanita itu juga ikut menderita. Menurut mu bagaimana rasanya melihat saudara mu sendiri membuat keluarga mu menderita dan wanita yang kau cintai terluka?"


"Tentu saja hancur. Karena dia tidak sekuat dirimu."

__ADS_1


"Benar."


"Dea Amelia Wijayanto! Apakah menurutmu  dia bisa melawan semuanya?"


"Tidak akan mudah. Karena seluruh saham perusahaan akan jatuh padaku. Karena aku adalah anak tertua keluarga Sandoro. Di tambah aku memiliki pengalaman yang lebih dari Lucas. Lelaki itu akan mudah hancur," ucap Billi percaya diri.


"Benar juga. Buktinya dia bahkan tidak bisa memulihkan Perusahaan saat krisis kecil yang kita ciptakan," timpal Rio tersenyum menyeringai.


"Karena dia tak sehebat aku!"


***


Hembusan angin terasa menusuk. Wanita cantik terlihat pucat itu berdiri di atas gedung, kaki yang terlihat melepuh. Ia menunduk melihat banyaknya mobil yang hilir mudik di bawah sana. Air mata membanjiri pipinya.


"Kak Lucas! Aku akan menyusul mu dan anakku," ucapnya dengan deraian air mata.


Kelompak mata di tutup dengan rapat. Ia menaiki pembatas besi. Noda darah terlihat membasahi gaun putih yang terlihat kusam. Bella tidak kuat lagi bertahan di saat tidak ada satu orang yang ia cintai. Ia tidak ingin menjadi wanita penghibur Jepang. Kematian lebih baik, di belakang tubuh gadis cantik tersenyum mengejek.


"Mati lebih baik, huh!" ledeknya.


Bella tersenyum pedih."Ya. Aku akan meminta maaf pada Sasa nanti," ucapnya sebelum meloncat.


Sera hanya diam kala tubuh rapuh itu terjun bebas. Tangannya mengepal, hembusan napas kasar keluar begitu saja."Bahkan kematian mu, tidak bisa menembus nya. Aku tidak bisa memaafkanmu. Meski kau mati," ucap Sera dengan nada berat.


Di lain tempat manik mata tajam beradu dengan manik mata lembut. Lelaki di depannya terlihat menatap tak percaya lelaki yang duduk di depannya. Itu wajahnya?


"Siapa kau sebenarnya?" seru Lucas dengan nada menyelidiki.


"Aku?" tanya Billi balik,"Bukankah kau lebih tau siapa aku!" lanjutnya dengan nada remeh.


Lucas meneguk kasar air liurnya."Tak mungkin kau dia!" ucapnya dengan nada bergetar.


"Wah! Kau ingat aku ternyata," ucap Billi terkekeh.


"Kau pikir bagaimana aku bisa melupakanmu dan masa lalu itu," balas Lucas.


Billi terkekeh lagi."Kau adalah aktor yang hebat Lucas Sandoro! Kau dan ke dua orang tua kita. Sama saja, kau bersandiwara seolah lupa ingatan Huh?" tutur Billi dengan wajah mengejek.


Lucas bungkam. Lupa ingatan? Ya. Dia sempat melupakan semuanya bukan! Namun hanya beberapa bulan. Sebelum ia bertemu dengan Dea. Wanita itu mengembalikan ingatan nya dengan perlahan. Ia bersandiwara selama sepuluh bulan ini. Mengikuti permainan Dea. Meski harus kehilangan wajahnya. Harus melepas kan identitas nya.


Ia tau kesalahan nya begitu fatal pada Dea. Ia mampu menyelami puing-puing ingatan nya. Selama di Jepang, ia rela menjadi siapa saja untuk Dea. Namun ia tak tau jika kakaknya masih hidup.


"Kau marah!" seru Lucas pelan.


"Wah! Kau bertanya?" tanya Billi tak percaya,"Jika kau jadi aku kau tidak marah, brengsek! Aku hampir mati saat itu. Dan kalian menganggap aku sudah mati. Menyapu seluruh jejekku sampai bersih. Hingga seolah-olah tidak adanya aku di dunia ini. Betapa brengseknya kalian semua!" Teriak Billi murka ia berdiri dari posisi duduknya.


Lucas menunduk dalam. Ia tak berani mengangkat wajah."Maaf!" sesalnya.

__ADS_1


"Maafmu dan mereka basi! Kau atau aku. Kita harus mati. Salah satu dari kita harus mati, begitu lah yang terbaik bukan? Kau bisa lindungi keluarga mu itu. Ini sebagai hadiah pertambah umur kita dua bulan lagi adik kembaranku!" Tutur Billi sebelum melangkah keluar dari apartemen.


Lucas mengusap wajahnya kasar. Ia frustasi, sungguh.


__ADS_2