
.
.
.
.
Deru napas terlihat lebih cepat dari pada normal. Lelaki imut itu terbaring harus dengan bantuan oksigen. Di luar ruangan rawat orang-orang terlihat menunggu dengan cemas.
"Kemana saja Jun dan Papa tadi?" tanya Santi dengan lembut pada sang cucu.
Seluruh mata dan telinga di pasangan dengan baik oleh orang-orang yang ada di sana. Jun menunduk dalam, di tengah pemotretan Ayahnya pingsan. Itu sungguh membuat anak itu khawatir.
"Papa meminta untuk melakukan Photoshop. Dengan berbagai tema. Kata Papa, itu akan menjadi kenangan saat Papa tidak menemaniku," jawab Jun dengan lirih.
Mata bengkak itu kembali basah. Ia tau apa maksud nya. Santi berdiri dari duduknya di bantu oleh sang suami. Ke duanya memilih meninggalkan ruangan tunggu. Sedangkan Chandra, Dea, Mutia dan Jackson masih berada di sana bersama Jun.
"Pemotretan tema apa saja tadi Jun lakukan bersama Papa?" tanya Mutia yang kini mengantikan posisi Santi. Ia duduk di samping Jun. Mencoba mencairkan suasana yang sendu.
Wajah anak lelaki itu terangkat. Melihat Bibinya dengan pandangan lembut. Anak berumur sepuluh tahun begitu mirip dengan Lucas."Tema wisuda, taman bermain dan terakhir teman luar angkasa. Karena Papa tiba-tiba mengerang kesakitan dan pingsan," jelas Jun.
"Ah. Begitu, apakah Jun senang bisa melakukan pemotretan seperti itu dengan Papa?" tanya Mutia lagi.
Kepala itu menggeleng membuat Mutia menyeringit. Kenapa keponakan nya tidak senang. Karena mereka melakukan banyak hal bukan? Namun aneh nya Jun mengatakan tidak suka.
"Kenapa?" tanya Mutia mencoba mencari tau apa yang membuat anak itu tidak suka.
"Karena Papa akan pergi jauh," jawab Jun membuat Dea yang menyimak langsung merasa berdenyut nyeri.
Mutia dan Jackson mendesah lirih. Ternyata Jun tau dengan sangat jelas kondisi Lucas. Chandra meraih tangan Dea dan menggenggam nya dengan erat. Mencoba memberikan wanita cantik itu kekuatan. Dea menoleh ke arah Chandra. Lelaki itu tersenyum lembut. Dea tak bisa tersenyum.
Sedangkan di lain tempat. Gadis remaja cantik bermata coklat itu terlihat tak henti-hentinya meliuk-liuk. Bergerak bersama irama yang menghentak. Musik yang begitu energik. Membuat teman-teman nya hanya menatap teman satu group nya itu dengan pandangan aneh. Dari satu jam yang lalu. Bintang Sandoro. Berlatih menari, padahal ia mengatakan akan menjenguk Ayahnya.
Tidak sampai satu jam. Ia datang gedung Agensinya. Berlatih, dengan wajah datar. Tak ada yang berani bertanya. Anak itu terlihat seperti kesetanan. Menari dan menari, mengulang lagu yang sama selama satu jam. Meski tubuhnya Bintang sudah seperti mandi peluh. Gadis itu masih saja fokus menari.
"Hentikan dia Nari!" seru Hera pada leader mereka.
"Benar Kak! Bintang akan kelelahan. Dia hanya akan menyiksa dirinya seperti itu," timpal Hani.
"Aku sudah menghubungi Kak Vian, kita tunggu saja Kak Vian Sampai. Karena hanya dia yang bisa menghentikan Bintang," papar Nari dengan menatap tubuh Bintang yang masih menari.
Ketika Hana akan menjawab. Pintu ruangan di buka. Mereka berempat langsung berdiri. Menatap serentak pada Vian. Lelaki itu melakukan hal yang sama. Ke empat nya memilih keluar dari ruangan. Membiarkan Vian membantu Bintang.
Lelaki tampan itu melangkah menuju pemutar musik. Mematikan nya membuat Bintang mengeram marah. Namun saat ia berbalik mata merah marah itu termenggu. Vian hanya menatap lalu melangkah lebar. Menarik tangan Bintang membawa kekasih nya masuk ke dalam pelukannya.
"Apa yang terjadi huh?" tanya Vian dengan suara bertanya.
"Kenapa?" tanya Bintang dengan suara yang terdengar pecah. Bahkan jantung yang berpacu. Bukan karena gugup. Namun karena aktifitas menari membuat pernapasan tak teratur.
Vian membelai punggung belakang yang basah. Bahkan Peluh gadis itu menetes pada bahu Vian.
"Katakan! Apa pun." Ujar Vian membelai kepala belakang Bintang dengan lembut.
__ADS_1
"Kenapa setelah apa yang dia lakukan. Kenapa ia seenaknya mau mati?! Aku tidak mengizinkan nya. Siapa yang menyuruh nya menjadi seperti itu. Dia begitu pengecut. Harusnya dia menangis darah dulu. Dan menyembah pada Mamaku. Sebelum mati!" Jelas Bintang dengan Isak tangis. Tangannya meremas baju kaos depan Vian.
"H—harusnya dia tidak seperti
it—" kata-kata yang akan ia curahkan tak lagi mampu. Karena rasa sesak akan tekanan di hati membuat ia merasa tak mampu menyampaikan rasa sakit.
Setelah mendengar kan apa yang tak ingin ia dengarkan di rumah sakit. Ia langsung kembali ke gedung agensinya. Menari tanpa istirahat. Melampiaskan rasa marah, sakit dan rasa yang tak mampu ia mengerti.
"Menangis lah. Aku akan di sini bersama mu. Setelah itu kuatlah, kau akan bersinar kembali seperti Bintang di langit seperti namamu. Sinari orang-orang yang kau cintai. Bintang!" Ujar Vian dengan semakin mengeratkan pelukannya.
Hatinya merasa sakit mendengarkan suarakan isakkan tangisan Bintang. Lelaki sangat tidak suka dengan tangisan wanita. Namun, bagi Vian ia akan menghadapi apa yang tidak ia sukai. Hanya agar bisa memeluk dan memberikan gadis nya sandaran.
***
"Siapkan berkasnya segara!" seru lelaki itu dengan suara pelan.
"Baik Presdir." Ujar sang Sekretaris sebelum melangkah keluar.
Baru dua langkah ia berjalan. Pintu ruangan di buka keras membuat gadis itu membalik kan wajahnya. Takut orang yang masuk mengenali nya.
"Yaks! Lucas Sandoro! Kau gila! Kau belum sembuh bahkan belum operasi kenapa kau masuk kerja? Kau membuat orang-orang di rumah sakit kacau mencari mu bodoh!" teriak Chandra Winata dengan napas memburu.
Lucas. Lelaki pucat itu hanya menatap kemarahan Chandra dengan senyum tipis."Duduklah Chandra! Sera tolong buatkan minuman untuk Tuan Winata" Seru Lucas langsung berdiri dari duduknya.
Lelaki itu melangkah pelan lalu duduk di sofa. Chandra masih berdiri. Sedangan Sera sudah melangkah keluar dengan lebar.
"Kau sungguh men—"
"Duduklah Chan!" potong Lucas dengan nada yang aneh. Membuat Chandra mendesah kesal. Melangkah menuju Sofa duduk di seberang Lucas
Bibir putih pucat dan wajah yang tak lagi terlihat merah. Hanya ada pucat tanpa terlihat segar. Lelaki itu memaksakan diri untuk masuk kantor. Menandatangani beberapa dokumen. Lalu mengurus beberapa dokumen lain nya.
"Apa itu?" tanya Chandra. Setelah cukup lama Chandra terdiam. Ia mendesah letih setelah melempar kan kata tanya.
"Kau sangat mencintai Dea?" bukannya menjawab ia malah melempar kan tanya pada sahabat nya itu.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?
"Karena aku ingin tau."
"Meskipun akan menyakiti perasaan mu?"
"Hem! Begitu lah."
Chandra menyadarkan tubuh nya di sofa. Menatap dalam Lucas Sahabat nya terasa aneh baginya. Namun entah kenapa ia merasa kasihan pada Lucas. Lelaki itu merasakan bagaimana rasa sakit saat jantung tak mampu memompa darah kala katupnya membengkak. Ia dapat melihat betapa lelaki di depan nya ini kesakitan di rumah sakit. Meskipun begitu, Lucas tidak berteriak. Ia hanya mengigit bibir bawahnya dan membenamkan wajahnya.
"Aku sangat mencintai nya," jawab Chandra jujur. Lelaki itu mengamati ekspresi Lucas.
Guratan wajah pucat itu tak terlihat marah. Ia terlihat tersenyum, meski Chandra Winata tau sangat pasti Lucas memaksakan senyum itu.
"Baguslah," ujar Lucas membuat Chandra tergangga.
"Bagus?" ulang Chandra membeo dengan wajah bodoh.
__ADS_1
Lucas berdiri dari posisi duduknya. Lalu melangkah mendekati laci mejanya. Ia narik laci mejanya. Mengeluarkan dua dua dokumen. Melangkah kembali ke arah Chandra. Lelaki Sandoro itu meletakan dua map itu di atas paha Chandra. Sebelum ia kembali duduk di posisi semula.
"Apa ini?" tanya Chandra.
"Buka saja. Dan tanda tangan satu map berwarna biru. Dan ya warna merah aku minta tolong padamu. Dapat kan tanda tangan di sana. Dua hari! Aku beri kau waktu dua hari untuk bisa mendapatkan tanda tangan di map merah!" jelas Lucas dengan wajah datar.
Chandra membuka map biru terlebih dahulu. Membaca kata demi kata. Membuat pupil matanya membesar. Lalu dengan cepat ia membuka map yang satu lagi. Dengan wajah tak percaya, Chandra menatap wajah Lucas yang menginginkan senyum lebar.
"Lakukan. Jika kau tak ingin lebih menyakitkan lagi bagi Dea!" tutur Lucas dengan suara berat.
****
Tangan Dea begitu lihai menyeka lelehan air mata Lucas. Lelaki itu tidur dengan lelap. Namun air mata terus berjatuhan. Setelah dari kantor, lelaki itu kembali ke Rumah sakit. Meski harus mendapatkan kemurkaan dari Dokter dan Ibu mertuanya. Lucas terlihat lebih santai tanpa emosi.
Ibu mertua nya meminta Dokter menyuntikkan obat tidur pada infus Lucas. Membuat lelaki itu agar tidak menghilang seperti tadi pagi.
"Harusnya kita tidak begini. Harusnya kita bisa baik-baik saja. Harusnya—" kata-kata yang di lontarkan begitu serak dan dalam.
Lucas menangis pelan. Tangan lembut nya menyentuh tangan Lucas yang terasa begitu dingin. Sangat dingin, wajahnya begitu tirus. Kemana kemarahan Dea? Wanita cantik itu tak bisa marah. Setelah melihat bagaimana keadaan Lucas. Secepat nya Lucas akan operasi. Mungkin besok pagi lelaki itu akan masuk meja operasi.
Dea menangis. Membawa tangan Lucas menuju jantung. Yang berdebar keras hanya karena nya. Berdebar keras hanya karena cinta nya. Hanya karena amarah.
"Aku sangat mencintaimu," ujar Dea dengan napas tersengal-sengal karena menangis,"Aku ingin kau berlutut di kakiku. Meminta maaf dan mengatakan rela aku apakan. Meski harus membunuhmu agar aku kembali padamu. Aku ingin kau mengakan jika kau tidak bisa hidup tanpaku Kak! Namun Kenapa kau yang malah menghukum ku seperti ini? Huh!" lanjut nya di sela tangisnya.
Dea, wanita cantik itu marah dan murka. Namun, setelah apa yang mereka lewati. Dea dia benar-benar terjerat pada Lucas. Kemarahannya membuat ia mampu bertindak nekat. Namun rasa cinta lebih besar bukan? Hingga maaf bukan untuk di berikan. Namun sudah menjadi keharusan.
Apapun kesalah Lucas. Ia maafkan, namun jika kesalah Lucas adalah membawa hatinya ikut mati. Maka itu tidak akan pernah ia maafkan. Tidak akan pernah.
Dea terisak-isak. Ia memeluk leher Lucas. Menangis di ceruk leher Lucas. Mencoba menghirup aroma maskulin di sana. Aroma yang ia rindukan. Entah kenapa ia merasa jika saat seperti ini akan ia rindukan???
Kenapa rasanya begitu sakit. Dan begitu sesak? Dea tak kuat. Kenapa Lucas jahat sampai akhir???! Kenapa?
"Aku mohon jangan begini. Sembuhlah maka aku akan kembali padamu," pujuknya pada napas yang teratur.
Pada tubuh yang tak sadar. Lelaki itu tidak akan mendengar kan janji itu.
****
Operasi memakan waktu dua jam lebih. Di dalam sana, para Dokter terlihat sudah letih. Memotong dan membedah. Di luar ruangan tunggu keluarga Sandoro dan juga tentunya keluarga Wijayanto ada di sana. Hanya saja Chandra tidak di sana.
"Tuhan tolong selamatkan putraku!" itulah lafal dari Santi dari tadi. Dari dua jam yang lalu.
Ruangan tenang terdengar bising. Membuat keluarga pasien terkejut. Dengan jantung yang berdebar. Lampu operasi berubah menjadi merah. Menandakan jika keadaan darurat kembali ke dalam. DokterDonni terlihat kacau.
"Jantung yang di donor tak berfungsi Dok!" Seru salah satu perawat yang memeriksa alat detektor jantung.
"Bagaimana ini Dokter? Kita sudah memotong dan mengeluarkan jantung nya!" Ujar yang lain nya gak kalah panik.
Suara panjang menandakan jika kematian lah yang berbicara. Dokter tua itu kalang kabut. Memberikan tekanan pada jantung yang baru. Namun seperti nya jantung yang di nilai cocok tidak bekerja sama dengan mereka.
"Waktu nya?" tanya Dokter dengan wajah letih.
"Tuan Lucas Sandoro tanggal 18 September 2028. Jam sepuluh lewat tiga puluh, telah menghembuskan napas terakhir," ujar Perawat yang mengawasi tekanan darah Lucas dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Jahit kembali dengan baik tubuhnya. Sebelum keluarga nya melihat untuk terakhir kalinya!" Ujar Dokter Donni lalu melangkah keluar dengan gontai.