Momy? I'Am (Season 2)

Momy? I'Am (Season 2)
Chapter 13 (Season 2)


__ADS_3

13


.


.


.


.


"Berkencan lah denganku," ujar Chandra dengan suara serius.


Ke dua mata Dea membulat semakin besar. Mendengar permintaan Chandra. Berkencan dengan nya? Apakah Dea tak salah dengar.


"Apa?" tanya Dea dengan wajah aneh. Ia mencoba mendengarkan dengan seksama apa yang di minta oleh lelaki di depannya ini.


Chandra Winata mengulum senyum nya. Lalu melepaskan tangan Dea yang sempat ia genggam. Tangan kokoh itu mengusap puncak kepala Dea. Tak mengulang kembali permintaan nya.


"Kak Chan!" seru Dea merengek meminta lelaki itu mengulang kembali apa yang dia katakan.


"Tidak. Aku hanya ingin piknik bersamamu dan anak-anak sebagai imbalannya," jawab Chandra.


"Ah! Begitu. Baiklah, akhir Minggu ini mari kita piknik bersama. Anak-anak pasti merasa senang karena sudah lama tidak melakukan piknik bersama," jawab Dea dengan nada ceria.


Chandra ikut tersenyum. "Ayo! Kita pulang." Ujar Chandra menurun kan tangan nya yang masih di kepala Dea. Dan berdiri dari posisi duduknya.


Dea mengangguk. Ia mengikuti langkah kaki lebar Chandra. Sesekali Dea berteriak karena langkah kaki Chandra terlalu lebar dan cepat untuk dia yang mungil. Dengan langkah tak lebar.


"Kak! Tunggu!" teriak Dea jauh di belakang tubuh Chandra.


Lelaki Winata itu membalikan tubuhnya dan berhenti."Cepat lah Dea! Kau terlalu lelet," ledek Chandra mendapatkan denggusan dari Dea.


Wanita cantik itu berlari mengejar ketertinggalan nya. Chandra membalikan tubuhnya ke depan. Membelakangi Dea yang masih berlari. Ia mengulum senyum nya."Untung saja! Bagaimana bisa aku keceplosan. Dia belum bisa melupakan Lucas. Aku harus pelan-pelan. Chandra Winata. Mari pelan-pelan saja," ujarnya pada diri sendiri. Memperingatkan untuk dirinya lebih bersabar.


Kembalikan perasaan seseorang tak lah mudah. Apa lagi seorang wanita. Mereka mahkluk yang unik. Bagaimana tidak? Meski sudah di sakiti berkali-kali. Mereka akan tetap memaafkan. Meski di khianati berkali-kali akan kembali mencoba percaya. Karena wanita terlalu memakai hati. Bukan otak! Itulah kenapa yang sakit adalah wanita. Kenapa yang selalu terluka dan hancur adalah wanita.


***


Wajah yang cantik di bingkai dengan kaca mata tebal. Yang tentunya tanpa lensa. Ia menatap seluetnya di depan cermin besar. Gadis cantik lainnya berdiri di samping wanita cantik itu. Dengan senyum lembut.


"Bagaimana Nona? Apakah anda suka?" tanyanya dengan lembut.


"Ya. Saya sangat suka dengan hasilnya," jawabnya dengan ceria.


"Semoga saja hari pertama anda lancar ya Nona!" ujar penataan rias itu dengan penuh semangat pada klien barunya itu.


"Semoga saja. Terimakasih Nona Han!" ujar wanita tersebut lalu membungkuk sebelum berlalu di hadapan sang perias.


Di lain tempat. Lelaki Sandoro itu memijat puncak hidung pelan. Sungguh pusing dengan data-data yang ada. Investor yang masih ia kejar belum memberikan kabar apapun. Masalah yang ia hadapi cukup pelik saat ini. Masalah keluarga dan juga Perusahaan yang mulai mengalami penurunan.


Jari jemari kokoh itu menekan tombol panggil."Apakah sekretaris barunya sudah datang?" tanya Lucas dengan nada berat.


"Sudah Presdir. Apakah dia langsung masuk saja?" jawab sang resepsionis.


"Suruh dia masuk!" Jawab Lucas lalu memutuskan sambungan.


Tiga ketukan terdengar sebelum pintu kayu itu terbuka. Terlihat gadis cantik dengan pakaian seksi seperti sekretaris lainya masuk dengan senyum yang ia tebar.


"Selamat pagi Presdir! Saya Sera. Yang mulai hari ini akan membantu Presdir." Ujarnya memperkenalkan diri dengan lembut dan menunduk.


"Oh!" seru Lucas datar,"Tolong kau atur jadwal meeting dengan Perusahaan Yundai Company secepatnya. Kau sudah taukan di mana ruangan mu?" tanya Lucas dengan mada yang masih sama.

__ADS_1


"Sudah Presdir. Kalau begitu saya mohon pamit dulu, untuk menyusun jadwalnya," ujarnya dengan lembut. Meski Bos barunya terdengar datar. Gadis itu sama sekali tidak tersinggung.


Ia membungkuk sebelum melangkah keluar dari ruangan Lucas. Menutup perlahan pintu kayu itu. Kepalanya menoleh kebelakang. Menatap pintu kayu mahal itu.


"Kita lihat. Apakah kau akan tergoda juga padaku seperti kau tergoda pada wanita rubah itu?" ujarnya dengan senyum ganjil.


Sera meluruskan kembali posisi kepalanya. Menghadap ke depan dengan senyum sinis ia melangkah menuju meja kerjanya. Yang tepat berada di depan pintu masuk ruangan Lucas. Ia mendesah kesal melihat beberapa tumpukan dokumen. Baru saja masuk sudah mendapatkan banyak pekerjaan.


Ia tak habis pikir kenapa harus sebanyak ini dokumen yang harus ia kerjakan. Apakah selama ini Lucas tak fokus bekerja hingga bisa sebanyak ini dokumen. Baik dokumen lama dan dokumen baru yang bertebaran.


Kembali ke dalam ruangan. Lucas Sandoro mendesah kasar. Menatap figuran yang ada di atas meja kerjanya. Di sana ia tertawa lepas. Dengan wajah bahagia tanpa beban. Dimana ia memeluk Dea Amelia Wijayanto. Istrinya yang berhasil memancing ikan. Karena Dea tak kuat, ia membantunya dari belakang. Foto yang di potret oleh Bintang.


Tiga tahun yang lalu begitu indah. Terlihat bagaimana Jun dan Bintang berlumur cream kue ulang tahun Dea. Tanpa sadar sudut bibirnya melengkung ke atas. Ia merasa ada kebahagiaan yang tak kasat mata. Kebahagiaan yang sudah ia nodai. Dea nya tak lagi sama, kehadiran Park Chandra kehidupan nya dan Dea membuat jarak semakin terbentang luas.


Jarak yang di ciptakan olehnya sendiri. Senyum tulus itu patah kala mengingat bagaimana ekspresi wajah Dea. Wanita itu menangis dengan bibir bergetar. Ia telah menyakiti wanita yang ia cintai. Wanita yang mendampingi nya dengan tulus. Wanita yang setia menggenggam tangannya apa pun yang terjadi. Namun ia lah yang melepaskan genggaman itu bukan?


Jari tangan Lucas mengelus kaca foto. Yang mana Dea tertawa ceria. Begitu cantik dan cerah. Ia merenggut kebahagiaan keluarga nya sendiri. Andai saja, napsu tak lebih buas. Maka tidak akan ada kehancuran.


"M—maafkan aku!" ujar Lucas dengan bibir bergetar.


Air mata meleleh begitu saja. Ia merindukan sentuhan Dea. Suara lembut Dea kala pagi menyapa. Ketegasan Dea kepada anak-anak nya. Ibu jarinya masih saja membelai foto yang hanya menjadi masa lalu baginya dan Dea. Bintang Sandoro dan Jun Sandoro seperti nya tidak akan Sudi lagi menatap wajahnya.


Sakit! Sungguh sakit. Bagaimana mungkin sesakit ini. Bagaimana bisa sesak ini. Meski Dea tak menggunggat cerianya. Namun wanita itu sama saja menusuknya perlahan dari dalam. Menyakiti nya dengan tetap berstatus namun hidup dengan lelaki lain. Lucas benci mengakui jika ia cemburu pada Chandra. Bagaimana pun juga Chandra Winata adalah sahabat nya. Sahabat yang menaruh hati pada istrinya. Bahkan saat mereka berada di bangku sekolah menengah atas. Dengan terangan-terangan Chandra terlihat menyukai Dea. Sayangnya Dea tak terlalu peka pada rasa lelaki caplang itu.


Lucas menyesal menungging Chandra kembali ke Indonesia. Ia pikir Chandra akan membantu nya. Tapi sayang sekali Chandra malah menjadi musuhnya sekarang. Seperti nya lelaki itu kembali menginginkan Dea.


"Aku harus bagaimana untuk bisa memperbaiki semuanya Dea?" serunya dengan lirih.


Meski air mata terus meluncur. Nyeri di ulu hatinya membuat ia menyandarkan tubuhnya di kursi kekuasaan nya. Menatap bingkai foto yang berderet dengan mata memerah. Tangan kanannya meremas dada kirinya. Ada rasa sakit menyerang. Membuat ia mengerang.


"Akh!!! Aassshh.." Lucas Sandoro mengerang. Mencoba berdiri namun tubuh tak berkerjasama dengan dirinya.


BRUK !


Bunyi beda jatuh dengan keras menghantam lantai. Membuat gadis cantik itu menghentikan jari jemari yang menari-nari di atas keyboard. Ia berdiri dari posisi duduknya. Lalu melangkah menuju ruangan sang Bos. Tiga kali mengetuk pintu tak ada sahutan. Mau tak mau gadis cantik itu membuka pintu ruangan Lucas dengan perlahan.


"Astaga! Presidir!" serunya syok melihat tubuh Lucas pingsan di lantai dingin.


Gadis itu berlari mendekati Lucas.


***


"Tuan Lucas terlalu stres dan letih!"


"Usahakan untuk tidak berkerja berat dengan tekanan yang berat."


"Kami akan melakukan tes darah untuk memantau perkembangan dan apa yang terjadi."


Gadis itu menatap lama wajah pucat lelaki yang sudah menjadi Bosnya itu. Baru saja di hari pertama ia malah mendapat banyak hal yang mengesalkan. Namun jujur, ia merasa kasihan melihat betapa pucat nya wajah Presdirnya itu, di tambah bibirnya yang pecah-pecah. Selang infus menjadi penopang asupan makan.


"Harusnya Kau kuat, agar aku bisa membalas dendamku padamu dan gadis licik itu tuan Sandoro!" bisik nya dengan nada lembut namun tajam.


Gadis itu menjauhkan wajahnya kala mendengar gesekan pintu ruangan perawatan. Ia membungkuk sedikit. Menyambut Nyonya besar ke duanya.


***


Tangan Chandra yang nakal beberapa kali mendapat tatapan tajam dari Jun. Ia meminta Chandra mengajarinya mengerjakan PR tapi lelaki itu malah mengusili nya. Bukan membantunya.


"Paman!" panggil Jun dengan wajah tak suka.


Chandra mengangkat ke dua tangan nya ke atas. Seakan memberikan kode ia menyerah mengusili Jun.

__ADS_1


"Paman!" panggil Jun lagi. Membuat Chandra menoleh ke arahnya.


"Ya ya ya! Paman tidak menganggu mu lagi kok. Lihat tangan paman di pangkuan paman," Portes Chandra.


"Ya aku tau. Aku hanya ingin memanggilmu, bukan menuduh mu!" kesal Jun.


Chandra terkekeh pelan. Ah! Jika melihat seperti ini. Jun memang terlihat seperti Lucas. Lelaki itu juga seperti itu saat ia usili. Sejak kecil bersahabat membuat Chandra sangat tau ekspresi yang seperti apa yang akan di keluarkan oleh Lucas. Baik saat sedang kesal, marah, sedih dan bahkan senang. Sangat mirip dengan ekspresi Jun saat ini.


"Hem! Ada apa?" tanya Chandra mengusap puncak kepala anak lelaki itu.


"Apa paman menyukai Mamaku?" tanya Jun membuat pergerakan tangan Chandra terhenti seketika.


Dia bungkam. Bahkan ia terlihat sedikit aneh di mata anak kecil itu. Perpaduan antara malu dan tertangkap basah tengah mencuri makanan tetangga.


"Ah! Begitu ternya. Jika benar Paman mencintai Mamaku. Kenapa tidak Paman saja yang menikahi Mamaku dulu kenapa harus Papaku?" tanya Jun membuat Chandra tersenyum kecut.


Anak ini tidak tau bagaimana perjalan panjang mereka. Hingga Lucas yang menjadi pemenangnya.


"Entah lah," jawab Chandra dengan nada berat.


Lelaki itu menghela napas letih. Jika tau Lucas sebejad ini maka sudah pasti ia akan menggagalkan pernikahan perjodohan itu dulu. Tapi apa boleh buat waktu tak bisa di putar kebelakang. Ia harus menerima apa yang telah Tuhan takdir kan.


"Apa karena Papaku lebih mempesona dari Paman?" ledek Jun membuat manik mata Chandra membulat sempurna.


Like Father like Son! Begitu lah yang terjadi. Percaya diri Lucas pindah pada Jun. Membuat Chandra mendengus.


"Mana ada! Paman lebih tampan dari Papamu. Paman tinggi, putih, berotot, suara yang seksi dan juga memiliki lesung pipi yang di incar semua orang," papar Chandra dengan bangga nya.


Jun terkekeh mendengar bagaimana Chandra mempromosikan dirinya sendiri."Tetap saja Paman kalah!" ledek Jun.


Chandra mendengus sebal."Dasar kau!" cibir Chandra.


"Kalau Paman marah. Ayo buktikan jika Paman lebih hebat dan tampan dari Papaku," ujar Jun.


"Caranya?"


"Rebut Mamaku!" pukulan multkak dari Jun membuat hati Chandra melambung tinggi.


Anak Dea memberikan restu dan kode. Chandra merasa terpacu."Apakah kau mau menjadikan aku sebagai Papamu?" tanya Chandra memastikan.


"Tentu saja, Daddy!" panggil Jun membuat Chandra memerah.


Jun tertawa lantang. Bagaimana bisa Chandra terlihat seperti kepiting rebus hanya karena di panggil Daddy?


TIN !


TIN !


TIN !


TRING~~~


Pintu apartemen itu terbuka. Dea masuk dengan menenteng tas belanjaan. Chandra langsung berdiri menghampiri Dea. Membantu wanita itu membawa belanjaan Dea ke dapur.


"Kenapa tak mengajakku berbelanja?" tanya Chandra melihat Dea kepayahan.


Dea tersenyum. Owh! Sangat cantik. Meski peluh membanjiri pelipis dan tubuh wanita itu. Ia terlihat masih saja menawan dan menggoda. Chandra mendekati Dea mengusap peluh di pelipis Dea. Mengikis jarak antara dirinya dan wanita yang ia cintai itu.


Jarak ke duanya sangat dekat hingga dapat merasakan hembusan napas masing-masing. Bau mawar bercampur dengan bau buah strawberry. Menyeruak di Indra penciuman Chandra. Jantung nya berlomba-lomba berdetak. Ia yang melakukan kontak fisik dia sendiri yang merasa deg deg gan.


‌Chandra menunduk. Memiringkan wajahnya mendekat kan wajah nya sendiri dengan Dea. Wanita cantik itu tercekat dengan jarak dan apa yang Chanda lakukan. Hanya tiga CM lagi benda lunak itu mendarat di bibir ranum Dea.

__ADS_1


__ADS_2