Momy? I'Am (Season 2)

Momy? I'Am (Season 2)
Chapter 12 (Season 2)


__ADS_3

12


.


.


.


.


Tangan kekar itu senantiasa di genggaman. Gadis cantik dengan wajah pusat itu terlihat letih. Lucas Sandoro, lelaki imut itu mengusap perlahan peluh yang meleleh di sudut dahi istri ke duanya. Lelaki itu mendapat telpon dari Maid nya jika istri ke duanya mengalami pendarahan. Membuat Lucas bergegas menuju Rumah Sakit. Dimana sang istri di larikan.


Beruntung janin yang ada di kandungan sang istri bisa di selamatkan. Karena penanganan yang sigap. Jika saja kurang cepat sudah pasti janin itu harus di keluarkan. Baik hidup maupun mati. Manik mata rubah itu tak terlihat. Ia terpejam kuat dengan napas yang teratur.


KLIK !


Pintu ruangan di buka dengan perlahan. Lucas memutar kepalanya ke belakang. Dengan sigap ia melepaskan genggaman tangan Bella. Wanita cantik bermata bulat itu masuk dengan wajah tanpa ekspresi.


"Dea!" seru Lucas pelan.


Dea berdiri tegap. Menatap wajah Lucas. Lalu beralih pada wajah Bella Melihat betapa pucat nya gadis itu. Lalu manik mata hitam legam itu turun ke bawah. Menatap perut yang masih membuncit. Ah! Selamat ternyata. Itulah yang ada di benak Dea.


Dea memangku tangan di depan dada. Dimana matanya menoleh ke arah Lucas. Menatap lelaki itu dengan ekspresi masih datar.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Dea dengan nada dingin.


"Dia dan bayinya baik-baik saja. Karena pertolongan yang cepat. Membuat ke duanya selamat," jawab Lucas.


Lelaki Sandoro itu mendekati sang istri. Hingga ia berdiri tepat di depan Dea


"Hem! Begitu ternyata," jawab Dea acuh tak acuh.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Lucas dengan tatapan penuh rindu.


Dea memutar malas ke dua manik matanya. Ia jengah dengan lelaki di depan nya ini."Seperti yang kau lihat, aku baik tuan Sandoro," balas Dea malas.


"Tidak bisakah kau dan anak-anak kembali ke rumah kita," pinta Lucas dengan nada memelas.


Kembali? Rumah kita? Ingin rasanya Dea terbahak mendengar penuturan Lucas. Bagaimana bisa ia kembali pada rumah yang tak lagi layak menjadi rumah. Tempat yang telah kotor. Janji setia yang di utarakan hanya janji palsu semata.

__ADS_1


"Aku. Tidak Sudi kembali ada rumah yang sudah kau nodai dengan itu, Kak! Bersyukurlah kau, karena aku tidak menggugat cerai dirimu di pengadilan. Dengan tuduhan perzinaan dan pengkhianatan. Hingga mukamu dan ****** itu akan terlihat di mana-mana," serang Dea dengan senyum sarkas.


Lucas membeku. Ya, dia tau itu semua adalah salahnya. Apa yang di katakan oleh Lucas memang benar. Semuanya karena nya. Namun wanita di depannya ini lupa. Celah apa yang ia perbuat hingga orang ketiga bisa masuk. Setidaknya itulah yang ada di otak Lucas.


Sejatinya lelaki adalah dia yang tak memberikan satu pun alasan untuk membenarkan perselingkuhan nya. Lelaki pecundang memiliki seribu satu alasan membenarkan tindakan bejat mereka.


"Kita bicarakan itu berdua Dea! Kau tak berhak menghakimi aku begitu saja tanpa tau alasannya," ujar Lucas mulai kesal.


Dea terkekeh pelan. Lalu menurunkan tangan yang sempat ia lipat di depan dada.


"Baik, kita dengar alasanmu Kak! Apa yang membuatmu selingkuh," balas Dea dengan nada tenang.


"Ketidak ada waktumu untuk ku. Apa kau tau saat aku lelah aku juga butuh sosok istri yang akan menghiburku. Namun saat aku pulang ke rumah. Kau juga terlihat lelah dan letih. Hingga aku tak bisa berkeluh kesah padamu. Setiap pagi kau akan sibuk dan pulang dengan keadaan letih seperti ku. Saat hari libur kau hanya punya waktu untuk anak-anak bukan untuk ku. Pernahkan kau tiga tahun ini menanyakan bagaimana keadaanku? Bagaimana keadaan kantor. Basa-basi menanyakan kebutuhan ku saat pulang kantor yang kadang lebih dahulu darimu. Kau hanya memberikan aku waktu tiga puluh menit di setiap harimu. Dan memberikan waktu lebih banyak untuk pekerjaan mu. Kadang aku merasa apakah aku lebih berarti dari pada pekerjaan mu?" ulas Lucas dengan nada berat.


Tiba-tiba saja hati Dea terhantam benda keras. Dia bungkam dengan apa yang Lucas katakan. Benar, semua juga benar. Dea sadari jika ia tak ada waktu untuk Lucas. Jarang memijat pundak suaminya saat Lucas pulang kerja. Mendengar kan curhat sang suami tentang masalah kantor. Berangkat paling cepat dan pulang paling akhir. Dan hanya bisa melihat sang suami sudah dalam dunia mimpi.


"Kau akan bertanya padaku bukan. Kenapa aku tidak mencegah mu bekerja, jika aku benar-benar tak ingin kau berkerja?" ucap Lucas yang seakan tau Dea akan bertanya seperti itu padanya.


Lucas tersenyum sendu. Sebelum kembali membuka mulutnya."Karena aku takut. Kau akan salah paham jika aku melarang mu berkerja. Sama seperti dulu, aku takut kau marah dan akan berubah Dea! Awalnya aku dan Bella hanya sebatas adik dan kakak. Karena ia mendengarkan apa yang aku keluhkan. Lama-lama semua nya berubah. Gadis itu memberikan seluruh perhatian nya. Mencurahkan cinta yang banyak padaku. Semuanya berlanjut lebih jauh. Awalnya aku mencoba menghentikan nya. Namun kau malah sering keluar kota. Tanpa bertanya dulu padaku apakah aku memperbolehkan nya. Kau seakan tak lagi menghargai aku sebagai suamimu. Lalu kau bertanya, kenapa padaku setelah apa yang kau lakukan tak kau sadari?" papar Lucas menyudutkan Dea.


Tanpa Dea sadari butir-butir bening jatuh mengalir. Ia merasa dadanya nyeri. Orang ke-tiga hadir juga karena dirinya. Memberikan celah kecil untuk dia hadir di antara mereka. Dan Dea menyalahkan semua nya pada Lucas. Lelaki itu juga meneteskan air mata. Semua nya sudah terlanjur terjadi. Nasi sudah bukan lagi menjadi bubur. Namun sudah menjadi arang. Tak ada yang bisa di makan.


Berulang-ulang kali Dea menghembus kan napas dari mulut. Mengontrol sesak yang ia dapatkan.


Wanita cantik itu menghapus air mata yang menggenangi pipinya dengan kasar. Lalu membalikkan tubuhnya menuju pintu keluar. Lucas Sandoro. Lelaki itu mematung dalam diam. Perkataan akhir Dea mampu memukulnya telak. Ia bersama Bella memenuhi napsu dan kemarahan nya. Lalu apa? Bagaimana? Tak ada yang bisa di mulai ataupun di akhiri? Karena ia sudah terjebak dalam labirin kebingungan.


***


Mata wanita cantik itu sembab. Ia masuk ke dalam ruangan khusus dengan baju khusus. Tangan nya terulur masuk ke dalam inkubator.


Bayi merah dengan begitu banyak kabel dan selang penyokong kehidupan terlihat. Kini anaknya terlihat di balut kasa. Air matanya kembali membanjiri pipi tirusnya. Putranya bernapas sangat pelan.


Matanya tertutup rapat. Dengan detak jantung yang cepat. Kaki kiri sang putra yang berumur enam bulan itu kemungkinan besar cacat. Masih beruntung bisa selamat di dalam tragedi yang memilukan. Dulu, ia kehilangan janinnya karena kehabisan darah. Beruntung bayinya di angkat tepat waktu. Hingga masih bernapas dengan bantuan alat medis.


"Hai! Jagoan!" sapa Dea dengan suara sangau,"Mungkin Jagoan akan di sini beberapa bulan ke depan. Mama janji! Jagoan akan bersama Mama dan Kakak-kakak mu setelah enam bulan ke depan. Setelah kau bisa lebih baik lagi sayang," lanjut Dea.


Bayi itu hanya sebesar telapak tangannya. Begitu mungil dan rapuh. Tak ada refleksi yang di berikan oleh bayi mungil itu kala jari jemari Dea mengusap pipi kanannya dengan gerakan seringan dan selembut kapas.


Dea menangis dalam diam. Sedangkan lelaki berambut ikal yang berada di luar ruangan hanya diam. Menatap beberapa tenaga medis yang berlalu lalang. Meskipun anak itu selamat, sayang sekali ia akan menjadi cacat. Candra Winata merasa bersalah. Karena tidak bisa menjaga Dea dan bayi itu dengan baik.

__ADS_1


Sedangkan di lain tempat. Mbok Siti menghembuskan napas kasar. Ia kesal! Kenapa wanita ****** itu tidak keguguran. Meskipun Lucas dan Bella tidak menaruh curiga padanya. Karena hasil tes menunjukkan tidak ada hal aneh dalam darah Bella.


Beruntung, wanita tua itu mendapat ramuan penggugur kandung yang tak berbau dan tak bisa di deteksi. Hingga ia bisa terhindar dari kecurigaan.


Wajah tua dengan seribu kerutan itu menatap foto besar Dea. Wanita yang menjadi Nyonya pertama nya itu tersenyum bahagia bersama putra-putri dan juga Lucas.


"Maaf Nyonya Dea! Aku gagal, andai saja ia lambat di tolong sudah pasti nyawanya dan anaknya melayang," ujar Mbok Siti dengan suara pelan sangat pelan.


Wanita tua itu menatap wajah cantik itu. Ia heran, apa yang kurang dari Dea. Hingga tuannya kembali berselingkuh dan menikah dengan gadis rubah itu. Dea begitu cantik dan sempurna di mata Siti. Nyonya besarnya itu tak ada satu pun cacat di matanya.


Jasa Dea begitu besar padanya. Berkat Dea, putra lelaki nya bisa bersekolah di luar negeri. Dan juga putri ke duanya sudah sembuh dari penyakit mematikan. Kebaikan Dea tak akan bisa ia balas dengan mudah. Karena itu ia akan melakukan apapun untuk Dea. Termasuk menjadi seorang Pembunuh.


Bukankah, hama harus di basmi sampai tuntas. Agar! Tanaman bisa berbuah segar dan manis untuk di petik. Ia tak akan membiarkan Dea merasakan sakit nya pengkhianat dan juga rasa malu di khalayak umum. Karena Dea tak berhak mendapatkan hal seperti itu.


"Tunggu dan bersabar lah Nyonya. Aku akan membantu Nyonya meraih kebahagiaan lagi. Meski harus beresiko tinggi aku akan tetap melakukan nya," ujarnya dengan wajah penuh keyakinan.


***


"Apa?" tanya Dea yang melihat bagaimana cara Chandra menatapnya.


Lelaki yang duduk di tangga itu terlihat kesal. Dea, wanita itu terlihat pura-pura tak tau kenapa lelaki itu kesal.


"Kau masih bertanya Dea?" ujar Chandra tak percaya.


Dea mengulum senyum nya. Wanita cantik itu tau kenapa lelaki itu kesal. Bagaimana tidak? Dea membuat nya berlari ke sana kemari hanya untuk bisa mendapatkan tiket konser boyband.


"Ya ya ya! Aku tau aku salah. Tapi kau tau bukan jika mereka adalah kesukaan Jun!" ujar Dea mencolek-colek pipi Chandra.


Ia bahkan menusuk-nusuk lesung pipi Chandra. Membuat, agar kelak itu bisa tersenyum lagi. Namun Chandra bertahan pada kekesalannya. Gadis-gadis remaja dan beberapa lainnya begitu membuat ia marah. Menanyainya dimana ia tinggal, berapa nomor telepon, ID Line dan masih banyak lagi. Belum lagi mengantri di belakang banyak orang yang bisa di bilang ratusan dan mungkin ribuan. Seluruh isinya adalah wanita. Hanya dia yang pria.


"Aku akan mengabulkan apapun permintaan Kakak! Jika tak kesal lagi," bujuk Dea.


Akhirnya! Mata bulat itu berbinar. Sohyun terkekeh melihat bagaimana lucunya seorang Chandra Winata.


"Benarkah?" tanya Chandra antusias.


Dea menarik tangannya dari pipi Chandra dan mengangguk kan kepalanya.


"Eh!" seru Dea kala tiba-tiba saja Chandra menarik kembali tangannya yang sempat ia gunakan untuk mencolek pipi nya.

__ADS_1


"Berkencanlah denganku," ujar Chandra dengan suara serius.


Ke dua mata Dea membulat semakin besar. Mendengar permintaan Chandra. Berkencan dengan nya? Apakah Dea tak salah dengar.


__ADS_2