Momy? I'Am (Season 2)

Momy? I'Am (Season 2)
Chapter 9 (Season 2)


__ADS_3

.


.


.


.


Kaki ranjang tempat tidur di dorong dengan cepat. Rintihan terdengar menyayat hati Chandra. Lelaki Winata itu setia menggenggam tangan Dea. Wanita berbadan dua itu merintih keras. Dress selutut polos kini memiliki warna merah. Baju jas Chandra pun tak kalah bernoda nya.


"Apa yang terjadi?" seru Dokter wanita dengan wajah panik.


"Nyonya Dea terjatuh menghantam lantai dengan posisi tengkurap. Kondisi Vitalnya tidak stabil. Dan banyak darah yang terkuras," jelas perawat yang mendampingi.


"Siapkan ruangan Operasi, kita harus mengeluarkan janinnya saat ini juga!" titah sang Dokter mutlak.


Chandra membeku dengan wajah memerah. Janin itu baru berusia empat bulan masuk lima. Bagaimana bisa di keluarkan begitu saja. Wanita cantik yang kini masih merintih berteriak tak ingin.


Namun sayang, tempat tidur besi itu di tarik melaju ke area terlarang. Dimana Chandra hanya bisa menunggu di luar saja. Chandra terjatuh, sekeras apa pun lelaki itu berlari. Sayang sekali, Dea tetap akan kehilangan janin nya. Lelaki Winata itu menangis tanpa suara. Lelaki bukan lah makhluk yang mudah mengeluarkan air mata. Jika rasa sakitnya tak tertahankan maka air mata menjadi pembicara yang lebih jelas.


Tangan nya bergetar, trauma yang baru beberapa bulan kembali lagi. Lelaki Winata itu kembali pada rasa panik. Dimana ia kehilangan wanita yang ia nikahi dan putranya yang tampan.


"Tuan! Anda baik-baik saja?" tanya salah seorang Perawat.


"Astaga! Kakinya melepuh!" teriak perawat lainnnya.


Chandra merasa telinga nya berdengung sebelum kesadarannya terenggut. Lelaki itu membawa wanita cantik itu keluar Villa tanpa alas kaki. Ia bahkan tidak merasakan betapa panasnya aspal. Yang ia tau adalah Dea harus selamat bersama Janinnya.


Di lain tempat senyum terlihat jelas tercetak. Gadis cantik itu tersenyum lebar kala monitor memperlihatkan bayi nya. Begitu juga dengan Lucas. Lelaki itu mengusap puncak kepala Bella dengan lembut.


"Putra Tuan Sandoro dan Nyonya Sandoro sehat tanpa cacat," ujar Sang Dokter.


"Wah! Aku tidak sabar melihat mu lahir sayang," ujar Bella dengan lembut.


"Beberapa bulan lagi dia akan lahir ke dunia. Tolong jaga kesehatan dan juga jangan makan sembarangan Nyonya Sandoro," nasehat sang Dokter.


Bella mengangguk pelan. Lucas terdiam. Senyum nya patah, kala ia mengingatkan wajah lain. Dulu! Sangat dulu sekali. Ia pernah menemani Dea mengecek kandungan nya. Dimana dirinya yang begitu antusias. Melihat monitor seakan melihat sesuatu yang rapuh dan sangat di idam-idamkan.


Apakah Dea dan anaknya baik-baik saja? Apakah Dea makan, minum susu Ibu hamil, istirahat teratur dan sehat? Itulah yang kini ada di benaknya. Bella mengusap punggung tangan Lucas. Membuat lelaki imut itu tersadar. Lalu menampilkan senyum tipis.


***


Ke dua mata bulan sabit itu membengkak. Anak remaja itu tak berhenti-henti menyalahkan dirinya sendiri. Jika bukan karena ia yang di luput saat itu. Mungkin sang Ibu akan baik-baik saja bersama adiknya. Ia gagal! Bintang Sandoro! Ia gagal melindungi Ibu dan adiknya.


Jun mengusap setiap air mata yang mengalir di pipi kakak perempuan nya dengan lembut. Jun memang tidak menangis, namun anak lelaki itu jauh lebih sakit. Ia tak bisa menangis, karena ia lelaki. Yang akan melindungi sang Kakak dan sang Ibu. Jun akan menjadi lelaki yang kuat hingga bisa melindungi orang-orang yang ia cintai.

__ADS_1


"Kakak Bintang! Yang salah!" seru Bintang lirih.


Jun menggeleng kuat. Bagaimana bisa itu menjadi salah kakaknya. Gadis cantik imut itu adalah kakak terhebat yang Jun punya. Mampu melindungi nya dengan sangat baik. Bisa membuat sang Ibu jauh dari sang Ayah. Jun malah bangga mempunyai Kakak seperti Bintang.


"Tidak. Ini bukan salah Kak, ini semua salah Papa dan wanita ular itu," bantah Jun dengan lembut.


"Tapi—"


"Jika Kakak masih menyalahkan diri sendiri. Maka aku juga akan sama. Aku lelaki yang harusnya melindungi Kakak dan Mama. Tapi aku gagal, karena aku tidak bisa melakukan apa-apa," potong Jun membuat Bintang menggeleng.


Adik kecil nya. Ia merasa bersalah. Harusnya adiknya tidak merasakan kehancuran yang sama seperti nya dulu. Tangan dingin dengan jari jemari lentik itu mengusap puncak kepala Jun.


"Kakak janji! Ini yang terakhir kalinya kita merasakan kehancuran ini," ujar Bintang dengan mata memerah dan serius.


Jun tersenyum lembut. Ia mengangguk pelan. Ia percaya pada sang Kakak. Ia tidak tau apa yang ada di otak Bintang saat ini. Jika ia tau maka ia tak akan mengangguk dan tersenyum.


"Sayang!" seruan dari jarak tak jauh membuat Bintang menghapus kasar air mata yang meleleh.


Ia berdiri bersama Jun dari posisi duduknya. Lalu menghampiri Ibu mereka. Jun menggenggam tangan kanan Dea. Sedangkan Bintang menggenggam tangan kiri sang Ibu. Ke duanya berdiri di sisi ranjang.


"Mama! Sudah merasa lebih baik?" tanya Jun lirih.


Dea tersenyum dengan bibir pucat pasi miliknya. Bintang merasa ada ratusan ton menimpa hati dan paru-paru nya. Namun ia tak boleh menangis. Ia harus menjadi penyokong sang Ibu.


Ke dua buah hatinya mengangguk keras. Meski hati hancur berkeping-keping. Namun ia harus tetap tegar dan tegak. Wanita memang lemah dan rapuh. Namun jika wanita menjadi seorang Ibu. Mereka tidak begitu. Mereka bisa menjadi sekuat baja. Menjadi pohon rindang untuk berteduh meski mengorbankan dirinya. Bisa menjadi mata air meski harus menguras darah dan keringat. Bisa menjadi apa pun itu hanya untuk anak-anak nya.


Begitu lah kehebatan seorang Ibu. Terpuruk dan seburuk apa pun ke adaan nya. Ia tak akan pernah mengatakan jika ia sakit, lelah, ingin menyerah. Karena anak-anaknya membuat nya. Jauh dari apa pun. Kehilangan akan dia tahan, karena tau anak-anaknya lebih membutuhkan nya. Lalu apakah ada yang menganggap seorang Ibu itu lemah? Menganggap seorang wanita itu rapuh? Nyatanya wanita lebih kuat dari yang terlihat.


"Peluk Mama!" seru Dea dengan nada saggau.


Jun dan Bintang memeluk Dea dari dua sisi. Chandra, Ana dan Budi berada di luar pintu hanya dapat mematung dengan perasaan yang bercampur aduk. Ani memukul dadanya berulangkali. Air mata mengalir, menangis tanpa suara. Meski Dea bukan putri kandungnya. Hanya keponakan dari sang suami. Namun Ani sangat menyayangi Dea sama seperti Mutia putrinya.


Budi Wijayanto. Lelaki tua itu mengeraskan rahangnya. Ia merasa sangat malu saat ini. Bagaimana caranya nanti ia menghadapi Jenni adiknya. Karena tak bisa menjaga Dea dan membuat Dea merasakannya lagi. Sedangkan lelaki Winata itu diam dan bungkam. Dalam kebungkaman Chandra merasa keras. Ia akan menjadi lebih pribadi yang keras. Hanya untuk bisa membahagiakan orang yang dia cintai.


***


Gadis cantik itu berdiri dengan tegap. Menengadah menatap pagar rumah mewah yang kini berada di depan matanya. Manik matanya terlihat berkilat. Beberapa kali ia menghirup lama oksigen sebelum menghempaskan nya dengan kasar.


"Mari lakukan, akhir semua nya. Hanya dengan sekali saja," ujar nya mencoba menguatkan tujuan dan memperteguh hatinya.


Langkah kaki jenjangnya mulai terlihat. Gadis cantik itu melangkah mendekati pintu besi lalu dengan lihainya jari jemari yang memakai sarung tangan terbuat dari karet itu mulai menekan tombol-tombol. Guna membuka pintu besi itu.


TIN !


TIN !

__ADS_1


TIN


TRING~~~~


Bunyi pintu besi itu terdengar nyaring. Gadis remaja itu mengangkat ke dua tangannya. Dengan sangat perlahan, dengan ragu. Tangan nya terangkat menyentuh gagang pintu. Memutarnya perlahan.


HAP!


Bintang terkejut. Terbukti tubuhnya menegang. Ia membalik kan tubuhnya. Ke dua matanya membulat sempurna. Melihat siapa yang kini mencekal pergelangan tangannya. Tubuh atletis lelaki tampan itu terlihat mandi keringat. Matanya menatap tajam. Dengan kasar ia menarik Bintang melangkah menjauh dari rumah besar itu.


Anehnya Bintang yang di tarik paksa tak memberontak. Ia menuruti kemana lelaki itu membawanya. Hingga mereka berhenti di dekat taman asri.


"Kau gila!!" teriak lelaki tampan itu delapan oktaf dan melepaskan kasar tangan Bintang.


Gadis remaja itu menatap nyalang ke arah lelaki tampan itu.


"Ya! Aku sudah gila! Kau mau apa?!" teriaknya balik.


Vian membuang muka. Wajahnya memerah terlihat jelas kemarahan, ke khawatiran dan ketakutan di wajah tampan nya. Tangan kokoh itu mengusap kasar wajah tampannya.


"Bintang Sandoro! Dengar, apa dengan melakukan nya kau akan merasa lebih baik? Dan Mamamu akan bahagia?" tanyanya dengan nada melunak kala menatap air mata mengalir di pipi Bintang.


"Jangan memakai marga Sandoro di depan namaku. Namaku Bintang Wijayanto. Bukan Bintang Sandorol!" teriak Bintang tidak terima. Ia jijik memakai marga sang Ayah di depan namanya.


Vian mendesah letih. Tangan lelaki itu kini bertengger lemah di bahu Bintang. Membuat manik mata hitam nya bersitatap dengan mata coklat hangat yang kini tak lagi terlihat kehangatan itu.


"Bintang!" panggilnya lirih sangat lirih,"Aku tidak akan membiarkan ke dua tanganmu bernoda darah hanya karena ini. Aku lelaki mu! Tidak akan pernah bisa melihat gadis cantik polos ku menodai tangannya dengan darah menjijikan itu. Kau bukan gadis yang kejam. Aku tau hatimu yang lembut. Jika hari ini aku tidak menghentikan tindakan kriminal mu. Kau tidak hanya akan membuat dirimu sendiri terjerumus dalam kegelapan. Kau akan membuat Mamamu ikut terjerumus dan jangan lupakan masa depan Jun masih panjang. Kau mau seumur hidup nya ia di cap sebagai adik pembunuh? Tidak bukan?" Papar Vian dengan mengusap pelan air mata Bintang.


Gadis itu tidak bisa meraung ia masih dalam mode sok kuat dan kejamnya."Setidaknya ia akan kehilangan wanita itu dan anaknya. Seperti Mamaku! Dan aku akan membunuh diriku sendiri. Aku sudah menyiapkan semuanya. Seolah-olah aku lah yang ingin di bunuh dan dia pelaku utama nya. Dan drama paling hebat lagi, Lucas Sandoro membunuh putrinya dan selingkuhannya karena pertengkaran hebat," jelas Bintang dengan suara serak.


Vian menggeleng kuat. Gadisnya hanya kalap saja. Ia tau Bintang bukan gadis sekejam itu.


"Jangan! Setidaknya lakukan ini untuk Mamamu. Bukan aku atau pun Jun! Aku mohon sayang!" pintanya dengan air mata.


Bintang membuang muka. Ia tak kuat melihat wajah memelas Vian. Selama ia bersama lelaki itu. Ia tak pernah melihat Vian menangis.


Di lain tempat Dea menatap mahkluk beringsang yang berenang saling mengejar di kolam ikan. Langkah kaki berhenti di belakang tubuhnya tak membuat Dea membalikkan tubuhnya.


"Kau yakin dengan keputusan ini sayang? Papa bisa melakukan hal yang lebih kejam dari ini untuk mu," ujar Budi.


Lelaki tua itu masih di panggil Ayah seperti dulu. Meski ia tau Budi adalah Paman nya.


"Tidak apa-apa Papa! Aku tidak ingin ada darah yang tumpah. Menghancurkan dengan tanganku adalah hal yang mudah. Perceraian adalah hal paling mudah Papa. Namun ada hukum paling menakutkan Papa! Di mana, mata di balas mata! Darah di balas darah. Maka pengkhianat tidak akan aku balas dengan hal yang sama. Tapi dengan cara yang lebih kejam lagi! Dia salah jika berpikir aku akan mundur dari pertarungan sengit ini. Aku bukan Dea yang lemah. Dia menginjak harga diriku. Maka aku akan menghancurkan bagaikan debu." Ujar Dea mengepalkan kedua  tangan dengan senyum menakutkan.


Manik mata beningnya begitu tajam. Budi menghembuskan napas kasar. Jika sudah begini ia hanya akan menyokong dari belakang. Dea memang keras kepala, dan ia juga mengerikan. Jika sudah dalam keadaan marah. Pipinya masih tirus. Karena kehilangan berat badan satu bulan ini. Hanya saja kecantikan nya malah bertambah.

__ADS_1


__ADS_2