Momy? I'Am (Season 2)

Momy? I'Am (Season 2)
Chapter 20 (Season 2)


__ADS_3

"Maafkan segala yang aku lakukan. Maaf juga karena aku harus meninggalkan mu. Satu hal yang perlu kau tau. Aku sangat mencintaimu. Sangat cinta!"


~Lucas Sandoro~


.


.


.


.


.


Ruangan rumah duka di banjiri oleh pelayat. Tangis pecah mengisi kekosongan di hati setiap orang.Santi, Ibu dari Lucas Sandoro bahkan tak kuasa lagi menahan diri atas kehilangan. Di larikan di rumah sakit.


Mutia dan Jackson memberikan hormat untuk yang terakhir kalinya. Sangat lama Mutia menatap foto Lucas yang di panjang. Lalu berlari pada Dea. Adik sepupu nya terlihat duduk dengan pandangan mata kosong. Sedangkan Bintang dan Jun ke duanya terlihat sama.


"Kuatlah," ujar Mutia lirih.


Dea mendongak. Menatap Kakak sepupu nya. Bagaimana bisa kuat? Jika yang namanya kehilangan.


Di luar pintu masuk. Seorang gadis dengan pakaian rumah sakit terlihat menggila.


"Berikan aku jalan!" Teriaknya lantang dengan tangan mendorong pihak keamanan.


"Maaf Nona! Anda tidak bisa masuk. Hanya pihak keluarga yang bisa masuk ke dalam," balas salah satu dari lelaki bertubuh besar yang menghadang jalan gadis yang terlihat kacau itu.


"Yaks! Kau tidak tau siapa aku huh! Aku Chou Bella. Istri ke dua dari Lucas Sandoro!" teriaknya lantang membuat orang-orang yang ada di dalam berlari keluar.


Para palayat keluar dari dalam melihat bagaimana rupa dari istri ke dua lelaki yang sudah tidak ada itu.


"Wah! Tidak tau malu ya. Bagaimana bisa dia datang ke sini!"


"Begitu lah seorang ****** memang rendahan."


"Tapi bukankah Tuan Lucas sudah menceraikan nya?"


"Panggil Nyonya Sandoro. Agar bisa memberikan dia pelajaran!"


Begitu lah bisik-bisik para pelayat. Bella masih beradu argumen dengan pihak keamanan. Mendengar suara gaduh. Dea dan keluarga nya keluar melihat apa yang membuat rumah duka begitu berisik.


"Kakak Dea!" seru Bella dengan wajah kuyu mencoba mencari simpati Dea kala melihat wajah istri pertama Lucas.


Ani menatap geram gadis yang terlihat aneh itu. Sedangkan Mutia membulat kan ke dua matanya. Bukankah gadis itu berada di Rumah Sakit Jiwa. Lalu bagaimana bisa dia datang ke rumah duka? Itulah yang ada di benak Mutia. Wanita cantik itu mundur beberapa langkah guna menghubungi seseorang.


Dea maju ke depan. Memberikan instruksi pada pihak keamanan untuk mundur. Mereka mundur, Dea berdiri dengan angkuh. Bella langsung bersujud di kaki Dea. Ia menangis keras.


"Kak Dea! Izinkan aku menatap Kak Lucas untuk terakhir kalinya." Ujar Bella mengiba menyentuh telapak kaki Dea.


Dea hanya diam. Wanita bermata bulat itu tidak bergeming."Kakak!" panggil Dea dengan suara bergetar.


Orang-orang yang menyaksikan terlihat begitu tertarik dengan kelanjutan apa yang akan Dea lakukan.


"Berdiri!" titah Dea dengan nada dingin.

__ADS_1


Bella langsung berdiri dengan hati senang. Karena Dea pasti akan mengabulkan permintaan nya. Ia ingin melihat lelaki yang ia cintai untuk terakhir kalinya."t


terimakasih Ka—"


PLAK !


PLAK !


Bella membeku. Kala ia menerima dua tamparan bolak balik di pipinya. Rasanya memanas dan sakit. Orang-orang terbelalak melihat bagaimana Dea beraksi. Meski terkenal penyabar dan begitu lembut. Ada sifat ekstrim yang Dea Amelia Wijayanto sembunyikan.


"Kakak kenapa—"


"Kenapa? Huh!" teriak Dea dengan suara mengelar,"Jika saja kau tidak masuk ke dalam rumah tangga kami. Tidak menggoda suamiku. Semua nya tidak akan seperti ini. Aku dan anak-anak ku mungkin tidak seperti saat ini. Kau ******! Akan aku beri kau pelajaran. Persetan dengan keanggunan!" Teriak Dea langsung menjambak rambut Bella.


Orang-orang heboh. Namun tidak ada yang menghentikan nya. Mereka hanya memilih menjadi penonton yang baik saja. Melihat bagaimana Dea menyalurkan emosi yang memuncak. Bella terpekik seiring bagaimana beringasnya Dea menjambak dan mencakar Bella.


"Apa kau tidak akan menghentikan Dea?" tanya Jackson pada sang istri.


"Buat apa? Wanita ****** itu lebih dari kata pantas menerima nya. Lagi pula sebentar lagi team Rumah Sakit jiwa akan sampai. Jadi kita biarkan Dea melampiaskan amarahnya," seru Mutia.


Bintang dan Jun hanya diam. Menatap bagaimana kegilaan sang Ibu. Yang begitu menakutkan.


***


Hujan lebat bersama badai. Peluh mengalir deras di tubuh Dea. Wanita cantik itu terlihat menggelengkan kepalanya. Menolak apa yang terjadi. Air mata mengalir begitu deras di ke dua sudut matanya.


"Tidak!" Serunya langsung terduduk.


Napas Dea memburu. Ia terlihat menyapu segitar. Dea berharap ia hanya mimpi saja. Berharap apa yang dia alami adalah mimpi. Kehilangan itu bukanlah kenyataan nya. Namun sayang, kamar yang ia tiduri saat ini bukanlah kamarnya dan Lucas Melainkan kamar di rumah Paman nya.


Budi dan Ani memaksa Dea kembali ke rumah keluarga Wijayanto. Agar wanita cantik itu bisa beristirahat. Dea menekuk kakinya. Membenamkan wajahnya di paha. Menangis keras, beruntung hujan dan badai di luar menyamar kan suara tangisnya.


Puas menangis, Dea menatap map merah yang di berikan oleh Chandra. Sehari sebelum Lucas di operasi Dea di paksa menandatangani surat perceraian. Dimana Lucas meminta hal itu sebagai permintaan terakhir. Ia membubuhi tanda tangan dengan air mata berlinang.


"Haruskah aku dan aku berakhir seperti ini Kak?" tanya Dea entah pada siapa.


Kamar mewah itu temaram. Hanya di temani oleh lampu tidur saja.


Flashback on


"Kak Lucas! Suka gadis yang seperti apa?" tanya Dea kecil.


"Aku suka gadis yang dewasa," jawab Lucas remaja sambil membersihkan luka jatuh Dea.


"Dewasa seperti Mamaku?" tanya Dea ingin tau.


Lucas teridiam sejenak. Gadis yang baru sepuluh menit melamarnya di depan ke dua Ibu mereka itu begitu cerewet dan berani. Apa lagi ia mengatakan jika Lucas tampan bukan imut. Ia baru pertama kalinya mendengarkan perkataan itu. Karena biasanya para gadis akan mengatakan Lucas imut.


Dan Lucas Sandoro tidak suka itu.


"Mungkin!" jawab Lucas lembut.


"Kalau begitu nanti setelah besar. Aku akan menjadi wanita yang dewasa dan elegan. Hingga Kakak hanya akan melihatku. Dan benar-benar menjadikan aku sebagai Istri. Aku ingin menjadi Nyonya Sandoro. Dan menjadi Ibu dari anak-anakmu," papar Dea dengan penuh semangat akan impian nya.


"Apa kau sebegitu suka dengan ku?" Tanya Lucas sebelum meminiup luka di tempurung kaki Dea.

__ADS_1


"Bukan!" jawab Dea membuat kegiatan Lucas terhenti. Anak remaja itu kembali meneggadah melihat wajah cantik anak baru berusia sepuluh tahun itu dengan aneh.


"Aku bukan menyukai Kakak! Tapi aku mencintaimu Kakak. Sangat mencintai mu," lanjut Dea mampu membuat Lucas merona.


Anak gadis kecil ini begitu tau cara membuat ia merona. Meski umur baru sepuluh tahun. Namun postur tubuh Dea seperti anak yang duduk di bangku sekolah menengah pertama saja. Karena tingginya yang sebahu Lucas yang notabene nya sudah di bangku pertama di sekolah menengah atas.


"Kau membuat aku malu," ucap Lucas dengan suara yang aneh.


Dea tersenyum lebar. Ia suka melihat bagaimana salah tingkah nya Lucas Sandoro.


CUPS!


Lucas membeku mendapatkan kecupan mendadak dari Sohyun. Anak gadis cantik itu berdiri dari duduknya."Itu hadiah karena Kakak sudah mengobati kakiku," ujar Dea dengan menyeret kakinya Dea keluar dari kamar Lucas.


Lelaki imut itu menyentuh pipi kanannya yang di kecup. Membuat ia memerah seperti kepiting rebus.


Flashback off


"Andaikan kita tidak terpisah. Andaikan saat itu tidak terjadi pembunuhan. Mungkin kita akan bersama untuk pertama dan selama-lamanya. Karena aku dan kau saling mencintai," ujar Dea di sela tangisnya.


****


1 Tahun Kemudian


"Mama di mana kaos kakiku?" teriakan Jun menggelegar di rumah baru mereka.


Dea yang memberikan makan Jino yang terlihat semakin gemuk saja di umur satu tahun. Beruntung perawatan yang tepat dan mahal mampu membuat Jino Sandoro, kembali bisa tubuh besar. Dan juga kaki yang harusnya tak mampu berjalan bisa berjalan dengan baik. Meski baru satu dua langkah.


"Ada di lemari nomor dua paling ujung!" teriak Dea keras.


"Terimakasih Mama! Aku berangkat dulu!" teriak Jun yang sudah langsung keluar rumah kala Mobil jemputan nya sampai.


"Anak itu selalu saja seperti itu," ujar Dea kesal di sela menyuapi si bungsu.


"Nyonya sudah saatnya bersiap-siap untuk ke kantor. Saya akan mengurusi tuan muda Jin. Sebelum Nyonya besar datang menjemput nya," ujar Mbok Siti mengambil alih mangkuk makan Jino.


"Baiklah. Mohon  bantuan nya lagi Mbok!" Ujar Dea dengan senyum cerah.


"Tentu Nyonya," jawab Siti.


Dea mengecup gemas pipi Jino. Sebelum melangkah menuju kamarnya. Menukar baju rumah dengan baju kantor. Wanita cantik itu semakin cantik saja. Meski umur nya bisa di hitung hampir memasuki angka empat.


"Ah! Yang ini saja. Untuk apa yang terlalu bagus. Aku akan ke kantor bukan mencari Appa baru untuk anak-anak ku," ujar Dea tersenyum menatap seluet  tubuh nya di cermin.


Ia melangkah meninggalkan kamar. Sebelum meninggal kan rumah ia akan mengecup habis sang putra. Lalu melangkah meninggalkan rumah. Dengan mobil mewah ia mengemudi dengan di temani musik ceria.


Sudah menjadi rutinitas nya selama setahun di kantor. Menjadi Presdir. Mengantikan Posisi Lucas yang mana nanti akan di serahkan pada Jun. Atau Bintang, jika anak-anak itu mau. Lucas adalah anak tunggal yang tidak mempunyai saudara. Meski sudah menjadi mantan istri namun. Harta Lucas seluruhnya di serahkan pada Dea.


Lampu merah menghentikan beberapa mobil. Dea mengikuti lagu yang di alunkan oleh radio mobil. Kepalanya ikut mengaku pelan. Dea menurunkan kaca mobilnya. Menghirup aroma kota Jakarta yang khas. Ia menatap barisan mobil yang sejajar dengan dirinya.


Namun matanya membesar melihat seorang lelaki yang terlihat begitu maskulin mengendarai mobil sport merah metalik keluaran terbaru.


TIIIIINNNNN!!!!!!!!!


Klakson mobil di belakang nya membuat Dea terperanjat. Ia melakukan mobilnya dengan kecepatan lambat sebelum menepikan nya.

__ADS_1


"Kenapa dia ada di sini?" serunya dengan wajah tak tenang.


Dea terlihat gelisah. Sebelum ia menekan beberapa tombol guna menghubungi seseorang di Negera  seberang.


__ADS_2