Momy? I'Am (Season 2)

Momy? I'Am (Season 2)
Chapter 22 (Season 2)


__ADS_3

22


.


.


.


.


.


Wanita cantik itu terlihat begitu bersemangat mengelilingi pusat perbelanjaan salah satu Mal Jepang. Tangan lelaki tampan itu tak lepas darinya. Ke duanya terlihat mencoba beberapa pakaian couple. Berakhir pada salah satu makanan Indonesia.


"Selamat sore, Tuan dan Nona ingin memesan makan apa?" tanya waiters wanita yang memakai bahasa Indonesia yang kental.


"Kamu mau makan apa honey?" tanya Dea pada Hiro.


Lelaki tampan itu terlihat liar melihat beberapa menu makanan yang menggugah selera."Satu Nasi Goreng, Ayam rica-rica, Bakso dan terakhir aku ingin Rendang," seru Hiro.


Sang waiters terlihat dengan sangat cepat mencatat apa yang di inginkan oleh pelanggan nya."Apa ada lagi Nona dan Tuan? Dan minumannya mau apa?" tanya sang Pelayan memastikan apakah ada tambahan lain.


"Untuk makan itu sudah cukup. Minuman kami ingin dua es jeruk saja," ujar Dea.


Waiters kembali mencatat sebelum berpamitan pada ke duanya. Dea terlihat begitu agresif kala mata para gadis remaja menatap sang kekasih. Membuat Hiro terkekeh pelan. Bahkan wanita bermata bulat bening itu berpindah tempat duduk. Yang awalnya mereka saling berhadapan kini menjadi bersebelahan. Dengan Dea menempel pada Hiro.


"Kenapa huh? Kau cemburu?" tanya Hiro membuat Dea mendengus pelan.


"Jangan melirik gadis lain. Akan aku keluarkan bola matamu dari tempat nya jika kau berani melihat gadis lain. Hiro Yamato!" ancam Dea membuat hati Hiro merasa berbunga-bunga.


Siapa juga yang ingin melirik gadis lain. Jika ia sudah punya wanita cantik di samping nya ini. Hanya lelaki bodoh dan buta saja yang berpaling dari Dea. Hiro mendekatkan bibirnya di daun telingga Dea. Ia berbisik pelan."Makanya, cepat kenalkan aku pada keluarga mu. Terutama pada ke tiga anakmu. Agar aku bisa menikah dengan mu. Saat aku berani melirik gadis lain kau bisa menggantung leherku!" Bisiknya pelan.


Dea diam dan termenung. Apa tadi? Mengamalkan Hiro pada keluarga nya? Ah! Sangat sulit. Terutama membawa lelaki ini ke Indonesia.


"Kenapa kau tak mau?" tanya Hiro dengan suara lirih.


Dea menoleh agak menengadah."Apa aku harus meminta Retno untuk mengoperasi wajahmu menjadi jelek agar orang-orang tidak melirik mu?" tanya Dea dengan wajah yang menggemaskan untuk Hiro.


"Retno? Siapa dia?" tanya Hiro dengan wajah heran.


Dea menepuk keningnya. Hiro hanya mengenal Leo bukan Retno. Lelaki berkulit eksotis itu memakai nama internasional nya di Indonesia. Dengan nama Leo. Sudah pasti lelaki ini juga tidak tau.


"Leo nama Indonesia nya adalah Retno Sadewo," jelas Dea dengan senyum lembut.


"Ah! Begitu." Ujar Hiro mengangguk pelan.


"Lalu aku juga ingin memiliki nama Indonesia. Seperti Leo," seru Hiro dengan penuh semangat.


Dea hanya melempar senyum pada Hiro. Lelaki itu begitu semangat."Tidak. Aku suka namamu. Di Indonesia pun namamu masih bisa di panggil dengan benar kok!" ujar Dea membuat Hiro melenguh pelan.

__ADS_1


Hiro melepaskan gandengan tangan Dea pada tangan nya. Lalu memasang ekspresi kesal. Beginilah kalau lelaki Jepang ini kesal.


"Aku suka kau panggil dengan nama Indonesia," ujarnya dengan merengek,"Bahkan pagi ini aku mewarnai rambut ku kembali dengan warna hitam. Agar seperti orang Indonesia," lanjut nya lagi.


"Astaga! Sayangku merajuk!" ujar Dea dengan wajah di buat-buat menyesal. Ia mengusap puncak kepala Hiro.


Orang-orang yang ada di Restoran itu menatap ke duanya dengan ekspresi beragam. Ada tatapan iri, gemas dan juga merasa tak suka. Beruntung mereka memakai bahasa Indonesia. Hingga orang-orang tidak ada yang mengetahui apa yang mereka katakan. Ayah lelaki tampan itu adalah Jepang tulen dengan Ibunya yang berasal dari Indonesia. Membuat lelaki itu fasih berbahasa Indonesia.


"Kalau aku menjadi Lucas Sandoro bagaimana?" tanya Hiro yang awal lesu berubah kembali bersemangat.


Elusan dan wajah menggoda dari Dea seketika berhenti dan berubah. Jantung wanita itu bahkan terasa berhenti kala nama lelaki itu di sebut dengan lengkap. Lelaki bermata hangat itu tak menyadari bagaimana ekspresi sang kekasih.


"Bagaimana itu bagus bukan?" tanya Hiro lagi membuat lamunan Dea buyar.


"Darimana kau mendapatkan nama itu?" tanya Dea dengan ekspresi ekspresi aneh menurut Hiro.


"Ada apa?" tanya Hiro yang merasa ada masalah dengan nama yang baru saja ia sebutkan.


"Jawab saja! Jangan kembali bertanya," kesal Dea.


Dahi Hiro berlipat. Namun lelaki bermata hangat itu menatap dengan intens bagaimana raut itu berubah."Leo dan Sera. Aku tidak sengaja mereka mengatakan nama itu. Saat aku tanya, mereka mengatakan jika kau sangat menyukai nama itu. Jadi aku pikir lebih baik namaku adalah Lucas Sandoro. Saat nanti di Indonesia" papar Hiro dengan serius.


"Tidak! Kau tidak boleh memakai nama itu!" larang Dea dengan mata menatap tajam Hiro,"Dan jangan coba-coba menyinggung nama itu di depanku! Mulai sekarang dan seterusnya, kau mengerti kan Hiro Yamato!" lanjut Dea dengan nada suara yang menakutkan menurut Hiro.


"Baiklah. Tapi bisakah kau tidak memasang wajah seperti akan menelanku!" ucap Hiro dengan mencicit.


"Makanan dan minuman nya Nona dan Tuan! Selamat menikmati!" Seru sang waiters yang menyajikan makanan yang mereka berdua pesan.


***


Kaca hitam bertengger indah di hidung mancung gadis remaja cantik. Bunga Krisan putih di letakan di dalam etalase abu Lucas. Gadis cantik itu tidak tersenyum. Baju hitam dan di bingkai kaca mata hitam, tak lupa pula masker hitam turut membingkai wajah imutnya.


"Lama tidak bertemu Papa!" seru Bintang Sandoro pada foto sang Ayah.


Jari jemari lentik itu sampai pada bingkai foto Lucas. Mengusap perlahan foto lelaki yang tersenyum itu. Ia rindu, sangat-sangat rindu pada lelaki imut yang beberapa tahun menjadi sosok yang sangat ia banggakan. Sebelum sosok itu merubah pandangan nya pada sosok Ayah.


"Tahun ini kami kembali menerima penghargaan sebagai artis terfavorit dan juga lagu terpopuler sepanjang tahun!" cerita Bintang dengan nada yang mulai melirih,"Bagaimana kabar Papa di atas sana? Apakah Papa baik-baik saja di sana. Kami di sini baik-baik saja dan bahagia. Papa pasti melihat Jin di atas sana bukan? Jino terlihat begitu mirip dengan Papa dan juga Jun," lanjut Bintang.


Air mata mengalir deras di pipi. Ternya kehilangan lebih menyakitkan. Rasanya begitu sesak dan juga hampa. Benar yang orang-orang katakan jika sudah tiada baru terasa. Begitu lah yang di rasakan oleh Bintang. Gadis remaja itu merindukan Lucas.


"Bintang!" seruan berat di belakang tubuh nya tidak membuat Bintang membalikkan tubuhnya. Ia tau siapa yang ada di belakang tubuhnya tanpa berbalik.


Langkah kaki semakin mendekat. Lelaki tinggi menjulang itu meletakan beberapa tangkai bunga Krisan di dalam etalase abu."Hai Lucas!" seru Chandra dengan lembut. Kini Winata Chandra berdiri tepat di samping Bintang


"Kenapa Paman Chan bisa di sini?" Tanya Bintang yang kini menoleh pada Chandra dengan sedikit menengadah.


Chandra menunduk dan menoleh. Ia tersenyum pada anak remaja cantik yang Ibunya begitu ia cintai."Aku merindukan teman lamaku," jawab Chandra enteng.


"Teman lama yang kejam?"

__ADS_1


"Ya begitulah."


"Kenapa Paman jarang ke rumah?"


"Ada banyak perkejaan dari kantor. Jadi Paman jarang main ke rumah," jawab Chandra tak enak hati.


"Jangan terlalu lama bergerak paman," ucap Bintang yang terdengar begitu janggal di Indra pendengaran Chandra.


"Maksud nya?" tanya Chandra dengan dahi berlipat.


"Tidak ada. Aku harus kembali ke dorm. Karena aku hanya izin sebentar Paman. Kalau begitu aku pergi dulu Paman. Semoga berhasil!" Ujar Bintang sambil menunduk memberikan hormat pada Chandra lalu melangkah meninggalkan ruangan Lucas. Chandra terlihat semakin keras berpikir.


***


Bunga-bunga bermekaran di taman. Lelaki bermata coklat hangat itu terlihat begitu bahagia. Memetik beberapa tangkai bunga mawar merah dan putih. Membentuk pola hati dengan yang warna putih. Sangat bahagia, ia akan melamar Dea.


Setelah selesai lelaki itu berdiri dari duduknya. Ia melangkah menuju kursi di taman. Dimana Dea telah menunggu di sana. Setiap langkah ada senyum yang hidup. Membuat siapa pun akan terpesona pada senyum yang di umbar.


"Sayang!" serunya dengan semangat penuh. Namun senyum itu patah kala melihat Dea berpelukan dengan seorang lelaki yang tidak jelas wajahnya.


Dea dan sang lelaki seolah-olah tidak mendengar kan panggilan Hiro. Lelaki itu dengan amarah mencoba mencekal tangan Dea membawa Dea berdiri. Sayang sungguh sayang. Dea tidak bisa ia gapai. Bahkan tangan nya menembus tangan Dea.


"Bagaimana apakah kau akan membangun masa depan dengan ku. Meninggalkan masa lalu hah?" tanya lelaki itu dengan suara lembut.


"Aku tau kau melakukan banyak kesalahan Kak! Tapi percayalah aku akan memberikan mu kesempatan asalkan kau mau berubah!" jawab Dea.


Kepala Hiiro menggeleng kuat. Ia menolak Dea mengatakan hal itu pada lelaki lain. Lelaki itu memeluk Dea dengan erat. Bahkan mengecup dahi Dea penuh kasih sayang."Terimakasih sayang. Aku mencintaimu Dea!" Ujar lelaki yang wajahnya tak terlihat itu lalu mengecup dalam lagi dahi Dea.


"Aku juga suamiku Lucas Sandoro. Aku mencintaimu, sangat!" balas Dea


di sela kecupan lelaki itu.


"Tidak! Tidak Dea! Kau hanya milik ku. Tidak ada yang boleh memiliki mu selain aku!" Teriak Hiro dengan mencoba menarik Dea. Lagi-lagi tak bisa.


Tiiikidakkk!!!


Tubuh Hiro langsung terduduk dari posisi tidurnya. Peluh bermandikan. Baru beberapa jam yang lalu ia mengantarkan Dea ke Bandara untuk kembali ke Indonesia. Lelaki itu sudah mendapatkan mimpi buruk.


Dengan terburu-buru Hiro keluar dari kamarnya melangkah menuju kamar Leo. Yang tepat di samping kamarnya.


BRAK!


Leo terlonjak kaget. Ia menatap Hiro dengan pandangan kesal."Ada apa-"


"Siapa Lucas Sandoro!" teriaknya dengan wajah memerah dan napas memburu.


"Lucas Sandoro?" tanya Leo dengan wajah syok.


"Kau-"

__ADS_1


__ADS_2