
.
.
.
.
Jarak ke duanya sangat dekat hingga dapat merasakan hembusan napas masing-masing. Bau mawar bercampur dengan bau buah strawberry. Menyeruak di Indra penciuman Chandra. Jantung nya berlomba-lomba berdetak. Ia yang melakukan kontak fisik dia sendiri yang merasa deg deg gan.
Chandra menunduk. Memiringkan wajahnya mendekat kan wajah nya sendiri dengan Dea. Wanita cantik itu tercekat dengan jarak dan apa yang Chandra lakukan. Hanya tiga CM lagi benda lunak itu mendarat di bibir ranum Dea.
"Mama!" seruan membuat laju terhenti.
Chandra dengan canggung membalikkan tubuhnya. Sedangkan Dea, wanita cantik itu berdehem beberapa kali. Jun yang baru sampai menatap aneh gelagat ke dua nya.
"Mama!" ulang Jun.
"Iya, ada apa sayang?" tanya Dea menatap wajah tampan sang putra.
"Aku lapar," ujar Jun dengan wajah lucu.
Dea tersenyum lembut. Chandra melangkah lebih dulu menuju ruangan tamu. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Dea melangkah mendekati sang putra. Menunduk, menyamakan tinggi nya dengan sang putra.
"Jun mau menunggu sebentar kan? Biar, Mama memasak kan makan," ujar Dea.
"Baik Mama," ujar Jun dengan nada ceria seperti biasanya.
Anak lelaki itu tersenyum lebar kala telapak tangan Dea mengusap pelan puncak kepala Jun.
***
Wajah pucat tak menghalangi Lucas kembali ke kantor untuk memeriksa laporan. Ketukan di luar membuat manik mata letih itu teralih dari laporan ke arah pintu.
KLIK!
Gadis cantik itu masuk membawakan beberapa berkas. Lalu meletakkannya di atas meja Lucas."Ini adalah berkas yang harus Presdir tanda tangani." Ujar Sera menunjuk berkas yang ia bawa satu persatu.
__ADS_1
Lucas mendesah letih. Lalu meraih berkas yang ia dapatkan. Ia membuka berkas dengan malas. Sera menatap dalam Lucas.
"Ah, iya. Ini ada Paket dari Jepang untuk Presdir." Ujarnya meletakan kotak ke atas meja Lucas.
Lelaki itu melipat kulit dahinya. Namun ia tetap menerima paket kecil itu. Sera menunduk dan melangkah keluar dari ruangan Lucas dengan senyum tipis. Di lain tempat gadis berbadan dua itu terlihat kepayahan mengatur napas. Ia keluar dari kolam renang dengan senyum yang selalu di tebarkan.
Menjadi Nyonya besar Sandoro bukanlah hal yang sederhana. Banyak hal yang bisa ia raih, penghormatan dan juga kekayaan berlimpah. Tentu saja itu kekayaan dari Ayah suaminya. Di tambah Dea, Istri pertama Lucas. Yang tak serumah dan menolak uang dari Lucas. Dengan begitu Bella merasa di atas angin saja.
"Apa cantik nya dia?"
"Dia hanya rubah saja, merebut Tuan Lucas dari Nyonya Dea."
"Jika aku jadi Nyonya Dea. Sudah aku tarik seluruh rambut nya."
"Kalau aku sudah aku sewa pembunuhan bayaran agar dia dan anak haramnya mati!"
"Sssstttt! Diam. Nanti rubah itu dengar. Kalian harus tau, biasanya orang yang berkhianat itu akan selalu melakukan hal yang sama. Jadi aku yakin Tuan Lucas akan melakukan hal yang sama di belakang nya."
Ke dua telapak tangan Bella mengepal sempurna mendengar bisikan-bisikan lirih itu. Ia tak bisa berteriak pada Maid yang kurang ajar membicarakan nya dari belakang. Semua nya benar, namun mendengar perkataan yang terakhir hatinya tak tenang.
Ia melangkah tergesa-gesa menuju kamarnya dan Baekhyun. Di balik jendela transparan Mbok Siti tersenyum licik. Jari jemarinya mengetik pesan untuk orang di sebrang sana. Lalu memasukan ponsel kembali pada saku celana nya.
***
Denting sendok dan garpu mengisi alunan Restoran mewah yang kini di isi oleh orang-orang yang terlihat begitu canggung. Ekspresi wajah yang berbeda-beda membuat lelaki tua itu menghela napas letih. Ia menatap satu persatu wajah yang ada di sana.
Bintang Sandoro dan Jun Sandoro dengan ke tidak sukaannya. Melihat sang Lucas. Sedangkan Putranya Lucas Sandoro menatap terang-terangan Dea. Menantu cantik nya yang terlihat paling santai di antara mereka.
Santi mengusap telapak tangan sang suami. Anto mendesah kasar, bagaimana bisa ia merasa makan dengan orang yang berbeda-beda. Tidak sehangat dan seceria dulu. Meskipun tak ada rubah licik itu. Tetap saja hati Anto Sandoro masih sangat panas. Jika melihat wajah sang putra.
"Bintang! Jun! Apa makanan nya tak enak? Sampai hanya di tusuk-tusuk seperti itu?" seru Santi sang nenek.
Ke dua cucu tampan dan cantik itu menoleh ke arah wanita tua itu."Bukan begitu Nenek, Bintang hanya tidak bisa makan banyak karena harus diet," jawab Bintang dengan nada ramah.
Wajah Santi beralih pada Jun. Cucu bungsunya. Ah! Bukankah, sekarang Jun bukan lagi yang bungsu. Namun sayangnya, wanita tua itu hanya menganggap anak dari rahim Dea sebagai cucunya. Bukan dari yang lain.
"Jun hanya merasa kenyang Nenek. Karena tadi kami sempat makan malam bersama dengan Paman Chandra," jawab Jun dengan nada lembut.
__ADS_1
Lucas Sandoro. Lelaki yang sejak masuk ke ruangan Restoran mewah itu. Tak lepas dari wajah cantik sang istri. Kini beralih menatap Jun dan Bintang. Chandra Winata, apa mau lelaki itu. Kenapa ia lengket seperti benalu di keluarga nya. Seperti parasit saja yang menempel terus menerus. Membuat Lucas mulai merasa panas dan gerah.
"Apa gunanya diet. Tubuhmu sudah pas," timpal Lucas beralih pada wajah Bintang Putri sulungnya.
"Karena aku butuh terlihat sempurna. Agar mata lelaki dan orang lain tau, jika anak dari Dea Amelia Wijayanto begitu sempurna seperti Ibunya. Hanya orang bodoh dan katarak saja yang tidak melihat kecantikan Ibuku. Dan memilih berselingkuh," sindir Bintang membuat seluruh penghuni meja melotot termasuk Dea.
Mulut sang putri terlalu kasar."Ah! Maaf. Nenek dan Kakek. Ada promoter malam ini, jadi aku harus pamit lebih dulu. Karena suasana ini dari awal tidak menyenangkan." Pamit Bintang langsung berdiri dan melangkah pergi.
Lucas menatap tak percaya punggung Bintang. Bagaimana bisa putrinya semakin hari semakin kurang ajar saja. Jun hanya menatap memelas ke arah sang Ibu. Ia juga ingin pergi dari ruangan yang menyesakkan itu.
"Maaf Ma! Pa! Aku dan Jun harus ikut pamit. Aku harus menyusul Bintang!" seru Dea membuat ketiga yang ada di meja menoleh.
Mulut Nyonya besar Sandoro akan menjawab. Sang kepala keluarga lebih dulu memberikan jawaban."Hem! Susul lah Bintang. Seperti nya suasana hatinya tak baik," ujar Tuan Sandoro dengan nada tegas.
"Terimakasih Pa!" seru Dea lembut,"Maafkan Bintang Pa! Ma! Dan maafkan kami harus pergi." Ucap Dea kala ia berdiri.
Jun mengikuti jejak sang Ibu. Ke duanya menunduk dan berlalu. Lucas membuang muka kesal. Bagaimana bisa ia merasa begitu di rendahkan oleh putri nya. Ayahnya bahkan tersenyum sinis melihat wajah kusutnya. Hanya Ibunya yang mengusap punggung belakang nya. Ah! Kasih sayang Ibu memang berbeda. Meski Lucas melakukan kesalahan yang membuat hati wanita tua itu retak. Tetap saja ia memaafkan Lucas. Karena dia adalah putranya bukan?
Di rumah besar itu Bella mondar mandir di kamar luas itu dengan wajah khawatir. Ia tau jika sang suami tengah makan malam dengan istri pertama nya. Bella mengigit pelan bibir bawahnya.
Ketukan di luar dan suara pintu di buka perlahan membuat Bella tersenyum lebar. Namun luntur kala melihat siapa yang datang. Wanita paruh baya yang menjadi kepala Pembantu.
"Malam Nyonya!" seru Mbok Siti basa-basi.
"Hem! Malam Mbok," jawab Bella ramah.
Wanita tua itu meletakkan segelas susu ibu hamil dan juga buah Apel yang sudah di potong di atas nakas. Dan paket dengan bungkus putih polos.
"Silahkan diminum susu ibu hamil dan juga buahnya Nyonya," ujar wanita tua itu.
Bella mengembangkan senyum manisnya. Hanya Mbok Siti yang memperlakukan nya dengan baik. Gadis itu tidak tau saja bagaimana wanita tua yang kini keluar dari kamar nya itu sangat membencinya.
"Di mulai," ujar Wanita tua itu lalu melangkah pergi.
Setelah menenggak habis minuman. Ia menatap paket dengan dahi berlipat. Ia lupa menanyakan kotak itu untuk siapa dan dari siapa. Dengan penasaran tinggi Bella membuka kotak putih polos itu.
BRUK!!!
__ADS_1
AAAAAAAAAAAA!!!!!!!!
Teriakan menggema di ruang mewah itu. Di bawah Wanita tua itu tertawa pelan.