
.
.
.
.
Hiro mendesah kasar. Bahkan lelaki tampan itu mengusap frustasi wajah tampan nya. Ia berdiri dari posisi duduknya. Lalu melangkah ke sana kemari, foto yang di kirimkan oleh orang suruhan nya benar-benar membuat ia merasa panas.
"Tidak! Ini tidak bisa di biarkan. Dia tidak boleh di miliki oleh siapapun. Hanya aku, yang berhak memiliki nya," ujarnya kala langkah kakinya terhenti.
Hiro kembali membuka surel di ponsel nya. Mengecek foto yang di kirim oleh Leo padanya. Lelaki berkulit sawo matang itu terpaksa melakukan apa yang di minta. Meskipun tidak tau apa yang di rencanakan oleh Hiro. Ia adalah Dokter bedah kecantikan Internasional. Semua yang di lakukan olehnya selalu sempurna. Tidak ada yang mengecewakan. Itulah kenapa lelaki itu selalu mendapat jam terbang terbanyak. Dan di bayar mahal.
Jika saja Hiro tau wajah tampan nya itu adalah hasil karya lelaki Kim itu. Maka apakah yang akan terjadi pada lelaki berlesung pipi itu? Sudah pasti Leo mati di tangan nya bukan? Karena mengoperasi wajah imutnya. Yah! Meskipun wajah yang sekarang sangat mempesona dan begitu manley.
"Wajahnya biasa saja? Tidak setampan wajahku. Kenapa Dea begitu tergila-gila pada mantan suami nya ini, ya?" Tanya Hiro mengzoom foto Lucas Sandoro. Mantan suami yang telah tiada. Ah! Alangkah lucunya dunia. Kala yang di bicarakan adalah dirinya sendiri. Namun Hiro tak menampik jika wajah imut lelaki itu sangat awet muda. Karena keimutan nya.
Di lain tempat Dea Amelia Wijayanto menyuapi Jino dengan telaten. Anak yang kini sudah bisa melangkah satu bahkan dua langkah itu terlihat menolak. Jun tak tinggal diam, ia bahkan turut membantu sang Ibu. Dengan melakukan hal yang mampu membuat Jino tertawa. Hingga nasi lembek itu berpindah pada mulut Jino kala ia tertawa. Mau tidak mau anak berumur setahun lebih itu menelan nya. Membuat Dea terkikik geli kala melihat ekspresi tak suka Jino. Saat suapan nasi masuk dalam mulut nya.
"Mama!" panggil Jun dengan pelan.
"Hem," jawab Dea lembut tanpa menoleh ke arah sang putra. Ia masih sibuk memperhatikan Jino berceloteh ria.
"Di sekolahku ada guru tampan. Tapi Mama tau, guru itu begitu aneh menurut ku. Ia terlihat mencari perhatian ku. Dan bahkan tak jarang selalu menempel padaku," curhat Jun.
Dea menoleh ke samping. Menatap wajah aneh sang putra. "Benarkah? Kenapa bisa begitu? Apa Mama tau siapa gurumu?" tanya Dea dengan manik mata menatap wajah putra nya.
Jun menggeleng kan kepalanya."Tidak. Dia guru baru di sekolahku. Khusus belajar Bahasa Jepang. Dan juga dia bilang kalau dia sahabat Paman Leo," terang Jun.
Ah? Dea membatu. Dua kata Jepang dan Leo! Membuat Dea merasa pening."Siapa namanya?"
"Hiro Yamato. Tapi anehnya dia tidak seperti orang Jepang sama sekali. Dan setiap dia mendekati ku aku merasa nyaman hanya saja teman-teman ku sering meledekku. Mereka mengatakan jika guru Yamato mungkin menyukai Mama. Dan ingin mendekati Mama melalui diriku," papar Jun dengan lugas.
__ADS_1
Oh, No! Dea. Ia lupa apa jika Hiro mengatakan menjadi seorang guru. Berkat bantuan Leo. Namun siapa sangka jika ia menjadi guru di sekolah putra mereka. "Mbok Siti!" teriak Dea. Membuat Jino dan Jun tersentak karena suara Dea yang menggelegar memanggil kepala pembantu rumah tangga mereka.
"Ya, Nyonya!" seru Siti yang keluar dari salah satu ruangan yang berada tak jauh dari tempat Dea menyuapi Jino.
"Aku harus keluar sebentar. Tolong jaga Jino dan Jun. Nanti jika Bintang pulang, suruh saja langsung makan dan istirahat." Ujar Dea yang menyerahkan mangkuk makanan Jino pada Mbok Siti
Wanita tua itu menerima nya. Dan mengangguk mengerti. Sedangkan Jun, anak lelaki itu menatap punggung belakang sang Ibu. Ibunya pergi tanpa menjawab apa yang ada di otaknya. Satu kesimpulan yang mampu anak pintar itu ambil. Jika sang Ibu dan gurunya memilih hubungan. Melihat gelagat sang Ibu yang tak pernah pergi di tengah-tengah pembicaraan mereka.
Dea bergegas melangkah menuju tangga. Guna mengambil kunci mobil dan jaket.
***
Pintu apartemen terbuka perlahan. Dea melepas sepatu hak tinggi nya. Menukarnya dengan sendal rumah. Ia masuk ke dalam ruangan tamu. Ia mendesah perlahan. Melihat lelaki tampan itu tengah serius membaca laporan.
Langkah kaki Dea tidak membuat Hiro menoleh. Sekedar menyapa. Seperti nya lelaki itu tengah kesal dan merajuk. Dea menaikan sebelah alisnya. Kala ia sudah berdiri di depan Hiro. Biasanya lelaki itu akan antusias menyambut dirinya. Namun kenapa Hiro menjadi tak acuh pada nya?
"Hiro!" seru Dea pelan.
"Hem!" jawab Hiro masih sibuk membaca.
"Hei!! Kenapa wajahmu yang jadi kesal!" protes Hiro dengan memanyunkan bibirnya.
Lucas Sandoro. Meski wajah berubah drastis. Namun siapa sangka jika sifat dan cara lelaki imut itu protes masih sama. Hati Dea merasa tergelitik melihat betapa mengemaskan rupa Hiro bukan Lucas.
"Dimana kau bekerja?" tanya Dea masih dengan wajah kesal.
"Di sebuah sekolah."
"Apa namanya?"
"Internasional School," jawab Hiro acuh,"Apa Jun mengatakan sesuatu padamu sayang?" tanya dengan lembut.
Dea tak menjawab. Hiro menarik pinggang Dea menyandarkan kepalanya di lengan Dea. Meski harusnya yang marah adalah dirinya. Namun ia tidak bisa marah pada Dea. Wanita itu membawa seluruh hatinya tanpa sisa. Bukankah budak cinta tidak bisa menghindari atau pun mendiami orang yang mereka cintai? Begitu lah posisi Hiro Yamato.
__ADS_1
"Kau marah?" tanya Hiro mencolek pinggang Dea. Membuat wanita bermata bulat itu menggeliat geli.
"Yaks! Hentikan," kesal Dea.
"Kenapa?"
"Geli!"
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Ah. Begitu." Ujar Hiro mungut-mungut. Namun setelahnya Dea berteriak kencang. Ia bahkan mencegah tangan Hiro yang kini bebas mengetik pinggang Dea. Membuat wanita cantik itu seperti cacing kepanasan.
Gelak tawa lepas dengan adegan saling kejar-kejaran terjadi di apartemen mewah. Beruntung, apartemen mewah berharga fantastis itu kedap suara. Hingga tidak ada bunyi bel dan wajah marah tentangan yang akan terjadi.
Apakah kebahagiaan itu akan tetap seperti itu? Apakah kebahagiaan itu tidak akan berubah. Kala Hiro kembali menjadi Lucas. Menjadi lelaki yang begitu banyak menyakitinya. Dan begitu ia cintai. Entahlah, semoga saja takdir masih berbaik hati. Hingga ke duanya mampu mendapatkan kebahagiaan kembali.
***
Wajah lelaki hot itu tampak kesal. Namun mau bagaimana lagi, ia terpaksa menyeret kopernya di tengah keramaian Bandara. Jika bukan karena Hiro gila atau Lucas Sandoro gila itu. Mungkin Leo masih bisa bermanja-manja ria dengan Sera. Ia harus terbang ke Indonesia hanya untuk melakukan operasi kembali. Dia yang memulai maka ia pula yang harus mengakhiri bukan.
BRUK!
"Ah! Maaf!"
Sama-sama meminta maaf saat tubuh ke dua laki-laki itu berbenturan. Leo menatap lama wajah tampan yang ada di depannya. Membuat lelaki bermata elang itu melipat dahi melihat bagaimana lelaki yang baru saja ia tabrak menatapnya dengan pandangan aneh.
"Maaf, apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya dengan mengusap wajahnya.
"Ah! Bukan begitu. Hanya saja Anda terlihat begitu tampan," ujarnya kala kesadaran kembali membawanya.
Lelaki tampan dengan perpaduan imut itu terkekeh pelan. Mata coklat tajam itu mampu membuat Leo merasa pening. Namun ia hanya bisa menampilkan senyum saja. Lelaki yang murah senyum itu menunduk dan menyeret koper besarnya. Leo masih memperhatikan lelaki itu sampai menghilang di tengah keramaian.
__ADS_1
"Gila! Bagaimana bisa? Wah! Apa ini? Apa aku yang sudah gila?" tanya Leo seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Ia menggelengkan kepalanya. Sebelum kembali melangkah menuju pintu keluar.